Love And Justice

Love And Justice
Aslan Blair Zidane ( END )


__ADS_3

Sunday morning, apartemen Bayu dan Ajeng di Manhattan New York


Omar dan Nadya menatap judes ke arah pasangan suami istri yang membuat mood mereka berdua jeblok semalam hanya gara-gara dua biji Oreo. Nadya tepatnya yang pulang dari nonton marah-marah tidak jelas membuat Omar harus mengeluarkan semua stok sabarnya agar istrinya yang cantik itu tidak berkelanjutan ngamuknya.


"Kalian berdua itu... Seriously !" omel Omar. "Bay, sudah tahu kryptonite Ajeng itu Oreo, kok ya dimakan ?"


"Lha aku ingin mencoba nya. Kan Ajeng selalu punya stok banyak..." jawab Bayu tanpa dosa membuat pasangan suami-isteri di depannya mendelik galak.


"Mau punya stok banyak atau nggak, jangan diutak-atik milik ibu hamil ! Omar tuh nggak pernah utak Atik cereal aku karena setiap pagi selama hamil aku harus makan cereal itu !" hardik Nadya sebal. "Kamu juga Jeng ! Aku juga sedang hamil, mood swing juga tapi kamu over dosis ! Nggak perlu panggil 911 atau butuh pengacara untuk masalah seperti ini !"


Ajeng hanya cemberut.


"Haaaddeehhh..." Nadya memegang pelipisnya.


"Nad, sudah jangan marah-marah..." ucap Bayu pelan.


"Siapa yang nggak marah ! Kalian itu merusak momentum aku dan Omar nonton bioskop ! Paham nggak ?" bentak Nadya kesal. Baginya, semua kekesalan ini harus dilampiaskan ke sumbernya! "Yang hamil nggak cuma kamu saja ! Yang ngidam nggak cuma kamu saja ! Aku juga ngidam ingin nonton berdua bersama Omar tapi kamu merusak mood aku !"


Omar mengelus punggung istrinya karena semalam Nadya sudah mengamuk dan habis satu mangkuk ice cream dan tiga potong pizza.


"Maafkan aku, Nadya. Aku menyusahkan banyak orang..." jawab Ajeng sambil menunduk.


"Memang !" balas Nadya galak.


Omar menggenggam tangan Nadya berusaha mengurangi emosinya tapi Omar juga tahu, semenjak hamil, semakin galak. Entah seperti apa anakku kelak...


"Nad, jangan marahi Ajeng..."


"Aku tidak perduli kalau kalian ribut berdua tapi jangan bawa-bawa orang lain !" Nadya menatap tajam ke Bayu.


"Nadya, sudah. Kamu mau ice cream choco chips?" tawar Omar Zidane.


"Mau ! Mana sayang?" Wajah Nadya langsung berubah membuat Bayu dan Ajeng melongo. Betapa cepatnya mood swing itu berubah.


Omar mengeluarkan satu box ice cream choco chips dari cooler yang selalu dibawanya setiap pergi berdua dengan Nadya selama istrinya hamil. Di dalamnya ada banyak makanan dingin favorit istrinya. "Ini ice cream dan sendoknya."


"Kamu nggak boleh minta lho Omar !" ucap Nadya judes.


"Nggak sayang. Itu buat kamu dan baby."

__ADS_1


"Astaghfirullah... Ini masih pagi Nadya" celetuk Ajeng.


"Baby ku anak kutub Utara, sukanya yang dingin-dingin. Jadi pagi itu aku harus minum susu dingin, es krim atau air dingin kalau nggak, aku bisa lemas dan muntah seharian." Nadya memasukkan satu sendok besar ice cream Choco chips nya. "Dan coklat ! Aku harus ada coklat di dalam tas. Biasanya Omar selalu memeriksa stok coklat batangan di tas aku atau di kantorku. Dan wajib dark chocolate yang sedikit pahit."


"Nadya membawa nyawa di dalam perutnya dan aku berusaha menjadi suami yang baik dengan membuatnya nyaman serta tidak kebingungan kalau makanannya tidak ada" senyum Omar. "Apalagi kalian tahu sendiri kan bagaimana kalau dia mengamuk ?"


Bayu dan Ajeng hanya tersenyum melihat bagaimana Omar sangat mencintai Nadya hingga memikirkan ke hal-hal kecil seperti itu.


***


Usai makan siang di apartemen Bayu dan Ajeng, Omar dan Nadya pun memilih jalan-jalan ke mall milik keluarga Hamilton. Kehamilan Nadya yang masuk usia tiga bulan itu pun membuat bumil tampak semakin bersinar.


