Love And Justice

Love And Justice
Mood Booster


__ADS_3

Mansion Blair Staten Island New York, Hari Minggu


Nadya dan Ajeng kini berada di dapur sambil membuat macaroni schotel bersama dengan Kaia.


"Jadi kalian mau membuat beku schotel nya dan baru kalian panggang besoknya buat dibawakan ke Bayu dan Omar?" tanya Kaia sambil menyiapkan loyang.


"Iyaaa. Aku mau ke kantornya Omar. Tahu lah kalau dia lagi pusing dengan kasusnya Oma. kan aku pacar yang baik hati dan tidak sombong... Kelemahan aku yaaa terlalu bucin..." jawab Nadya tanpa beban membuat Ajeng dan Kaia hanya melengos malas.


"Nad, bagaimana kamu bisa jatuh cinta dengan Omar?" tanya Kaia. "Secara dia bukan tipe kamu kan?*


"Siapa bilang Oma. Dia pria paling baik yang pernah aku kenal. Dan pria gentleman serta melindungi aku banget Oma. Jarang pria jaman sekarang seperti Omar. Dan itulah yang membuat aku jatuh cinta sama Omar meskipun agak kualat sama mommy sih..." gumam Nadya.


"Kualat dengan Mrs Blair? Bagaimana bisa?" tanya Ajeng bingung.


"Jeng, ingat nggak waktu kita kecil disuruh bersih-bersih rumah macam nyapu gitu, kalau ada yang ketinggalan, biasanya mamamu bilang apa?" Nadya menoleh kearah Ajeng.


"Nyapu itu yang bersih, sebab kalau tidak, dapat suami yang brewokan" jawab Ajeng.


"Lha kalau dapat calon suami brewokan macam Omar, ya nggak nolak kan? Jadi ada faedahnya nyapu nggak bersih waktu kecil dan remaja... Hahahaha" gelak Nadya senang membuat Ajeng dan Kaia menggelengkan kepalanya.


"Tapi itu kebetulan sih. Oma dari kecil memang pembersih, dapat Opa mu ya jarang pelihara brewok. Tapi Oma Yuna super pembersih tetap dapat Opa Edward... Nggak mesti kan Nad" kekeh Kaia.


"Tapi tetap. Buat aku kalau Omar gak brewokan, gadha yang geli-geli gimana kalau ciuman Oma... Aduuuuhhhh!" Nadya memegang kepalanya yang terkena pukul spatula Kaia.


"Kamu tuh makin kacau saja ! Dah sana, mualaf dulu lalu resmikan dengan Omar !" omel Kaia.


"Lha memang tujuan aku dikirim Daddy ke Jakarta buat belajar sama ustadzah yang biasa memberikan maklumat di majelis pengajian Tante Dhita dan Tante Amara. Jadi sambil menyelam, kelelep lah!" balas Nadya sambil nyengir.


"Oma nggak bisa bayangkan kamu sama Omar gimana kehidupan rumah tangga kalian..."


"Semoga sakinah mawadah warahmah... Aamiin" jawab Ajeng.


Nadya menatap kekasih Bayu itu lalu memeluknya. "Ah Ajeng, terima kasih doanya. Semoga kamu besok sama mas Bayu pun sama. Oh ingat, kalau mas Bayu aneh-aneh dan kamu butuh pengacara, hubungi aku ya... Addduuuhhh ! Omaaaa!" Nadya mengelus kepala nya yang kena sambit serbet.


***


FBI Building Plaza Manhattan New York Hari Senin ...


Omar meletakkan kepalanya diatas mejanya karena merasa sakit memikirkan kasusnya yang belum selesai - selesai. Gregorius Lawrence memang sangat licin hingga semua teknologi tidak ... ralat belum menemukannya.


Maggie melihat Omar yang tampak lelah dan stress, memberikan sebotol air mineral yang selalu tersedia di laci mejanya.


"OZ, minum dulu. Kamu tampak berantakan" ucap Maggie.

__ADS_1


"Kesal aku Mag. Kita kecolongan !" Omar pun mengembalikan posisi tubuhnya menjadi duduk dan meminum air mineral yang diberikan Maggie, juniornya di FBI.


"Bagaimana hasil autopsi?" tanya Maggie.


"Dicekik dan hasil ukuran tangan sama dengan korban lainnya." Omar menatap mug shot ( foto polisi ) Gregorius Lawrence di layar monitor Dell nya.


