Love And Justice

Love And Justice
Dasar Bucin!


__ADS_3

Kamar Nadya di apartemen keluarga Blair di Central Park New York


Omar membalas ciuman gadis cantik yang entah sejak kapan menjadi doping baginya. Melihat Nadya itu seperti mood booster bagi Omar, berciuman dengan Nadya bagaikan can*du yang melebihi barang psikotropika apapun.


Pria itu semakin mendekatkan tubuhnya dan memeluk Nadya yang merangkul leher Omar. Dan ciuman keduanya mungkin akan terus berlanjut hingga kemana-mana jika tidak ada suara ketukan keras di pintu kamar Nadya.


"Eheeeemmmm!"


Nadya menyembunyikan wajahnya di dada Omar sedangkan agen FBI itu menoleh sembari mengatur nafasnya yang sedikit memburu. Tampak Nelson berdiri disana dan terlihat dirinya baru saja pulang kerja.


"Seriously kalian berdua! Untung aku yang mergoki kalian berdua! Kalau Daddy bagaimana?" desis Nelson sambil menggelengkan kepalanya. "Nad, jangan lama-lama kalau kamu memang serius dengan Omar! Dan kamu Omar, segera kan halalin adikku!"


"Te.. tentu sa..ja Nelson" jawab Omar gugup.


"Jangan lama-lama di kamar, nanti setan lewat!" kekeh Nelson sembari keluar dari kamar Nadya.


Tadi saat Nelson baru pulang kantor sempat menyapa Travis dan Shane O'Grady lalu berjalan menuju kamarnya melewati kamar Nadya yang pintunya tidak tertutup rapat. Suara - suara yang Nelson sangat hapal membuat dirinya melongok ke dalam kamar dan melihat pemandangan yang sama kedua kalinya.


Nelson tidak melarang adiknya dan Omar bermesraan tapi kadang mereka berdua terlalu bucin dan sering tidak melihat tempat. Nelson tidak munafik dirinya dan Marisol pun sering berciuman sama dengan Nadya dan Omar. Hanya saja ini kan di rumah! Nelson terkekeh sendiri. Satu sisi dia percaya jika Omar bisa dipercaya tapi sisi lain, dia tidak percaya dengan kemampuan menahan diri Nadya.


Nelson sangat hapal Nadya. Jika sudah menyukai sesuatu atau seseorang, dia bisa totalitas. Satu hal yang disyukuri Nelson, Nadya jatuh cinta dengan pria yang baik. Omar Zidane adalah pria yang melindungi Nadya dalam kondisi apapun bahkan saat dipenjara, yang dipikirkan pria itu adalah kondisi adiknya.


Nelson pun masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam.


***


"HAAAAAHHH? Masih di Broadway?" teriak Nadya saat mendengar kalau mommynya masih di Broadway bersama dengan ipar-iparnya.


"Memang ada pertunjukan apa di Broadway ?" tanya Nelson sambil memesan makan malam.


"Othello" jawab Shane.


"Kamu belum pulang?" Nadya menoleh kearah pria Irlandia itu.


"Ya ampun Nadya, masa tidak terlihat wujudku ini?" kekeh pria tampan itu.


"Nadya kalau sudah ada Omar, yang lain tidak kasat mata" komentar Nelson.


"Siapa bilang Son. Tadi saja bangun tidur, Nadya tidak lihat Omar di meja makan bekerja sama Daddy" potong Travis.


"Lha tumben?" Nelson menatap adiknya yang manyun.


Nadya hanya melengos sedangkan Omar tersenyum simpul. Suara ponsel Omar berbunyi dan bergegas pria itu menerimanya dengan loud speaker.


"Ya Maggie."


"Omar, maaf mengganggu cutimu tapi kita mendapatkan kasus Double homicide ( pembunuhan ganda )" jawab Maggie.


"Dimana?" tanya Omar.

__ADS_1


"Dekat central park. Pintu barat. Aku tahu kamu sedang di apartemen Mr Blair jadi dekat kan?"


Omar menatap ke semua orang. "Go!" ucap Nelson.


