Love And Justice

Love And Justice
Nelson dan Marisol


__ADS_3

Gym Milik Keluarga McGregor dan Blair


Marisol menatap mata hijau Nelson dan tidak ada keraguan atau kebohongan disana tentang perasaan pria ini. Marisol yang waktu SMA sempat berpacaran dengan Eagle McCloud yang merupakan sepupu Nelson, merasakan sesuatu berbeda. Jika aku dan Eagle itu hubungan high school sweetheart tapi dengan Nelson, perasaan pria ini sangat tulus dan aku juga banyak mendengar dari beberapa kabar jika para pria keluarga klan Pratomo bukanlah tipe playboy.


Marisol memang sudah beberapa kali makan malam dengan Nelson bahkan sudah dua kali diajak ke apartemen pria itu untuk berkenalan dengan Rahajeng, ibu Nelson dan Nadya. Bagi Marisol, jika pria berani mengajak seorang gadis menemui kedua orangtuanya, sudah pasti pria itu serius. Nelson sendiri juga sudah bertemu dengan kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai diplomat.


"Nelson... are you sure ( apa kamu yakin )?"


"Soal?" Nelson menatap Marisol bingung.


"Perasaan kamu ke aku..."


"Mari, aku bukan playboy macam sepupuku si Dewa dan aku adalah orang yang selalu bilang apa adanya. Kita memang sering bertengkar, ribut di gedung pengadilan, ribut di ruanganmu tapi itu salah satu caraku untuk menarik perhatian kamu..."


Marisol cemberut. "Apa kamu tidak sadar, setelah ribut denganmu, aku merasa lelah! Dasar!"


Nelson tertawa. "Look Mari, carilah bukti - bukti yang lebih meyakinkan bahwa Benedict waras sewarasnya saat melakukan kejahatannya. Aku punya tapi itu melanggar kode etik profesi aku. Yakin deh paralegal kamu bisa mencari tahu."


"Ini kita kembali ke bisnis? Bagaimana dengan ucapan kamu?" Marisol merasa sebal. Sudah sok serius malah kembali ke pekerjaan.


"Hei, aku sudah menyatakan perasaan aku padamu kalau aku mencintaimu, Mari. Kan aku tinggal menunggu kamu membalas perasaan ku atau tidak..."


"Tapi Son, statistik menunjukkan bahwa jaksa dan pengacara itu jarang bisa langgeng! Sama saja dengan agen federal yang tingkat perceraiannya tinggi!"


"Kamu bilang begitu apa karena sudah yakin kita akan menikah?" goda Nelson.


"Bukan begitu Son, aku membicarakan semuanya di depan dulu supaya kita tidak menyesal di kemudian hari..."


Nelson memeluk tubuh Marisol dan menatap nya lekat. "Kamu tahu, jika kita menikah nanti, kita bisa membuat mitos itu tidak berlaku. Yang namanya pernikahan itu adalah saling respek dan care satu sama lain. Aku tahu kita berdua sama-sama egois, sama-sama merasa memiliki kemampuan di bidang pekerjaan masing-masing. Tapi, jika kita di rumah dan satu atap, semua ego itu harus kita tinggalkan. Aku berbicara ini sebagai pengingat diriku juga bahwa sebagai suami dan kamu sebagai istri harus mengingat porsi dan tugasnya di dalam rumah. Aku belajar itu semua dari kedua orangtuaku, para oom dan tanteku juga para opa dan omaku yang pernikahan nya bisa langgeng lama. Kuncinya, saling pengertian dan memahami kondisi serta emosi masing-masing. Teorinya begitu tapi memang masing-masing akan berbeda dalam menghadapi masalah dan setiap hari pasti ada ujiannya. Bagaimana kita bisa lulus ujiannya itu yang harus kita capai."


Marisol menatap wajah tampan Nelson dan tersenyum. "Memang kamu pria idaman banyak wanita Son. Apa kamu tahu para jaksa muda, paralegal, asisten hakim yang masih jomblo sangat menyukai dirimu?"


"Sayangnya Mari, hati aku sudah untuk dirimu." Nelson mencium kening Marisol. "So, kita kembali ke kasus Benedict... Addduuuhhh!"


