Love And Justice

Love And Justice
Tiba di Dubai


__ADS_3

Perjalanan Ke Dubai...


Akhirnya proses ekstradisi keempat tahanan itu pun berlangsung dengan menggunakan pesawat milik keluarga Al Jordan yang dikirimkan oleh Ayrton dan Enzo.


Di dalam pesawat, Nelson dan Marisol tampak sibuk berdiskusi untuk pembukaan besok di pengadilan. Untuk kali ini, Nelson dan Marisol memilih menghentikan acara debat unfaedah demi kasus mereka meskipun sebelumnya gadis berdarah Spanyol itu marah dengan Nelson yang main kasih obat tidur ke keempat tahanan mereka.


Omar Zidane mengobrol dengan para anggota FBI yang sangat senang dengan pelayanan pesawat mewah milik Emir Al Jordan. Mereka semua mendapatkan first class service membuat semua orang senang.


Pria berdarah Mesir itu melihat Nadya asyik cekikikan ber chatting ria dengan sepupunya Raine Blair. Omar pun duduk di sebelah Nadya.


"Chatting dengan siapa Nad?"


"Dengan Raine Blair. Kami sudah sepakat untuk jalan-jalan di Dubai" jawab Nadya.


"Keluarga kamu di Dubai apakah letak kediamannya berdekatan?"


Nadya menoleh ke Omar. "Well, istana Al Jordan itu di area selatan kalau Al Azzam sisi barat. Nggak hapal aku, OZ." Gadis itu membenarkan posisi duduknya dan menghadap Omar. "Kamu tidak sekalian mampir ke Kairo?"


"Ngapain ke Kairo?"


"Kan kamu berdarah Mesir. Kenapa tidak ke tanah leluhur?" balas Nadya.


"Aku itu bertugas Nadya, bukan main-main." Omar menatap gadis cantik itu serius.


"Ambil lah cuti. Bukankah kamu harus menyelidiki kenapa Sphinx tidak ada hidung?"


"Hah?"


"Kamu tahu kan patung Sphinx itu tidak ada hidung. Harusnya kamu sebagai agen FBI, harus menyelidiki misteri Beratus tahun yang belum terpecahkan! Bukankah tugas agen federal itu untuk memecahkan kasus?"



"Nadya, hidung Sphinx hilang itu kan sebenarnya tugas arkeologi bukan agen FBI. Lagipula sudah diumumkan secara resmi kalau hidung Sphinx hilang akibat kondisi cuaca yang sering tidak menentu. Badai pasir, kerapuhan bangunan, dan banyak hal natural lainnya."


"Ah kamu kan tidak tahu yang sebenarnya!" cebik Nadya.


"Lalu apa yang kamu ketahui dan membuat aku harus menyelidiki?" senyum Omar.


"Hidung Sphinx itu hilang karena kena injak Obelix" bisik Nadya. "Dan terkubur di bawahnya."


Omar melongo. "Obelix? Asterix dan Obelix? " tanya Omar memastikan. "Seriously?"


"Aku percaya pasti itu ulah Obelix dan hidung Sphinx benar-benar terkubur disana." Nadya menunjukkan adegan komik Asterix dan Obelix di iPadnya.



Omar menatap Nadya dengan tatapan tidak percaya kalau gadis cantik ini memiliki pola pikir yang absurd. "Nadya, ini hanya komik..."


"Tapi aku rasa ada benarnya. Mungkin benar katamu kalau itu akibat dari perubahan cuaca dan ilmiah lainnya. Dan kalau pun jatuh, pasti kan dibawah tho? Mana ada jatuh keatas? Lalu kemana sisa hidungnya? Teori Asterix dan Obelix ini kemungkinan besar benar!" eyel Nadya.


Omar memegang kening Nadya dengan punggung tangannya. "Nad, apakah kamu sudah minum obat?"

__ADS_1


"Kenapa? Dahiku hangat ya?"


Omar mengangguk lalu menarik tangannya.


"Well, obat warasku ketinggalan... Jadi bisakah kamu menghubungi pemerintah Mesir untuk menggali di bawah Sphinx agar menemukan sisa hidungnya?"


Omar Zidane terbahak mendengar argumentasi gadis cantik bermata hazel green itu. "Nadya, aku tidak tahu apa karena kamu terlalu cerdas atau terlaku absurd hingga membuat teori seperti itu?"


"Teori itu muncul dari ide, lalu menuju ke riset, lanjut ke induksi dan deduksi, inference, penciptaan model baru ke sub teori" ucap Nadya serius.


