
Tokyo Jepang
Pagi ini Nadya menghadiri acara ijab sepupunya Sakura Park dan Alessandro Moretti. Pasangan yang juga sama bucinnya, memilih untuk menikah secara sederhana. Cukup di mesjid Tokyo tanpa ada resepsi.
Sayangnya Nadya hanya datang bersama dengan keluarga Jakarta tanpa ada Omar di sisinya karena harus membatalkan kepergian nya ke Tokyo saat-saat terakhir akibat unsub yang dicarinya muncul.
Gadis itu pun hanya manyun di pojokan karena merasa ada yang hilang sampai Rin Ichigo, istri Luke Bianchi menghampiri pengacara muda itu.
"Kamu kenapa?" tanya Rin ke adik iparnya.
"Manyun mbak Rin. Nggak ada Omar..." keluh Nadya sambil cemberut.
"Ya gimana, Nad, namanya pacaran dengan law enforcement kan sering tidak terduga tugasnya." Rin ikut duduk bersama Nadya.
"Hyde kemana mbak?" tanya Nadya.
"Anakku satu itu malah asyik pergi main sama Shohei" senyum Rin.
"Akhirnya sudah resmi ganti nama ya si Shen?" tanya Nadya. ( Cerita tentang Shen bisa dibaca di Jayde and Wira Stories ).
"Sudah. Nelson yang membantu legalisasi semua berkas. Shen sekarang menjadi Shohei Kawaguchi, nama pilihannya sendiri. Dan Luke sudah memplot kalau nanti Shohei akan menjadi pengawal Hyde."
"Tapi Shen eh Shohei memang cakap sih. Ingat kan saat di Hongkong, membantu Tama dan YangYang. Aku rasa dia bakalan bisa menjadi pengawal Hyde nanti mbak. Kan Shohei kalem..."
"Kalem apanya Nadya. Shohei itu sangat cerdas dan sering membuat Hidetoshi bingung" kekeh Rin. "Dia sudah bisa lho melepaskan dan memasang Glock di bawah 30 detik!"
"Sangar... Padahal kan baru umur berapa?"
"12 tahun besok Februari."
"Bang Lukie memang jeli kalau menilai orang" gumam Nadya.
"Setidaknya aku juga ayem, Nad. Bagaimana pun Hyde kan penerus Yakuza Takara dan pasti banyak musuhnya."
"Mbak Rin nggak pengen nambah anak lagi?" Nadya menatap Rin concern. "Hyde sudah enam atau tujuh tahun kan?"
"Maunya Nad, tapi belum diberikan. Doanya saja aku dan Luke segera diberikan anak lagi."
"Aamiin." Nadya memeluk Rin.
"Bagaimana pelajaran kamu ? Sudah bisa bacaan sholatnya? Iqra nya?" tanya Rin yang tahu Nadya sedang belajar keyakinan Omar dan dirinya.
"Ampun deh mbak. Lebih susah dari bahasa Perancis..." keluh Nadya. "Tapi setidaknya bacaan sholat aku sudah hapal. Iqra nya yang masih belepotan."
"Pelan-pelan. Aku pun jyga masih belajar kok Nad. Sama saja lah mending aku baca huruf kanji kan daripada Arab. Tapi kalau sudah tahu triknya, insyaallah bisa kok" senyum Rin.
"Kasih clue nya dong mbak..." pinta Nadya.
Rin pun mengambil ponselnya dan mulai mengajari Nadya. Keduanya mengacuhkan keributan tentang hilangnya pasangan pengantin baru dari mesjid.
__ADS_1
"Mereka pada kabur kemana sih ?" sungut Shinichi kesal.
***
Rumah Sakit Bellevue New York
Blaze dan Samuel tidak menyangka bahwa pasien yang harus mereka operasi berdua adalah Omar Zidane, kekasih Nadya.
Mereka hanya tahu ada pasien emergency yang terkena luka tembak di perutnya dan pelipis kiri nya. Tapi sungguh tidak terbersit di benak pasangan suami istri itu kalau calon adik iparnya yang terkapar di meja operasi mereka.
"Bagaimana ini Sammy? Nadya lagi di Tokyo?" tanya Blaze sambil menjahit pelipis Omar yang terserempet peluru.
"Jangan kabari dulu Bee. Bisa langsung terbang ke New York dia!" ucap Samuel sambil mengeluarkan proyektil peluru dari perut Omar yang tertahan di tulang rusuknya. "Untung hatinya cuma keserempet dan tulang rusuknya retak."
