
Manhattan New York Akhir Bulan Agustus
Hari-hari pun berlalu dan Omar Zidane semakin pening membaca grup chat keluarga Nadya saat mereka tahu kalau dirinya dan tunangannya hendak melangsungkan pernikahan di Islamic Cultural Center Riverside Drive New York.
π© Luke Bianchi : Kamu kan tahu, kami banyak yang tidak bisa datang ke New York. So, kamu minta hadiah pernikahan apa?
π© Radhi Blair : Ferarri? Aku kirimkan segera ke New York
π© Damian Blair : Jam tangan? Mau brand apa Patek atau Hublot atau Audemars Piguet ?
π© Bayu O'Grady : Damian memang tukang koleksi jam tangan sama dengan Wira.
π© Sadawira Yustiono : Beda kelas lah mas Bayu. Aku beli Hublot aku yang hilang nabung dulu, Damian tinggal tunjuk.
π© Damian Blair : Aku masih ada Hublot nggak kepakai. Mau?
π© Sadawira Yustiono : Mau lah ! Dikasih kok nolak
Omar hanya menggelengkan kepalanya membaca pesan-pesan di ponselnya karena percakapan para sultan memang sering membuatnya sakit kepala. Bukan masalah kalah duitnya tapi kekacauan percakapan mereka yang menganggap semua bisa dinistakan.
π© Nelson Blair : Kalian mending kasih hadiah ke Omar itu pistol saja. Aku lihat Glocknya sudah lama.
Omar Zidane melotot membaca pesan Nelson. Brengseeekkk! Ini Glock kan milik FBI ! Enak saja dibilang sudah lama !
π© Omar Zidane : Wooiii Nelson, ini Glock inventaris FBI ! Bukan milik aku !
π© Nelson Blair : Sudah old fashion itu OZ. Sudah, hadiah dari aku Glock keluaran terbaru. Yang lain, terserah kalian !
Omar meletakkan ponselnya dan memegang pangkal hidungnya. Gara-gara Bayu memasukkan aku ke grup chat keluarga nya, jadi pusing kepalaku !
***
"Kamu nggak papa Omar?" tanya Maggie yang melihat partnernya tampak kusut.
"Hanya percakapan di chat yang membuatku pusing..." jawab Omar. " Ada kasus apa Mag?"
"Pembunuhan dan percobaan pembunuhan dua warga etnis India di apartemennya. Sebenarnya sudah dihandle NYPD tapi ternyata korban pria adalah salah satu atase kedutaan besar India. Jadi kita harus terlibat." Maggie membaca profile korbannya.
"Korbannya siapa Mag?" tanya Omar sambil mengambil ponsel dan memakai mantelnya.
"Vikhram Singh dan tunangannya Priyanka Rao."
Omar menghentikan langkahnya. "Rao? Apakah ada hubungannya dengan Raj Rao suami Gemintang?"
"Aku kurang tahu Omar. Bisa saja kan nama belakang sama tapi tidak ada hubungannya." Maggie mengambil kunci mobil.
"Dimana mereka dirawat?" tanya Omar sambil berjalan menuju lift bersama Maggie.
"Bellevue."
Omar mengangguk. Disana ada Samuel Prasetyo dan Blaze Bianchi.
***
Di Dalam Mobil perjalanan ke RS Bellevue
"Jadi kamu tidak ada saudara bernama Priyanka Rao, Raj?" tanya Omar yang melakukan panggilan telepon ke Raj Rao, suami Gemintang Lexington.
__ADS_1
"Setahuku keluarga Rao tidak ada yang memiliki nama Priyanka Rao. Coba kamu selidiki dan aku akan bertanya pada ibuku apakah aku memiliki sepupu di New York" jawab Raj.
"Oke Raj. Kabari aku secepatnya."
"Absolutely Omar. Oh, Omar, maafkan aku tidak bisa hadir karena Gemintang dan aku baru saja mendapatkan trio ABC ... " senyum Raj.
"No problemo. Aku ikut senang atas kelahiran triplets kalian."
"Thanks Omar."
Omar mematikan panggilannya.
"Bukan anggota keluarga Raj Rao?" tanya Maggie usai Omar memasukkan ponselnya ke dalam saku dalam jasnya.
"Kata Raj bukan."
"Semoga saja bukan anggota keluarga mereka." Maggie berkonsentrasi lagi menyetir mobilnya.
"Aamiin."
***
RS Bellevue New York
"Diracun? Pakai apa?" tanya Omar saat bertemu dengan Samuel Prasetyo.
"Masih diselidiki Omar. Tapi yang jelas, racunnya sangat mematikan" jawab Samuel.
"Apa makanan terakhir mereka?" tanya Maggie.
