
Setidaknya saat itu aku sudah cukup merasa tenang karena Gisel tidak benar-benar menjatuhkan dirinya ke sungai tersebut, aku hampir saja kehilangan satu teman yang aku kenal, aku terus memeluknya seerat yang aku bisa untuk memberikan kenyamanan kepadanya bahwa dia masih memiliki setidaknya satu orang yang masih memihak dan memperdulikan dia saat ini, walaupun aku sering merasa jengkel dan kesal kepadanya.
Tetapi aku sungguh tidak benar-benar membenci Gisel.
"Gisel jangan pernah bersikap bodoh seperti tadi lagi, jika dunia tidak memihakmu kamu tetap bisa datang padaku, aku akan tetap ada di sampingmu meski sangat membencimu," ucapku kepadanya saat itu.
"Terimakasih banyak Anna kamu memang yang terbaik, aku malu padamu Anna kamu terlalu baik, aku malu hiks...hik...hiks..," ucap Gisel yang terus terisak.
Aku menghapus air matanya dan tidak bisa terus melihat calon ibu menangis seperti ini dan merasa buruk atas dirinya sendiri di hadapanku, hingga tidak lama kemudian terdengar teriakkan dari David yang memanggil nama Gisel saat itu, kami berdua langsung berbalik menengok ke arah dimana David muncul dan dia berjalan menghampiri kami saat itu.
"Gisel..." Teriak David memanggil nama Gisel sangat kencang saat itu.
Aku senang bisa melihat David datang kesana tapi di balik rasa senang itu ada rasa kesal dan benci di hatiku kepada David, namun disaat aku melihat dengan lebih lekat lagi aku justru malah menemukan tuan Arsen yang tengah saling dorong dengan sekretaris Seno di ujung jembatan, dan aku bisa melihat samar-samar karena jarak kami yang cukup jauh saat itu.
"Eehhh...apakah itu tuan Arsen? Jika benar kenapa dia bisa ada disini?" Gerutuku memikirkan saat itu.
Hingga aku tak sadar bahwa David sudah berlari cukup kencang dan kini berada di hadapan aku dan Gisel, Gisel langsung berbicara dan membentak David saat itu sedangkan David sendiri terlihat sangat mencemaskan keadaan Gisel saat itu dengan nafasnya yang terengah-engah karena dia berlari cukup kencang sebelumnya.
"Untuk apa kau datang kemari, pergi kau dari sini!" Bentak Gisel dengan sorot mata yang penuh dengan kekecewaan kepada David saat itu.
"Gisel aku minta maaf aku tidak bermaksud melakukan semua itu, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku mengkhawatirkanmu dirimu juga bayi yang ada di dalam kandunganmu, bagaimana bisa kau malah ingin mengakhiri hidupmu disaat kau tahu ada nyawa seorang bayi di dalam perutmu?" Ucap David kepada Gisel.
"Kau.....kau pikir saja sendiri, jika kau tidak mau bertanggung jawab atas bayi ini dan tidak menikahi aku, bagaimana pandangan orang-orang kepadaku, bagaimana aku bisa melahirkan anak ini seorang diri nantinya, aku tidak akan sanggup menerima banyak gunjingan dari orang-orang, sedangkan kau, kau bisa melanjutkan hidupmu lagi seakan tidak pernah ada yang terjadi bahkan kau tega tidak mengakui anak ini disaat kau juga sadar bahwa malah itu kau terbangun di ranjang yang sama denganku." Bentak Gisel dengan air mata yang mengalir semakin deras membasahi pipinya saat itu.
Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka berdua sebenarnya tetapi ketika melihat David yang masih saja bersikap egois seperti ini, aku tidak bisa diam saja dan membiarkan Gisel semakin menderita terlebih dia baru saja memutuskan untuk lebih kuat.
Aku hanya takut apa yang di perbuat oleh David padanya akan membuat Gisel memutuskan bunuh diri lagi seperti sebelumnya.
