
Gedung Pengadilan Hongkong
Omar Zidane menatap ke arah Sadawira, Damian, Gabriel dan Ken Al Jordan didalam mobil tahanan dengan tatapan cemas. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu terhadap Nadya, meskipun bersama dengan Chisato dan Katrin Jaeger, tapi dia sudah berjanji kepada Travis dan Nelson untuk selalu menjaga gadis itu.
"Kamu tidak usah cemas, OZ. Nadya akan baik-baik saja" ucap Damian yang tahu bagaimana gugup dan cemasnya agen FBI itu ke adiknya. "Dia seorang Blair."
"Bukan begitu Dam. Tapi aku sudah berjanji ke Mr Travis dan Nelson untuk menjaga dan melindungi Nadya" balas Omar sambil menatap Emir Al Azzam Blair itu.
"OZ, ini diluar kemampuan kamu dan aku yakin Oom Travis dan Nelson pasti maklum" ucap Gabriel.
Omar Zidane hanya bisa menghela nafas panjang apalagi ini sidang pertama mereka. Semoga bala bantuan segera datang! Aku ingin segera meninggalkan Hongkong kembali ke New York!
***
Kedatangan para anggota keluarga klan Pratomo ke gedung pengadilan membuat halaman penuh dengan wartawan baik nasional maupun internasional ditambah para anggota keluarga korban kejahatan Triad Wong yang mengelu-elukan keluarga itu karena berhasil membantu mereka membalaskan dendam mereka.
Satu persatu para pria paripurna itu pun turun dan seperti biasanya, mereka semua memasang wajah dingin tapi malah membuat para kaum hawa menjerit heboh melihat Sadawira, Radeva, Ken dan Damian yang berjalan tanpa ekspresi.
Omar melihat adanya tv layar lebar disana yang memperlihatkan wajah mereka satu persatu dengan jelas. Ya ampun! Aku tahu semua kakak Nadya paripurna tapi kenapa gedung pengadilan macam mirip ajang konser idol?
Pria jangkung itu melihat mobil di belakangnya tiba dan turunlah Nadya, Chisato dan Katrin Jaeger. Wajah Omar tampak lega saat melihat gadisnya tampak baik-baik saja. Namun dirinya tampak kesal melihat gadisnya diborgol. Kurang ajar!
Omar pun berjalan masuk ke dalam gedung pengadilan sambil melirik ke arah Nadya yang juga menatapnya sambil tersenyum.
Ruang pengadilan itu sudah dibuat sedemikian rupa hingga semua terdakwa bisa duduk semua. Omar menyisakan tempat agar Nadya bisa duduk di sebelahnya dan saat gadis itu masuk, pria Mesir itu memberikan kode agar Nadya duduk di sebelahnya.
Nadya pun duduk di sebelah Omar dan pria itu menatap ke arah gadisnya seolah memindai apakah Adik Nelson itu baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja?" bisik Omar.
"I'm fine Omar" jawab Nadya sambil menggenggam tangan pria itu meskipun sedikit kesulitan karena sama-sama diborgol.
Omar mengecup kepala Nadya. "Aku takut kalau kamu kenapa-kenapa. Secara aku sudah berjanji dengan ayah dan kakakmu untuk melindungi kamu."
"I'm fine Omar. Don't worry" senyum Nadya.
Tak lama tim pengacara pun datang dan wajah Nadya serta Omar tampak lega ketika melihat Travis dan Nelson Blair berada di rombongan pengacara.
"Bala bantuan datang." Omar tersenyum tenang.
Nadya mengangguk.
__ADS_1
***
Keputusan hakim yang meminta agar semua terdakwa dipenjara di gedung pengadilan membuat para generasi keenam hanya saling berpandangan karena sudah pasti bakalan macam ikan pindang di dalam sel akibat banyaknya jumlah mereka.
"Setidaknya aku bisa mengawasi kamu Nad" ucap Omar setelah tahu mereka semua akan ditahan di sel gedung pengadilan.
"Dan aku bersama dengan kalian." Nadya tersenyum ke arah para anggota keluarganya yang hanya mengedikkan bahunya saat mendengar keputusan hakim.