"Berdasarkan sisa isi perutnya, diperkirakan kari ayam, nasi, dan yoghurt" jawab Dokter Thomas St John, dokter forensik. "Korban dikabarkan muntah - muntah terus."
"Bukan succinylcholine?" tanya Omar Zidane.
"Tampaknya bukan. Justru itu yang pertama aku periksa agen Zidane karena kita juga sempat mengusut kasus yang sama bukan?" jawab dokter Thomas St John.
"Yes Dokter."
"Omar, apakah Vikhram Singh punya musuh atau saingan di kantor atase hingga nekad meracuninya?"
"Hasil penyelidikan Kelly Moran, tidak ada yang pantas naik di permukaan dari kantor kedutaan besar India. Vikhram adalah orang yang disukai disana..." jawab Omar membaca laporan Kelly di ponselnya.
"Tampaknya dia tidak terlalu disukai hingga ada yang meracuninya" gumam Samuel.
"TouchΓ©" jawab Omar.
"Billy melaporkan kalau Tiffany menemukan sebuah makanan dari restauran India area Manhattan yang mencurigakan isinya OZ. Sekarang sedang dibawa ke laboratorium FBI untuk diselidiki" ucap Maggie yang selesai menelpon Billy Boyd.
"Bagaimana dengan Priyanka Rao? Apakah bisa kami tanyai?" tanya Omar ke Samuel.
"Bisa, tapi jangan terlalu lama. Dia baru melewati masa kritisnya."
"Thanks Sammy" ucap Omar.
"Agen Zidane, agen Maggie, saya masih menyelidiki racun apa yang dimasukkan ke dalam tubuh Mr Singh dan Miss Rao. Nanti saya kabari dan succinylcholine serta sianida jelas saya anulir karena simptom nya berbeda. Ini jauh lebih parah." Dokter Thomas St John menatap ke kedua agen FBI itu.
"Thanks Dokter."
__ADS_1
***
Kantor Blair and Blair Advocate New York
Nadya masih memilih - milih baju yang akan dipakainya saat acara makan siang resepsi di RR's Meal usai acara ijab kabul. Nadya memang ingin segera selesai jadi malam harinya tidak ada acara gangguan rutin yang seperti dilakukan para saudara prianya.
"Pakai pink kayaknya lucu deh. Apalagi aku kan juga suka pink" gumam Nadya yang melihat gaun strapless berwarna pink lengkap dengan rumbai di bawahnya.
"Kamu pilih itu?" tanya Rahajeng yang datang menemani putrinya untuk memilih gaun di catalog online Carolina Herrera, brand favorit ibu cantik itu. Apalagi iparnya Mariana, salah satu desainer dan sekarang head chief Carolina Herrera Dubai.
"Cakep kan?"
"Ya iyalah cakep, wong yang desain Tante Mariana..." gerutu Rahajeng.
"Ya mbok menowo dapat harga keponakan" kerling Nadya usil.
"Nggak gitu ceritanya Nadyaaaaaa..." Rahajeng mencubit pipi putrinya gemas.
"Namanya juga usaha mommy" gelak Nadya.
Rahajeng menggelengkan kepalanya sebal.
***
RS Bellevue ruang rawat Priyanka Rao
"Bagaimana keadaan anda Miss Rao?" tanya Maggie dengan nada lembut.
"Berantakan..." jawab Priyanka Rao lemah.
"Bisakah kami ajukan pertanyaan...?"
"Agen... Bagaimana dengan Vicky? ... Maksud... saya Vikhram?" tanya Priyanka Rao dengan tatapan penuh harap.
Maggie dan Omar saling berpandangan lalu Maggie memegang tangan Priyanka.
"I'm so sorry miss Rao... tapi Mr Singh tidak selamat.." jawab Maggie pelan.
Priyanka menatap Maggie dan Omar bergantian, mencoba mencari kebohongan disana tapi dua agen FBI itu tampak berkata sebenarnya.
"Nooooo... Nooooo... Wanita itu membunuh nya ! Wanita itu membunuh nya ! Dia hendak membunuh kami berdua !" teriak Priyanka Rao histeris.
"Who? Siapa? Siapa Miss Rao?" tanya Maggie tapi Samuel sudah datang karena Priyanka Rao tampak histeris.
"Kalian keluar! Please !" hardik Samuel Prasetyo.
Omar dan Maggie pun keluar lalu keduanya saling berpandangan.
"Siapa Omar? Siapa wanita yang dimaksud?" Maggie menatap Omar.
Pria jangkung itu hanya menatap kaca jendela tempat Priyanka sedang diberikan penenang dengan perasaan bingung. "Aku tidak tahu Maggie. Aku tidak tahu."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu β€οΈπβ€οΈ