Love And Justice

Love And Justice
Pipi Bakpao


__ADS_3

Bandara Internasional Hongkong


Nadya merasa lega luar biasa saat melihat pesawat yang sangat familiar di hadapannya. Pesawat Keluarga Blair Lawyer. Nelson yang melihat bagaimana adiknya tampak senang, langsung memeluk gadis itu.


"Ini beneran pulang kan?" tanya Nadya sambil membalas memeluk kakaknya.


"Beneran pulang. Ayo kita pamitan dulu." Nelson menggiring Nadya ke semua orang yang berkumpul. Mereka semua pun saling berpamitan sambil memeluk satu sama lain dan Nadya memeluk erat Katrin Jaeger serta Chisato Kuchiki yang menjadi teman satu sel selama hampir dua Minggu dipenjara.


Meskipun ketiga wanita itu termasuk tangguh tapi saat mengetahui mereka akan pulang ke rumah, membuat ketiganya menangis terharu karena akhirnya mereka bebas dari penjara.


Satu persatu mereka pun masuk ke dalam pesawat masing-masing yang akan membawa ke negara masing-masing. Nadya pun masuk bersama dengan keluarganya yang di Amerika Serikat termasuk Bayu dan Abiyasa O'Grady, Pedro Pascal, Hunter McDouglas, Doogie O'Leary, Marisol Braga, para agen FBI yang ikut serta dan Omar Zidane.


Di dalam pesawat yang bisa menampung hampir 100 orang itu tapi sudah dimodifikasi hingga nyaman, Nadya memilih duduk di kursi yang berada di belakang sambil membawa selimut. Omar pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


Nadya memakai selimut dan menggulungkan tubuhnya dibalik kain tebal itu lalu bersandar di bahu Omar yang menatap dirinya.


"Tidurlah" ucap Omar lembut.


"Pinjam bahumu ya OZ ..." gumam Nadya.


"Pinjam yang lain juga boleh..." senyum Omar membuat gadis itu melongo.


"Kalau aku pinjam brewok mu boleh?" Nadya menatap Omar jahil.


"Buat apa?" tanya Omar bingung.


"Buat cuci piring..." jawab Nadya cuek sambil memeluk lengan Omar sedangkan pria itu terkejut.


"Astaghfirullah Nadya!"


Nadya hanya tersenyum lalu memejamkan matanya. Omar memeluk tubuh gadis itu dan ikut terlelap.


***


"Omar dan Nadya?" tanya Marisol sambil menyandarkan kepalanya di kursi pesawat.


"Yup" jawab Nelson. "Dia sudah yakin bersama dengan Omar."


"Kalian semua mendukung hubungan mereka?" tanya Marisol.


"Yup. Sama halnya dengan hubungan kita berdua. Kamu tahu, Keluarga aku selalu menscreening siapa yang dekat dengan kami. Dan kalian berdua lolos" senyum Nelson. "So Mari, bagaimana kita makan malam besok?"

__ADS_1


"Sorry Nelson. Kita harus menundanya. Klien mu, Benedict Robert, dengan perwakilan Phoenix Hamilton mengajukan banding."


Nelson menoleh. "What?! Phoenix?"


"Yup, saat kalian di Hongkong, Phoenix yang menghandle semuanya dan Benedict mengajukan banding melalui firma hukum kalian."


"Damn!" umpat Nelson. "Masih tidak terima?"


"Hak dia kan Nelson. Dia masih bisa memakai hak nya, sayang" ucap Marisol.


"Tapi aku tidak akan maju, Mari. Karena bisa double Jeopardy. Jadi biar Phoenix yang maju."


"Begitu ya Son. Kenapa?"


"Karena aku tidak yakin untuk tidak membunuhnya dengan tanganku sendiri!"


Marisol menepuk pipi Nelson. "Jangan, membunuh Nelson. Sudah cukup banyak aku melihat kasus pembunuhan baru - baru ini. Dan keluarga kamu sudah terlalu lelah..."


"Makanya aku tidak akan maju. Paham kan?" senyum Nelson sambil mencium kening Marisol.


***


Omar terbangun ketika terasa pesawat terkena turbulensi hingga sedikit bergetar. Semua orang disana tampak sedikit panik tapi untunglah setelahnya tidak terjadi apa-apa lagi.


"Tadi...apa goyang - goyang? Ada konser... Dangdut?" gumam Nadya membuat Omar yang sudah memejamkan matanya terbuka.


"No Nadya. Turbulensi... Konser apa?! Dangdut?" tanya Omar bingung.


"Oh ... Aku mimpi nonton... konser Dangdut..." ucap Nadya yang setelahnya terlelap lagi.


Omar hanya tersenyum geli mendengar gadis itu seperti mengigau. Kamu benar-benar lelah ya Nad? Macam bayar hutang tidur berabad-abad.


Pria itu lalu mengelus rambut coklat kepirangan Nadya lembut. Entah sejak kapan aku jatuh cinta dengan gadis cantik ini. Seujung kuku pun aku tidak menyangka akan bisa jatuh cinta lagi setelah Leia. Apa mungkin saat Leia itu bukan true love? Kenapa rasanya berbeda saat dengan Nadya?


Omar mengelus pipi Nadya. Gadis ini berbeda dengan Leia meskipun bar-barnya sama. Nadya sangat melengkapi hidupku yang selama ini menjurus monoton di biro. Dan aku tidak mau kehilanganmu Nad...


Omar kembali memejamkan matanya. Jujur baru sekarang dirinya merasa lelah luar biasa dan dia tahu kenapa. Karena perasaan sangat lega karena akhirnya kami bisa pulang. Omar sudah terbiasa menghadapi banyak peristiwa selama dirinya berkarir di FBI dan peristiwa Hongkong adalah yang paling menguras energinya.


***


Hampir dua jam penerbangan, akhirnya mereka pun menikmati acara makan malam yang sudah disiapkan oleh para kru kabin pesawat. Perjalanan dari Hongkong ke New York membutuhkan waktu hampir 20 jam.

__ADS_1


Omar membangunkan Nadya untuk makan dulu membuat gadis itu seperti mengalami disorientasi karena berada di tempat yang berbeda.


"Hah?" tanya Nadya dengan rambut acak-acakan.


"Makan malam dulu" senyum Omar.


"Oh..."



Yang masih belum nyatu nyawanya



Yang geli melihat gadisnya masih bingung


"Makan?" Nadya menatap sekelilingnya.


"Makan Nad..." Omar membenarkan rambut Nadya.


"Oh. Aku masih mengira kita dipenjara."


"Kita sudah perjalanan pulang Nadya." Omar menatap Nadya lembut.


"Oke. Apa menu makan malam ini? Aku harap bukan dimsum atau bakpao lagi. Aku sudah cukup bosan dan pipi ku sudah macam bakpao!" omel Nadya sambil cemberut.


Omar tertawa kecil. "Kamu menggemaskan dengan pipi bakpao kok Nad... Addduuuhhh!"


Nadya memukul Omar keras-keras. "Kamu menyebalkan!"


Para keluarga Nadya hanya mengacuhkan keributan kedua orang itu. Dan Nadya bersyukur karena menu makan malam ini bukanlah dimsum, bakpao ataupun Chinese food.


"Aku rindu pasta!" ucapnya bahagia sambil memakan lasagna nya.


Omar hanya menatap lembut ke arah gadis itu.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2