Love And Justice

Love And Justice
Escape House


__ADS_3

RR's Meal Hell's Kitchen New York


Semua tamu undangan sekarang menikmati acara resepsi plus makan siang dengan suasana santai. Para tetua di New York tampak senang bisa berkumpul bersama karena selama ini jarang bertemu langsung karena mereka tinggal di borroughs berbeda.


Omar sendiri sudah berganti pakaian dengan lebih santai dan asyik mengobrol dengan para sepupu Nadya sedangkan istrinya masih berganti pakaian yang lebih ringkas daripada kebaya.



Yang hepi sudah ijab.


"Apa nanti ada penggagalan unboxing?" tanya Devan.


"Tidak boleh ! Gadha yang namanya penggagalan unboxing ! " hardik Nadya yang sudah berganti pakaian dengan gaun bewarna pink.


"Lhaaa nggak seru dong Nad..." protes Bayu.


"Nggak ada !" balas Nadya judes.



Si pengacara judes


"Alah Nad, mbok ada..." rayu Radeva.


"Nggak ada !"


"Ada dong..."


"Nggak ada !"


Omar dan Bayu hanya bisa memegang pelipisnya melihat Nadya ribut dengan Radeva dan Devan hanya permasalahan unboxing.


"Nad..." panggil Omar.


"Ya suamiku?" Nadya menatap mesra ke Omar yang wajahnya langsung memerah karena istrinya satu ini memang sering ajaib.


"Ehem ... Gaunnya bagus. Rancangan siapa?" tanya Omar supaya tidak keterusan gegeran dengan Radeva dan Devan.


"Tante Mariana dari Caroline Herera dong... Cantik kan? Seperti yang pakai. Iya nggak suamiku?" goda Nadya sambil merangkul lengan Omar.


"Iyain OZ daripada nanti ada yang manyun" kekeh Bayu.


"Iya sayang..." senyum Omar ke arah Nadya.


"Ampun deh kalian berdua itu..." gerutu Devan.

__ADS_1


***


Nadya membuktikan ucapannya bahwa tidak ada penggagalan unboxing karena sorenya, gadis itu sudah menyeret Omar pergi menuju rumah milik keluarga Blair.


"Kita kemana Nad?" tanya Omar yang bingung istrinya dengan cueknya menyetir Subaru Forester nya ke arah area pinggiran kota New York.


"Ke rumah escape keluarga Blair. Sebenarnya hadiah bulan madu dari Oma Kaia. Rumah ini dibangun oleh opa Edward untuk acara healing lalu dipakai buat acara escape gitu ke semua anggota keluarga Blair. Dan sekarang giliran kita yang kabur." ( Baca The Detective and The Doctor ).


"Nad, kamu nggak repot nyetir dengan gaun seperti itu?" tanya Omar yang merasa sumpek melihat istrinya macam bunga bedebum.


"Nggak lah. Santai aja Omar sayang..."


"Tunggu Nadya. Kita berapa hari di rumah escape?" tanya Omar.


"Maunya berapa hari ?" balas Nadya cuek.


"Nad... kita nggak ada baju ganti ... Main pergi saja..." jawab Omar.


"Emang perlu pakai baju?" Nadya melirik ke arah Omar yang sudah panas dingin melihat wajah menggoda istrinya.


"Nadyaaaaaa... Please deh !"


"What ? Macam kamu masih perjaka saja ih..." ejek Nadya. "Yakin kamu sudah nggak kan?"


"Yaaaa tapi itu sudah lama sekali sayang, jaman masih di pendidikan di Quantico..."


"Lebih baik jujur kan Nad. Setelah sibuk di biro, kehidupan sosial aku hanya terbatas kantor dan ibuku. Aku baru merasakan tertarik dengan wanita ya saat bertemu dengan Leia. Tapi... habis itu ya sudah tidak kepikiran akan bertemu dengan kamu dan akhirnya menikah denganmu Nad..."


Nadya menggenggam tangan Omar.


"Kamu nggak marah sama aku ? Sudah pernah melakukannya?" Omar menelisik wajah Nadya, takut ada amarah disana atau cemburu.


"Ngapain marah? Sudah kejadian lama sekali bukan dan kamu baru berusia dua puluhan. Yang jelas sejak saat itu, kamu nggak pernah jajan kan?"