"Nadya, apa yang kamu sadar kalau teori kamu hanyalah berdasarkan pencocokan antara fiksi dan fantasi?"


"Apa menurut mu ini adalah sistem cucoklogi?" tanya Nadya.


Omar menatap Nadya bingung. "Bahasa apa itu?"


"Bahasa Indonesia yang artinya adalah ilmu di mana Anda berusaha keras mencocokkan hal A dan hal B, padahal kedua hal tersebut sebenarnya tidak berhubungan sama sekali."


"Nah kamu itu tadi!" Omar rasanya ingin memegang pipi Nadya saking gemasnya.


"Oh? Masa?" Nadya menatap polos ke Omar.


Omar menggeram merasa kesal dengan gadis cantik yang membuat nya ingin menowel hidung mancungnya. "Aku mau cari minuman dingin! Panas kepalaku!"


"Hah?" Nadya menatap Omar yang berdiri dan pergi menuju pantry disana. "Memang kenapa sih?" gumam putri Travis Blair itu bingung.


***


"Ada apa Blair?" tanya Marisol.


"Nadya dan Omar. Tampaknya ada masalah."


Marisol menoleh ke arah belakang tempat Nadya duduk. "Memangnya kenapa?"


"Pasti Nadya berbuat ulah yang membuat OZ kesal. Nadya kan sama saja dengan Raveena pola pikirnya. Absurd."


Marisol tersenyum. "Kakak adik sama saja!"


"Hah? Apa maksudmu?" Nelson menatap wajah cantik khas Spanyol itu.


"Kamu pun sama saja, Blair. Kamu dan adikmu sama saja suka membuat orang lain kesal."


Nelson berlagak terluka. "Masa? Aku adalah orang paling sensitif di dunia..."


"Sensitif? Sensitif? Really?" ejek Marisol.


*Hei, apa kamu tidak menyadari bahwa aku adalah pria paling lembut?"


Marisol terbahak. "Kamu? No, Blair. Kamu orang paling menyebalkan di ruang sidang!"


"Oh itu hanya permainan peran, Mari. Karena aku dibayar mahal untuk itu!" seringai Nelson.

__ADS_1


Marisol menggelengkan kepalanya. "You're annoying brat( kamu anak nakal yang menyebalkan )!"


"Hei, I'm a good brat ( aku anak bandel yang baik ). Good looking, handsome, smart... rich" senyum Nelson usil.


Marisol memicingkan matanya. "Kamu mencoba merayuku, Blair?"


"No, hanya memaparkan semua fakta."


Marisol pun berdiri meninggalkan Nelson yang tertawa kecil. Mari, Mari... kamu kok emosian sih?


***


Dubai International Airport UAE


Omar dan para agen FBI lainnya terkejut ketika melihat Emir Ayrton Schumacher dan Emir Direndra Blair datang menjemput rombongan New York. Mereka datang bersama dengan jaksa penuntut umum Dubai dan pihak kepolisian yang akan menahan keempat orang terdakwa itu.


Nelson dan Marisol beserta Omar Zidane mengurus semua administrasi dengan pihak kejaksaan Dubai sedangkan Nadya langsung menghampiri kedua Oomnya.


"Oom Ay, Oom Direndra... Apa kabar?" sapa gadis cantik itu sambil Salim ke keduanya.


"Kamu kok ikut?" goda Direndra.


"Ya anggap saja sekalian belajar sambil ketemu anak Dubai. Aku kan kangen Radhi, Raine dan Damian" jawab Nadya heboh.


"Dasar kamu! Sambil menyelam terus tenggelam ya Nad" goda Direndra.


"Nah tuh Oom paham" gelak Nadya.


"Nelson, rombongan ke istana Al Jordan kan?" tanya Ayrton ke Nelson yang sudah menyelesaikan semua administrasi dan berjalan menghampiri kedua Oomnya.


"Ya iyalah Oom. Istana punya kamar banyak buat apa?" kekeh Nelson.


"Nad, kamu ke Al Jordan atau ke Al Azzam?" tanya Ayrton.


"Al Azzam lah! Aku ikut Oom Direndra ya?" rayu Nadya sambil merangkul manja lengan Oomnya.


"Ayo. Kamu kangen dengan The Blairs kan?" ajak Direndra. "Son, kamu ke Al Jordan?"


"Iya Oom" jawab Neslon.


"Sampai besok" pamit Nadya sambil menarik kopernya.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2