
Saat menatap tuan Arsen yang memberikan tatapan tajam seperti itu kepadaku, aku sebenarnya merasa cukup merinding saat itu, dan kesulitan untuk menelan salivaku sendiri tapi dengan susah payah aku masih berusaha untuk memalingkan pandangan dengan perasaan gugup dan bibir yang aku lipatkan dengan kuat saat itu.
"Astaga kenapa dia sangat menyeramkan seperti ini? Apa dia marah padaku ya" batinku merasa cukup gugup dan cemas saat itu.
Tuan Arsen juga hanya berdecak pelan sejenak dan dia mulai memalingkan pandangannya ke depan lagi sehingga aku bisa menjadi lebih baik sekarang, hingga sesampainya di perusahaan aku segera turun lebih dulu dan berlari masuk ke dalam meninggalkan tuan Arsen, karena aku sungguh malu juga takut untuk menghadapinya lagi, aku benar-benar keceplosan karena sudah menggerutu di samping tuan Arsen saat itu, mana semua ucapan yang aku katakan cukup kasar lagi.
Hingga sesampainya aku di dalam ruangan pribadiku aku baru bisa merasa tenang dengan mencoba menenangkan diriku sendiri dan saat itu ternyata masih ada Gisel disana, dia mulai menyapaku.
"Anna...kenapa kau terlihat lelah apa kau baru saja berlari ya? Kau lari dari siapa?" Tanya Gisel kepadaku.
Dengan cepat aku segera duduk di depan meja kerjaku secepatnya dan mulai berbicara menjelaskan kepada Gisel agar dia tidak merasa penasaran lagi, sebab aku tahu jika seorang Gisel sudah penasaran sudah di pastikan dia akan mencari tahu semuanya sampai pada akarnya dan aku tidak ingin dia mengetahui hal yang sebenarnya jadi aku memilih untuk mengatakan kepada dia sekilas saja.
"Aahh...haha...itu tadi aku habis meeting dengan tuan Arsen, biasalah semua orang juga akan berlari darinya bukan jika melakukan kesalahan dan ketahuan olehnya" balasku kepada dia hingga Gisel terlihat mengangguk.
"Ohh..begitu, aku kira karena apa...ini aku sudah selesai mengerjakannya aku mau pergi ke dapur dulu untuk membuat kopi" ucap Gisel padaku.
Saat dia hendak pergi aku segera menghentikan langkahnya dengan cepat.
"Ehhh..Gisel tunggu!" Ucapku menahan dia hingga membuat Gisel kembali berhenti dan dia segera berbalik menatapku,
"Ada apa kau memanggilku, apa ada masalah dari hasil kerjaku?" Tanya Gisel padaku dengan wajahnya yang kebingungan.
"Tidak bukan itu, ini masalah David...aku.... Aku sudah tidak menyukainya lagi kau bisa mengejar dia sekarang," balasku kepadanya saat itu.
Saat mendengar ucapan dariku nampak saja Gisel terlihat tersenyum lebar dan dia yang tadinya hendak pergi dari sana langsung saja kembali menghampiri aku dengan wajahnya yang sangat ceria saat itu.
"Benarkah? Anna apa kau sungguh sudah tidak menyukai David lagi, apa kamu benar hah?" Ucap Gisel sambil berdiri di depan meja kerjaku dan wajahnya begitu dekat dengan wajahku saat itu.
"Iya ..aku benar, kenapa kau seperti tidak mempercayai aku, aishh...sana pergi bukankah kau mau membuat kopi? Kenapa masih disini, sana pergi" ucapku kepadanya saat itu.
Bukannya pergi Gisel malah langsung saja memeluk aku dengan erat sampai aku terbatuk dan kesulitan bernafas saat itu.
"Aaahhh...Anna.. terimakasih banyak kamu sangat baik sekali, Hua..aku senang sekali mendengar kabar ini, huhu terimakasih banyak Anna, sekarang aku akan berusaha dengan keras untuk mengejar David dan kau harus mendukungku, iya... Kau harus mendukungku apa kau mau mendukungku untuk mengejarnya?" Ucap Gisel padaku dengan penuh semangat.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan terus saja memegangi keningku yang terasa sangat pusing saat itu, apalagi dia terlihat terus saja sangat senang padahal saat itu, aku juga belum benar-benar bisa melupakan David, aku hanya bicara sekali kepadanya dia malah sudah terlihat begitu senang.
