
Ruang Rawat Inap Omar Zidane
Omar menatap wajah Nadya yang masih basah pipinya dan hidung mancungnya tampak memerah macam tomat. Gadis itu dengan cueknya mengambil tissue diatas nakas lalu menyusut hidungnya membuat Omar menatap tidak percaya, betapa rusuhnya Nadya. Tapi itulah yang Omar suka karena Nadya selalu apa adanya.
"Bagaimana Jakarta?" tanya Omar supaya gadisnya tidak manyun saat melihat Nadya berjalan untuk membuang sampah.
"Well, kalau soal belajar bacaan sholat, aku sudah hapal. Empat surat pendek juga sudah. Masih belajar iqra nya. Baru mau mulai, malah dengar kamu tertembak. Itu gimana ceritanya? Kamu nggak pakai rompi anti peluru apa?" Nadya menatap Omar sambil duduk kembali.
"Aku dan Maggie memang tidak pakai karena kami mendatangi sebuah bar untuk mencari bartender yang menjadi unsub pelaku pemberian obat bius buat korban-korban perk*$saan. Apalagi salah satu korbannya adalah agen kami yang sedang menikmati masa di luar jam kantor."
"Bagaimana mereka bertemu?" tanya Nadya.
"Mereka... Nad, kamu tahu sendiri kan bagaimana kaum lajang di kota New York? Untuk mendapatkan pasangan yang ideal dan sesuai dengan kita itu tidak mudah. Banyak orang menggunakan aplikasi biro jodoh dan unsub mencari korban dari aplikasi yang bernama Find Your Heart. Rupanya, para predator ini bekerja sama dengan bartender si peracik obat bius ini."
Nadya melongo. "Para predator? Plural? Jamak? Ada berapa orang yang mengantri minta dikebiri?"
Omar menggelengkan kepalanya. "Yakin kamu nggak mau jadi jaksa penuntut umum?"
"Kenapa?" tanya Nadya.
"Kamu bisa naik jadi hakim, Nad. Dan siapa tahu hukum kebiri yang sempat hilang bisa kamu pulihkan kembali."
"Sayangnya Omar,kamu tahu sendiri kan keluarga aku bagaimana. Dan jika para pria-pria itu dikebiri, aku yakin kasus pembunuhan berantai akan banyak bermunculan karena mereka stress tidak bisa menyalurkan h@sratnya. Simalakama kan?"
Omar mengangguk. "Memang keputusan yang sulit."
"Terus kalian mendatangi bar tempat bartender itu bekerja?" Nadya memegang tangan Omar dan ingin tahu kenapa pria Sphinx nya bisa tertembak.
"Aku dan Maggie mendatangi bar itu dan rupanya bartender tersebut sudah kami tanyai sebelumnya dan ini adalah kali ketiga. Satu kali, kebetulan, dua kali jadi pertanyaan, tiga kali strike. Dan aku tidak siap karena bartender itu ada anak buahnya dan mereka menembak kami... Maggie dalam posisi open shot dan aku melihatnya ... Reflek saja aku melindungi partner ku..."
"Dan kamu tertembak..." Nadya melihat kepala Omar yang diperban. "Oh manusia Sphinx aku, ternyata bisa kena tembak juga."
Omar tertawa kecil. "Kalau aku tidak tahu bagaimana keluarga mu, mungkin aku bakalan terkejut dengan banyaknya panggilan dari kamu."
"Kamu belum tahu saja bagaimana Shinichi memanggil pacarnya seperti apa..." senyum Nadya. "Aku sangat lega kamu selamat OZ..." Gadis itu memegang tangan Omar dan menciumnya.
"Kamu tahu saat aku tertembak dan sebelum pingsan... Aku berdoa apa?"
"Apa?"
__ADS_1
"Ya Allah, jangan ambil nyawaku sekarang... Aku belum menjadi imam Nadya..." jawab Omar lembut membuat mata hijau kecoklatan Nadya memerah dan gadis itu menangis terharu.
"Ya ampun Omar... " Nadya pun bangun dan mencium bibir Omar dengan lembut. "Aku sayang sekali sama kamu..."
"Apa setelah aku sembuh, kamu akan kembali ke Jakarta?" tanya Omar sambil memegang wajah Nadya dengan tangannya yang bebas infus.
"Iya lah ! Aku kan belum khatam belajar nya !"
Omar tertawa kecil. "Sekarang kamu tahu artinya khatam ya."
"Lihat saja. Aku akan kembali ke New York dengan status berbeda."
"Apa kamu hendak bermualaf di Jakarta?" tanya Omar.
"Mungkin... soalnya sekalian saja sih menurut aku karena kan ada Guruku, ustadzah Aisyah disana."
"Apakah gurumu baik?"
"Alhamdulillah baik. Beliau kan guru ngaji sepupu aku juga ..."
Omar tersenyum. "Love you so much Nad."
"Love you too. Oh, mulai sekarang, harus pakai kevlar kemana- mana ! Aku tidak mau mendengar kamu tertembak lagi ! Bikin jantungku copot tahu nggak ! Memangnya kamu mau aku kena stroke di usia muda gara-gara kamu !" omel Nadya membuat Omar menggelengkan kepalanya.
"Apa!"
"Sini..."
Nadya mendekat ke wajah Omar. Pria itu lalu merengkuh tengkuk Nadya dan mencium bibirnya, yang langsung dibalas oleh gadis itu sama panasnya.
Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh.
"Astaghfirullah Al Adzim ! " seru Samuel melihat adegan mesra keduanya. "Benar-benar deh ! Nad, kamu pulang gih ke Jakarta ! Bikin Omar nggak sembuh - sembuh !"
Nadya melotot ke kakak iparnya. "Enak saja ! Omar itu butuh aku mas !"
"Omar itu butuh ketenangan, Nadya. Ada kamu inginnya yang hot-hotan terus ! Lama-lama aku kasih obat gosok yang hot biar makin hot !" sahut Samuel cuek.
"Mas Sammyyyy...."
__ADS_1
"Pulang Nad, jam besuk sudah habis !" perintah Samuel dengan wajah tegas.
Nadya pun memajukan bibirnya. "Mas Sammy nggak asyik! Macam nggak pernah kayak gitu sama mbak Bee!"
"Nad, pulang atau mas telepon Oom Travis?"
Nadya menghembuskan nafasnya. "Iya deh!" Gadis itu menoleh ke arah Omar. "Besok aku kemari lagi."
"Oke Nad."
Nadya mencium bibir Omar lagi...
"Jangan lama-lama, Nadyaaaaaa..."
Nadya melepaskan pagu*tannya dan menatap sebal ke Samuel. "Mas Bebek njelehi !"
"Ben ( biarin ) ! Biarkan pasien istirahat, bukan dibikin horny, Bambaaaanngggg !" balas Samuel judes.
Omar cekikikan melihat keributan dua bersaudara ipar itu.
"Iya deh, aku pulang. Byeeee ! Assalamualaikum !" pamit Nadya sambil membawa tas Hermès nya.
"Wa'alaikum salam Nadya" balas Omar dan Samuel bersamaan.
Setelah Nadya pergi, Samuel menoleh ke arah Omar. "Yakin kamu bisa tabah dengan adikku yang aduhai kelakuannya?"
"Insyaallah yakin. Kamu lihat sendiri kan bagaimana?" senyum Omar.
"Kalian memang Bucin to the max !" sungut Samuel. "Sama saja dengan Sakura dan Alessandro."
"Bukankah para gadis-gadis Pratomo memang membuat kita terbucin-bucin, Sam?"
Samuel menggaruk kepalanya. "Iya sih..."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️