
Aku langsung saja tersipu malu dan merasa sangat senang karena mendapatkan banyak sekali pujian dari teman-teman disana yang sudah memilihku dalam acara pungutan suara kala itu.
"AA....ahhh..kamu bisa saja, tidak kok aku justru merasa aktingku masih sedikit terlihat kaku, mungkin aku masih harus belajar mempelajarinya lebih baik lagi" balasku kepadanya saat itu.
Padahal saat itu aku sudah merasa sangat senang karena mendapatkan pujian dari para krus juga dari sekretaris Mey tapi tiba-tiba saja si pembuat obmnar tuan Arsen muncul di sana dan memotong ucapanku begitu saja, di tembah dia juga malah dengan mudahnya menyuruh aku untuk mengulangi latihannya lagi, padahal sudah jelas sekali semuanya sudah selesai aku tinggal melakukan yang sesungguhnya besok pagi.
"Hah ....kau benar actingmu sama sekali tidak bagus kau terlalu kaku dan senyum ya terlihat sekali seperti di buat-buat, ayo ulangi tiga kali lagi!" Ucap tuan Arsen memerintah.
Seketika semua kru dan aku juga refleks menatap terperangah kepadanya karena merasa sangat heran dengan apa yang dia perintahkan saat itu.
"Tuan...apa yang kamu maksud, mereka bilang actingku sudah bagus tinggal melakukan yang asli besok, kenapa aku harus mengulangnya sampai tiga kali?" Tanyaku protes kepadanya,
"Kau sendiri bilang dan menyadari bahwa actingmu memang kaku juga tidak terlalu bagu, lalu kau sendiri juga yang bilang bahwa kau harus banyak belajar lagi, ya sudah aku menuruti keinginanmu itu, apa salahnya?" Balas tuan Arsen yang sangat membuat aku kesal dan geram.
Aku mengepalkan kedua tanganku dengan kuat dan aku sungguh merasa sangat emosi ketika itu, aku pun segera mengiyakan ucapannya dan memang tidak ada cara lain lagi untuk terbebas dari manusia yang sangat menyebalkan sepertinya.
"Hah.....iya oke. Aku akan melakukannya dan mengulangi semuanya sebanyak tiga kali" ucapku dengan keras lalu mulai pergi ke posisiku seperti sebelumnya.
"Huh! Dia benar-benar manusia paling menjengkelkan dan sangat membuat aku kesal bagaimana bisa dia selalu berbuat semena-mena seperti itu, aishhh... benar-benar konyol aku menyesal telah mengagumi dia, dia hanya menang tampan saja untuk apa" batinku merasa sanga emosi saat itu.
Aku sudah mengulangi semua acting hari ini sebanyak tiga kali sesuai dengan apa yang di minta oleh tuan Arsen sampai akhirnya hari sudah semakin siang dan para kru juga sudah bubar dari sana, aku berniat pergi mencari makan siang dengan sekretaris Mey tetapi tuan Arsen tiba-tiba saja menarik tanganku dengan kuat entah akan apa yang dia lakukan kepadaku saat itu.
"Sekretaris Mey ayo kita mencari makan siang" ajakku kepada sekretaris Mey saat itu,
"Tentu saja, kalo tidak salah sebelumnya aku seperti melihat sebuah tempat makan di samping jalan sana, aku kita pergi kesana" ujar sekretaris Mey.
Aku sudah mengangguk dan baru saja akan pergi saat itu, sampai tiba-tiba saja tuan Arsen berjalan di sampingku dan dia menggandeng tanganku secara tiba-tiba lalu membawa aku pergi dari sana dengan cepat.
"Eh....eh...eh...tuan kau mau bawa aku kemana hey.... sekretaris Mey tolong aku" teriakku meminta tolong dan merentangkan tanganku berharap sekretaris Mey bisa meraih ukuran tanganku itu.
Sayangnya aku lupa sekretaris Mey memang sangat takut dan tidak berani melawan sedikitpun kepada tuan Arsen sehingga di saat aku meminta tolong kepadanya sekretaris Mey justru malah langsung menunduk dan pergi berlari menghindari aku begitu saja.
"Ehh.... sekretaris Mey kau mau kemana hey....." Teriakku sangat kesal ketika mihat dia justru malah pergi membiarkan aku terus di bawa oleh tuan Arsen secara paksa seperti itu.
Rasanya aku benar-benar ingin menepuk tubuhnya itu dengan keras karena dia menjadi sekretaris yang tidak berguna untukku, sebab selalu saja tidak bisa membantu aku setiap kali tuan Arsen memaksa aku atau membawa aku pergi seenaknya seperti saat ini.
