Love And Justice

Love And Justice
Di RR's Meal


__ADS_3

Apartemen Omar Zidane Keesokan Harinya


Omar baru saja membuka matanya saat suara getar ponselnya terdengar diatas nakas. Agen FBI itu pun mengambil ponselnya dengan berharap bukan kasus apapun. Jujur dirinya sangat lelah setelah tiba di apartemen pukul lima pagi setelah acara tembak menembak di Poughkeepsie.


Dilihatnya jam ponsel yang menunjukkan pukul satu siang dan wajah Omar berubah cerah saat tahu siapa yang menelpon.


"Siang cintaku..." sapa Omar dengan suara serak khas bangun tidur.


"Siang calon imam. OZ, nanti malam kamu jemput aku ya" balas Nadya.


"Jemput kemana?"


"Apartemen lah. Nanti malam mau ada acara di RR's Meal. Bang Lukie yang bikin acara, mumpung kita semua pas bisa hadir. Biasa sambil bikin jadwal yang bakalan nikah siapa lagi."


"Lho kamu nggak bareng sama Nelson?"


"Iiihhh manusia Sphinx ini belum nyatu ya jiwa dan raga kamu? Masih tidur di Sarkofagus kamu ! Mas Nelson ya jemput Marisol, Bambaaaanngggg!" hardik Nadya gemas.


"Ooohhhh... " sahut Omar sambil tersenyum.


"Omar Zidane !"


"Iya iya ... Dengar sayang. Jam berapa nanti aku jemput?"


"Jam setengah tujuh. Jangan telat ! Awas kalau telat !" Nadya langsung mematikan panggilannya membuat Omar tertawa kecil.


"Galak nya calon istriku... " Omar pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi karena panggilan alam sudah berbunyi.


***


Apartemen Keluarga Blair Di Central Park New York


Pukul 6.15 PM Omar Zidane tiba di apartemen keluarga Blair bertepatan dengan Nelson yang keluar hendak menjemput Marisol.


"Hai OZ. Masuk, aku jemput Mari dulu. Nanti kita bertemu di RR's Meal Hell's Kitchen ya" ucap Nelson.


"Oke. Nadya sudah siap?" tanya Omar.


"Lagi dandan kayaknya. See you later OZ" pamit Nelson dan Omar pun masuk ke dalam apartemen itu.


Omar melihat ada Rahajeng disana lalu menyapa calon mertuanya.


"Bagaimana semalam? Seru main tembak-tembakan nya?" tanya Rahajeng usai Omar salim ke dirinya.


"Seru dan saya kalah dari Jayde serta Wira" jawab Omar apa adanya. ( Baca di My 100th Secretary ).

__ADS_1


"Duo vampir itu jago nembak rupanya..." gumam Rahajeng.


"Saya sudah tahu di Hongkong mereka bagaimana tapi semalam saya semakin yakin mereka memang jago" senyum Omar.


"Untung Inggrid dan Chisato sudah paham ya jadi tidak kaget." Rahajeng menoleh ke arah pintu dan melihat Nadya keluar dari kamarnya.


Omar melongo melihat dandanan Nadya yang mengenakan terusan warna merah tanpa lengan.



"Kamu bawa jaket kan Nad?" tanya Omar.


"Bawalah. Kan ini summer jadi biar pas lah" jawab Nadya yang membawa Coat Burberry nya.


"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Rahajeng.


"Sudah mommy. Daddy masih ada ketemuan sama Oom Abi, Tante Reana, Opa Rhett dan Opa Ai?" Nadya mencium pipi Rahajeng.


"Masih. Biasa, urusan The Blairs" senyum Rahajeng. "Have fun kalian. Oh bilang sama trio kampret, jangan nistain Bayu !"


"Kalau itu aku nggak bisa janji mom."


***


RR's Meal Hell's Kitchen New York


"Lho kok kamu sampai duluan Von?" tanya Nadya bingung.


"Lha dari apartemen aku kemari kan nggak sampai sepuluh menit" jawab Yvonne, cicit Mamoru Al Jordan.


"Kai tinggal di apartemen kamu?" tanya Nadya lagi ke arah pria yang berdarah Samoan dan Maori.


