LUKA

LUKA
Di Tinggal David


__ADS_3

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam pemikiran tuan Arsen, dia bicara seakan-akan tidak memperdulikan aku tetapi untuk apa juga dia selalu membantuku, padahal jika dia memang benar tidak membutuhkan aku, dia kan bisa mencari pegawai lain atau chief lain yang jauh lebih baik dan bersertifikat tinggi atau lulusan dari universitas yang luar biasa di bandingkan aku yang hanya lulus dari universitas biasa-biasa saja.


Aku sangat malas untuk membalas dia lagi dan hanya bisa dia terduduk cemberut dengan penuh kekesalan di dalam mobilnya, hingga sesampainya di rumah aku langsung saja pergi masuk dengan menarik semua barang belanjaanku dan menolak dia yang saat itu hendak membantuku.


"Sudah sini biar aku bantu kau bawakan ke sana saja" ucap tuan Arsen menawarkan bantuan padaku,


"Tidak perlu aku masih bisa melakukannya sendiri dan besok aku akan masuk kerja karena tanganku sudah membaik, perbannya juga akan segera di buka" balasku dengan tegas dan langsung menarik semua barang belanjaanku masuk.


Aku tidak ingin melihatnya lagi dan segera aku berteriak memanggil Mika agar bisa membantuku membawa banyak barang belanjaan yang super berat ini, mungkin semua ini berat karena aku hanya bisa menggunakan satu tanganku saja, karena biasanya aku selalu bisa membawa semuanya sendiri tidak sampai kesulitan seperti saat ini.


"Mika....Mika... tolong aku...Mika" teriakku sangat kencang hingga Mika segera keluar membantuku membawa semuanya.


"Ya ampun kak Anna, kenapa barang belanjaannya banyak sekali, kau bilang hanya akan membeli beberapa saja" ucap Mika terlihat kaget melihat barang belanjaan yang begitu banyak saat itu,


"Iya...aku membeli semuanya biar sekalian, lagi pula jika begini kalian tidak perlu membelinya lagi bukan, ayo cepat kita bawa masuk ke dalam sana" balasku kepadanya yang langsung di anggukan oleh Mika.


Semuanya sudah selesai dan aku bisa segera beristirahat dengan merebahkan tubuhku di sofa rumah depan televisi saat ini.


"Huaa.... akhirnya aku bisa santai dan beristirahat dengan tenang juga" ucapku sambil merebahkan punggungku ke belakang.


Rasanya cukup melelahkan berbelanja banyak barang seorang diri, dan tidak dapat aku pungkiri bantuan dari tuan Arsen memang cukup membantuku dalam banyak hal tetapi sampai sekarang aku masih merasa sangat penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh kak Alena kepada tuan Arsen sebenarnya, rasa penasaran itu benar-benar sangat menggangguku karena aku tidak sempat untuk menanyakannya kepada tuan Arsen.


Aku juga sudah memutuskan untuk kembali bekerja mulai besok karena aku tidak bisa libur terlalu lama lagi.


Sampai tidak lama kemudian disaat aku tengah beristirahat aku mendapatkan telpon dari sekretaris Mey yang segera aku angkat saat itu juga.


"Ada apa sekretaris Mey?" Tanyaku kepadanya dengan nada bicara yang sangat lesu,


"Aish....kenapa kamu terdengar sangat lesu, apa sakitmu menjadi patah ya?" Balas sekretaris Mey yang malah berbicara seenaknya saja.


"Eh... tidak-tidak, aku baik-baik saja hanya sedikit lelah, kau ada apa menghubungi aku di saat aku cuti?" Balasku dengan segera menjelaskannya,


"Begini, ada sedikit masalah tuan Arsen tidak bisa mendapatkan sekretaris baru untuknya jadi aku akan kembali menjadi asistennya sedangkan yang akan menggantikan posisiku sudah di temukan dia sama-sama suka memasak dan aku pikir dia mungkin akan sejalan denganmu, sebab melihat dari CV nya dia lulusan dari universitas yang sama denganmu, mungkin saja kamu juga mengenalnya" balas sekretaris Mey kepadaku.


Aku langsung membelalakkan mata dengan sangat lebar, ketika pertama kali mendapatkan kabar yang sangat tidak menyenangkan ini, aku sudah terlalu dekat dengan sekretaris Mey, bagaimana bisa tuan Arsen membuat keputusan seperti ini diam-diam di belakangku, padahal barusan dia bertemu denganku tapi dia juga tidak memberitahu aku tentang hal ini, dia sangat menyebalkan sekali.


