Love And Justice

Love And Justice
Aku Lapar !


__ADS_3

Ruang Interogasi FBI Plaza Building Manhattan New York


Marisol datang bersama dengan Nelson Blair karena mereka berdua sebelumnya sedang mengurus kesepakatan di salah satu kasus dimana klien Nelson bersedia menerima hukuman dari jaksa penuntut umum atas kejahatannya.


Omar Zidane menyambut calon iparnya itu di depan lift dengan wajah tegang membuat kedua jaksa dan pengacara itu menatapnya bingung.


"Kasus yang mana lagi OZ?" tanya Nelson sambil berjalan bersama ke ruang pengamatan.


"Serial killer ( pembunuhan berantai dengan korban wanita kulit hitam )" jawab Omar.


"Yang di setiap borough New York?" Marisol menatap pria berdarah Mesir itu.


"Yup. Precinct Queens menangkap nya sebelum berhasil mendapatkan korban ke 11 di Starbucks Queens."


"Siang bolong?" Nelson tahu para korban kebanyakan dilaporkan hilang malam hari.


"Yup. Salah satu barista di Starbucks mengenali wajah Unsub dan menelepon polisi."


Semua orang di ruang pengamatan menoleh saat melihat Marisol dan Nelson datang. Setelah menyapa semua, kedua orang dari kantor kejaksaan dan pengacara itu mengikuti acara interogasi.


"Blair? Apakah kamu putra Travis Blair?" tanya David Gideon mendekati Nelson.


"Benar Agen Gideon."


"Daddy mu itu pria yang cool. Dia membantu BAU beberapa kali bahkan aku sempat meminta agar dia pindah menjadi jaksa penuntut umum tapi dia tetap memilih menjadi pengacara."


"Tidak mengurangi rasa hormat, agen Gideon, apakah anda tahu keluarga saya seperti apa?" senyum Nelson.


"Touché." David Gideon mengangguk.


***


Tiffany menatap Gregorius Lawrence dengan wajah datar. "Ceritakan bagaimana dengan korban lainnya ?"


Gregorius Lawrence dengan lancar menceritakan bagaimana dia membunuh korban ketiga karena merasa kurang membuatnya bergairah.


"De*Sahannya kurang membuatku ingin merasakannya terus."


Semua orang di ruang pengamatan hanya bisa menahan nafas sedangkan Omar beristighfar dalam hati.


Aisyah Tyler lalu bertanya tentang korban keempat dan seterusnya yang semuanya dijawab dengan santai oleh Gregorius. Marisol sampai harus menggenggam tangan Nelson untuk menguatkan dirinya karena tidak sanggup mendengar pengakuan Gregorius Lawrence. Dan tidak sepatah katapun meminta pengacara.

__ADS_1


Berdasarkan para ahli profiler, jika seorang pembunuh berantai menceritakan semuanya tanpa jeda, memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, dia merasa lega sudah membagi beban yang dibawanya selama ini karena dengan begitu dia mendapatkan titik penghentian untuk melakukan nya lagi.


Kedua, dia seolah menyombongkan hasil karyanya ke khayalak bahwa dia berhasil melakukan semuanya cukup lama sampai tertangkap. Ada perasaan bangga dan tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi di para pelaku pembunuh berantai bahwa mereka seperti tidak terhentikan.


Ketiga, mereka tidak memiliki empati dan simpati dalam otak dan perasaan nya. Yang ada dalam pikirannya, semua yang terjadi dan apa yang dia lakukan, itu adalah wajar demi mendapatkan kepuasan paling mendasar yaitu kepuasan s3k5ual. Rata-rata para pembunuh berantai memiliki banyak trauma dan disfungsi s3k5ual hingga untuk mendapatkan *******, mereka melakukan itu.


Source The Science of Serial Killer by Meg Hafdhal


"Bagaimana kamu memutuskan membunuh dengan model arah jarum jam di lima borough New York?" tanya Aisyah Tyler.


"Well, aku ingin yang berbeda. Bundy, berpindah negara bagian, Ridgway selalu melempar korbannya di green river, Rollin selalu membunuh di asrama wanita. Aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Bukankah kalian bisa memecahkan? Sepertinya aku kurang berhati-hati dan teliti dalam meninggalkan jejak." Gregorius Lawrence menatap ke kedua wanita itu.