Aku hanya bisa berontak sendiri dan berusaha melepaskan diri dari tuan Arsen menggunakan kekuatan dalam diriku sendiri saat itu.
"Tuan...berhenti...berhenti...kau mau membawaku kemana?" Ucapku kepadanya sampai akhirnya tuan Arsen berhenti menarik tanganku saat itu,
"Ayo kita makan" balasnya begitu saja.
Aku langsung membelalakkan mataku dengan lebar, aku benar-benar tidak menduga jika ternyata tuan Arsen mau mengajak aku makan, karena pada awalnya aku pikir dia akan mengerjai aku lagi atau melakukan sesuatu hal yang lain kepadaku.
"Apa kau sungguh mau mengajak aku mencari makanan?" Tanyaku kepadanya karena masih belum mempercayai dia sepenuhnya,
__ADS_1
"Sudahlah nanti kau tahu sendiri, ayo cepat sebelum tempatnya di penuhi banyak orang" ujar tuan Arsen yang kembali menggandeng tanganku dan membawa aku pergi dari sana dengan cepat.
Dia membukakan pintu untukku dan aku merasa dia sedikit perhatian kepadaku perlakuannya itu seperti seseorang pria yang memang aku harapkan, tapi bagaimana pun aku memang menyukai David dia lebih baik dari manusia yang selalu memaksa dan dingin seperti es begitu.
"Kenapa kau malah diam saja, ayo cepat masuk apa lagi yang kau tunggu!" Bentak tuan Arsen dengan menatap tajam ke arahku.
Aku langsung saja tersadar dengan cepat dan segera masuk ke dalam mobil tersebut secepatnya.
Hingga kami segera pergi ke samping jalan dan mulai melihat ternyata di samping jalanan terdapat banyak sekali tempat makan juga ada tempat lainnya yang cukup banyak disana, meskipun toko-toko disana terlihat cukup kecil tidak sebesar yang ada di pusat kota yang biasa kita lihat pada kebiasaannya.
Tapi toko-toko disana dan ada tempat makan yang terlihat cukup unik dimana semua pengunjung ke tempat makan itu begitu banyak, dekorasi di dalamnya seperti di dunia dongeng yang sangat bagus, aku benar-benar terkesan ketika melihatnya sampai ketika mobil yang di kemudikan oleh tuan Arsen melewati tempat itu aku langsung saja menunjuk ke arah tempat tersebut karena memang sangat tertarik dengan tempatnya yang sangat unik tersebut.
"Wahhh.....tuan lihatlah kesana tempat makannya sangat unik, itu bagus sekali bisakah kita pergi kesana?" Ucapku meminta izin dengannya,
"Tidak....itu hanya untuk anak-anak memangnya kau anak-anak?" Balas tuan Arsen kepadaku.
Aku sungguh merasa sangat sedih karena dia langsung saja menolak ucapanku begitu saja bahkan tanpa mirip ke arah yang aku tunjukkan sedikitpun.
"Kau belum melihatnya tapi sudah mengatakan seperti itu" gerutuku pelan merasa sangat kesal.
Aku tidak tahu sama sekali jika ternyata saat itu tuan Arsen mendengar gerutuanku sebelumnya sampai membuat dia tiba-tiba saja memutarkan mobilnya lalu segera pergi ke tempat makan yang aku tunjukkan sebelumnya.
"Ehh....kenapa kau memutar balik mobilnya?" Tanyaku dengan heran saat itu,
"Ayo turun bukankah kau mau pergi ke tempat konyol itu" ujar tuan Arsen yang membuat aku kaget.
Aku merasa sangat senang hingga tidak bisa menahannya dirimu sendiri hingga aku langsung saja turun dari mobil dan melihat tempat makan yang berukuran cukup kecil itu dengan banyak sekali hal menarik bak di negeri dongeng dengan banyak sekali patung lilin unik di depan tempat makan tersebut.
"Wahh...wahhhh....bagus sekali, ini benar-benar bagus ahaha...tuan ayo cepat kemari tuan, lihatlah kemari bagus sekali bukan?" Ucapku kepadanya sambil memegangi salah satu patung lilin berbentuk Olaf pada serial Disney princess yang sangat aku sukai sejak aku kecil hingga saat ini.
"CK....apa bagusnya itu hanya patung lilin, ayo masuk" balas tuan Arsen benar-benar berhasil merusak mood di dalam diriku secepat kilat.
Baru saja aku merasa sangat senang dan rasanya ingin terus memegangi patung Olaf tersebut namun sayangnya tuan Arsen malah menarik tanganku dengan cepat dan dia langsung saja membawa aku masuk ke dalam tempat makan tersebut.