"Apa?.... sekretaris Mey kau tidak bercanda bukan?" Ucapku yang masih merasa tidak percaya dengan hal itu,


"Mana mungkin aku bercanda tentang hal seperti ini, pokoknya gadis itu hanya lebih tua satu tahun denganmu, dia sudah di wawancarai dan besok akan mulai bekerja menggantikan posisiku, semoga kamu bisa bekerjasama dengannya lebih baik daripada kerjasama kita berdua sebelumnya" balas sekretaris Mey kepadaku.


Dia berbicara seperti itu seakan aku dan dia tidak akan pernah bertemu lagi, atau seperti kita akan terpisah cukup jauh padahal kita berdua masih bekerja di perusahaan yang sama seharusnya dia tidak perlu berbicara seperti itu, karena itu menambah kesedihan dalam diriku dan membuat aku semakin tidak rela untuk di pisahkan dengan orang sepertinya yang begitu ramah dan bersahabat denganku.


Apalagi aku adalah orang yang cukup sulit untuk mengenal orang baru, aku takut nanti rasanya akan begitu canggung ketika aku bertemu dengan sekretaris pribadiku yang baru, tidak tahu apa yang harus di bicarakan dan bagaimana cara aku meminta bantuan padanya karena dia lebih tua dariku, itu cukup menjengkelkan untukku.


"Sekretaris Mey jangan bicara seperti itu, kau mengatakannya seakan kita akan berpisah jauh saja, kita kan masih berada di gedung yang sama untuk apa mengatakannya" balasku kepadanya dengan cepat,


"Walau kita di gedung yang sama, tapi mulai sekarang aku tidak akan memiliki banyak waktu luang, menjadi sekretaris tuan Arsen akan membuatku sangat sibuk mungkin aku tidak akan terlalu memperdulikan hal lain, jadi jika nanti kau menyapaku dan aku tidak membalasnya kau harus tahu aku sangat sibuk karena tuan Arsen itu" balas sekretaris Mey yang sepertinya tugas seorang sekretaris tuan Arsen begitu berat baginya.


"Hmm...begitu ya, baiklah aku tidak masalah, terimakasih sudah memberitahuku sekretaris Mey" balasku kepadanya.

__ADS_1


Panggilanpun selesai dan aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu, tapi aku juga terus memikirkan siapa gadis yang usianya lebih tua dariku satu tahun dan berasal dari universitas yang sama denganku, aku terus saja memikirkan hal tersebut tapi tetap tidak bisa menduga siapa wanita itu.


"Aaahhh..sudahlah untuk apa juga memikirkan hal yang tidak terlalu penting" gerutuku saat itu.


Aku segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksa luka di tanganku lagi, sekaligus ingin segera membuka perbannya, aku sudah merasa sangat tidak nyaman terus memakai perban yang cukup besar hingga kesulitan menggerakkan tanganku ini.


Segera aku membersihkan diri terlebih dahulu dan sudah bersiap-siap dengan sangat rapih, tapi di saat aku hendak keluar rumah aku lihat sudah ada David yang duduk di restoran dan aku langsung saja mengerutkan kedua alisku merasa sangat heran atas kehadirannya, aku langsung menghampiri dia dan segera menanyakan mengapa dia bisa ada di restoranku.


"David sedang apa kau disini?" Tanyaku kepadanya.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, ibu bilang kau akan pergi kesana bukan?" Balasnya membuat aku membuka mataku sangat lebar dan refleks menatap ke arah ibu yang tengah berada di meja kasir dengan Mika.


Saat aku menatap pada mereka dengan cepat ibu dan Mika langsung memalingkan pandangannya dariku dan berpura-pura sibuk mengelap meja disana, padahal aku juga sudah tahu bahwa meja itu sudah cukup bersih, mereka hanya dengan sengaja menghindari tatapan dan pertanyaan dariku saja, itu cukup membuat aku kesal.


"Aishhh... Sudah aku duga pasti ibu yang memberitahunya" batinku saat itu.


Karena David sudah berada di sini aku juga tidak mungkin mengusirnya begitu saja jadi aku memilih untuk pergi dengannya meski aku masih sedikit marah kepada dia karena kejadian waktu lalu.


"Ya sudah ayo kita pergi, kenapa kau masih duduk" balasku kepadanya.


David terlihat langsung buru-buru berdiri dan dia mengikuti langkahku segera, dia juga terus membukakan pintu untukku yang membuat aku hanya menatap ke arahnya sekilas, aku sudah tahu dia hanya melakukan ini karena tahu moodku sedang buruk atau mungkin dia sudah sadar dimana letak kesalahan dia sebelumnya padaku.