"Tampaknya anak kita cowok deh..." ucap Omar.


"Kenapa bisa begitu ?" tanya Nadya sambil merangkul lengan suaminya.


"Feeling seorang ayah?" Omar menatap Nadya penuh cinta. "Terimakasih sayang, mau memiliki anak bersamaku..."


"Dengar manusia Sphinx, aku memang menunda punya anak tapi bukan berarti aku tidak mau. Aku sangat ingin punya anak bersamamu tapi aku juga ingin have fun go mad bersamamu. Sekalian aku memantapkan hati dan emosi untuk menyambut kehamilan karena tahu sendiri kan, emosi ibu hamil suka di luar nalar ?" Nadya menatap wajah suaminya serius. "Apakah aku sudah bilang kalau kamu tampan sekali hari ini, suamiku ?"


"Hanya hari ini Nadya?" senyum Omar.


"Love you Nadya. Always."


"Love you too... Forever manusia Sphinx."


***


Enam Bulan Kemudian


Omar Zidane menatap bayi laki-laki yang tampan dalam gendongan Nadya. Pagi tadi istrinya sudah merasakan kontraksi dan Omar membawa ke rumah sakit Lenox Hills sesuai permintaan Travis Blair meskipun pria itu keberatan dengan biayanya tapi ayah mertuanya memaksa.


Dan akhirnya jagoan yang ditunggu pun keluar dan nama Aslan Blair Zidane pun disematkan ke bayi laki-laki perpaduan Omar dan Nadya. Aslan sendiri hanya beda tiga bulan dengan Duncan, anak Bayu dan Ajeng yang sudah lahir lebih dulu.


Travis, Rahajeng dan Hasina sangat antusias melihat cucu mereka. Apalagi wajah Aslan sangat mix bule dan Mesir. Nelson yang datang bersama dengan Marisol pun ikut senang melihat keponakan mereka.


***


"Nah, kalau ini baru pas. Perpaduan Nadya dan Omar, nggak macam Duncan... Mini me nya Lisus !" kekeh Nelson.

__ADS_1


"Namanya Aslan? Artinya apa?" tanya Marisol.


"Singa. Itu bahasa Turki" jawab Omar.


"Kenapa aku jadi teringat Aslan Narnia yaaa" gumam Nelson.


"Asal nanti kalau kamu punya anak kedua perempuan, jangan dikasih nama Narnia" kekeh Marisol.


"Ndak lah !" senyum Nadya. "Kalian kapan akan menikah? Damian sudah lho... Meskipun sementara. Duo R juga sudah."


"Semoga tahun depan deh tapi aku dan Marisol tidak mau ramai-ramai dan kami sudah merencanakan untuk menikah di Las Vegas. Simple praktis dan cepat" jawab Nelson sambil menatap Marisol.


"Las Vegas? Seriously ?" tanya Omar.


"Yup. Aku dan Marisol sama-sama sibuk dan malas mengurus semua hal-hal macam itu. Lagipula orang tua Marisol pun setuju karena mereka kan masih dinas di luar negeri sebagai atase Amerika Serikat."


"Nggak masalah sih aku dan Nelson menikah di Las Vegas karena yang penting dan resminya bukan?" senyum Marisol yang bahunya dipegang oleh Nelson dari belakang.


"Kita itu kakak beradik pengacara itu memang ya... Mendapatkan pasangan adalah orang-orang yang tidak jauh - jauh circle nya dari hukum dan law enforcement" kekeh Nadya.


"Yup..." Nelson mencium pucuk kepala Marisol. "Dan aku bertekad untuk melepaskan mitos bahwa pengacara dan jaksa penuntut umum tidak bisa awet."


"Semua itu tergantung bagaimana kita, Nelson. Lihat Nadya dan Omar. Mereka bisa bersama sekian lama dari jaman pacaran hingga sekarang" senyum Marisol.


"Benar. Semuanya berpulang ke diri kita masing-masing. Sebenarnya tujuan kalian menikah itu apa? Kalau kita sebagai laki-laki, harus diingat bahwa kita meminta anak gadis seseorang..." jawab Omar sambil mencium pelipis Nadya.


"Oh aku minta tolong ya Mari. Besok kalau kalian sudah menikah dan Mari hamil, jangan sampai menelpon 911 kalau ada masalah soal makanan yang diidamkan ! Bikin repot !" pesan Nadya serius.


Nelson dan Marisol terbahak. "Duh, itu mah Ajeng !"


*** END ***


Yuhuuuu Nadya dan Omar End yaaaa gaeeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2