Kami duduk di salah satu meja yang dekat dengan jendela sambil melihat ke arah jendela yang cukup besar disana sampai aku melihat di dekat meja kami ada sebuah boneka yang sangat lucu-lucu dari serial Disney tersebut, aku sangat menyukai boneka Olaf yang berbentuk kecil di samping jendela itu, aku sangat menyukai bonekanya dan di saat makanan tengah di buatkan, aku pergi ke samping jendela itu dan terus saja memotret boneka kecil yang berjejer sangat rapih di samping jendela tersebut, semuanya terlihat begitu lucu dan aku ingin menyentuhnya saat itu, namun disaat aku hendak menyentuhnya tiba-tiba saja seorang pelayan menangkis tanganku dan dia memarahi aku dengan perkataan yang cukup kasar hingga membuat aku merasa tidak enak hati dan aku juga langsung meminta maaf kepadanya dengan menunduk.
"Wahhhh....boneka ini apakah sungguhan, ini sangat cantik sekali" ucapku saat itu merasa sangat kagum dengan boneka yang ada disana,
"Hey....Jagan menyentuhnya boneka itu akan terkena debu dan bakteri yang ada di tanganmu jika kau menyentuhnya dan aku tidak ingin terus membersihkan boneka ini, jangan sembarangan menyentuhnya, kau tidak tahu seberapa mahal harga boneka ini bukan!" Bentak pelayan wanita itu kepadaku.
Aku sampai tersentak kaget karena sebab dia datang secara tiba-tiba dan langsung saja membentak aku seperti itu.
"A..a..ahhh..maafkan aku, maaf aku tidak bermaksud melakukan itu, maafkan aku" ucapku langsung saja meminta maaf kepadanya dengan perasaan yang sedih.
Aku kembali duduk di mejaku berhadapan dengan tuan Arsen dan terus menunduk dengan lesu karena baru saja terkena semprotan amarah dari pelayan yang sangat sombong itu, padahal aku hanya ingin menyentuhnya sedikit saja tetapi dia langsung membentak aku dengan sekeras itu, rasanya aku sangat tidak terima dengan ulahnya tersebut.
__ADS_1
Dan tanpa Anna ketahui bahwa saat itu tuan Arsen melihat dengan jelas semua yang dia lakukan termasuk kejadian dimana dia di bentak oleh pelayan wanita itu dengan ucapan yang kasar, tuan Arsen juga sedikit merasa kesal melihatnya namun saat Anna kembali ke mejanya dia dengan cepat memalingkan pandangan karena tidak ingin Anna mengetahui bahwa dia melihat semua itu, tuan Arsen hanya tidak ingin membuat Anna merasa malu karenanya.
Hingga tidak lama makanannya tiba dan aku langsung terkesan melihat makanan yang disajika pada tempat cukup imut dan sangat lucu, aku langsung saja mencicipi semua makanan itu dengan perasaan yang sangat antusias sebab aku sendiri sudah tidak sabar menunggunya untuk tiba sejak tadi.
"Wahhhh.....makanannya sangat menarik sekali, mereka pasti memiliki koki yang hebat bisa membuat makanan selucu ini" ucapku sambil mulai menyentuh salah satu makanan disana.
Tapi disaat aku mencicipi makanannya, rasanya itu benar-benar aneh dan tidak enak, itu tidak cocok di mulutku hingga aku langsung memebalalakkan mataku dengan kaget lalu terburu-buru mencari tisyu lalu mengeluarkan kembali makan itu dengan memasang wajah yang aku kerutkan saking tidak enaknya makanan disana.
"Howeekkk.....makanan macam apa ini, kenapa rasanya aneh sekali" ucapku merasa sangat tidak nyaman di mulutku saat itu.
"Aku kan sudah bilang tempat ini hanya untuk anak-anak, lihatlah mereka hanya bermain dan membeli es krim di sini saja, bukan membeli makanan seperti ini, kau tidak mempercayai aku, sudahlah ayo kita pergi dan cari tempat lain yang lebih layak" ujar tuan Arsen kepadaku.
Aku langsung menjawabnya dengan anggukan dan kami segera pergi dari tempat itu, tapi walaupun makanannya sangat tidak enak tetapi tempat itu sungguh sangat menarik dan aku menyukai semua benda dan hiasa yang ada disana, tapi mau bagaimana pun perutku tetap saja lapar dan aku benar-benar harus mencari asupan makanan bagi perut kecilku ini.