"Cukup David! Apa yang kamu bicarakan, apa kau gila? Apa kau tidak punya perasaan sedikitpun kenapa Gisel? Bahkan jika kau mabuk sekalipun seharunya kau tidak akan melakukan hal tercela seperti ini? Tapi kau tetap melakukannya itu pasti karena kau juga memiliki sedikit perasaan kepada Gisel, kau hanya tidak menyadari perasaan itu sama dengan apa yang pernah kamu lewatkan padaku." Balasku kepadanya dengan bentakkan yang lebih keras kepada David.
Aku harus melakukan ini untuk melawan David agar dia bisa menjadi sadar bahwa dia telah banyak melakukan kesalahan dan kekeliruan dalam memahami perasaannya sendiri saat ini.
Hingga setelah mendengarkan bentakkan dariku kini David mulai tertunduk dengan lesu dan mulai mengatur nafasnya, aku tahu dia mulai tersadar dengan ucapan yang aku katakan pada dia sebelumnya dan memang semua inilah yang seharusnya dia pikirkan dan dia sadari sejak awal.
Sehingga saat itu dengan cepat aku menimpali dia lagi, menarik tangan David dan juga tangan Gisel sambil menyatukan mereka berdua di tempat segera.
"Gisel....David...aku tahu bagaimana kalian sejak lama, terutama dirimu David, aku hanya takut perasaan yang kau anggap cinta padaku itu hanyalah sebuah obsesi semata karena kamu tidak sempat mengutarakan cintamu itu padaku, dan kisah kita memang sudah terlewatkan sejak lama jauh sebelum Gisel muncul, tetapi David aku rasa kamu sudah mencintai Gisel sejak dia muncul diantar kita namun kamu tidak menyadarinya, entah karena apa tetapi sejak dia muncul aku bisa merasakannya dengan jelas bahwa kamu selalu lebih mengutamakan Gisel dibandingkan diriku, kamu mungkin hanya menyayangi aku layaknya adik, bukan untuk jadi pasangan begitu pula denganku mungkin kita berdua telah keliru dengan perasaan yang semu, dan aku mohon jaga Gisel dan bayi dalam kandungannya jangan sampai kami menyesal untuk kedua kalinya." Ucapku kepada Gisel dan menyatukan tangan mereka bersama.
David menatap dengan lekat kepadaku dan aku tersenyum sambil menaikkan kedua alisku kepadanya, memberikan keyakinan dan berusaha untuk menyadarkan David tentang perasaan sebenarnya yang dia rasakan saat itu.
Hingga pandangannya mulai beralih kepada Gisel dan dia langsung meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada Gisel saat itu.
"Gisel...maafkan aku, sekaranga aku sudah sadar, aku mencintaimu dan jika aku tidak mencintaimu aku akan tetap berusaha mencintai dirimu demi bayi kita, aku sadar aku hanya takut dan aku hanya panik saat aku tahu jika kau hamil karena ulahku, aku sama sekali tidak memikirkan beban yang kamu pikul, aku salah masukah kamu memaafkanmu dan memulai semuanya dari awal lagi bersamaku, aku akan menikahimu Gisel aku janji di hadapan Anna." Ucap David kepada Gisel.
Gisel justru malah menatap ke arahku dengan tatapan yang sendu seakan dia tengah meminta izin dariku dan aku hanya tersenyum lebar kepadanya sambil mengangguk hingga senyuman mulai terlihat menghiasi wajah Gisel dan dia menerima lamaran dari David saat itu.
"Eumm ..aku mau memperbaiki semuanya denganmu David." Balas Gisel yang langsung saja di peluk oleh David dengan sangat erat.
Sedangkan aku hanya berusaha untuk menyembunyikan kesedihanku sendiri saat itu, aku sama sekali tidak bisa menangis meski hatiku begitu teriris aku hanya berpikir bahwa mungkin semua ini adalah takdir yang memang sudah tertulis untukku, aku hanya sadar tidak semua yang aku inginkan bisa aku dapatkan aku juga merasa Gisel jauh lebih membutuhkan David di bandingkan diriku yang masih memiliki ibu dan Mika yang selalu ada di belakangku untuk mendukung semua keputusan dan apapun yang ingin aku raih, aku juga masih bisa menahan semua kesedihan dengan akal sehatku sendiri, aku lebih kuat dari Gisel dan tidak seputus asa dirinya sampai bisa-bisanya memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Setelah itu mereka pergi dan aku memutuskan untuk tidak pergi dengan mereka meski Gisel dan David mengajak aku untuk masuk ke dalam mobil mereka bersama.
