
Ruang Kerja Nadya Blair
Nadya dan Omar saling berpa*gutan seolah melepaskan kerinduan hampir dua Minggu ini. Keduanya seperti musafir yang akhirnya menemukan oase yang dicarinya selama ini hingga Omar mendorong Nadya ke meja kerjanya.
Agen FBI itu menaikkan pan*tat Nadya keatas meja kerjanya sambil tetap berciuman panas bahkan tangan Nadya mencoba melepaskan jas Omar ketika pintu ruang kerjanya terbuka.
"Nadya, Daddy minta... " Travis melongo melihat pemandangan di hadapannya dan segera menutup pintu di belakangnya. "Astagaaa ! NADYA ! OMAR !"
Nadya dan Omar tampak memucat dengan nafas memburu ketika mereka kepergok oleh Travis Blair.
***
Travis duduk di kursi milik Nadya sambil menatap tajam kearah dua orang di hadapannya. Pria bermata biru itu sampai harus mengusap wajahnya berulang kali untuk menetralisir emosinya. Satu sisi dia tahu putrinya lah yang pasti memancing Omar tapi sisi lain dia juga tahu keduanya sama-sama Bucin.
"Mr Blair... Saya..."
Travis menaikkan jari telunjuknya membuat Omar terdiam. "Omar... Saya percaya bukan kamu yang mulai. Saya sangat tahu bagaimana putri saya tapi ... " Travis mengehela nafas panjang. "Saya tahu kalian sudah lama tidak bertemu tapi ... Oh my God... Kalian itu ! Kalian sudah dewasa, itu benar ! Tapi..."
"Daddy, hanya ciuman..."
"Nadya ! Hanya ciuman? Hanya ciuman? Itu ciuman yang panas, Nadya ! Aduh kepala Daddy pusing !" Travis memegang pelipisnya membuat Nadya segera mengambilkan minum untuk Daddynya dari kulkas mininya.
Travis menerima botol air mineral dingin dari putrinya dan menenggaknya. Dia memang butuh minuman dingin agar bisa mendinginkan kepalanya.
"Nadya, kamu kan memang sudah dijadwalkan untuk ke Jakarta tahun depan. Karena kalian seperti ini, maka Daddy akan percepat kepergian kamu !"
Nadya dan Omar melongo. "Dad ! "
"Awal Desember kamu berangkat ke Jakarta dan tidak ada protes ! Kalian berdua harus dipisahkan dulu ! Omar, apakah kamu bisa menunggu Nadya selesai di Jakarta?"
"Insyaallah Mr Blair. "
"Nadya, bagaimana? Daddy mengirimkan kamu ke Jakarta selain memeriksa kantor kita disana, juga untuk semakin dalam mempelajari keyakinan Omar..." Travis menatap putrinya serius. Sejujurnya ada rasa kehilangan jika putrinya menjadi mualaf tapi dirinya juga tahu bagaimana Omar dan Nadya. Kalau tidak segera menikah, bisa bahaya !
Nadya menatap ayahnya dengan penuh haru mengetahui misi lain dari Travis mengirimkan dirinnya ke Jakarta. Dia bisa banyak belajar dari Arum, Danisha, Amaranggana dan Anjani di mansion Giandra.
Gadis itu langsung memeluk Travis erat sedangkan Omar tampak tersenyum haru sembari mengusap dagunya karena dia tahu tidak mudah sebagai seorang ayah mengijinkan putrinya berpindah keyakinan.
"Sekarang Daddy minta..." Travis mengurai pelukan putrinya. "Tahan diri kalian berdua ! For God's sake, kalian bisa hot-hotan nanti kalau sudah menikah ! Daddy tidak mau ada cerita kamu hamil diluar nikah ! Meskipun kalian tinggal di New York atau pakai alasan menggunakan pengaman, Daddy tidak mau ada ceritanya kalian hidup bebas ! Omar, bersabarlah, terutama kamu Nadya ! Ampun deh !"
__ADS_1
Nadya hanya tersenyum sambil menatap Omar yang tampak kikuk.
"Oh satu lagi, kalian kan diundang ke Brussels besok. Jangan bikin masalah !" Travis menatap tajam ke Omar dan Nadya galak.
Nadya hanya manyun sedangkan Omar hanya mengusap tengkuknya.
"Daddy kesini mau minta apa?" senyum Nadya manis.
"Daddy tadi mau minta apa... " Travis bangun dari kursi Nadya lalu menepuk kepala putrimya. "Gara-gara lihat kamu sama Omar, Daddy jadi lupa princess !"
