Love And Justice

Love And Justice
Bibir Garam


__ADS_3

Starbucks Manhattan New York


Nadya mendatangi Starbucks Manhattan untuk memesan kopi dan croissant favoritnya untuk menghilangkan rasa asin garam yang masih terasa di bibirnya.


Mommy tuh benar - benar deh mau bikin anaknya darah tinggi!


"What can I do for you?" tanya Barisata imut itu.


"Iced skinny cinnamon dolce latte please. And a croissant with sausage. Thank you" pesan Nadya.


"One ice Americano please."


Nadya tertegun mendengar suara yang sangat dikenalnya lalu mendongakkan wajahnya. "OZ?"


"Hai. Aku kebetulan melihatmu saat hendak ke Starbucks."


Nadya tersenyum tapi pesanannya langsung dibayarkan oleh Omar membuat dirinya bingung.


"Sekali-kali Nad."


Mereka mengambil pesanan dan membawanya ke meja dekat jendela.


"Tumben kamu siang ke Starbucks?" tanya Omar.


"Buat menghilangkan rasa garam di bibirku."


"Kok bisa kamu makan garam?" tanya Omar lagi.


"Mommyku lah! Kamu tahu, aku tidak bangun-bangun dan akhirnya mommy memberikan garam di bibir aku... Otomatis aku terbangun lah! Bleh!" Nadya Segera menyesap lattenya dan memakan croissantnya.


"Poor Nadya" kekeh Omar.


"Kamu nggak usah sok lebay deh OZ. Berlagak sok perhatian tapi aslinya mengetawai diriku!" balas Nadya judes.


Omar tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya lalu tertawa terbahak-bahak membuat Nadya semakin manyun.


"I'm sorry Nadya, tapi ini lucu sekali." Omar tertawa geli.


"Nggak lucu Omar Zidane!"


"Lucu Nadya. Cara membangunkan yang paling lucu..."


Nadya semakin cemberut.


"Jangan manyun, malah macam bibir bebek kamu."


"Jangan kencang - kencang kalau bilang Bebek."


"Memang kenapa?"


"Suami sepupuku dipanggil Bebek!"

__ADS_1


Omar melongo. "Apa kalian tidak ada panggilan yang manis gitu?"


"Lho itu sudah paling manis!" balas Nadya.


"Oh ya ampun."


"Kamu ngapain kemari OZ? Bukannya kamu harus mengurus kasusnya Theodore Lavender?"


"Baru saja aku dari kantornya Marisol dan aku melihat kamu masuk ke Starbucks. Jadi aku mampir saja lah" jawab Omar.


"Kamu tidak sedang mengikuti aku kan OZ?" Nadya menyipitkan matanya.


"Astaghfirullah Nadya. Ngapain aku mengikuti dirimu? Macam tidak ada kerjaan saja!" protes Omar.


"Siapa tahu!" jawab Nadya sambil mengedikkan bahunya.


Omar menyipitkan matanya. "Kamu benar-benar deh!"


"Apa? Cantik? Jelas! Anaknya Pak Travis dan Bu Rahajeng masa nggak cantik!" balas Nadya sambil mendongakkan dagunya.



Nadya ... Nadya



Yang ngakak ada kena garam ...


"Baru tahu?"


"Sudah tahu dari dulu cuma dia terlalu narsis!"


Nadya terbahak. "Hei, aku narsis karena memang patut narsis. I'm beautiful, smart and rich! But also nice, humble and kind to other people."


"Kamu memang nice, humble and kind Nadya. Aku harap tidak berubah..."


"Tidak lah Omar. Aku tetap aku..." senyum Nadya.


"Aku harus kembali ke gedung FBI, Nad. Nice to meet you..." Omar pun berdiri.


"Terimakasih atas traktiran nya." Nadya tersenyum manis.


Omar merasa tidak tahan dengan gadis cantik bar-bar itu lalu mencium bibir Nadya lembut membuat gadis itu membeku.


"Benar, ada garamnya..." gumam Omar. "Asin!"


Nadya mengeplak Oma dengan tangan. "Omar. Zidane! Kamu menyebalkan!"


Omar terbahak. "Bye Nadya." Pria jangkung itu menerima panggilan telepon dari Maggie. "Yes Mag?" Omar melambaikan tangannya saat melihat Nadya dari jendela dan menuju mobilnya. "Aku kembali ke kantor!"


Omar menstater mobilnya dan melihat Nadya masih menikmati croissantnya. Bibir mu tidak asin Nad... Manis malahan.

__ADS_1


Omar tersenyum sepanjang perjalanan. Tampaknya semakin sulit untuk melepaskan mu Nadya.


***


Nadya berjalan dengan sedikit melamun teringat ciuman Omar tadi. Meskipun hanya sebentar tapi dirinya merasakan bahwa pria itu memiliki perasaan yang lebih dengan dirinya. Tapi apa benar dia sudah melupakan mbak Leia?


"Nad? Are you okay?" tanya Phoenix yang melihat sepupu jauhnya datang dengan sedikit melamun.


"I'm fine hanya saja rasanya garam kenapa jadi manis ya?" gumam Nadya.


"Kan kamu habis dari Starbucks makanya jadi manis" senyum Phoenix.


"Tapi ini manisnya beda, P... Gimana gitu..." ucap Nadya. "Manis yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata."


Phoenix hanya menggelengkan kepalanya. "Efek kafein kamu memang wow ya Nad?"


"Kafein yang sangat dahsyat!"


Phoenix memegang kening Nadya. "Panas! Jangan-jangan benar kamu tensinya naik!"


Nadya memukul bahu Phoenix.


"Aduuuh! Ya ampun Nadya!" pekiknya sambil memegang lengannya.


Nadya hanya mencium buku tangannya. "Makanya jangan ngaco!"


***


Ruang Kerja Nelson Blair.


Nelson menatap sang senator yang meminta kasus putranya dibela oleh pengacara muda itu.


"Apakah anda tahu bahwa kejahatan yang dilakukan putra anda akan membuat dirinya bisa dihukum mati?" ucap Nelson yang mendapatkan berkas kasus penculikan disertai dengan pemerk0*Saan gadis di bawah umur dan terakhir pembunuhan. Kasus yang ditangani oleh detektif Stabler itu membuat ramai di tajuk utama media massa.


"Minimal hukuman seumur hidup, Mr Blair" pintanya. "Saya berjanji akan membayar kerugian kepada keluarga korban."


"Mr Senator, jika saya menjadi orang tua korban, saya lebih memilih putri saya kembali daripada diganti dengan sejumlah uang!" ucap Nelson dingin. "Tidak semua bisa dinilai dengan uang."


"Tolonglah Mr Blair, loloskan putra ku dari hukuman mati!"


Nelson mengehela nafas panjang. Jika mengikuti moral dan emosi, aku tidak akan menerima kasusnya tapi karena dia teman Daddy, terpaksa deh! Biarkan juri yang memutuskan, aku akan membela semampu aku.


"Baik tuan Senator. Saya akan membela putra anda" jawab Nelson dengan berat hati. Your son is so sosiopath!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2