"Bagaimana organ lainnya Sam?" tanya Blaze.
"Aman semuanya." Samuel melihat ke arah kaca dimana Maggie tampak panik dan menangis karena partner dan seniornya tertembak karena melindungi dirinya.
"Bagaimana Omar, dokter Samuel?" tanya Maggie sambil sesenggukan lewat intercom.
"Dia akan selamat. Memang hatinya kena serempet tapi akan beregenerasi dengan cepat. Apalagi Omar punya fisik yang sehat" jawab Samuel yang mengenakan pakaian operasi lengkap.
"Maggie, jangan ceritakan pada Nadya ya" pinta Blaze. "Biar kami saja. Kamu tahu sendiri kan Nadya seperti apa paniknya nanti."
Maggie mengangguk dari balik kaca. "Terimakasih dokter Samuel, dokter Blaze."
"Sama-sama." Samuel lalu menjahit perut Omar setelah dilihatnya tidak ada internal bleeding lagi dan aman semuanya.
***
Buru-buru pengacara itu langsung ke rumah sakit Bellevue dan menemui Samuel Prasetyo, kakak iparnya yang menangani Omar.
"Bagaimana bisa? Kapan kejadiannya?" tanya Nelson menatap pria Indonesia itu.
"Kejadiannya dua hari lalu. Aku dan Blaze memang meminta untuk tidak memberitahukan pada Nadya... Nanti..."
"Mas Sammy, Nadya bisa marah sama kamu lho karena tidak dikasih tahu keadaan Omar !" ucap Nelson yang sangat hapal sifat adiknya.
"Omar juga yang memintanya..."
"Mas Sammy, jangan menurut apa kata Omar tapi pikirkan bagaimana perasaan Nadya ! Ini Omar selamat, kalau lebih dari ini... Amit-amit !" Nelson pun langsung menelpon Nadya.
"Nad... "
***
Rumah Sakit Bellevue New York Dua Hari Kemudian
Nadya berlari di lorong rumah sakit dan segera menuju ruang rawat inap VIP lalu mencari kamar Omar Zidane dirawat.
__ADS_1
Gadis itu langsung membuka pintu ruang rawat inap dan melihat Omar sedang diperiksa oleh Blaze dan ditemani oleh Billy Boyd.
"Halo Nadya..." senyum Omar.
Nadya yang sudah menangis berubah menjadi marah. "Halo Nadya gundulmu Sphinx ! Brengseeekkk kau ! Minta aku hajar ? Aku tidak segan - segan untuk menghajar mu !" Gadis itu melepaskan sepatu high heels Christian Louboutin nya dan hendak memukul Omar sebelum Billy menariknya.
"Nadya !" bentak Blaze. "Kamu itu ! Omar beneran bisa mokat kamu Tutuk pakai Louboutin kamu !"
"Habis mbak... Dia... dia... " Tangis Nadya pecah dan Billy Boyd memeluk Nadya sembaeu mengambil sepatu dengan hak tujuh Senti itu.
"Billy, lepaskan Nadya" pinta Blaze. "Tinggalkan dua manusia Bucin ini. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya."
"Nad, berikan sepatumu satu lagi" pinta Billy Boyd.
"Buat apa?" tanya Nadya di sela-sela tangisnya.
"Supaya kamu tidak pakai buat bolong kepala Omar" jawab Billy kalem.
***
Dan kini Omar melihat gadisnya masih menangis, mengulurkan tangannya yang tidak terpasang infus.
"Sini Nad..." pinta Omar.
Nadya pun menghampiri tempat tidur Omar dan mengambil kursi lalu duduk di sebelahnya. Tangan Omar langsung menggenggam tangan gadisnya yang jarinya melingkar cincin darinya.
"Maaf... Aku yang meminta Blaze dan Samuel serta Maggie untuk tidak memberitahukan mu..."
"Kamu jahat ! Terus kalau kamu ma..."
"Aku tidak akan semudah itu untuk mati Nadya. Kan aku belum melamar kamu resmi... " senyum Omar.
"Lalu orang yang menembakmu? Apa masih hidup?" tanya Nadya dengan masih sesenggukan.
"Sudah tewas ditembak Billy."
"Oh syukurlah." Nadya tersenyum smirk.
"Memang kenapa sayang?"
"Sebab kalau masih hidup, aku sendiri yang akan mencincangnya dan melemparkannya ke Empang piranha bang Lukie !"
Omar hanya menatap geli ke gadisnya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️