Love And Justice

Love And Justice
Benarkah?


__ADS_3

Apartemen Keluarga Blair


Travis mengajak Shane duduk di ruang tamu formal sedangkan Nadya dan Omar membereskan semua berkas - berkas Triad Wong. Apalagi sudah waktu ibadah Maghrib, membuat Omar harus menjalankan ibadahnya. Tadi dia melakukannya di area ruang tamu formal tapi sekarang dia bingung hendak melaksanakan ibadah dimana.


"Kamu kenapa OZ?" tanya Nadya sambil memasukkan berkas ke dalam document keeper.


"Aku mau sholat Maghrib tapi tidak tahu mau dimana. Apa boleh di kamar Nelson?" Omar menatap Nadya.


"Di kamarku saja Omar."


"Tapi..."


"Omar Zidane! Bukankah kamu yang menjadi pangeran yang melepaskan sepatu aku? Jadi kamu sudah pernah masuk ke kamar ku kan! So What!" desis Nadya agar tidak terdengar ayahnya dan Shane.


"Iya... Tapi ini situasinya... Addduuuhhh!" Omar mengusap bahunya yang dipukul Nadya.


"Ambil air wudhu di kamar mandi situ dan masuk ke kamar aku! Ada selimut yang bisa kamu pakai buat sajadah! Kamu bisa mencari arah kiblat dengan ponselmu kan?" perintah Nadya tegas.


Omar menatap gadisnya dengan perasaan geli. "Kalau begini, kamu tampak aura pengacaranya, Nad."


Nadya mendekatkan wajahnya ke Omar. "I am a lawyer, Darling."


Omar tampak sedikit tersedak mendengar ucapan seduktif Nadya. "Ingatkan aku tidak menjadi saksi sebuah kasus dengan pengacara nya adalah kamu, Nadya. Karena aku... Tidak bisa berkonsentrasi jika menatapmu..."


Pipi Nadya tampak memerah. "Oh, Omar, itu adalah rayuan paling maut yang pernah aku terima darimu."


Omar Zidane terbahak. "Aku akan sholat di kamarmu, Nad. May I ( bolehkan )?"


"Bukankah aku sudah mengijinkan tadi?" hardik Nadya kesal.

__ADS_1


***


"Kamu kenapa Shane?" tanya Travis melihat pria berdarah Irlandia itu tampak gusar mendengar suara Omar tertawa.


"Nadya dan Omar, Oom. Mereka bersama?" Shane menatap Travis.


"Yup."


"Aku kira mereka tidak bertahan lama" gumam Shane.


"Mereka berdua sama-sama bucin, Shane. Jadi sayangnya, kamu tidak ada celah disana." Travis menyesap kopinya sambil menatap pria tampan itu.


"Sejak kapan mereka saling tertarik?"


"Well, mereka sudah tertarik sejak Brazil, lalu kasus pembunuhan berantai hingga gegeran Hongkong dimana mereka dipenjara bersama. Jadi Shane, Nadya dan Omar sudah melalui banyak hal tapi malah membuat hubungan mereka semakin dekat."


Shane mengehela nafas panjang. "Sepertinya saya sedikit terlambat..."


***


Kamar Nadya


Omar menyelesaikan tahiyat akhir dan mulai berdzikir seperti rutinitas nya. Pria itu tidak mendengar Nadya masuk pelan-pelan dan duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memperhatikan sikap pria itu.


Nadya memang tidak asing dengan gerakan keyakinan keluarga besarnya tapi keinginan untuk mempelajarinya baru muncul setelah melihat Omar beribadah di sel gedung pengadilan Hongkong. Nadya belum belajar secara intensif karena dia masih membutuhkan kemantapan hati dan satu-satunya orang yang tahu tentang dirinya belajar adalah Savrinadeya.


Nadya memang lebih nyaman bercerita dengan sepupunya yang tuna rungu itu karena istri Antonio Bianchi itu dikenal sangat pintar menyimpan rahasia para sepupunya. Savrinadeya dengan telaten menjawab semua pertanyaan Nadya meskipun dirinya bisa belajar dari Google maupun buku, tapi gadis itu lebih suka bertanya langsung dengan orang yang dia percaya.


Omar menyelesaikan doanya dan tersenyum ke arah Nadya yang masih menatap dirinya.

__ADS_1


"Kenapa Nadya?" tanya Omar yang masih duduk diatas karpet tebal kamar Nadya.


Nadya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Suka saja melihat kamu beribadah."


"Apakah kamu..."


"Mau menjadi makmum kamu?" potong Nadya membuat Omar terkejut. "Mau! Tapi aku belajar dulu ya?" Gadis itu mengucapkan kalimat itu tanpa ragu.


Omar merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Benarkah Nadya?" Suara Omar terdengar bergetar. "Jika aku sempat, aku akan mengajarimu..."


"Aku sedang belajar Omar tapi memang membutuhkan waktu..." Nadya menatap Omar yang sudah mengganti posisinya yang berlutut di hadapannya.


"Pelan-pelan saja karena mempelajari sesuatu yang baru itu membutuhkan waktu. Aku tahu kamu cerdas tapi ini kan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berhubungan dengan spiritual kamu, iman kamu dan keyakinan kamu... Aku tidak memaksa kamu harus bisa semuanya... Kamu mau mempelajari dan mau menjadi makmum aku saja... Merupakan suatu berkah yang tidak terkira, Nadya ... Jika kita bersama nanti dalam posisi resmi, aku akan membimbing kamu karena itu adalah kewajiban aku sebagai imam kamu..." Omar menatap dalam ke mata hazel green Nadya yang tampak terharu mendengar ucapan pria yang telah memenuhi relung hatinya.


"I'm so glad tidak salah memilih pasangan. Kamu pria yang baik, Omar Zidane" senyum Nadya sambil merangkul leher Omar.


"Dan kamu wanita yang membuat hidup aku bewarna, tidak monoton fight crime terus..." Omar memeluk pinggang Nadya.


"Kita tidak terburu-buru menikah kan?" Wajah Nadya tampak serius.


"Aku saja belum melamar kamu! Kita nikmati saja hubungan ini dan jika kamu sudah siap, aku akan menemui kedua orangtuamu secara resmi."


Nadya tersenyum lalu mencium bibir Omar lembut.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2