
Seminggu Setelah Gagal Menangkap Gregorius Lawrence...
Omar masih menyelidiki semua hasil face recognition di semua platform kendaraan umum baik metro subway, bis bahkan taksi kuning khas New York maupun taksi online yang sudah dikirimkan wajah Gorgeous sebagai daftar pencarian orang baik NYPD maupun FBI.
"Damn it ! Dia licin sekali !" umpat Omar kesal apalagi semua law enforcement juga tidak berhasil mendapatkan pria itu.
"Semua orang yang berhubungan dengannya, tidak ada yang melihatnya OZ. Sudah lama adik dan mantan istrinya tidak berhubungan dengan Gregorius karena semenjak dia dipenjara, semua orang menjauh darinya" lapor Tiffany yang baru saja ke Queens untuk menemui mantan istri dan adik Gregorius bersama Billy Boyd.
Omar memegang pelipisnya merasa kepalanya sakit. Pedro sendiri sedang berdiskusi dengan tim BAU dari Quantico guna menyempitkan area bergerak Gregorius Lawrence tapi lumayan sulit karena korban berada di lima borough ( semacam pembagian area seperti Jakarta Barat, Timur, Utara, Tengah dan Selatan ).
"Aku ibadah Jumat sekalian cari kopi dulu. Kepalaku sakit!" ucap Omar sambil keluar board room, tempat semua agen biasa berkumpul untuk membahas kasus di layar lebar.
Kiri ke kanan Billy Boyd, Tiffany, OZ dan Maggie
"Kamu mau kemana OZ?" teriak Maggie saat dirinya baru masuk dan melihat Omar pergi.
"Isi otak !" sahut Omar sambil meninggalkan timnya.
Billy menoleh ke arah Maggie. "Biarkan Mag, Omar sudah lembur dua hari ini mencari unsub. Dia sampai tidur di bunk."
"Really?" tanya Tiffany.
"Yup, aku dan Ian bergantian dengan OZ lembur. Dan semoga malam nanti tidak lembur lagi. Apalagi ini hari Jumat dan aku hendak berkencan dengan kekasih aku, biar tetap waras" sahut Kelly Moran.
Pedro pun keluar dari ruang meeting bersama tim dan Ian Lee dan mencari Omar. "Mana Zidane?"
"Katanya ibadah Jumat" jawab Tiffany.
Pedro melihat jam tangannya. "Oh shoot ! Aku pergi ibadah dulu ! Brengseeekkk Zidane tidak ajak-ajak !" Suami Nadira McCloud itu pun pergi menyusul Omar.
"Ian dan kami tadi berdiskusi jika melihat modus operandi nya semua bermula dari Queens." David menunjukkan gambar peta New York.
"Dari Queens lalu turun ke Brooklyn, Staten Island, Manhattan, Bronx dan balik lagi ke Queens." David menatap semua agen FBI disana.
"Unsub melakukannya sesuai dengan jarum jam!" celetuk Maggie.
"Excellent miss Maggie."
Billy mulai membuka file kasus pembunuhan itu. "Unsub sudah membunuh delapan orang terakhir di Staten Island dan kemungkinan besar akan membunuh lagi l... Disini! Di Manhattan!" Mata Billy tampak horor melihat semua orang.
"Semuanya, kalian mencari semua public transportation yang bisa mencari wajah Unsub ! Aku tidak perduli berapa ribu kamera ! Kita harus mendapatkan nya sebelum dia membunuh lagi!" perintah Tiffany ke semua orang. "Billy, kita canvasing?"
__ADS_1
"Sure. Maggie?"
"Aku dan agen Aisyah."
"Aku dan JJ" ucap David Gideon.
"Usai OZ dan Pascal ibadah, nanti aku kabari mereka" ucap Kelly.
Segera semua agen senior dan lapangan bergegas pergi mencari Gregorius Lawrence.
***
Diluar Mesjid Area Manhattan Usai ibadah Jumat
"Jadi kalian merasa bahwa akan ada pembunuhan oleh Gregorius Lawrence di Manhattan?" tanya Chris Bradford, kapten. NYPD wilayah Manhattan ke arah dua agen FBI yang juga Keponakan dan calon keponakan. Chris sengaja melaksanakan ibadah Jumat di mesjid dekat gedung FBI agar bisa berdiskusi dengan dua agen FBI tersebut.
"Iya Oom. Hasil aku dan tim menganalisa dan memprofiling unsub, ada kemungkinan dia akan melakukan pembunuhan disini. Mengingat dia biasa melakukan pada saat weekend, maka tiga hari ini sangatlah krusial" papar Pedro.
