Love And Justice

Love And Justice
No Jell-O


__ADS_3

Apartemen Keluarga Blair Di Central Park New York


Rahajeng menyambut kedatangan putrinya dengan wajah tersenyum lembut. Nadya yang hampir sebulan tidak pulang, tampak senang bisa bertemu dengan sang ibu.


"Bagaimana Jakarta?" tanya Rahajeng.


"Oma Gendhis dan Oma Danisha sehat, opa Bara dan opa Iwan juga. Yang jelas aku senang di Jakarta karena ketemu para sepupu dan para Oom dan Tante."


"Kantor Jakarta?" tanya Rahajeng yang tahu kantor Blair and Blair Advocate Jakarta sedang ada masalah.


"Sudah dapat culpritnya. Aku dibantu mas V dan mas Radyta jadi nanti aku pulang, tinggal eksekusi."


Rahajeng mengusap kepala putrinya. "Kamu tuh ketularan saudara-saudara kamu deh ! Omar sudah kamu besuk?"


"Sudah dong mommy. Aku pulang kan gara-gara manusia Sphinx itu kena tembak ! Dasar bodoh ! Kenapa juga nggak pakai kevlar sih !"


Rahajeng tertawa. "Kamu tuh sama calon suami kok manggil nya seenaknya sih?"


"Lha mas Shin apa kabar mom?"


"Kalau Shinichi itu memang sudah dari Sononya kacau. Kamu jangan ikutan !" tegur Rahajeng gemas. "Omar baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah..."


Rahajeng tersenyum. "Sayang, mommy tidak apa-apa kamu pindah, tapi kalau natalan, kumpul-kumpul ya?"


"Iyalah mommy. Macam biasanya bukan? Mom, meskipun berbeda tapi Daddy, mommy, mas Nelson, tetap lah keluarga aku. Lagipula aku tidak mau dimasukan ke dalam perutnya mommy gara-gara durhaka..."


Rahajeng terbahak karena dulu saat anak-anak masih kecil selalu mengancam bakalan memasukkan mereka lagi ke dalam perut kalau masih nakal.


"Kamu tuh kok ya masih ingat sih kalau mommy marah melihat kamu dan Nelson bertengkar" kekeh Rahajeng.


"Masih lah mommy..." Nadya memeluk ibunya erat.


Kedua ibu dan anak itu kemudian menikmati acara makan siang yang kesorean dengan Rahajeng mendengar bagaimana Nadya kesulitan mempelajari bahasa Arab dan sudah hapal bacaan sholat.


Rahajeng tampak terharu melihat bagaimana putrinya serius mempelajari keyakinan sebagian besar keluarga nya. Ada rasa kehilangan tapi yang berubah adalah imannya bukan Nadya. Putrinya masih putri kecilnya yang dia kandung sembilan bulan dan dia lahirkan.


Wanita cantik itu tertawa saat mendengar cerita Nadya soal Bima dan Arkananta yang tidak ada habisnya ribut unfaedah.


"Bima dan Arka kok ya nggak bisa akur sih?" gelak Rahajeng.

__ADS_1


"Padahal udah mau jadi opa dan Daddy lho itu berdua mom. Entah bagaimana nantinya anak Mas Arka ke depannya."


"Yang jelas bakalan bikin pusing Bima lagi."


Nadya tertawa. "Anaknya mas Arka dan nanti anaknya mas Shin yang bakalan bikin pusing generasi ketujuh..."


"Oh tidak. Semoga anaknya Shinichi nanti nggak nurunin bapaknya... Kasihan Kedasih dan dan Hideo." Rahajeng menatap horor ke putrinya.


"Yakin deh mom, Oom Hideo bakalan semakin pusing kalau besok mas Shin nikah dengan Kedasih terus punya anak yang sama Membagongkan dengan mas Shin. Stress!"


Rahajeng cekikikan. "Kayaknya kalau Sakura hamil nanti, bakalan nurun Alessandro deh. Dingin dan bar-bar."


"Mateng deh! Bokap nya Mafioso, opanya mantan mafia dan opa buyut nya Yakuza Jepang. Bagooossss... Nice combination, mom."