Aku tidak bisa ikut dengan mereka sebab aku sudah hampir keluar dari batas kekuatan diriku sendiri untuk menahan kesedihan saat itu.
__ADS_1
Jadi aku menolak tawaran dari mereka untuk menyembunyikan rasa hancur di dalam hatiku, aku tidak ingin menangis atau terlihat sedih sedikit pun di hadapan Gisel maupun David karena aku takut mereka akan berubah pikiran jika aku memperlihatkan kesedihanku. Karena memang aku sendiri yang sudah memutuskan untuk menyatukan mereka berdua dan sudah memutuskan sejak awal bahwa David memang bukan untukku lagi, dia bukan David yang dulu aku sudah tidak mencintainya aku hanya merindukan sosok David yang dulu saja.
"Anna..ayo masuk kita pergi bersama saja." Ajak David kepadaku.
"Ohh...tidak usah aku tidak mau menjadi nyamuk di antara pasangan baru ini, aku bisa naik taxi saja." Balasku tetap menolak ajakan mereka.
"Tapi Anna taxi di sekitar sini cukup sulit apa tidak sebaiknya kamu ikut denganku saja?" Ucap Gisel tetap mengajak aku lagi dan lagi.
"Gisel apa kamu lupa aku ini siapa? Aku bisa menghubungi sekretarias Mey jika taxi tidak datang juga, kalian jangan mencemaskan aku, kalian harus memeriksa kondisi bayi di dalam kandunganmu Gisel, cepat pergi ke rumah sakit dan urus pernikahan kalian secepatnya, jangan lupa untuk mengundangku ya, sudah sana pergi," ucapku kepada mereka.
Akhirnya David mengangguk dan dia segera memutar mobil dan pergi dari sana dengan cepat, setelah mobil yang di kendarai oleh David dan Gisel pergi barulah aku langsung jatuh berjongkok di tanah dan tertunduk menyembunyikan wajahku diantara lututku yang ditekuk saat itu.
Aku menangis terisak seorang diri tanpa henti dan berusaha untuk menahan kesedihan juga suara tangisanku yang akan sangat memalukan jika terdengar oleh orang lain.
"Hiks....hiks...hiks..bodoh...huaa.....kenapa aku harus sangat bodoh hah? Kenapa aku menangis, aku yang sudah menyatukan mereka untuk apa lagi menangis seperti ini, sialan kenapa air mata ini tidak bisa berhenti." Gerutuku terus saja marah tidak jelas pada diriku sendiri.
Tuan Arsen dan sekretaris Seno yang melihat itu mereka saling tatap dan merasa sangat keheranan sendiri karena mereka sudah melihat dengan sangat jelas bahwa sebelumnya Anna terlihat baik-baik saja bahkan dia bisa tertawa dan menunjukkan senyuman lebar saat di hadapan Gisel dan David tapi saat mereka pergi dan tinggal Anna seorang diri di tempat itu, barulah tuan Arsen bisa melihat seberapa hancurnya hati Anna sebenarnya.
Tuan Arsen seger menyuruh sekretaris Seno untuk kembali ke perusahaan dan menggantikan dia untuk meeting selanjutnya dan membuat ijin juga untuk Anna.
"Sekretaris Seno kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang bukan?" Ucap tuan Arsen kepadanya memberikan sebuah tatapan penuh kode.
"Aahh..iya..iya aku tahu aku akan pergi ini kunci mobilnya aku bisa pergi dengan taxi yang sudah aku pesan, dasar kau ini aku juga yang terus saja harus mewakili dirimu, menyebalkan!" Gerutu sekretaris Seno yang sudah sangat kesal di buatnya.
Padahal saat itu sekretaris Seno baru saja bekerja hari ini dengan tuan Arsen karena dia sekretaris baru yang menggantikan sekretaris Mey, karena awalnya Seno ini adalah asisten pribadi tuan Arsen namun karena Gisel keluar dan sekarang sekretaris Mey harus menjadi sekretarisnya Anna terpaksa Senonharus merangkap ke duanya dan membuat dia menjadi kesulitan sebab tuan Arsen yang selalu saja merepotkan bagi dirinya.