Omar melihat Sadawira tampak asyik mengobrol dengan Chisato Kuchiki dan pria itu merasakan bahwa pria mirip vampir itu ada perhatian khusus ke salah satu anggota Yakuza Takara.
Apakah Wira mulai tertarik dengan gadis Jepang yang juga memiliki wajah sama dinginnya dengan nya?
Semua anggota keluarga Pratomo digiring para petugas pengadilan untuk menuju sel yang tersedia disana. Dan sesuai dengan perkiraan Omar, mereka semua hanya disediakan empat sel. Tiga untuk pria sedangkan satu untuk tiga wanita disana.
"Sumpah ! Alamat kita seperti sarden!" umpat Bayu O'Grady yang badannya termasuk besar itu kesal.
"Siapa suruh punya tubuh besar" ejek Luke usil.
"Brengseeekkk lu bang!" Bayu menatap judes ke ketua Yakuza Takara itu.
Omar tidak memperdulikan keributan di sel sebelah karena yang penting dirinya bisa mengawasi Nadya secara langsung.
***
"Bagaimana kalian bisa datang kemari?" tanya Damian saat menerima paperbag berisikan baju ganti besok.
"Sedikit persuasif dan ancaman" cengir Sky Chen. "Semua baju itu baru dan sesuai dengan ukuran kalian meskipun sempat digeledah tadi sebelum masuk kemari."
"Thanks Sky" ucap Luke tulus.
"Bagaimana besok kans nya di sidang kedua?" tanya Gabriel.
"Paling kalian dibantai lagi" jawab Nelson. Pria itu lalu menuju sel adiknya. "Kamu oke dik?" tanya Nelson sambil memegang tangan Nadya.
"Pengen pulang" jawab Nadya apa adanya.
"Sabar ya, mas Nelson, Daddy dan tim pengacara sedang berusaha untuk bisa mengeluarkan kalian dari Hongkong." Nelson menatap Chisato dan Katrin yang juga tampak bosan. " Bersabarlah kalian juga."
"We will Mr Blair" ucap Chisato.
"Natürlich Herr Blair ( tentu saja tuan Blair )" senyum Katrin dengan aksen Jermannya.
__ADS_1
"Ich werde dafür sorgen, dass Sie so schnell wie möglich aus Hongkong verschwinden ( aku akan mengeluarkan kalian semua dari Hongkong secepatnya )!" janji Nelson. "Semua bukti-bukti sudah kami dapatkan lebih dari yang kita duga sebelumnya."
"Apakah itu parah mas?" tanya Nadya.
"Kamu akan mengetahuinya segera" senyum Nelson sambil mengelus kepala Nadya.
Nadya mengangguk dan merasa nyaman serta tenang setelah kakaknya datang menjenguknya. Nelson pun menghampiri Omar dan hanya mengangguk tanda it's okay.
"Son..." panggil Omar.
"It's not your fault ( bukan salahmu ). Sudah resikonya, OZ" senyum Nelson.
"Sorry."
"It's okay. Doakan saja kita bisa membawa kalian semua keluar dari Hongkong secepatnya!" Nelson menatap ke semua anggota keluarganya dan para agen yang ditahan.
"Aamiin!"
***
Malam harinya ...
Meskipun dipenjara, mereka semua tidak meninggalkan ibadah mereka meskipun dengan seadanya. Ketiga wanita yang berada disana hanya bisa melihat para pria itu khusuk berdoa dan mereka pun mengikuti dengan kepercayaan masing-masing.
Nadya menatap Omar yang sedang serius berdzikir dan entah kenapa hatinya terasa hangat melihat pria itu berdoa sesuai kepercayaannya.
Nadya sudah terbiasa melihat keluarga besarnya seperti itu saat lebaran ataupun idul Adha tapi melihat Omar, ada sesuatu yang berbeda. Entah kenapa...
Apakah ini yang dinamakan hidayah? - batin Nadya.
Omar menyelesaikan dzikir nya dan menoleh kearah Nadya lalu tersenyum hingga membuat wajah gadis itu memerah.
Insyaallah aku bisa menghalalkan mu Nadya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️