Love And Justice

Love And Justice
Ke Hongkong


__ADS_3

Gedung Pengadilan New York


Nelson dan Marisol sama-sama merasa tegang menunggu keputusan para dewan juri yang berjumlah 12 orang untuk memutuskan apakah Benedict Robert bersalah atau tidak. Nelson mengakui bahwa kemampuan Marisol menggunakan pesonanya dan caranya berbicara dengan persuasif membuat juri mampu berpikir bahwa Benedict Robert tidaklah gila!


Kedua orang itu merasa harus segera menyelesaikan kasus ini karena Isobel sudah memerintahkan Keduanya untuk ke Hongkong membantu para klan Pratomo yang ditangkap di Hongkong akibat mengamuk di markas Triad Wong.


"Apakah juri sudah mencapai sepakat?" tanya Hakim.


"Sudah your honor" jawab ketua juri.


"Bagaimana keputusan nya?"


"Guilty."


Semua orang di ruang sidang langsung heboh, apalagi Benedict yang tidak terima. Pria itu mengumpati Nelson, Marisol, hakim dan juri hingga harus ditahan pihak keamanan.


"Mr Blair. Klien anda akan mendapatkan hukuman maksimal yaitu hukuman mati dengan cara disuntik. Kapan eksekusi akan dilaksanakan, anda akan mendapatkan pemberitahuan dari pengadilan." Hakim itu menatap serius ke Nelson yang hanya mengangguk.


"Terimakasih your honor." Nelson membereskan semua berkas dan menoleh ke arah Marisol yang hanya memasang wajah datar tapi matanya tampak memberikan kode. We did it ( kita berhasil ).


Travis yang mengikuti jalannya persidangan langsung dihadang senator Robert yang tidak terima putranya dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman maksimum.


"Blair ! Aku tidak terima!" hardik senator Robert.


"Banding lah kalau kamu tidak terima" jawab Travis kalem. "Tunggu dua bulan lagi baru Benedict bisa mengajukan banding tapi aku rasa kemungkinan perubahan hukuman dari mati ke seumur hidup itu kecil, my friend."


"Anakku sedang dalam kondisi tidak meminum obatnya!"


"Anakmu adalah sosiopath, psychopath dan manipulator ulung! Tiga psikiater terkenal! Tiga psikiater terkenal di negeri ini menyatakan bahwa anakmu dalam keadaan waras! Nelson sudah mengajukan insanity tapi bukti-bukti memperlihatkan sebaliknya!" Mata biru Travis menatap dingin ke arah senator Robert.


Pria paruh baya itu pun pergi meninggalkan Travis yang menghela nafas panjang. Nelson lalu menghampiri ayahnya yang tampak dingin wajahnya.


"Dad, apa yang dia minta?" tanya Nelson.


"Banding! Daddy bilang harus menunggu dua bulan karena kita harus ke Hongkong malam ini." Travis melihat Marisol yang berdiri di belakang Nelson. "Thanks Mari."


"Anytime, Mr Blair" senyum Marisol.


"Kamu langsung ke gedung FBI?"


"Iya Mr Blair. Chief Isobel de Garza minta segera bertemu karena dua agen FBI ditangkap di sana. Bukankah salah satunya iparmu Son?" Marisol menatap kekasihnya.


"Yup. Pedro Pascal dan Omar Zidane. Nadya pun ditangkap" jawab Nelson.


Marisol mengangguk. "Saya dan Chief de Garza akan mencari semua data dari sini Mr Blair."

__ADS_1


"Bekerja samalah dengan Benjiro Smith dan Jang Geun-moon. Mereka pasti bisa membantu mu, Mari" ucap Travis.


"Baik Mr Blair."


"Ayo Son, kita harus berangkat ke Hongkong. Sudah ditunggu Abi" ajak Travis.


Nelson lalu berbalik ke arah Marisol dan mencium bibir gadis itu sekilas. "Bantu keluarga aku, Mari."


"Of course Nelson." Marisol memberikan ciuman di pipi pria tinggi itu.


***


Penjara Federal Hongkong


Nadya berusaha melihat Omar Zidane yang berada satu deret sel nya karena tadi lengan pria itu terserempet peluru. Karena posisinya tidak menguntungkan, akhirnya Nadya berteriak memanggil Sadawira dan Damian yang satu sel dengan Omar.


