
Ruang Kerja Nadya Blair
"Apa maksudmu Omar?" tanya Nadya bingung.
Omar pun mengambil kursi dan membawanya mendekati tempat Nadya duduk. "Nadya, apa kamu tidak sadar siapa yang melepaskan sepatu kamu?" Pria jangkung itu meletakkan kursinya dan duduk di hadapan Nadya.
"Kamu kah?"
"Yup, dan kamu ngorok tidurnya... Addduuuhhh!" Omar mengusap bahunya yang kena jotos Nadya.
"Aku nggak ngorok!" hardik Nadya kesal.
"Mana kamu tahu... Kamu kan tidur" senyum Omar.
"Pokoknya aku nggak ngorok!" eyel gadis cantik itu. "Eh kamu ngapain kemari?"
Omar menyerahkan dompet Hermès Kelly milik Nadya. "Dompet mu jatuh di mobil aku. Apa kamu tidak sadar kalau dompet mu tidak ada?"
Nadya membongkar tas Hermès Birkin nya dan baru sadar jika dompetnya tidak ada. "Oh my God... ternyata memang tidak ada." Nadya menatap Omar. "Kok bisa jatuh ya dari tas aku?"
"Mana aku tahu Nadya, jatuhnya juga diantara kursi dan kuncian seatbelt."
Nadya membuka dompetnya dan memeriksa isi dan semua kartunya membuat Omar mendelik. "Astaghfirullah!! Kamu tidak percaya sama aku?"
"Bukan begitu OZ tapi ini namanya reflek dan berjaga-jaga kalau ada GPS disana."
"Nadya sayang, aku tidak perlu memasang GPS di dompet kamu karena aku akan selalu bisa menemukan kamu. Meskipun sampai ujung dunia pun." Omar menatap Nadya serius. "Karena kamu adalah wanita yang spesial dan aku sayangi."
Nadya tersenyum lalu mencium bibir Omar sekilas. "Kayaknya ini gara-gara aku main asal bicara ke mommy jadi mendapatkan pria yang aku minta..."
"Apa yang kamu minta?"
"Menurut kepercayaan para kaum emak-emak Jawa, anak gadis itu kalau nyapu rumah tidak bersih, calon suaminya bakalan brewokan. Tapi kalau yang brewok bentuknya seperti ini, tidak rugi kan kalau aku nyapunya nggak bersih?" Mata hijau kecoklatan Nadya mengerjap-ngerjap jenaka.
Omar yang awalnya bingung, akhirnya tertawa terbahak-bahak mendengar analogi gadis yang disayanginya itu. "Ya ampun Nadya! Kamu bikin aku gemas!" Omar memegang wajah Nadya dan menciuminya lembut.
***
Nelson tiba di kantor nya dan langsung menuju ruang kerja adiknya. Betapa terkejutnya pria itu melihat Nadya sedang dicium oleh Omar.
"Ehem! Kalian berdua! Ini masih jam kantor!" tegur Nelson dengan nada sok tegas tapi geli melihat keduanya.
Omar dan Nadya melepaskan bibir mereka, wajah mereka pun merah padam kepergok oleh Nelson. "Aku balik kantor dulu" ucap Omar sedikit serak.
"Hati-hati..." senyum Nadya. Omar mencium kening gadis itu lalu berdiri dan berjalan menuju pintu ruang kerja Nadya.
__ADS_1
"Nelson..." sapa Omar ke kakak Nadya itu.
"Omar. Hati-hati." Nelson tersenyum maklum melihat wajah malu Omar.
Pria itu pun pergi meninggalkan kedua kakak beradik itu lalu Nelson menutup pintu ruang kerja adiknya.
"Bagaimana sidang nya tadi?" tanya Nadya sambil men touch up lipstik nya yang hilang.
"Benar-benar si Benedict ingin mas bunuh dengan tangan mas sendiri!" umpat Nelson sambil duduk di kursi depan meja Nadya.
Adiknya pun berdiri untuk mengembalikan kursi yang diambil oleh Omar. "Kenapa memang mas?" tanya Nadya sembari duduk di sebelahnya Nelson.
"Dia mengincar Marisol!"
Nadya melongo. "What?! Mengincar Marisol? Pembelaan mas Nelson ke hakim apa? Insanity ( gila )?"
"Mas bilang itu alasannya supaya Marisol bisa menemukan celah untuk membantah alasan Insanity dan si Benedict melakukan kejahatannya dengan kondisi sadar."
