
New York
Omar dan Nadya semakin dekat tapi juga semakin menjauh akibat pekerjaan mereka yang sangat menyita waktu, membuat keduanya jarang bertemu live tapi selalu memberikan kabar setiap pagi.
Nelson dan Marisol pun juga semakin dekat, bahkan Nelson berencana untuk menikah tahun depan setelah Nadya dan Omar yang berencana tahun ini usai Eagle dan Bayu.
Keluarga Blair sudah bertemu dengan keluarga Braga dan ibu Omar Zidane, Hasina. Meskipun pertemuan mereka informal tapi bagi Travis dan Rahajeng, mengenal orang tua pasangan anak mereka adalah hal yang penting karena dengan begitu akan lebih tahu bagaimana keluarga calon besan.
Pagi ini keluarga Blair dan O'Grady bersiap untuk terbang ke London karena Eagle dan Elane akan melangsungkan pernikahan tapi Nadya manyun karena Omar tidak dapat ikut serta sebab harus mengurus kasus.
Nadya pun bisa memaklumi karena pekerjaan Omar sangat lah berbeda dengan orang lain dan dirinya pun senasib dengan Nadira yang datang dengan Pedro Pascal suaminya tapi usai acara, pria berdarah Perancis dan Italia itu langsung kembali ke New York untuk mengurus pekerjaan nya.
Begini ya nasib punya pasangan dari Law Enforcement...
***
Malam ini Nadya lembut di kantornya sendirian karena Phoenix harus menjadi pengacara seorang klien di Precinct Manhattan. Jam digital di mejanya menunjukkan pukul delapan malam dan bagi warga New York, jam delapan malam itu masih sore apalagi di hari Jumat seperti ini.
Nadya memutuskan untuk mengistirahatkan punggungnya yang pegal hampir usai sholat Maghrib, gadis itu melanjutkan pekerjaannya.
"Ya Allah pegalnya..." gumam Nadya sambil tidur diatas Sofanya yang empuk. "Tidur lima belas menit saja..." Tak lama gadis itu pun terlelap.
***
Omar Zidane merasa kesal karena tidak bisa menghubungi tunangannya. Ada nada sambung tapi Nadya tidak mengangkat nya sama sekali.
Duh kemana gadisku itu? Omar pun melakukan trace sinyal ping ponsel Nadya dari BTS tower ( base transceiver station bukan Bangtan Sonyeondan ).
"Lho di kantornya tapi kok nggak diangkat?" Omar pun sedikit panik lalu bergegas menuju kantor Nadya.
***
Omar memarkirkan mobilnya di parkiran basemen gedung kantor pengacara Blair and Blair itu lalu bergegas naik ke lantai tempat ruang kerja Nadya berada. Pria itu tiba di pintu ruang Nadya lalu mengetuknya namun tidak ada jawaban. Perlahan Omar membuka pintu ruang kerja Nadya dan tangan kanannya menegang pistol yang ada di holster pinggangnya.
"Nad? Sayang?" panggil Omar dan tak lama pria itu mendengar suara dengkuran halus. Wajah Omar tampak lega melihat gadisnya terlelap di sofa dan perlahan pria berdarah Mesir itu menutup pintu ruang kerja Nadya.
__ADS_1
"Ya Allah nih anak. Ditelpon, bikin panik, sudah bikin pikiran macam-macam, ternyata malah ngorok... " Omar memandang wajah Nadya yang tampak lelah. "Capek ya sayang?"
Omar duduk di dekat kaki Nadya sambil menyandarkan kepalanya dengan tangannya di sandaran kepala sofa. Pria itu memandangi gadisnya sambil tersenyum dan melihat cincin tunangan yang diberikannya tampak begitu mungil dan tidak seperti cincin tunangan.
Seperti nya aku harus menggantikan cincin yang lama dengan yang baru deh. Omar mengambil tangan Nadya sambil mengusap jari manis gadis itu yang melingkar cincin imutnya.
"Nanti aku ganti yang lebih appropriate deh Nad. Kok seperti nya tidak pantas ya cincinnya terlalu biasa buat putri seorang pengacara dan keluarga terkenal. Gabriel saja bisa kasih emas 23 kilogram... "
Suara era*Ngan tanda Nadya mulai terbangun terdengar di telinga Omar dan gadis itu menatap pria yang sedang memandangi nya dengan penuh cinta.