"Sudah sana kau pergi dan beritahu sekretaris Mey juga untuk menyelesaikan semua pekerjaan Anna sebelum dia kembali nanti, kau harus akur dengan sekretaris Mey ingat itu!" Ucap tuan Arsen memperingatinya.
Sekretaris Seno segera pergi dari sana secepatnya karena dia sudah tidak mau mendengarkan ocehan dari tuan Arsen lagi, apalagi sekarang pekerjaannya merangkak menjadi asisten sekaligus sekretaris bagi tuan Arsen dan dia harus melakukan semuanya sendiri, di tambah dia dan sekretaris Mey memang selalu tidak akur sejak awal sebab mereka berdua adalah musuh sejak duduk di meja perkuliahan bahkan mereka selalu saja saling kejar kejaran untuk menjadi orang yang paling hebat untuk berdiri di samping tuan Arsen selama ini.
"Sudah....kamu boleh menangis sekeras apapun yang kamu mau, kamu juga tidak perlu berpura-pura untuk kuat," ucap tuan Arsen kepada Anna.
Dengan cepat aku langsung mengangkat kepalaku karena merasakan elusan dari tuan Arsen, aku sangat kaget ketika menengok ternyata orang yang mengusap kepalaku dan berbicara menenangkan aku adalah tuan Arsen saat itu.
Padahal aku pikir seharusnya dia tidak berada di tempat ini sekarang, karena aku tidak pernah mengatakan apapun kepadanya tentang kemana aku akan pergi sebelumnya.
"Tuan...kenapa kamu bisa ada disini?" Tanyaku kepadanya sambil dengan cepat mengusap sisa air mata di wajahku saat itu juga.
"Aku akan selalu ada di sampingmu selama kamu membutuhkan keberadaanku Anna, dan kenapa kau berhenti menangis, ayo manangis lagi, keluarkan semua emosi dan unek-unek di dalam hatimu, jangan kamu pendam seorang diri." Ucap tuan Arsen yang malah menyuruh aku untuk menangis lagi.
Padahal aku sama sekali tidak bisa menangis jika di hadapanku masih ada orang lain, aku sudah terbiasa untuk menyembunyikan semua rasa sakit dan kesedihan di dalam diriku sendiri dan baru bisa mengeluarkannya ketika sudah tidak ada siapapun di sekelilingku tepat ketika aku hanya tinggal seorang diri saja.
"Aku sudah tidak ingin menangis lagi, aku sudah cukup lama menangis untuk apa menangis lagi," balasku sambil segera bangkit berdiri saat itu.
Tuan Arsen tiba-tiba saja memelukku dan dia terus memegangi kepalaku membuat aku merasa sangat kebingungan dan terus berbicara dengan heran kepada tuan Arsen saat itu.
"Ehh...tuan ada apa denganmu? Tuan hei...lepaskan aku.... Tuan kenapa kau memelukku tiba-tiba seperti ini?" Ucapku kepadanya sambil mendorong tubuh dia agar menjauh dariku saat itu.
Dia malah terus saja tersenyum kepadaku dan menarik tanganku hingga membawa aku ke tengah jembatan saat itu juga, padahal aku sudah berusaha berontak dan ingin melepaskan diri darinya tetapi tuan Arsen malah terus saja menarik tanganku dan memaksa aku untuk ikut dengannya.
"Sudah ayo ikut aku, ada pemandangan indah yang sangat sayang sekali untuk di lewatkan," ucap tuan Arsen terus saja menarik tanganku.
"Tuan aku tidak mau ini sudah sangat sore aku mau pulang, tuan lepaskan, aishh kenapa kamu menarikku dengan paksa seperti ini, tuan!" Teriakku terus berontak kepadanya namun tetap saja tidak dia gubris sedikit pun.
__ADS_1
Hingga ketika kami sudah berada di tengah-tengah jembatan gantung itu barulah tuan Arsen menyuruhku untuk menatap ke arah matahari tenggelam yang sangat indah dengan langit yang mulai berwarna jingga saat itu.