Hingga ketika di perjalanan David mulai mengajak aku untuk berbicara padahal aku sama sekali tidak ingin bicara dengannya saat itu.


"Anna..apa kau marah denganku karena kak Alena di restoran saat itu ya?" Tanya David padaku dengan wajahnya yang masih saja terlihat sama seperti sebelumnya,


"Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sudah tidak bekerjasama lagi dengannya, harusnya kau tidak marah lagi denganku kan" tambah David yang membuatku sedikit merasa senang saat mendengarnya.


Tidak aku bahkan sangat senang mendengar dia sudah memutuskan kerjasama dengan wanita ganjen itu, rasanya aku ingin terus tersenyum lebar namun karena masih ada David di sampingku aku tidak boleh terlalu terlihat bahagia dengan hal itu.


"Ohh....begitu, aku juga tidak perduli meski kau akan bekerjasama dengannya atau tidak" balasku sangat bertolak belakang dengan apa yang aku inginkan.


Tidak tahu kenapa aku selalu bersikap seperti ini, aku menyukainya tapi aku tidak ingin terlihat begitu mudah untuknya, sebab kami sudah bersama cukup lama dan aku tidak ingin membuat kecanggungan diantara aku dan dia lagi nantinya.


David terlihat tersenyum kecil karena dia juga mengetahui bahwa Anna tersenyum kecil untuk beberapa saat kepadanya kala itu, dia juga merasa sangat senang karena sudah memutuskan hubungan dengan wanita tersebut yang memang tidak di sukai oleh sahabatnya Anna.


David sangat menyukai Anna namun dia selalu tidak bisa mengungkapkan perasaannya karena dia takut kehilangan Anna jika nantinya dia berpacaran dengan Anna padahal dia sudah menjanjikan hal itu pada Anna dalam waktu yang cukup lama sejak dulu.


Namun sampai sekarang dia sama sekali belum bisa menepati semua itu, baginya melihat Anna tersenyum bahagia saja, sudah sangat membuat dirinya senang, bisa terus berada di samping Anna, dan terus menemaninya dalam segala hal serta melindunginya itu sudah menjadi lebih dari cukup baginya untuk terus bersama dengan Anna dan bisa terus merasakan perhatian darinya yang cukup banyak bak seorang kekasih.


Aku benar-benar sangat senang hingga sesampainya di rumah sakit dokter mulai memeriksa tanganku dan David berdiri di sampingku menunggui aku untuk di obati oleh sang dokter tersebut.


Rasanya masih agak sakit dan dokter juga masih menyarankan agar perbannya jangan dulu di buka dia menyarankan agar aku hanya mengganti perbannya saja tetapi aku sudah terlanjur mengatakan kepada tuan Arsen bahwa tanganku sudah membaik juga perbannya yang akan aku buka.


"Dok...sebaiknya buka saja, tidak masalah hanya menggunakan plaster saja aku rasa itu cukup" balasku kepada dokter tersebut,


"Apa kamu yakin, jika sampai lukanya tergores lagi atau mengenai benda yang keras kamu akan merasakan sakit luar biasa, itu bisa menyebabkan lukanya lebih lama untuk sembuh loh" balas sang dokter kepadaku dengan wajahnya yang cukup serius.


Aku masih berusaha untuk menolaknya karena aku tidak ingin nantintuan Arsen malah menyuruh aku untuk kembali tidak bekerja dan melanjutkan cuti sakit ku lagi.

__ADS_1


"AA..aahh..tidak ma" ucapku tidak selesai karena David langsung saja memotong ucapanku dengan cepat pada dokter tersebut,


"Ganti saja dokter, dan obati dengan lebih baik, jangan dengarkan ucapannya" ucap David memutuskannya begitu saja.


Tentu aku sangat kaget dan refleks menatap ke arahnya dengan membelalakkan kedua mataku cukup lebar saat itu, pasalnya dia memutuskan semuanya begitu saja, seakan itu adalah tangannya bukan tanganku.


"Ehh....David apa yang kau katakan apa kau pikir ini tanganmu, kau bisa memutuskan semuanya begitu saja?" Balasku kepadanya dengan tidak terima,


"Apa dokter sudah beres mengganti perbannya ayo cepat kita kembali" balasnya begitu saja.


Saat aku berbalik menatap ke arah dokter ternyata memang benar, tanganku sudah di ganti perbannya dengan waktu yang cukup cepat dan semuanya benar-benar sudah selesai, aku tidak bisa memutuskan atau melakukan apapun lagi.