"Halo Nadya..."
"Ha..Lo ... manusia Sphinx.. Aku kayaknya masih ngimpi deh lihat kamu disini..." gumam Nadya dengan nada masih mengantuk.
"Sayang, kamu nggak mimpi" kekeh Omar. Pria itu lalu beringsut mendekati Nadya dan mencium bibirnya lembut.
Nadya membalas ciuman itu dengan merangkul leher Omar dan pria itu langsung memeluk gadisnya. Keduanya saling berciuman diatas sofa seolah saling menyampaikan rasa rindu yang hampir tidak bertemu dua minggu ini.
"Oke... stop... Bisa kebablasan..." ucap Omar sambil menempelkan dahinya ke dahi Nadya.
"Yang ada aku digantung keluarga kamu Nad !" kekeh Omar yang bangun dan membenarkan kemeja dan dasinya yang sedikit berantakan karena ulah Nadya.
"Sudah tidak disibukkan dengan kasusmu, OZ ?" tanya Nadya sambil membenarkan blusnya.
"Sementara makanya aku bisa kemari. Ngomong-ngomong kenapa aku telepon kamu tidak menjawab? Apakah posnelmu di silent?" tanya Omar yang melihat Nadya dengan santainya meletakkan kedua kakinya diatas paha pria itu.
"Yup. Aku silent karena tadi kan aku ada persidangan lalu langsung membuat permintaan banding jadi aku lupa mengaktifkan kembali. Kamu telpon aku?" Nadya memandang Omar sambil tersenyum apalagi kakinya dipijat pelan oleh pria itu. Duh enaknya... Apa si manusia Sphinx ini pernah kursus pijat?
"Yup. Aku telepon kamu berulang kali takut ada apa-apa."
"Bagaimana kamu tahu aku ada disini?" Nadya memejamkan matanya karena merasa relaks dan keenakan kakinya dipijat. "Aduh Omar, enak banget... "
"Kamu kebanyakan pakai high heels sih Nad. Aku lacak ponsel kamu lah ! Kan aku agen FBI seperti yang kamu bilang, kalau tidak bisa melacak, keterlaluan. Enak Nad?" Omar berusaha mati-matian menahan gejolak tubuhnya yang tadi sudah bisa tenang tapi sekarang naik lagi gara-gara suara Nadya yang keenakan dipijat terdengar sangat seksih.
"Enak banget Omar... Ya sebelah situ .... Aaaahhh enaknya... Agak keras ... Ya seperti itu ... " gumam Nadya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh.
"Kalian ngapain !"
"Hai Daddy ..." cengir Nadya.
Omar hanya bisa menghela nafas panjang.
Alamat bakalan salah paham berkepanjangan deh!
***
"Dipijat? Dipijat ? " seru Travis bingung.
"Dipijat Daddy, bukan yang aneh-aneh! Ih Daddy mikirnya kejauhan... " senyum Nadya santai tapi tidak dengan Omar yang masih menunduk karena untuk kesekian kalinya dia kegep meskipun tidak ngapa - ngapain sih... Hanya saja suara Nadya yang membuat orang jadi salah paham. Bahaya benar deh gadisku satu itu !
"Kamu memijat kaki Nadya, Omar?" Travis menatap Omar Zidane yang sekarang mendongakkan wajahnya.
"Yes Mr Blair. Hanya memijat kaki Nadya... Tidak lebih..." jawab Omar. Sebelumnya sih lebih...
"Kalian berdua itu deh ! Oh Omar, kamu bisa kan datang di acaranya Bayu bulan Juni?" tanya Travis. "Acaranya pertengahan Juni besok kok."
"Bisa Sir. Kan masih sesama New York. Memangnya ada apa Mr Blair?" Omar menatap Travis bingung.
"Tamu yang datang juga tidak sembarangan, Omar. Sean dan Zee datang, begitu juga keluarga kerajaan Inggris. Jadi kamu selain jadi tamu undangan, ikut mengawasi jalannya acara pernikahan Bayu."
Omar mengangguk. "Of course Mr Blair. Tanpa anda minta, saya pasti akan mengawasi semuanya."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️