Love And Justice

Love And Justice
Butuh Healing


__ADS_3

Manhattan New York


Nadya tampak bingung dengan berbagai pilihan tas di hadapannya. Dirinya sudah mengitari beberapa brand tas favorit dirinya dan Rahajeng tapi akhirnya dia kembali ke Hermès.


Gadis itu seperti mendengar suara Omar. Jangan Hermès, Nadya.


Nadya mengehela nafas panjang dan berbalik untuk keluar dari butik itu.


"Tidak ada yang cocok Miss Blair?" tanya pramuniaga disana.


"Nope. Sorry." Nadya tersenyum dengan wajah meminta maaf.


"It's okay Miss Blair. Oh tas pesanan Mrs Blair sudah datang, Miss."


"Okay. Apakah mommy sudah dihubungi?" tanya Nadya.


"Sudah Miss. Dan besok hendak diambil."


Nadya mengangguk lalu keluar dari butik itu.


"Haaahh... Beli apa iniiii ???" Nadya memilih untuk berjalan ke coffee shop dan memesan kopi favoritnya lalu duduk di kursi sudut. "Duh pusing ..."


Nadya membuka iPadnya dan mulai bekerja mengurus beberapa kasus yang dihandlenya termasuk di Jakarta. Nadya memang menyelidiki kasus penipuan dan pencucian uang yang melibatkan salah satu pengacara dari Blair dan Blair Advocate Jakarta.


"Gotcha you son of the..." Nadya tersenyum smirk lalu menelpon seseorang. "Halo Oom, maaf menelpon malam-malam. Sudah dapat orangnya... Aku pulang tanggal 5 Januari dari New York... Aku kirimkan datanya... Tunggu sampai aku datang. Thanks Oom."


Nadya mematikan ponselnya dan mengirimkan data pengacara yang mengkhianati biro hukumnya. Bagi keluarga Blair, menyalahgunakan jabatan dan pekerjaan adalah pelanggaran berat.


Nadya tahu ayahnya sedang ada kasus dengan Jayde Neville Abisatya tapi Travis Blair harus tahu. "Halo Dad..."


***


Ruang Jaksa Penuntut Umum Marisol Braga

__ADS_1


Marisol sedang memeriksa kasus perk*Saan berantai berdasarkan situs yang membuatnya merasa mual. Para mantan kekasih dan suami yang tidak suka diputuskan atau diceraikan, melakukan perbuatan tercela dengan melakukan permintaan perk*Saan ke mantan mereka dan dengan gaya seperti white knight shining armour menjadi Hero buat mantan pasangan.


"Butuh sesuatu yang segar?"


Marisol tersenyum ke arah pria yang datang dengan membawa paper bag yang dia tahu pasti berisikan makanan.


"Nelson... My savior." Marisol tersenyum ke arah kekasihnya yang datang. "Bawa apa itu?"


"Well, Chinese food dan black forest favorit kamu." Nelson melihat berkas-berkas Marisol yang menumpuk. "Rough cases?"


"Very. Nelson, kamu tidak membela siapapun tersangka kasus perk**Saan kan? Tidak juga kantor pengacara kamu?" Marisol menatap Nelson yang duduk di depannya.


"Nope. Hanya para korban. Oom Chris menunjuk secara langsung kantor kami yang akan membela para korban."


"Nelson, kenapa dunia semakin tidak waras. Aku sampai harus muntah dua kali membaca berkas - bekas ini ! Orang gila mana yang tega membuat mantan pasangannya dilecehkan oleh orang lain dan ... " Marisol menutup wajahnya dan menangis membuat Nelson menghampiri gadisnya.


"Let it go, Mari .... Aku tahu ini berat tapi aku yakin kamu bisa melewatinya." Nelson berlutut lalu memeluk Marisol.


"Aku biasanya tidak seperti ini..." Isak gadis itu dalam pelukan Nelson.


"Nelson... "


"Ke Dubai."


"Hah?" Marisol menatap Nelson bingung.


"Kamu butuh liburan Mari. Dan Gasendra katanya hendak menikah dengan Gemma. Kenapa tidak kita sekalian liburan lagi kesana?" Nelson tersenyum ke arah Marisol. "Kamu, aku, butuh healing. Kita sudah terlalu banyak melihat kejam nya manusia yang melebihi binatang. Dan kita butuh merecharge baterei kita agar tetap waras."


"Nelson, aku menjadi takut untuk memiliki anak... Dengan banyaknya..."


Nelson menutup bibir Marisol dengan bibirnya. "Jangan over thinking, Mari. Kita akan menjadi orang tua yang protektif tapi juga permisif. Kita bisa melalui nya, anak kita nanti juga bisa. Tidak mudah Mari, tapi kita akan menjadi orang tua terbaik" bisik Nelson serius.


"Kamu akan menjadi ayah yang hebat, Nelson."

__ADS_1


"Aku belajar dari pria terbaik yang aku kenal" senyum Nelson.


***


Akhirnya Nadya memilih membelikan Coat dari butik Morr dan tas dari Louis Vuitton untuk hadiah ulang tahun ibu Omar Zidane. Setelahnya gadis itu kembali ke kantornya dan menemukan Nelson berada di ruang kerjanya.


"Sudah kamu temukan pengacau nya?" tanya Nelson.


"Sudah."


"Kamu sudah merencanakan untuk berbuat apa?"


"Done mas. Akan aku buat dia menangis dan merangkak di kakiku !"


"Bagus ! You know what to do, sister."


"I know big brother" seringai Nadya.


"Aku suka gayamu, dik. Jangan sampai Omar tahu." Nelson melihat paper bag dari brand ternama. "Kamu shopping lagi?"


"Oh bukan untuk aku. Buat ibunya Omar, Mrs Hasina Zidane."


Nelson tersenyum simpul. "Oh buat calon mertua... Kenapa tidak kamu belikan Birkin?"


"Omar melarangku mas."


Nelson tersenyum. "Tapi yang kamu belikan juga sudah cukup kok dik."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2