Chris mengusap wajahnya yang tampak gusar. "Baik, aku akan memerintahkan semua polisi patroli untuk tetap waspada apalagi dengan penduduk Manhattan sebanyak ini !"
"Itu juga yang menjadi kecemasan kami, Kapten Bradford" ucap Omar Zidane formal.
Chris mengangguk. "Semoga kita sudah bisa menangkap nya dalam tiga hari ini dan tidak ada kasus pembunuhan olehnya !"
***
"Maggie, kamu kemana?" tanya Omar sambil masuk ke dalam mobilnya. Pedro tadi memilih menggunakan taksi ke mesjid karena tahu Omar ada mobil.
"Aku di terminal bis, OZ. Aku bersama agen Aisyah."
"Oke aku dan Pedro akan berkeliling sekitar Central Park sembari berkoordinasi dengan polisi patroli disana."
"Oke OZ. Be careful."
"You too Mag." Omar mematikan panggilannya dan menstater mobilnya.
Pedro sendiri memilih mengirimkan pesan ke Nadira bahwa akan lama berada di New York. Pedro tidak menelpon istrinya karena tahu Nadira sedang mengajar.
"Bagaimana kamu dengan Nadya?" tanya Pedro sambil mengetik keypad ponselnya.
"Alhamdulillah baik. Kami semakin serius."
"Nadya bersedia pindah?" tanya Pedro tidak percaya.
"Insyaallah. Nadya memang sudah pernah bilang padaku jika mendapatkan pasangan yang berbeda keyakinan dan selama keyakinannya memang benar bukan voodoo, satanic atau apapun itu, dia bersedia pindah terutama jika keyakinannya sama dengan keluarga besarnya. Dia semakin tidak keberatan pindah."
__ADS_1
Pedro bersiul. "Anak bar-bar itu rupanya sudah siap lahir batin sama kamu OZ. Kalian kan memang bucin satu sama lain dan kami pun tahu amat sangat! Berbeda dengan Wira dan Chisato, mungkin karena mereka berdua sama-sama vampir."
Omar tertawa. "Wira dan Jayde memang vampir dan tidak heran jika mendapatkan pasangan yang hampir mirip. Inggrid dan Chisato itu bukan tipe gadis yang mudah terbuka tapi mereka berempat seperti ditakdirkan bersama."
"Yup."
"Bagaimana dengan kasus kucing?" Omar tahu ceritanya dari Nadya yang bilang Nelson harus terbang ke Maryland membantu Sadawira.
"You have no idea bagaimana kasus itu menjadi kacau."
"Tell me."
( Akan ada di novel Jayde and Wira Stories ).
***
Hampir seharian mereka semua mengubek-ubek Manhattan dengan bekerja sama semua anggota NYPD precinct Manhattan kasusnya dan semua wilayah umumnya.
Omar dan Pedro sudah cukup lelah hingga akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian unsub apalagi hasil dari tim IT juga tidak bisa menemukan di semua CCTV.
"Kita hentikan dulu malam ini. Besok weekend, kita mencari lagi" ucap Omar sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Mereka semua sudah kembali ke gedung FBI.
"Oke Omar. We need fresh start ( kita butuh awal yang baru )." Maggie tampak memegang pelipisnya tanda super lelah.
*Kami pulang ke hotel kami " pamit David Gideon bersama tim Quantico.
Semuanya pun pulang begitu juga Omar. Dirinya tidak sabar hendak menemui Nadya. Gadis itu tadi mengirimkan pesan kalau lembur di ruangannya.
Omar memarkirkan mobilnya di area parkir gedung tempat kantor advokat milik Blair and Blair berada. Omar melihat mobil Nadya dan Travis masih ada disana dengan beberapa kendaraan yang diperkirakan adalah pegawai yang masih lembur.
Pria jangkung itu pun masuk ke dalam lift dan memencet angka lantai ruang kerja Nadya. Keluar dari lift, Omar menuju ruang Nadya dan setelah mengetuk pintu, terdengar suara gadisnya.
Omar pun masuk dan melihat Nadya duduk di kursinya. Omar pun menutup pintu ruang kerja Nadya dan gadis itu langsung menghampiri pria itu. Tanpa basa basi, Nadya yang mengenakan pakaian casual berupa blus dan celana jeans, langsung menemplok Omar yang langsung menggendongnya macam koala.
Macam begini lah kira-kira
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️