"Oke, aku kesana." Omar mematikan ponselnya. "Maaf tapi aku harus pergi..."


"Pergilah Omar. Kasus pembunuhan ganda itu tidak main-main" ucap Travis.


"Baik. Saya permisi dulu" pamit Omar yang membuat Nadya ikut berdiri dan mengantarkan pria jangkung itu.


"Aku pulang dulu Nad" senyum Omar ke gadis cantik itu.


"Hati-hati."


Omar mencium kening Nadya lalu membuka pintu apartemen dan pergi menuju tempat kejadian sedangkan Nadya menutup pintu. Shane bisa melihat bagaimana Nadya dan Omar sama - sama saling bucin dan ikatan perasaan mereka sangat kuat.


Nelson menepuk bahu Shane. "Sorry, lads, adikku sangat tergila-gila dengan Omar."


Shane mengangguk.


***


Central Park pintu barat


Omar melihat dua rekannya sudah berada di lokasi kejadian dan langsung bertanya apa yang terjadi. Maggie dan Tiffany menceritakan kronologis peristiwa itu.


"Mengantarkan bayi korban ke rumah sakit" jawab Maggie.


"Mengantarkan bayi?" tanya Omar.


"Iya. Kedua korban memiliki seorang bayi enam bulan dan kondisi tubuh sang ibu tampak melindungi bayinya" jawab Tiffany.


Omar berjongkok untuk melihat kondisi kedua korban yang ditembak di sisi pelipisnya. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ada orang yang ingin membunuh mereka berdua?"


"Sayangnya tidak ada kamera CCTV disini Omar. Jadi kita tidak bisa melihat siapa pelakunya" ucap Tiffany.


"Coba dicari ke sisi jalan yang ada CCTV nya" perintah Omar. "Sepanjang jalan aku melihat ada beberapa CCTV. Siapa tahu kita bisa melihat siapa pelakunya."


Tiffany mengajak petugas CSI untuk mencari rekaman CCTV. Omar masih tampak mencari bukti-bukti yang membuatnya bisa memecahkan kasus ini.


Siapa yang tega membunuh kalian?


***


Kamar Nadya


Nadya masih mengerjakan beberapa pekerjaannya yang dikirimkan oleh Phoenix usai makan malam dan Shane pulang. Meskipun dirinya masih menjadi kaum rebahan, tapi Nadya menyempatkan diri untuk tetap mengerjakan semua pekerjaannya apalagi ayahnya sudah memintanya untuk memeriksa kantor Blair and Blair Advocate di Jakarta.


Suara telepon miliknya, membuat Nadya mengambil dari sebelah keyboard nya dan tersenyum saat tahu siapa yang menelponnya.

__ADS_1


"Hai" sapa Nadya. "Kamu dimana?"


"Kamar mayat" jawab Omar.


"Siapa yang menjadi korbannya?"


"Pasangan muda dan mereka meninggalkan seorang bayi yang diduga sebagai anak mereka."


"Bagaimana mereka dibunuh Omar?"


"Ditembak pelipisnya, mirip eksekusi."


Nadya menghela nafas panjang. "Manusia semakin kejam."


"Yes Nadya. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Omar lembut. "Ini sudah pukul sebelas malam."


"Omar sayang, aku masih libur jadi kalau besok bangun siang, bukan masalah. Lagipula, aku ini masih bekerja, my love" ucap Nadya sok mesra.


"Nad..."


"Apa Omar?"


"Rayuanmu kurang maut."


Nadya terbahak. "Oh Omar, kamu menggemaskan!"


"Sudah ya, dokter forensik sudah selesai mengautopsi. Jangan malam-malam tidurnya."


"Hati - hati agen FBI ku."


Jika Nadya bisa melihat bagaimana wajah Omar memerah, mungkin gadis itu akan lebih menggodanya habis-habisan.


"Bye Nadya."


"Bye Omar."


Nadya meletakkan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Senyuman lebar tersungging di wajahnya.


"Duh kok sudah kangen lagi dengan manusia Sphinx itu..." gumam Nadya sambil cekikikan.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2