"Lihat kesana ayo cepat lihat," ucap tuan Arsen yang langsung aku turuti.
Aku langsung saja terpukau ketika melihat pemandangan matahari terbenam yang begitu cantik dari jembatan tersebut, padahal sebelumnya jembatan yang kami pihak ini sangat kental sekali dengan kesan mistis sebeb sering di jadikan tempat untuk bunuh diri oleh banyak orang yang putus asa dalam menjalani kehidupannya.
Namun kali ini aku sama sekali tidak merasa takut atau apapun aku hanya bisa menikmati pemandangan matahari terbenam itu yang sangat cantik.
"Wahhh ..kenapa aku tidak tahu bahwa pemandangan matahari terbenam di jembatan ini bisa secantik itu?" Ucapku sambil terus menatap dengan mata membulat sempurna pada matahari yang cantik di sana.
"Dulunya jembatan ini memang digunakan untuk menikmati pemandangan yang indah bukan wisata untuk bunuh diri seperti sekarang ini, hanya saja tempatnya yang cukup jauh dari keramaian membuat banyak orang yang tidak bertanggung jawab malah membuatnya seakan menjadi tempat menyeramkan dan sangat di takuti banyak orang hanya karena ada beberapa orang saja yang jatuh dan menjatuhkan diri dari jembatan ini, tapi kamu tidak perlu takut selama ada aku di sampingmu." Ucap tuan Arsen sambil menatap aku dengan sangat lekat.
Tatapannya kali ini membuat aku tertegun dan entah kenapa jantungku semakin berdebar sangat kencang dan aku bahkan tidak bisa berkedip sedikitpun ketika menatapnya saat itu hingga jentik kan tangannya mengenai dahulu saat itu.
"Pletak....hei....ada apa denganmu? Kenapa menatapku dengan sedekat itu apa kamu menyukai aku ya?" Ucap tuan Arsen segera membuatku tersadar dan dengan cepat aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain.
"Aaa....a...aahh, apa maksudmu, aku sama sekali tidak menyukaimu, aku hanya kaget saja karena kamu bisa bicara seperti itu." Balasku dengan gugup kepadanya.
Sampai tuan Arsen berjalan lebih dulu meninggalkan aku dan aku langsung menyusulnya karena merasa takut saat itu.
"Sudahlah ayo kita kembali matahari sudah hilang jalanan akan gelap sekali di sekitar sini," ucap tuan Arsen yang bicara seperti itu tapi dia malah berjalan lebih dulu.
"Hei...tuan tunggu aku, tuan Arsen!" Teriakku sambil berjalan cepat untuk mengikutinya dari belakang.
Aku segera menarik tangannya dan meminta dia agar tidak melepaskan tanganku karena jalanan di sana benar-benar gelap, aku hanya takut melangkah dengan salah karena baterai di ponselku sudah lama mati.
"Tuan tunggu, tolong jangan lepaskan tanganku penglihatanku tidak bagus saat malam hari, aku tidak bisa melihat jalanan dengan benar," ucapku kepadanya dan dia langsung mengangguk dengan cepat.
Kami pun sampai di depan mobil dan tuan Arsen segera membukakan pintu mobilnya untukku aku merasa sangat senang karena ada dia disini meski aku tidak tahu dengan jelas kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di tempat ini, namun karena keberadaan dia disini aku jadi tidak perlu mencari taxi karena memang benar apa yang dikatakan oleh Gisel sebelumnya taxi di daerah ini memang sangatlah sulit kecuali kalau kita memanggilnya secara langsung dari aplikasi sedangkan ponselku sudah mati saat itu jadi tidak ada pilihan lain selain ikut dengan tuan Arsen.
Tapi setelah dalam perjalanan aku terus menatap ke arah luar jendela dan aku tiba-tiba saja memikirkan apa yang tengah dilakukan oleh Gisel dan David di belakangku, karena mereka berdua sulit bagiku untuk membuka hati lagi dan percaya pada seorang teman, meski aku sudah memaafkan mereka dan tidak mempermasalahkan apapun lagi dengan mereka, tetap saja rasanya aku tidak tahu harus berbuat apa, hatiku ini seperti merasakan sakit dan hancur tapi aku merasa aku baik-baik saja dan sudah merelakan mereka, tapi aku tetap tidak nyaman. Aku ingin menangis tapi aku tidak bisa karena ada tuan Arsen di sampingku saat ini.