"Biarkan Alessandro pusing menghadapi anaknya apalagi kalau perempuan.Oh mereka kabur kemana jadinya Nad?" tanya Rahajeng yang tidak bisa menghadiri acara ijab Sakura dan Alessandro.


"Osaka. Jadi Oom Jin yang membantu mereka kabur dan membuat mas Shin dan Bang Luke marah-marah tapi Oom Jin kan sama kakunya dengan Oom Hideo. Jadi, ya cuek saja."


"Owalah, dibantu orang dalam sekali rupanya" senyum Rahajeng.


***


Ruang Rawat Inap Omar Zidane di Bellevue Hospital Keesokan Harinya


"Well, dua hari lagi kamu boleh pulang tapi masih harus istirahat seminggu di rumah sampai kamu benar-benar bisa berjalan dengan normal. Ini sih sudah bagus dan hasil kerja Sammy excellent. Kamu sudah bosan ya Omar?" kekeh Joey.


"Hampir seminggu di tempat tidur dan tidak berproduktif rasanya menyebalkan. Biasanya aku bisa kesana kemari, memecah kan kasus , disini hanya nonton tv dan makan Jell-O. Not my style." Omar tampak manyun.


"Bersabar... Lagipula, Nadya pulang ke New York demi kamu kan?" goda Joey.


Suara pintu ruang rawat terbuka dan tampak gadis cantik kesayangan dua pria itu datang .


"Assalamualaikum calon imam... Halo Oom Joey..." seru Nadya membuat Omar tersipu mendengar panggilan dari gadis itu.


"Panjang umur... Hai Nadya sayang... Oom kangen..." Joey langsung memeluk keponakannya yang sama bar-barnya dengan putrinya Blaze.


"Nadya juga tapi kan Oom Joey seringnya ke Harvard jadi dosen disana" balas Nadya.


"Dah, Oom tinggal ya. Kalian jangan macam-macam!" Joey melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah CCTV di kamar.


"Lha cuma ciuman saja kok..." balas Nadya cuek.

__ADS_1


"Nadyaaaaaa..." tegur Joey. "Sabar !"


Nadya cemberut sedangkan Omar memilih melihat pemandangan dari jendela kamarnya.


"Omar lusa sudah boleh pulang tapi belum diijinkan masuk kerja dulu. Seminggu lagi baru boleh masuk kerja. Lagian kan pas libur natal jadi kamu bisa bersama Omar kan?" Joey mengedipkan sebelah matanya.


Nadya langsung memeluk Oomnya. "Isshh tahu aja deh si Oom nih ! Tahu perasaan anak muda lagi kasmaran."


"Oh astaghfirullah... Travis bisa jantungan dengar putrinya lebay begini..." gumam Joey sambil menggelengkan kepalanya. "Dah, Oom tinggal dulu ya. Nad, jam besuk cuma sampai jam sebelas !"


Nadya melepaskan pelukannya dan melirik jam Patek Philippe nya. "Masih ada dua jam. Cukuplah !"


"Cukup buat apa?" Joey menatap curiga. "Kamu macam-macam, Oom bawa ke kamar mayat lho buat bersih-bersih disana !"


"Idiiihhhh emangnya Oom dihukum begitu?" cibir Nadya. ( Baca The Bianchis ).


"Dah ah, masih harus visite pasien. Daaahhh !" Pria blasteran Italia, Arab, Korea, Jepang dan Jawa itu pun keluar dari kamar Omar.


Nadya pun berbalik dan tersenyum ke arah Omar sambil menunjukkan tas makannya.


"Bawa apa itu Nad?" tanya Omar.


Nadya tidak menjawab tapi langsung mencium bibir Omar dengan lembut. "Bawa masakan buatan aku, chicken katsu saus teriyaki."


Omar tersenyum lembut ke arah Nadya. "Tahu saja masakan rumah sakit itu nggak enak. Terimakasih sayang."


Nadya tersenyum lebar. "Plus Jell-O..."


Omar langsung lemas. "No more Jell-O please..."


Nadya terbahak lalu mencium gemas pipi Omar. "Love you my Sphinx."


"Love you too, beautiful."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2