"Duh Nad, aku masih sayang dengan badanku. Sejujurnya semenjak sibuk di biro, bisa pulang cepat dan segera tidur itu adalah yang utama aku pikirkan..." senyum Omar.


"Good. Karena kita sudah saling berjanji untuk setia satu dengan lainnya..."


"Nadya sayang, jika aku nakal denganmu, sudah pasti semua kakak-kakakmu akan mencincang aku dan dilemparkan ke Empang piranha..."


"Aku suka kalau kamu sadar diri, OZ" senyum Nadya.


"Astaghfirullah... Sadar diri pula" kekeh Omar geli.


***

__ADS_1


Pondok Milik Edward Blair dan Yuna Pratomo


Nadya dan Omar akhirnya tiba di pondok milik keluarga Blair yang semuanya terbuat dari kayu. Pondok itu sudah mengalami banyak renovasi karena usia beberapa kali namun tetap menjaga denah aslinya.


"Sayang, ambil tas yang ada di bagasi" ucap Nadya sambil memencet kode di pintu pondok.


"Katanya nggak bawa baju..." kekeh Omar.


"Siapa yang bilang? Kan aku cuma bilang apa kita perlu baju?" sahut Nadya cuek yang kemudian masuk ke dalam pondok itu.


Omar membawa dua duffle bag Louis Vuitton lalu kembali lagi untuk membawa kotak cooler yang pria itu yakin adalah bahan makanan untuk mereka selama di pondok.


Omar menutup pintu dan mulai membuka kotak cooler yang seperti dugaannya ada banyak bahan makanan beku didalamnya. Pria itu pun mulai memasukkan ke dalam kulkas dengan teratur dan sistematis.


Setelahnya pria itu mencuci tangan dan memandang dalam pondok itu. Ada sofa di depan perapian lalu meja makan dari kayu serta dapur dengan fasilitas lengkap. Omar juga bisa melihat foto-foto keluarga Blair terdapat di dinding dan meja Konsul pondok.


Omar memperhatikan satu persatu foto itu dan melihat terdapat lukisan pria bermata biru yang mengenakan jaket kulit. Omar membaca tulisan bawahnya.


Mr Edward Blair by Miss Yuna Pratomo.


"Ternyata Omanya Nadya sangat seniman sekali. Benar-benar pelukis yang handal" gumam Omar sembari membandingkan foto Edward muda dengan obyek lukisan yang tergantung di dinding pondok.


"Omaaarrr !" panggil Nadya membuat pria itu mendongak ke atas karena mendengar suara istrinya disana.


Omar pun naik ke atas lantai dua pondok melalui tangga kayu dan melihat ruang tidur yang luas. Matanya melotot sempurna ketika tampak Nadya berada diatas tempat tidur hanya mengenakan br@ tanpa tali dan th*Ng bewarna hitam yang Omar tahu itu pasti mahal... Membuat istrinya semakin seksih apalagi dengan pose provokatif yang membuat semua saraf sensitif nya bereaksi.


"Ya Allah, Nadyaaaaaa..." ucap Omar dengan suara leher tercekik karena tidak menyangka istrinya akan totalitas menggodanya.


"Apa...?" Nadya lalu bangkit dari tempat tidur dan bergerak perlahan menuju Omar yang datang menghampiri dirinya. "Kamu tidak suka? Kurang menantang ya?"


"Hah...? Sangat ... suka Nadya..." ucap pria itu tertahan dan rasanya nafasnya semakin cepat saat Nadya berlutut diatas tempat tidur dan mulai membuka jas suaminya lalu membuka kancing kemejanya.


"Kan aku sudah bilang, memangnya kita butuh baju, OZ?" goda Nadya sambil menjilat bibir Omar yang membuat pria itu berusaha menahan adrenalin dan n@fsunya.


Bohong jika dia tidak terpengaruh dengan sikap agresif Nadya yang layaknya sudah biasa tapi Omar tahu, gadis itu memang punya nyali besar.


"Wuuuiiiihhhh... kotak-kotak" celetuk Nadya saat melihat perut suaminya. "Roti coklat, roti kacang, roti keju, roti daging..." Absen Nadya sambil menyentuh perut Omar yang nafasnya semakin memburu.


"Naaaadddd..." rengek Omar.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2