"Kita harus bergerak lebih cepat lagi OZ." Maggie menatap layar monitor milik Omar. "Aku tidak mau banyak korban macam Gary Ridgway atau Ted Bundy atau Jeffery Dahmer."


"You're right Maggie. Damn it !!!" Omar menggebrak mejanya kesal. Maggie sekarang satu ruangan dengan Omar karena semakin banyak anggota Law Enforcement yang bergabung dengan FBI untuk menangkap Gregorius Lawrence.


Suara telepon di meja Omar berbunyi dan pria itu mengangkatnya. "Zidane.... Dimana? Seriously? Oke. Aku akan ke bawah." Omar meletakkan gagang telepon nya lalu bangkit dari kursinya dan memakai jasnya.


"Kamu mau kemana OZ?"


"Ke bawah sebentar." Omar pun bergegas menuju lift.


***


Lobby FBI Building Plaza Manhattan


Omar keluar dari lift dan celingukan mencari orang yang menunggunya. Pria itu tersenyum saat melihat sosok yang sangat dirindukannya dan membuatnya tenang.


"Hai" sapa Omar.


"Hai. Aku tidak bisa masuk karena aku tidak ada janji dengan mu jadi minta tolong mereka menghubungi kamu" senyum Nadya.


"Mobil."


"Dimana mobil mu?"


"Di parkiran basemen. Kenapa Omar?" tanya Nadya bingung.


Omar tidak menjawab lalu membawa Nadya ke dalam lift dan hendak memencet tombol basemen.


"Lantai berapa kamu parkir?" tanya Omar.


"B-2."


Omar memencet tombol B2. Begitu keluar lift, Omar mencari mobil Nadya.


"Kamu pakai apa? Subaru atau mini Cooper?" tanya Omar.


"Subaru. Itu mobilnya."

__ADS_1


"Buka Nad."


Nadya membuka mobilnya dan keduanya masuk. "Kamu mau nyetir? Kita makan siang? Tapi aku membawakan maca..."


Omar langsung mencium bibir Nadya panas membuat gadis itu terkejut namun setelahnya gadis itu membalas sama panasnya.


Bahkan Omar menciumi semua wajah Nadya hingga lehernya dan berusaha untuk tidak memberikan tanda disana lalu kembali ke bibir gadis itu.


Tiba-tiba Omar menghentikan ciumannya dan memegang wajah Nadya sembari terengah-engah, begitu juga dengan gadis itu. Blus milik Nadya tampak kusut begitu juga dengan dasi Omar yang sedikit miring.


"Kamu kenapa?" tanya Nadya sambil menatap Omar.


"Menaikkan mood aku..." Omar mencium kening Nadya. "Thanks sayang kamu sudah datang membuat aku semangat kerja lagi."


Omar melepaskan pegangannya dan membantu Nadya membenarkan blusnya.


"Dasimu miring..." senyum Nadya yang tidak memungkiri dirinya juga mendapatkan mood booster.


"Kamu bawa apa?" tanya Omar sambil menstater mobil Nadya untuk menyalakan AC meskipun ini musim gugur yang masuk musim dingin tapi di dalam mobil sangat panas.


"Macaroni schotel. Aku buat bersama Ajeng kemarin di mansion bersama Oma." Nadya menyerahkan paper bag berisikan satu kotak sedang berisikan macaroni schotel..


"Thanks Nad. Sudah sekarang kamu pulang karena aku hendak bekerja lagi." Omar mencium pipi Nadya.


"Omar..." panggil Nadya sebelum Omar membuka pintu mobil.


"Apa?" tanya pria itu menoleh ke arah Nadya.


Nadya mencium bibir Omar penuh kelembutan. "Catch that son of b1tch !" Mata hijau kecoklatan Nadya menatap serius ke Omar usai mencium bibirnya. "Tapi berhati-hatilah."


"Always sayang, always." Omar mencium kening Nadya sekali lagi. "Terimakasih."


Nadya tersenyum. Omar lalu turun dari mobil Nadya sedangkan gadis itu bergeser menuju kursi pengemudi.


"Hati-hati pulangnya. Salju sudah mulai turun..." ucap Omar dari jendela sebelum Nadya berjalan keluar.


"Always Omar. Always." Nadya mengangguk ke arah kekasihnya dan membawa mobilnya keluar dari parkiran gedung FBI. Omar pun berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya. Hatinya terasa tenang dan bahagia karena sumber kebahagiaannya sudah datang menemuinya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2