"Gisel kau boleh mengejarnya aku juga tidak memiliki kesempatan ataupun hak melarangmu, aku bukan siapa-siapa David, tapi bukan berarti kamu terus mendesak aku dan memanfaatkan aku sebagai alat agar kamu bisa menjadi lebih dekat dengan David, jika kau menyukai dia kamu dekati saja dia dengan caramu jangan memanfaatkan aku, atau menggunakan aku untuk menjadi alasan kamu agar dekat degannya" balasku mengatakan semuanya dengan jujur kepada dia.
Setelah mendengar ucapan dariku akhirnya Gisel langsung terdiam dan dia mulai pergi dari sana dengan perlahan, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa setidak tahu diri seperti itu, aku benar-benar merasa sangat jengkel dalam menghadapinya, sekarang saja disaat dia kembali dari dapur setelah beberapa saat, dia terlihat membawa dua kopi di tangannya dan langsung menghampiri mejaku lagi padahal saat itu aku tengah fokus mengerjakan banyak pekerjaan di depan komputer ku.
"Tada....Anna..ini aku bawakan kopi juga untukmu, sebagai hadiah kamu sudah membiarkan aku dan mendukungku untuk mengejar David, ayo di minum" ucapnya kepadaku sambil menaikkan kedua alisnya sesaat.
"Heh..siapa yang mendukungmu aku hanya bilang aku sudah menyerah dengannya aku tidak mencintainya lagi, bukan mendukungmu untuk mengejarnya, apa kau bodoh ya?" Balasku dengan kesal dan merotasikan mataku kepadanya.
Gisel tetap saja tidak tahu diri dia masih terus saja menganggap bahwa aku mendukung dirinya, aku tidak bisa membicarakan hal menyebalkan seperti ini lagi dengannya sehingga dengan cepat aku langsung memberikan dia tugas yang lebih banyak lagi agar dia tidak memiliki waktu luang untuk mengganggu aku dan mengusik aku lagi.
"Ahaha...tetap saja Anna dengan kami memberitahuku masalah ini, itu artinya kamu mendukungku, hehe" balas dia sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Yaaaa... terserah kau saja aku tidak perduli sedikitpun, sama kau kembali aku sudah mengirimkan beberapa pekerjaan untukmu agar kau tidak memakan gaji buta terus seperti itu" balasku kepadanya.
Gisel pun kembali ke meja kerjanya dan dia mulai membuka surel dariku, hingga saat melihatnya dia langsung membelalakkan matanya sangat lebar karena kaget mendapatkan tugas yang begitu banyak dariku.
"Astaga...Anna..apa kau dendam padaku dan sengaja melakukan semua ini padaku ya?" Ucap Gisel dengan wajah yang sendu dan cukup menyedihkan kepadaku.
Tetapi aku sama sekali tidak memperdulikan semua itu, karena bagiku mau dia bahagia atau sedih sekalipun aku tetap tidak ada hubungannya dengan dia dan semua pekerjaan ini sudah sepantasnya di kerjakan oleh dia, mulai dari menyusun jadwal kerjaku juga menyusun waktu untuk mengontrol jenis produk baru yang akan di pasarkan dalam setiap harinya, juga tentang presentase pasar yang berhasil kita capai dalam beberapa waktu ini.
Gisel langsung menjadi lesu dan dia kembali harus mengerjakan pekerjaan yang cukup menumpuk dariku saat itu, walaupun aku sebenarnya tidak tega memberikan banyak pekerjaan kepada dia dengan cara yang di sengaja seperti ini, tapi tidak ada cara lain lagi untuk menyumpal mulutnya yang tidak bisa diam, selain dari memberikan dia banyak pelajaran seperti ini.
Hingga jam pulang akhirnya tiba dan Gisel masih terlihat belum menyelesaikan pekerjaannya, karena kasihan aku pun mulai menyuruhnya untuk pulang saja karena semua karyawan juga sudah pulang hampir semuanya saat itu.
"Gisel sudahlah kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu lagi besok, atau bisa membawanya ke rumahmu, itu terserah denganmu yang penting besok harus sudah selesai" ucapku kepadanya,
"Benarkah?" Ucap Gisel kepadaku dengan wajahnya yang terlihat sangat senang.
Aku mengangguk kepadanya dan dia segera saja pergi dari sana dengan cepat bahkan dia membereskan barangnya lebih cepat dariku dan langsung berlari keluar dari ruang kantorku sangat cepat sampai berpamitan saja dia sambil berlari sekencang itu.
"Aahhh... terimakasih banyak Anna aku akan mentraktirmu karena kebaikanmu ini, kalau begitu aku pergi duluan ya bye...bye" ucap Gisel sambil langsung pergi meninggalkan aku dengan cepatnya.