Aku pun hanya bisa pasrah dan segera bangkit berdiri lalu mulai keluar dari ruangan itu menuju bagian administrasi, saat hendak pergi David terlihat mendapatkan panggilan telpon dari kantornya dan aku pergi lebih dulu karena tahu mungkin itu akan lama atau ada hal penting yang dia bicarakan dalam panggilan tersebut.


"Hmm...dia menjadi sangat sibuk setelah dewasa seperti ini, tidak memiliki banyak waktu lagi untukku, sudahlah aku pergi sendiri saja" ucapku sambil segera pergi dengan cepat menuju tempat administrasi.


Setelah selesai aku segera berniat mencari kembali David di tempat aku meninggalkan dia sebelumnya tepat di depan ruangan dokter yang mengobati luka di tanganku sebelumnya, tapi saat aku aku kembali kesana aku sama sekali tidak melihat keberadaan dia dan aku terus clingukan kesana kemari mencari keberadaan dia tanpa henti.


"Ehhh ..kemana anak itu pergi? Apa dia mencariku, perasaan sebelum pergi aku sudah memberikan dia kode kalo aku pergi membayar obatnya" gerutuku merasa kebingungan sendiri untuk mencari David.


Hingga tidak lama dokter yang mengobati lukaku datang berpapasan melewati aku dan dia menyapaku dengan ramah, sambil menanyakan keberadaan aku yang masih berdiri di dekat ruangannya.


"Ehhh...Anna kenapa kamu masih ada disini, tadi pacarmu itu sudah pergi keluar lebih dulu, aku pikir kamu dengannya juga" ucap dokter itu padaku membuat aku merasa heran ketika mendengarnya.


"Ohh...begitu ya, aku pikir dia masih disini, terimakasih dokter" ucapku sambil segera pergi dari sana.


Aku berlari cukup kencang dan pergi ke luar dari rumah sakit aku takut berpencar dengan David namun yang aku dapati ketika aku keluar dari rumah sakit rupanya mobil David justru sudah tidak terlihat lagi di sekitar sana, bahkan aku masih ingat sekali bahwa sebelumnya David memarkirkan mobil di depan rumah sakit tidak jauh dari tempat aku berdiri saat ini, namun sekarang tempat parkir itu sudah kosong dan aku terus kebingungan mencari keberadaannya kesana kemari tidak menentu bak seperti orang yang tersesat saja saat itu.


Hingga tidak lama seorang tukang parkir datang menghampiriku dan dia bertanya kepadaku karena aku sedari tadi terus menggerutu dan mencari keberadaan mobil David cukup lama di sekitar sana.


"Ehhh..kemana mobil David, aku ingat sekali dia memarkirkan mobilnya disini sebelumnya? Tidak mungkin dia meninggalkan aku sendiri begitu saja kan?" Gerutuku terus memikirkan.


Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang di lakukan David sebenarnya saat ini, jika bukan karena adanya tukang parkir yang memberitahuku, mungkin aku akan terus kelimpungan tidak jelas disana.


"Neng lagi cari apa kelihatannya Eneng dari tadi terus mencari sesuatu di sekitar sini" ucap tukang parkir tersebut kepadaku,


"Aahh...itu pak saya mencari teman saya dan mobilnya tadi di parkiran disini, saya masih ingat dengan jelas tapi sekarang kenapa tidak ada ya?" Balasku bertanya kepadanya,


"Ohh..mobil warna hitam yang bagus itu ya?" Balas sang tukang parkir padaku,


"Iya..pak, mobil hitam itu" balasku kepadanya,


"Tadi sih bapak lihat sudah keluar neng, ada seorang pria yang tampan dan cukup tinggi, dia memakai jas berwarna hitam dan terlihat cukup keren, dia sudah pergi cukup lama sejak neng keluar dari rumah sakit" balas tukang parkir itu kepadaku.


Aku langsung membelalakkan mata karena semua ciri-cirinya sama persis dengan David, dan aku mulai mengerti sekarang bahwa dia benar-benar meninggalkan aku di rumah sakit saat itu, aku berterimakasih kepada tukang parkir tersebut karena sudah memberitahuku dan segera saja aku pergi menghentikan taxi dengan perasaan yang kesal dan tidak menentu.


"Aahh..begitu ya, terimakasih pak, kalau begitu saya permisi" balasku kepadanya.


Di dalam taxi aku sungguh merasa sangat kesal tidak tahu harus berbuat apa tapi di dalam lubuk hatiku, rasanya sangat sakit karena David bisa-bisanya dia melupakan aku begitu saja, dan pergi meninggalkan aku tanpa memberitahu padaku terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2