"No, aku tinggal di hotel dekat apartemen Yvonne" senyum Kai.


"Oh bang Omar, kalian kan belum mengobrol banyak kan. Aku bercerita kalau kemarin bang Omar membantu NCIS juga." Yvonne menatap Omar dan Kai bergantian.


"Nah sana, ngobrol. Aku sama Yvonne dan cewek-cewek lainnya.


***


"Jadi kamu membantu agen Tennant dan agen Knight? Kasus pencurian bahan peledak?" tanya Kai saat mereka sudah duduk sambil menunggu pria-pria lainnya datang.


"Yup. Aku dan rekanku, Billy Boyd yang menonaktifkan b*mnya" jawab Omar dengan wajah kecut mengingat dirinya dan Billy hampir tewas.


"Kamu nekad Zidane" kekeh Kai.

__ADS_1


"Untungnya aku pernah belajar di akademi dan dengan Pedro Pascal, salah satu agen FBI Terbaik di bidang kekerasan domestik dan ahli di bidang b*m. Jadi kemarin aku bisa membaca alurnya. Sejujurnya si unsub memasang b*m itu dengan cara paling dasar jadi kami bisa menyelamatkan nyawa banyak orang dan nyawa kami sendiri."


"Kamu memang nekad Zidane."


"Bukankah tugas kita saat diambil sumpah sebagai law enforcement?" senyum Omar.


"Exactly... Terkadang harus diatas keluarga sendiri."


"Bagaimana dengan Yvonne? Kamu sudah mantap?"


"The truth is... Yes. Aku tidak menyangka Yvonne adalah putri senator dan pengusaha terkenal Zidane. Dia tidak menunjukkan bahwa dia anak orang kaya." Kai melihat ke arah Yvonne yang sedang mengobrol dengan Nadya dan Rin.


"Welcome to the club. Bagaimana tanggapan Senator Patrick Rogers dan Faranisa Al Jordan?"


"So far baik. Meskipun mereka agak kehilangan jika nantinya Yvonne akan ikut aku ke Hawaii. Tapi mereka kan punya rumah pantai disana jadi masih bisa bertemu..." Kai tertawa kecil. "You have no idea Zidane, bagaimana kakiku terasa lemas ketika tahu siapa orang tuanya saat mereka datang ke Hawaii untuk menjemput Yvonne usai kejadian di sana."


"Apakah Yvonne trauma Tarrant? Kita tahu dia menjadi saksi pembunuhan."


"A little bit. Aku tahu dia kuat tapi tidak sekuat itu. Yvonne benar-benar sangat ketakutan jika pembunuhnya mengejar dirinya apalagi dia di Hawaii sendirian." Kai menatap lembut ke arah Yvonne yang tertawa lepas bersama para sepupunya.


"Kita semua jatuh cinta dengan gadis-gadis istimewa Tarrant." Omar ikutan melihat Nadya.


"Yeah. Mereka memliki daya tarik tersendiri dan membuat kita selalu jatuh cinta setiap saat bukan, Zidane?" senyum Kai.


"Exactly dan yang jelas, kamu harus bersiap dengan sikap bobrok para sepupu pria Yvonne dan Nadya. Mereka tidak ada akhlak kalau sudah menistakan satu dengan lainnya, tidak perduli kamu mafia, Yakuza, pengusaha, Emir Dubai, raja Belgia ataupun FBI, jika sudah kumpul, lepaskan semua atribut kamu." Omar tersenyum ke arah Sean dan Dante yang baru datang bersama Zinnia dan Leia.


"Pengantin baru belum datang?" tanya Sean dengan wajah usil.


"Masih ngadon Sean ! Macam kamu nggak hapal saja" sahut Luke yang sedang mengobrol dengan Remy Giandra dan Giordano Smith.


"Seriously bang Lukie !" gerutu Giordano.


"What?" balas Luke dengan wajah tanpa dosa.


Omar menoleh ke Kai. "Paham kan maksudku?"


Kai tertawa. "Oh boy. Tampaknya malam ini bakalan brutal..."


"Yep!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2