"Aawww... Daddy !" rengek Nadya manja.
"Omar, besok kalau dia sudah menjadi tanggung jawab kamu, setidaknya sakit kepalaku berkurang..." Travis menepuk bahu Omar sedikit keras.
"Pusing anda berpindah ke saya?" cengir Omar. "Saya harus sedia aspirin banyak-banyak..."
"Omaaarrr !!!" protes Nadya sebal.
"Sudah ! Kalian makan siang dulu." Travis berjalan menuju pintu ruang kerja dan sebelum membukanya, cicit Stephen Blair itu menoleh. "Makan ! Bukan ciuman apalagi buat cucu !"
Nadya dan Omar hanya mengangguk.
***
Nadya dan Omar mulai makan siang di sofa ruang kerja gadis itu. Omar membawakan sushi dan bento untuk kekasihnya karena tahu Nadya sangat suka salmon.
"So, OZ... Bagaimana kasus di Potter? Apakah dia dihukum berat?" tanya Nadya sambil memakan bentonya.
"Jaksa penuntut umum nya bukan Marisol yang jelas tapi sama kompetennya. Dan hukumannya kemungkinan hukuman mati untuk Jenelle karena kejahatannya berlapis Nad. Pembunuhan berencana, pencatutan nama agen CIA aktif dimana agen itu tidak mengenal Jenelle sama sekali, dan fitnah serta Mastermind ( dalang ) dari semuanya" jawab Omar sambil menyesap ochanya.
"Bagaimana dengan kedua orangtuanya dan pacarnya?" tanya Nadya penasaran.
"Ayahnya dan pacarnya kemungkinan dipenjara seumur hidup dan ibunya minimal sepuluh tahun. Tapi memang yang berat Jenelle ..."
"Hanya karena dia cemburu melihat mantannya bahagia dengan orang lain sampai punya anak?" Nadya menatap Omar dengan raut wajah tidak percaya.
"Nad, kamu kan pengacara dan pasti banyak alasan receh yang dijadikan unsub untuk melakukan kejahatan termasuk pembunuhan."
"Bagaimana dengan hasil tes kejiwaan Jenelle?" tanya Nadya.
__ADS_1
"Dia memainkan peran sebagai orang yang memiliki otak tidak berkembang seperti anak ABG tapi aku dan Billy Boyd tahu, bahkan profiler FBI pun tahu kalau itu hanya kedok dari sisi sosiopath dirinya. Bayangkan, bagaimana bisa kamu berpikir menggunakan 'email' dari agen CIA sebagai pemicu pembunuhan mantan pacar dan partnernya? Not make sense ( tidak masuk akal ) tapi semua bukti sudah memperlihatkan semuanya ..." Omar menatap Nadya dengan wajah serius.
"Haaaaahhh... Otaknya korsleting!" umpat Nadya. Suara notifikasi ponsel Nadya berbunyi dan gadis itu membacanya. "Haaaaahhh?" serunya.
"Apa Nad?"
"Kalila dan Raine bilang kalau mereka akan memakai saree India dan Ghagra Choli di acara mbak Mintang. Mereka menawarkan aku mau sekalian pesan tidak."
"Ghagra Choli?" Omar mencari penjelasan model pakaian itu. Dan akhirnya dia menemukan seperti apa bentuknya.
Ghagra Choli merupakan salah satu jenis pakaian India yang umum dikenakan oleh kaum perempuan. Model busananya berupa kombinasi ghagra atau lehenga, choli, serta dan dupatta.
Ghagra adalah rok yang bersulam dan berlipit yang panjangnya hingga pergelangan kaki.
Sementara choli adalah blus atau atasan berlengan pendek, berleher rendah dan ketika dikenakan akan memperlihatkan bagian pusar.
Dupatta adalah syal yang menyerupai selendang. Ketika dikenakan, satu ujung dupatta diselipkan pada pinggang depan ghagra.
Baju khas India disebut Ghagra Choli, yang biasa dipakai di keseharian wanita India.
"Kamu bakalan cantik pakai ini Nad" ucap Omar sambil menunjukkan model baju Ghagra Choli.
"Bagus... Apalagi perut aku kan rata karena sering nge gym...." Nadya menatap mata Omar yang melihat ke arah perutnya. "Omaaarrr! Apa yang kamu lihat !"
"Kamu pasti seksih pakai baju Ghagra Choli ... Dan lebih seksih kalau hamil anak kita... Addduuuhhh!"
Nadya langsung meninju lengan Omar Zidane dengan keras.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1