Love And Justice

Love And Justice
Bikin Eneg


__ADS_3

Ruang Interogasi FBI Plaza Building Manhattan New York


Tiffany dan Aisyah Tyler menatap wajah Gregorius Lawrence yang tampak tenang.


"Mengapa kamu melakukan itu? Apa yang membuatmu membunuh wanita-wanita ini?" Aisyah memperlihatkan semua foto-foto para korban.


"Karena... Mereka mengingatkan aku pada ibu dan kakak perempuan aku ... " Gregorius tersenyum yang dimata semua agen dan anggota NYPD, tampak sangat menyeramkan. "Mereka terbiasa mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari ayahku. Yah, ayahku suka memperk*¢a ibu dan kakak perempuan aku."


"Tapi... kenapa kamu tidak mencegah ayahmu?" tanya Tiffany.


"Buat apa? Aku pernah melawan ayahku dan hasilnya, aku dihajar. Setelahnya aku hanya bisa diam saja tapi lama-lama ternyata membuat aku menikmatinya saat mereka berteriak... Membuat aku menjadi lebih... horny..." jawab Gregorius tenang.


Wajah Aisyah Tyler tampak datar sedangkan Tiffany yang bukan seorang profiler, tampak ingin menembak Gregorius. Jangan ditanya semua orang di balik kaca Interogasi, mereka mengumpat dengan kasar.


"Son of the b1tch!' umpat Billy Boyd.


"Sabar Billy. Kita harus mendapatkan semua pengakuan nya." Pedro menenangkan Billy.


"Bagaimana kamu bisa tenang Pedro?" tanya Billy.


"Ini sama saja jika kamu berhadapan dengan b*m waktu. Kamu harus bisa tenang meskipun dalam hati kamu tahu ingin segera melemparkan ke langit !" jawab Pedro.


Omar bersedekap dengan gemas dan rasanya dia ingin sendiri ingin pergi dari sini, tidak ingin mendapatkan kontaminasi otak dari ucapan orang psycho. Rasanya Omar ingin bersama Nadya.


Nadya ! Duh macaroni schotel ku ! Omar bergegas keluar dari ruang pengamatan membuat semua orang bingung.


"Ada apa dengan Omar?" tanya Maggie ke semua orang.


"Mules mungkin?" sahut David Gideon cuek.


***


Omar bergegas ke ruang visual dan mencari tas pink dari Nadya tapi tidak menemukannya. Duh! Dimana itu? Nadya bisa menghajar aku kalau sampai tidak memakan macaroni schotel nya.


Pria jangkung itu celingukan mencari Kelly Moran. "Kelly !" panggil Omar setelah melihat rekannya datang dari kamar mandi.


"Tas pink kamu di meja mu, Zidane. Benar-benar deh Nadya. Tidak ada warna lain apa?" kekeh Kelly.


Omar hanya tersenyum tipis. "Thanks Kelly." Pria itu berbalik dan berjalan menuju mejanya.


"Oh OZ. Aku dan Ian tadi ambil dua. Enak lho!" cengir Kelly tanpa dosa.

__ADS_1


Omar mengehentikan langkahnya dan berbalik. "Apa?"


"Macaroni schotel nya. Enak!"


"Kelly, aku sedang tidak ingin ribut denganmu tapi kamu sudah melanggar hukum federal mengambil barang yang bukan hak mu!" Omar pun berbalik dan bergegas menuju mejanya.


Pria itu merasa lega melihat tas pink itu dan membuka kotak yang ada di dalamnya. Tampak delapan wadah aluminium foil berisikan macaroni schotel terdapat disana dimana seharusnya ada sepuluh.


Brengseeekkk Kelly dan Ian! Umpat Omar yang langsung mengambil satu macaroni schotel dan memakannya.


"Ya ampun Nad... Ini enak banget..." gumam Omar yang merasa mendapatkan mood booster tersendiri. Omar lalu menyalakan link CCTV dari ruang interogasi dan menontonnya dari meja kerjanya sembari menikmati macaroni schotel buatan gadisnya.


Sorry guys, untuk kali ini, aku sedikit pelit karena demi kewarasan otakku, aku butuh asupan dan ransum makanan dari gadisku yang ku sayang.


