Love And Justice

Love And Justice
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Ruang Rawat Inap Omar Zidane di Bellevue Hospital New York


Nadya dengan telaten menyuapi Omar membuat pria itu semakin terbucin-bucin dengan gadis yang jauh lebih muda darinya. Tahun depan Nadya menginjak usia 24 tahun sedangkan Omar 34 tahun. Tapi entah mengapa mereka berdua bisa cocok.


Mungkin karena sifatnya Nadya yang ceria, apa adanya membuat aku menjadi lebih semangat. Omar menatap wajah cantik Nadya.


"Kenapa OZ?" tanya Nadya yang bingung melihat mata coklat Omar menatapnya penuh arti.


"Aku senang kamu mau bersamaku Nad. Aku tidak tahu... Kenapa aku mendapatkan wanita yang cantik, cerdas, bar-bar... dan putri keluarga terpandang... Mau denganku yang anak imigran, agen FBI dengan gaji jauh dibawah pendapatanmu... Addduuuhhh !"


Nadya memencet hidung mancung Omar. "Sekali lagi kamu ribut soal gaji, aku cukur brewok mu !"


"Kamu tidak berani Nad..." ucap Omar dengan suara sengau karena hidungnya dipencet Nadya.


Nadya melepaskan jepitan di hidung Omar. "Try me, Omar !"


"Percaya Nadya...Percaya."


"So, sudah habis ini makannya. Anak pintar!" Nadya menepuk pipi Omar.


"Nad... "


"Hmmm..."


"Tahun depan kita menikah yuk."


Nadya melengos menatap Omar. "Demi Zeus dan semua dewa di Olympus, kamu itu benar-benar definisi Fir'aun deh ! Sangat tidak romantis Omar ! Sangat tidak romantis !"


Omar tertawa. "Bagaimana bisa romantis, Nadya. Aku masih terkapar begini..."


"Omar Zidane !"

__ADS_1


"Jadwal keluarga kamu yang akan menikah siapa saja?"


"Hah? Oh, mas Sendra di Februari, mas Eagle di Mei, Juni sampai Desember masih kosong. Tapi mungkin mas Bayu dan Ajeng bakalan menikah besok Juni atau Juli setelah Ajeng selesai kontrak. Bagaimana?"


"Kita menikah September atau Oktober?"


"HAAAAAHHH? Omaaarrr !" Nadya mengambil bantal sofa dan memukul wajah pria itu. "Kamu itu ngajak nikah atau ngajak piknik sih ?!"


Omar tertawa terbahak-bahak. "Aku suka melihat kamu marah-marah Nadya. Jujur ditinggal kamu ke Jakarta, membuat aku rindu melihat wajahmu kalau sedang manyun."


"Beneran deh kamu menyebalkan !" Nadya memeriksa pelipis Omar karena takut jahitan Blaze terbuka akibat kena pukul bantal.


"Aman kok Nad..."


"Bukan begitu. Kalau sampai sobek, aku yang bakalan dibejek-bejek mbak Bee." Nadya memeriksa dengan detail.


"Kamu takut banget dengan Blaze Bianchi."


"Siapa yang berani main tangan ke putri dokter Joey Bianchi?"


"Aku lupa siapa tapi intinya dia tidak terima ditolak oleh mbak Bee dan menampar nya yang langsung dihajar habis-habisan. Kalau mas Sammy nggak narik mbak Bee, melayang deh itu nyawanya."


"Tapi pria kalau berani memukul seorang wanita, itu sudah tendensi dia akan terus melakukannya jika sudah menikah. Sekali kamu main tangan, maka akan menjadi kebiasaan..."


"Benar. Apalagi Oom Joey tidak pernah menyentuh mbak Bee tapi ini bukan siapa-siapa, berani. Jadi wajar kalau mbak Bee ngamuk."


"Good job Blaze."


Nadya mengangguk. "Aku pun juga akan melakukan hal yang sama. Habis itu baru aku tuntut tapi setidaknya dia sudah babak belur duluan !"


Omar menggelengkan kepalanya. "Ya ampun bar-barnya gadisku."

__ADS_1


"So, Omar. Bagaimana ibumu? Apakah sudah tahu hubungan kita?" Nadya menatap Omar serius.


"Sudah. Ibuku sudah tahu dan sangat menghormati dan menghargai keputusan kamu untuk mualaf. Dan beliau mengajak kamu untuk bertemu bertiga besok tanggl 3 Januari."


"Memang ada apa di tanggal itu?" tanya Nadya bingung.


"Ibuku berulang tahun Nadya. Jadi mungkin menurut ibuku, momennya pas untuk bisa bertemu denganmu."


"Tapi apa tidak dirayakan dengan keluarga kamu?"


"Dirayakan tapi semua orang di keluarga aku tahu aku berhubungan denganmu. Kan sepupu aku sahabat Raveena." ( Baca The Bianchis dan Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena )


Nadya tersenyum. "Aku lupa."


"Jadi Nadya, kira-kira kamu hendak memberikan kado apa untuk ibuku?" goda Omar.


"Tas."


"Jangan Hermès, Nadya. Please, ibuku memang paham fashion tapi bukan berarti dia meminta barang mahal juga."


"Bukan Hermès, Omar. Tapi aku sudah terbayang tas yang cocok untuk Mrs Zidane." Nadya tersenyum manis ke Omar.


Entah kenapa perasaan Omar tidak enak. Pasti barang branded yang bisa membuat ibuku shock.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2