Nadya melihat rahang kakaknya mengeras. Semua anggota keluarganya tahu kalau Nelson naksir Marisol dan sedang proses pendekatan meskipun gadis itu masih ragu-ragu.
"Mas, aku yakin Marisol bisa menemukan bukti-bukti tambahan bahwa kondisi Benedict saat itu sangat waras. Yang penting mas Nelson sudah memberikan jalan buat Marisol memenangkan kasus ini!"
"Aku tidak perduli reputasiku jadi menurun karena kasus ini sebab mas tahu bahwa kasus ini akan sulitas menangkan dan ternyata Daddy juga pernah mendapatkan kasus yang sama." Nelson menatap wajah adiknya serius.
"Daddy pernah dapat kasus serupa?" tanya Nadya terkejut.
Nadya pun maklum bahwa kakaknya juga tidak mau Marisol menjadi korban jika Benedict Robert dibebaskan dan masuk rumah sakit jiwa karena kegilaan yang kemungkinan besar bebas itu sangatlah memungkinkan amat sangat.
***
Dojo Milik Keluarga McGregor dan Blair Malam Harinya
Nelson memukul samsak dengan emosi tinggi dan hal itu tidak luput dari perhatian sepupu kandungnya, Bayu O'Grady.
"Kamu kenapa Son? Macam ingin menghajar orang saja!" kekeh Bayu sambil duduk di kursi dekat sepupunya.
"Malah lebih dari itu Bay. Aku ingin membunuhnya! " jawab Nelson.
"Siapa yang ingin kamu bunuh?" tanya Bayu.
"Klienku! Dia itu penculik, pemerk0s4, dan pembunuh gadis di bawah umur! Dan apa yang aku ajukan sebagai pembelaan? Insanity!"
"Insanity? Kegilaan? Dia itu psychopath dan Sociopath! Dia sangat berbahaya di komunitas !" ucap Bayu.
"Itulah! Mana dia terang-terangan bilang mengincar Marisol!" Nelson lalu memukul dan menendang samsak penuh emosi.
__ADS_1
"Mengincar aku?"
Nelson dan Bayu tertegun mendengar suara feminin di belakang mereka.
"Mari?" sapa Nelson sambil memegang samsaknya.
Yang lagi ngamuk
Tampak Marisol datang dengan mengenakan tank top dan bersiap untuk gym disana. Nelson memang memasukkan Marisol menjadi member di gym milik keluarganya.
Marisol yang diincar
"Siapa mengincar aku, Son?" tanya Marisol sambil mendekati Nelson. "Halo Bayu."
"Halo Mari... Oke aku tinggal dulu kalian berdua. Tampaknya kasus kalian memang membuat emosi tingkat dewa" kekeh Bayu sambil berdiri meninggalkan sepupunya dan Marisol. "Nice to see you again, Marisol."
"Nice to see you, Bayu" senyum gadis berdarah Spanyol itu.
Setelah Bayu pergi, Marisol menatap Nelson dengan tatapan ingin tahu. "Ada apa Son?"
Nelson menggandeng tangan Marisol dan mengajak untuk duduk. "Benedict Robert mengincar kamu dan kemungkinan besar kamu akan menjadi korbannya, Mari."
Marisol terkejut. "Jadi kamu melakukan pembelaan kegilaan agar aku bisa mencari tahu soal tidak minum obat tiga hari itu?"
"Dia mengaku tidak meminumnya selama tiga hari yang berarti dia dalam kondisi tidak waras tapi aku yakin dia sangat sadar saat melakukan kejahatannya." Nelson menatap Marisol. "Aku harap kamu bisa menuntut nya maksimal. Yakinkan para juri, berikan penggiringan opini bahwa Benedict memang waras! Dia memang seorang sosiopath dan psychopath yang berbahaya jika bebas di masyarakat!"
Marisol memegang tangan Nelson. "Kalau soal mempengaruhi juri, aku adalah orang yang sangat persuasif. Jangan khawatir! Lagipula, aku harus memikirkan keselamatan aku sendiri kan?"
"Mari, aku tidak akan membiarkan orang psycho itu melukai dirimu! Siapa saja yang hendak mencelakai dirimu, hadapi aku dulu!" ucap Nelson tegas membuat Marisol terharu.
"Thank you Nelson."
"Aku berkata demikian karena aku sangat mencintaimu, Mari."
Marisol melongo. Nelson memang berbeda.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️