***


Ruang Interogasi FBI Plaza Building Manhattan New York


"Jadi kamu merasa terang**sang saat melihat bagaimana ayahmu memperlakukan ibu dan kakak perempuan mu?" Aisyah menatap Gregorius dengan tenang membuat Tiffany salut dengan kontrol emosi agen senior di sebelahnya yang memang bertugas sebagai profiler di BAU ( Behavioral Analysis Unit ) dan bertugas mengamati para unsub yang memiliki otak agak berbeda dengan manusia normal.


"Yes. Apalagi aku juga berusaha menarik perhatian para gadis dengan menjadi atlet American Football. Aku memiliki badan tinggi besar dan bakat, so... bukan sesuatu yang sulit bagiku untuk masuk tim.."


Aisyah mengangguk. "Kapan pertama kali kamu melepaskan keperjakaan kamu?"


"Dengan siapa kamu melakukannya?"


"Tetanggaku yang menggoda ku."


"Apakah dia first blood ( korban pertama ) mu?" tanya Aisyah lagi.


"Belum. Bukan. Aku suka tetangga ku itu. Dia penggemar BDSM tapi sayangnya dia kulit putih yang suka dengan milikku yang lebih besar dari milik pacarnya."


Omar nyaris tersedak macaroni schotel yang dikunyah nya. "What the hell !" Pria berdarah Mesir itu sudah tahu di ruang pengamatan pasti ramai dengan berbagai umpatan.


"Jadi kamu tidak berminat membunuhnya? Tetanggamu itu?" tanya Aisyah lagi.


"No, karena dia kulit putih. Aku tidak ingin membunuh kulit putih karena kalian pasti heboh jika korbannya kulit putih! Tapi jika korbannya kulit hitam, kalian pasti akan malas-malasan mencari pelakunya" seringai Gregorius.


"Bukankah itu rasis?" Tiffany menatap Gregorius.


"No, itu adalah fakta!" jawab pria itu.

__ADS_1


"Lalu siapa first blood mu?" tanya Aisyah Tyler sambil memajukan tubuhnya sedikit ke arah Gregorius.


"Teman SMA ku. Sepuluh tahun lalu. Dia bermain jinak-jinak merpati dan akhirnya aku paksa saja dia di dekat hutan area sungai Hudson. Usai itu, aku cekik dia dan tubuhnya aku buang ke sana. Kalian tidak akan menemukan nya karena aku sudah mempelajari bahwa di area situ terdapat Palung akibat gempa yang terjadi di New York beberapa tahun lalu. Disanalah dia berada."


Semua orang disana merasa merinding karena Gregorius menceritakan dengan santainya seolah dia cerita soal film horor. Meskipun para anggota BAU sudah terbiasa dengan para unsub yang aneh-aneh tapi kasus ini menurut mereka beyond their imagination ( di luar bayangan mereka ).


"Siapa nama first blood kamu?" tanya Aisyah Tyler.


"Anita Blackwood."


Aisyah dan Tiffany langsung menengok ke arah kaca membuat Maggie dan kepolisian NYPD mencari di data orang hilang melalui komputer yang ada disana.


"Benar. Anita Blackwood hilang sepuluh tahun yang lalu. Ayahnya melaporkan bahwa putrinya tidak pulang usai pertandingan American Football di kampus NYU." Maggie menatap semua orang.


"Apakah Gregorius mahasiswa NYU?" tanya Kapten dari precinct Queens yang ikut dalam pengamatan Interogasi.


"No. Usai lulus SMA dia bergabung dengan US Navy." David Gideon menjawab pertanyaan kapten itu.


"Lalu setelah SMA, kamu bergabung di Navy?" tanya Aisyah.


"Yes."


"Bagaimana dengan keinginanmu?"


"Semakin tersalurkan dengan banyaknya pela*cur di setiap pelabuhan yang kami singgahi" jawab Gregorius tenang.


"Apakah ada yang terjadi saat kamu di US Navy, diluar kasus perampokan" tanya Tiffany.


"Korban keduaku di New Orleans. Damn, dia sangat seksih saat berteriak dikala aku bermain kasar dengannya. Dan aku merasa kehilangan saat dia mati dengan cekikkan tangan ku..." Wajah Gregorius seperti lebih kehilangan hal yang membuatnya berga*irah daripada nyawa orang yang dibunuhnya.


Omar Zidane hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menelpon Marisol Braga.


"Mari, aku ada kasus untukmu. Huge ( besar ) ! Tapi kamu harus tabah melihat hasil interogasi nya."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2