"Wira! Mas Dam! Omar gimana itu?" tanyanya dengan bahasa Indonesia.


Lucas Syahputra melihat gadis cantik yang fisiknya bule tapi bisa bahasa Indonesia fasih itu pun terkejut.


"Adikmu bule tapi bisa bahasa Indonesia?" tanya Lucas ke Luke Bianchi. Chief BIN itu satu sel bersama Luke Bianchi dan Pedro Pascal.


"Hei, bahasa Indonesia wajib bisa di keluarga aku. Mau cetakan kamu bule, Asia atau tidak jelas, itu wajib" balas Luke sambil tiduran dan memejamkan matanya. Pria itu tampak lelah usai kena interogasi dari pihak kepolisian Hongkong karena dianggap sebagai pemimpin penyerangan.


"Adikmu itu pacarnya Omar Zidane?" tanya Lucas.


"Bisa dikatakan begitu" gumam Luke. "Jangan mengejar dia, Lucas. Dia sudah suka dengan OZ."


Lucas tersenyum kecut.


"Omar nggak papa Nad, kamu tenang saja !" jawab Damian.


Nadya pun mengangguk meskipun dalam hatinya tidak tenang karena Omar terserempet peluru karena melindunginya tadi. Setidaknya nggak separah Jayde sih kena sabet pedang.


"Daijoubu, Nadya-san" hibur Chisato. "Omar-san akan baik-baik saja."


"I hope you're right" senyum Nadya dengan wajah masih khawatir.


"Omar kuat, Nadya. Jangan khawatir. Kami para agen federal sudah terbiasa digembleng di akademi jadi yang penting kamu jaga kesehatan kamu karena kita akan brutal disini" ucap Katrin Jaeger, agen federal BND yang berdarah Jerman itu.


Nadya pun duduk di pinggir tempat tidur yang terbuat dari besi itu. Jujur baru kali ini dia merasakan berada dalam penjara membuat dirinya merasakan seperti apa para penjahat kalau disini. Untungnya aku dipenjara bersama dengan orang-orang yang aku kenal dan para saudara aku. Kalau sendirian, tidak terbayang dia bakalan mewek terus.


***


"Jahitannya Ken rapi dan paling dalam waktu tiga hari bakalan mengering" ucap Sadawira sambil memeriksa luka lengan Omar Zidane.

__ADS_1


"Ken kan dokter bedah dan bakalan bikin malu kalau jahitannya nggak rapi" celetuk Damian.


"Tadi Nadya tanya apa?" Omar menatap pria Asia dengan wajah dingin itu.


"Tanya kamu bagaimana. Dia pakai bahasa Indonesia." Sadawira tersenyum tipis.


"Oh." Omar tersenyum mengingat gadisnya berada di sel yang satu deret hingga tidak bisa saling melihat.


"Kamu dan Nadya...?" Damian menatap Omar Zidane dengan tatapan menyelidik, begitu juga dengan Sadawira dan Gabriel.


"Masih penjajakan..."


"Sudah tidak mengingat mbak Leia?" goda Damian.


"Ya ampun Dam. Kalau Dante dengar, habis aku!" ucap Omar panik membuat ketiga pria itu terbahak. "Seriously you guys, ini sudah empat tahun dan kalian masih menanyakan hal yang sama?"


"Soalnya kamu patah hatinya lama OZ" kekeh Damian.


"Brengseeekkk kau Dam!" umpat Omar Zidane yang tidak ada jaim-jaimnya dengan keluarga Nadya karena mereka sudah sangat dekat satu sama lain.


"Sejujurnya Omar, aku suka kalau kamu dengan Nadya. Kalian itu memiliki chemistry yang membuat orang lain ikut senang. Aku tahu kalian belum mau terburu buru tapi segerakanlah karena yang naksir Nadya banyak!" cengir Gabriel.


"Ya Allah, aku tahu kenapa Nadya sering minus akhlak kalau bercanda, efek kalian itu memang membuatnya kacau!" Omar mengerucutkan bibirnya.


"Hei, we are who we are Omar. Take it or leave it" seringai Damian.


Suara dengkuran yang keras membuat keempat pria itu saling berpandangan. "Yup, bakalan adu ngorok deh!"



Yang selalu dikaitkan dengan Leia.



Yang khawatir di sel sebelah


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2