Hingga aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi sekarang, aku merasa sangat sakit dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini, meski aku menahan air mata agar tidak jatuh di pipiku tetap saja air matanya menetes keluar, dan dengan cepat aku langsung saja menghapus air mataku secepat yang aku bisa.
Namun rupanya tuan Arsen mengetahui apa yang aku lakukan saat itu dan dia langsung saja berbicara kepadaku.
"Anna..jika kamu mau menangis menangislah, aku kan sudah bilang sejak awal kamu harus mengeluarkan semuanya agar kamu bisa benar-benar plong, kamu harus mengikhlaskan semuanya setidaknya jangan menyakiti dirimu sendiri dengan menahan emosi seperti ini," ucap tuan Arsen.
Entah kenapa ucapan dari tuan Arsen saat itu justru malah membuat aku semakin ingin menangis, aku tidak bisa menahan diriku sendiri aku langsung saja tertunduk dengan lesu dan menangis dengan keras saat itu.
"Hiks...hiks..hiks..kau terus menyuruh aku untuk menangis aku tidak lemah tuan aku juga tidak pernah menangis seperti ini sebelumnya, hiks...hiks..aku wanita bodoh, semua ini karenamu, kau terus saja menyuruh aku untuk menangis sampai aku tidak bisa menahannya lagi, hiks...hiks.." ucapku terus saja menyalahkan tuan Arsen untuk hal ini, padahal aku melakukannya untuk menutupi kesedihan di dalam diriku saja.
Karena aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun termasuk di hadapan tuan Arsen saat ini.
"Hei....kenapa kau malah menyalahkan aku seperti ini, aku menyuruhmu untuk menangis karena aku tahu kau sedang sakit hati bukan, aku sudah melihat semuanya dengan kedua mata kepalaku sendiri, aku melihat dengan jelas bagaimana kamu dicampakkan oleh kedua orang yang tidak tahu diri itu." Ucap tuan Arsen hanya membuat aku semakin teringat lagi dengan David dan Gisel.
Tapi walau dia sudah menyakiti aku tetap saja aku malah membela dia di hadapan tuan Arsen tidak tahu kenapa aku harus jadi manusia sebaik ini kepada Gisel dan David, seharusnya aku jadi orang jahat saja daripada menjadi baik seperti ini dan malah aku sendiri yang tersakiti.
"Tuan jangan beraninya kau malah bicara seperti itu kepada sahabatku!" Ucapku dengan menatap tajam kepadanya saat itu juga.
"Heh..heh...heh..sadarkan dirimu itu, ayo sadarlah Anna kau ini sudah di khianati oleh kedua sahabatmu, dan orang yang kamu cintai itu juga sudah menyakiti dirimu kenapa kamu masih harus membela mereka berdua dan malah membentak aku yang sudah menolongmu seperti ini, apa kamu buta ya?" Ucap tuan Arsen kepadaku saat itu.
Aku juga langsung saja terdiam dengan cepat karena memang apa yang baru saja dikatakan oleh tuan Arsen ada benarnya juga tetapi hal itu terjadi dengan refleks dan tidak bisa aku tahan. Pasalnya aku berteman dengan David bukan sekedar satu atau dua bulan saja tetapi sejak kami kecil hingga kami sedewasa ini jadi aku tidak bisa membenci dia meski dia menyakitkan sekali untukku.
__ADS_1
Kebaikan yang dia lakukan untukku sejak dulu hingga sekarang tidak mungkin aku lupakan hanya karena satu kesalahan ini, dan dia juga berhak memilih dengan siapa dia akan menjadi pasangan, aku hanya merasa aku saja yang terlalu menaruh ekspektasi terlalu tinggi kepadanya dan aku tidak bisa menyalahkan dia begitu saja atas apa yang aku pikirkan sendiri tentangnya.