"Huuuh....dia benar-benar si bawel Gisel yang sejak dulu tidak pernah berubah, aahhh...kepalaku pusing sekali menghadapi manusia seperti dia, sebaiknya aku pulang cepat dan merendamkan tubuhku di dalam bak mandi dengan wangi yang alami dan merilekskan otakku yang hampir pecah ini." ucapku bicara sendiri.
Aku segera pergi dan bertemu tuan Arsen saat hendak masuk ke dalam lift karena saat itu tuan Arsen sudah masuk lebih dulu, aku menjadi agak ragu untuk berada di dalam satu lift yang sama dengannya terlebih hanya ada dia seorang saja disana saat itu.
"Heh..kenapa kau berdiri terus pintunya akan segera tertutup, ayo masuk!" Ucap tuan Arsen kepadaku.
"Anna...ada yang ingin saya tanyakan kepadamu" ucap tuan Arsen secara tiba-tiba.
"Ada apa tuan? Silahkan utarakan saja" balasku mempersilahkan dia.
"Apa kau sedekat itu dengan sahabat priamu itu? Aku rasa dia bukan pria yang baik di lihat dari cara dia mengabaikanmu sebelumnya" ucap tuan Arsen membicarakan hal yang paling tidak ingin aku dengar.
Aku hanya berusaha tersenyum menanggapi ucapan dari tuan Arsen karena di dalam hatiku sebenarnya saat itu aku sangat rapih dan merasa cukup sakit, sebab tanpa tuan Arsen mengatakan itu, aku sudah memahaminya lebih dulu.
"Ahahaha....tuan kau tidak perlu memperjelas itu, lagi pula aku dan dia hanya sebatas sahabat saja, aku juga tidak masalah jika dia dekat dengan siapapun atau mengabaikanmu seperti sebelumnya, mungkin dia hanya lupa saja" balasku kepadanya.
"Apa dengan sahabat sendiri yang tumbuh bersama dia bisa lupa?" Balas tuan Arsen lagi yang sangat menohok.
Aku tidak bisa menjawabnya dan pintu lift mulai terbuka, segera saja aku keluar dari sana lebih dulu dan pergi untuk keluar dari kantor dengan perasaan sedikit kesal, namun sesuatu yang lebih menyakitkan aku lihat di depan mataku, tidak jauh dari pintu keluar gedung perusahaan, aku melihat David berpelukan dengan Gisel dan saat melihat itu aku segera kembali masuk ke dalam secepatnya, sialnya aku malah menabrak tuan Arsen yang saat itu baru berjalan hendak keluar dari perusahaan.
"Mereka?... Aku tidak ingin melihat ini" ucapku sambil segera berbalik.
"Aaahhh....tu...tuan..maafkan aku, aku tidak sengaja" ucapku kepadanya.
Niatku hendak pergi dan menghindari David gagal total karena saat aku menabrak tuan Arsen mereka mendengarnya dan David dengan cepat melepaskan pelukannya bersama Gisel lalu mulai berjalan ke arahku dan mengajakku untuk pulang bersama.
"Ehh ..Anna kamu juga sudah turun ya, aku sudah menunggumu sejak tadi, Gisel juga sudah memberitahuku bahwa kalian bekerja bersama sekarang, ayo kita pulang bersama aku akan mengantarkan kalian berdua, atau kita bisa pergi bersama untuk merayakan kembalinya Gisel, bagaimana?" Ucap David terlihat begitu antusias menyambut kedatangan Gisel di kota ini kembali.
__ADS_1
Aku berusaha untuk menarik nafas dengan dalam dan terus saja membuangnya perlahan, aku berusaha keras untuk menatap wajah David dan menolaknya dengan secara baik-baik, aku juga bisa melihat bagaimana Gisel memberikan kode kepadaku, dimana aku tahu bahwa dia mungkin tidak ingin aku menyetujui ucapan dari David saat itu.
"Huuhh ..David seperti aku tidak bisa pergi lagi pula sepertinya hal itu tidak perlu di rayakan terlalu berlebihan, jika kau mau tetap merayakannya kalian bisa pergi berdua saja aku masih ada urusan dengan tuan Arsen" balasku terpaksa harus memakai nama tuan Arsen saat itu.
Aku berbicara sambil memegangi tangan tuan Arsen saat itu dan berusaha memberikan kode kepadanya agar dia bisa membantuku dan sedikit bekerja sama dengan aku saat itu.
Disisi lain tuan Arsen sendiri mengerutkan kedua alisnya dalam sesaat dan dia merasa bingung dengan apa yang aku bicarakan, aku sangat takut tuan Arsen akan membongkarnya dan terus menatap penuh kecemasan kepada dirinya.