Aku pun segera pergi keluar dari tempat makan itu dengan tertunduk lesu dan tidak menentu hingga tidak lama ketika aku sudah sampai di luar aku baru sadar bahwa tuan Arsen tidak bersamaku, aku berbalik mencari keberadaan dia dan terus menatap kesan kemari namun tidak berhasil menemukannya yang ternyata saat itu dia baru saja keluar dari tempat makan aneh tersebut.
"Ehh....kemana tuan Arsen, bukannya tadi dia berjalan di belakangku, kenapa tiba-tiba saja menghilang?" Ucapku mencari keberadaannya saat itu.
"Nah....itu dia, lebih baik aku masuk ke mobil lebih dulu saja" ucapku setelah melihat dia yang akhirnya keluar dari tempat makan tersebut.
Aku langsung masuk ke dalam mobilnya lebih dulu dan dia segera saja mengikutiku, aku sudah memasang kembali sabuk pengamannya dan tuan Arsen tiba-tiba saja menjulurkan tangannya ke depan wajahku dengan memegangi sebuah bonek Olaf di tangannya itu.
Aku yang baru saja selesai memakaikan sabuk pengaman di tubuhku sangat kaget melihat tiba-tiba saja boneka yang sangat aku inginkan sebelumnya sudah berada di depan wajahku begitu saja.
"Wahhh....tuan darimana kau bisa mendapatkan boneka ini?" Tanyaku kepadanya dengan heran,
"Ayo cepat ambil, tanganku pegal jika harus terus memeganginya seperti ini" balas tuan Arsen kepadaku.
Aku tersenyum senang dan langsung saja mengambil boneka itu dan memeluknya aku sangat senang sekali dan tidak tahu lagi bagaimana caranya aku memperlihatkan kebahagiaan di dalam diriku saat itu sebab boneka ini memang yang sangat aku inginkan sejak tadi, aku sangat menyukainya dan boneka ini sungguh lembut dan begitu menggemaskan.
"Gua ..bonekanya sangat lembut, tuan apa kamu memberikan ini untukku atau hanya meminjamkannya?" Tanyaku kepadanya untuk memastikan,
"Kalau kau tidak suka berikan saja kepada sekretaris Mey" balas tuan Arsen begitu saja.
Aku langsung mengerutkan kedua alisku dengan serius dan aku langsung saja membalas dia dengan nada suara yang cukup tinggi saat itu untuk menolak memberikan Bonek kesayanganku ini kepada sekretaris Mey.
"Ehhh....tidak...tidak, kalau kau memberikannya kepadaku aku akan menyimpannya dan terus menjaga pemberianmu ini dengan baik aku sangat menyukainya, terimakasih tuan Arsen hehe" balasku sambil tersenyum lebar kepadanya dan kembali memeluk Bonek Olaf tersebut.
Diam-diam tuan Arsen sendiri terlihat tersenyum kecil itu jelas sekali terlihat di wajahnya dan tanpa sengaja aku juga melihat senyuman itu.
"Tuan apakah kau baru saja tersenyum?" Tanyaku memergokinya.
Dia langsung berdehem dan memperbaiki posisi duduknya lalu langsung menjawab aku dengan ekspresi yang datar seperti kebiasaannya, juga menghilangkan senyuman kecil yang sebelumnya jelas sekali aku lihat di wajahnya.
"Ekhmm...tidak siapa juga yang tersenyum, itu hanya penglihatanmu saja yang buruk" balas tuan Arsen yang malah mengatai penglihatan mataku.
__ADS_1
Aku merasa sangat tidak terima dia malah balik mengatai aku seperti itu padahal mataku benar-benar sehat dan aku selalu memeriksanya dengan baik, sehingga aku langsung saja menggerutu kesal saat itu secara pelan-pelan agar dia tidak bisa mendengar gerutuan dariku lagi, dan aku takut jika dia mendengarkan gerutuanku yang saat ini, aku takut dia akan mengambil kembali hadiah yang sudah dia berikan kepadaku, karena aku sangat menyukai boneka Olaf tersebut, sejak dulu aku menginginkannya namun boneka yang asli seperti ini memang memiliki harga yang cukup pantastis dan aku sebenarnya bukan tidak memiliki cukup uang untuk membelinya tetapi uang yang aku punya harus benar-benar aku gunakan kepada barang dan hal yang aku butuhkan bukan yang aku suka, sehingga aku selalu harus berpikir ribuan kali jika ingin membeli barang-barang seperti itu, terlebih ibu juga selalu mengingatkan aku untuk menjadi hemat dan mengelola uang dengan benar agar tidak menyesal di akhirnya.
Jadi ketika aku bisa mendapatkan bonek yang aku harapkan sejak lama tentu saja aku merasa sangat senang dan terlampau gembira saat itu.