Marisol mencubit pinggang Nelson. "Dasar nggak romantis!"


"Tapi kamu tetap mau sama aku kan Mari?" goda Nelson.


"Biar aku pikir-pikir dulu..."

__ADS_1


Nelson terbahak. "Kamu macam keponakan aku saja!"


"Keponakan kamu yang mana?" tanya Marisol bingung.


"Si Arsya, anaknya mbak Zee dan bang Sean. Dia gayanya suka begitu kalau ditanya oleh para Oomnya."


"Mbak Zee... Ratu Zinnia dari Belgia?" seru Marisol.


"Yup."


"Son, besok aku akan gali lebih dalam bukti-bukti yang diperoleh detektif Stabler. Aku harus mendapatkan semuanya mengingat kamu sudah memberikan petunjuk."


"That's my girl. Tidak hanya demi keselamatan kamu tapi juga keselamatan banyak wanita."


"Kamu benar-benar tidak perduli kalau Benedict anak senator dan senator itu teman ayah kamu."


"Mari, dia melakukan kejahatan yang diluar nalar otak waras manusia dan aku berusaha membebaskan dia? Malah bisa jadi aku sendirian yang akan membunuhnya!" geram Nelson.


"Jangan! Kamu jangan sampai ketahuan membunuhnya... Aku nanti tidak ada teman berantem!" pinta Marisol membuat Nelson tersenyum.


"Thank you Mari... Tanpa kamu menyatakan perasaan kamu, aku sudah bisa menebak isi hatimu."


Nelson mencium bibir Marisol lembut. "I love you Mari."


"Maybe I love you too..." senyum Marisol.


"Mari!"


***


Marisol benar - benar mencari tahu tentang kondisi Benedict Robert sebenarnya pada saat kejahatan itu terjadi apalagi dia memiliki waktu sekitar seminggu sebelum masuk ke dalam sidang utama. Dibantu dengan paralegal andalannya dan detektif Stabler serta detektif Reddick, mereka berusaha mengulang kembali merunut kejadiannya sebenarnya meskipun sudah sedetail mungkin tapi mereka berusaha mencari sesuatu yang terlewat.


Nelson sendiri sedang menyusun berkas untuk dibawa sidang utama hari Senin depan dan wajahnya tampak sangat serius hingga asistennya sedikit merinding melihat dinginnya wajah bossnya.


Suara ketukan di pintu membuat Nelson dan asistennya mendongak. Tampak di pintu Travis Blair berdiri disana.


"Boleh Daddy masuk?" tanya Travis.


"Boleh saja" jawab Nelson sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi dulu Mr Blair. Mau makan siang dulu" pamit asistennya.


Kedua Blair itu melirik jam tangan mewahnya masing-masing dan baru menyadari kalau memang sudah masuk jam makan siang.


"Silahkan Jones. Selamat makan siang" ucap Travis membuat asisten Nelson yang dipanggil Jones pun mengangguk lalu keluar dari ruang bossnya.


Travis pun duduk di kursi depan meja kerja Nelson. "Masih berkutat dengan kasus Benedict?"


"Masih Dad. Sedang membuat preliminary ( pendahuluan ) di depan juri." Nelson kembali sibuk menulis di kertas.


"Apa kamu tahu, Wira dan Jayde berada di Singapura?"


Nelson menghentikan menulisnya. "Ngapain?"


"Mengawasi Triad Wong."


Nelson meletakkan pensilnya. "Alamat kita nanti bakalan mengurus persoalan hukum mereka."


Travis terbahak. "You know them so well ( kamu mengenal mereka dengan baik ).


"Dad, setiap generasi itu pasti ada kerusuhan dan gegeran jadi sudah hapal lah!" sungut Nelson sambil manyun.


"Itulah gunanya kita, Son" senyum Travis.


"Hadeeehhh!"


***


Note


Paralegal adalah seseorang yang mempunyai keterampilan hukum namun ia bukan seorang Pengacara (yang profesional) dan bekerja di bawah bimbingan seorang Pengacara atau yang dinilai mempunyai kemampuan hukum untuk menggunakan keterampilannya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2