"Ohhh ..iya... Dia harus lembur membantumu mencoba resep baru, dan kita harus pergi sekarang, permisi" ucap tuan Arsen yang untungnya bisa bekerjasama denganku.
Aku benar-benar merasa sangat lega ketika mendengar jawaban dari tuan Arsen yang bisa bekerjasama saat itu, dia bahkan menggandeng tanganku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya untuk meyakinkan David bahwa kami benar-benar memiliki urusan penting saat itu.
Sampai ketika sudah di dalam mobil aku mulai meminta maaf juga berterimakasih kepada tuan Arsen saat itu, meski wajahku benar-benar terasa sangat malu untuk bicara dengannya dan air mata di wajahku tidak bisa aku bendung lagi.
"Ahhha....tuan terimakasih banyak kamu mau membantuku, tolong turunkan saja aku di depan sana, aku bisa menaiki bus untuk pulang" ucapku kepadanya tanpa berani melihat ke arah wajah tuan Arsen saat itu.
"Heh... Kalau mau menangis ya menangis saja dan aku akan mengantarmu" balas tuan Arsen yang membuatku semakin tidak tahan untuk menangis.
"Ahahah....tuan apa yang kau bicarakan siapa yang mau menangis? Ahah...untuk apa juga aku menangisi manusia brengsek seperti dia" balasku dengan air mata yang tetap mengalir keluar dan dengan cepat aku segera menghapusnya lagi dan lagi.
Aku tahu mungkin saat itu tuan Arsen menertawakan aku karena mulutku berbicara sangat bertolak belakang dengan mataku yang terus mengeluarkan air mata, dan aku tidak bisa lagi berbohong untuk menyembunyikan perasaanku sendiri saat ini.
"CK...kau bilang tidak menangis, lalu apa artinya air mata itu?" Balas tuan Arsen berdecak pelan.
"Aahh...aku memang bodoh...hiks...hiks...hiks..kenapa aku harus mempercayai orang seperti dia, aku mempermalukan diriku sendiri berkali-kali di hadapanmu, maafkan aku tuan aku sudah melibatkan mu dengan masalah pribadiku yang sangat konyol ini, ahaha...aku bodoh sekali" ucapku sudah tidak bisa membohongi diriku sendiri.
"Apa kau sangat menyukainya?" Tanya tuan Arsen kepadaku,
"Iya...aku sangat menyukai dia, tapi dia sepertinya tidak benar-benar menyukai aku" balasku sangat menyedihkan.
Langsung saja aku menutupi wajahku dengan kedua tangan, aku tidak ingin menampakkan wajah menyedihkan aku ini kepada tuan Arsen atau siapapun, aku hanya tidak ingin terlihat semakin bodoh dan lemah karena menangisi pria seperti David, namun pada kenyataannya aku tetap menangisi dia.
Dan tuan Arsen menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba sehingga membuat aku sedikit bingung.
Aku mulai mengangkat kepalaku dan menatap kebingungan pada tuan Arsen karena rupanya dia malah menghentikan mobil di pinggiran jalan yang tidak aku kenali, ini seperti jalanan di tengah kota tempat banyak muda mudi berjalan-jalan disekitar sana, memang pemandangan disana cukup bagus apalagi di saat senja seperti ini.
"Tuan kenapa kau membawaku kemari bukannya kau mau mengantarku?" Tanyaku kepadanya dengan heran.
"Sudah keluarlah, ada yang ingin aku tunjukkan padamu" ucapnya sambil segera keluar lebih dulu dari mobilnya.
Aku mengikuti dia dan keluar dengan segera dari mobil tersebut, sampai saat aku menatap ke depan aku bisa melihat betapa indahnya pemandangan di sekitar sana, melihat banyak lampu dari gedung-gedung tinggi mulai menyala karena waktu hampir malam, juga matahari yang terlihat mulai tenggelam, semuanya sangat indah apalagi saat aku memandangi keramaian kota di sekelilingku saat itu.
Ketika melihat pemandangan kota yang seindah itu diatas bukit, aku merasa sedikit lebih tenang apalagi mendapatkan hembusan angin yang menerpa tubuhku membuat aku merasa lebih nyaman lagi.
"Wahhh...tuan darimana kau tahu bukit kecil di tengah kota seperti ini, aahhh...lihat lampunya menyala dalam waktu bersamaan, ini indah sekali" ucapku sambil terus menunjuk ke daerah perkotaan di sekeliling sana yang sangat indah.
Tuan Arsen hanya tersenyum kecil ikut memandangi pemandangan kota yang sangat indah itu.
__ADS_1