Tiffany rasanya ingin mandi di bawah guyuran air dingin untuk mendinginkan otak dan hatinya. Dirinya merasa bersyukur menjadi agen lapangan dan bukan sebagai agen BAU yang mengurus profiling para unsub karena dia bisa ikutan menjadi gila jika terlalu lama dengan orang-orang bermental illness itu.


***


Ruang Pengamatan Interogasi


"Bagaimana Mari? Apakah sudah bisa dituntut?" tanya Agen Reid.


"Bisa. Pengakuannya sudah jelas. Bacakan tuntutannya dan aku akan segera bekerja" jawab Marisol Braga tegas.


"Apa tuntutan kamu?" tanya David Gideon.


Semua orang disana mengangguk puas karena negara bagian New York masih memberlakukan hukuman maksimal yaitu hukuman mati karena sebagian besar negara bagian lainnya sudah menghapus hukuman itu meskipun banyak yang memprotes apalagi para korban pembunuhan yang menginginkan nyawa dibayar nyawa. Ditambah, mengurangi populasi orang-orang jahat yang melakukan kejahatannya yang sering dilura peri kemanusiaan.


"Kami akan membuat laporannya, Marisol" jawab Pedro dan Omar.


"Good. Kapten, saya berterima kasih kepada semua jajaran Precinct Queens yang cepat menangkap penjahat itu" ucap Marisol sambil menyalami Kapten Queens.


"Saya senang karena itu hasil kerja sama semua jajaran NYPD dan FBI yang selama ini berusaha melacak keberadaan pelaku tersebut."


Semua orang saling bersalaman dan merasa lega karena salah satu pelaku ter*r ke warga New York sudah tertangkap dan berharap tidak ada pembunuh berantai lagi.


***


Tiga Hari Kemudian... Apartemen Omar Zidane


Omar Zidane sedang menikmati acara liburnya setelah menangani kasus yang membuatnya sakit kepala. Pria itu memilih untuk memasak kofta dan kebab karena hari ini dia ingin makan banyak daging.


Berdasarkan resep dari sang ibu, Omar mulai membuat gulungan daging sapi yang dibuat seperti burger. Omar juga membuat acar dan roti canai serta saus dari yogurt asam. Omar juga menyiapkan nasi jika masih kurang kenyang.

__ADS_1


Hari ini Omar ingin memanjakan gastronomi yang dimilikinya demi menikmati acara liburannya.


Gastronomi adalah studi tentang makanan dan budaya, dengan fokus khusus pada masakan gourmet. Gastronomi modern memiliki akar dalam beberapa naskah Perancis yang diterbitkan dalam tahun 1800-an, tetapi gagasan yang berhubungan dengan makanan, ilmu pengetahuan, masyarakat, dan seni telah ada lebih lama lagi.


Pria berdarah Mesir itu menyiapkan semuanya di meja makan dan tampak puas dengan hasil masakannya yang sudah membuatnya berkutat di dapur hampir satu jam.



Kofta dan Kebab ala Mesir.


Omar melepaskan apron dan bertepatan dengan suara bel Apartemen nya berbunyi. Pria itu melemparkan apronnya sembarangan diatas sofa dan mulai mengintip dari lubang pintu dan tersenyum melihat siapa yang datang.


Omar membuka pintunya dan melihat wajah cantik yang selalu membuat moodnya membaik.


"Halo Omar..." senyum Nadya. "Apakah makan siangku sudah siap?"


"Hah? Apa?" Omar gelagapan. "Makan siang apa?"


"Aku tahu kamu libur dan... Oh Omar... baunya harum sekali... " Nadya langsung masuk ke dalam apartemen Omar yang rapi. "Sayang, perutku lapar ! Ayo makan!"


Omar tertawa kecil melihat gaya ngebossy gadisnya. "Oh Nadya..." ucapnya sambil menutup pintunya.



Yang geli mendengar gadisnya kelaparan


"Omaaarrr... Ayo makan... Aku sudah lapaaarrr" rengek Nadya yang sudah duduk manis di kursi makan.


Omar tersenyum lalu mencium bibir Nadya lembut. "Miss you baby."


"I miss you more. Tapi cacing ku lebih rindu makanan enak !" senyum Nadya.


"Oh astagaaaa... Gadisku satu ini..." kekeh Omar yang mengambil kursi di sebelah Nadya.


Siang itu keduanya menikmati acara makan siang dan Nadya tanpa malu minta tambah.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2