
"Maafkan aku tuan, aku membutuhkan kamar mandimu, akan aku jelaskan nanti...aaahhh..aku tidak tahan lagi, minggir tuan!" Ucapku kepadanya sambil langsung berlari menerobos masuk begitu saja ke dalam.
Tidak perduli apakah tuan Arsen akan marah atau sebagainya kepadaku karena yang terpenting saat itu bagiku adalah mengeluarkan semua air dalam perut ini yang membuat perutku merasa sangat tidak nyaman sedari tadi.
Aku sungguh sudah tidak bisa menahan diriku lagi, jika harus menahannya beberapa saat lagi tidak tahu apa yang akan terjadi kepada diriku ini memang sudah di ujung tanduk, aku langsung menerobos masuk dengan cepat meski tuan Arsen terdengar berteriak memanggil aku dan mencoba menghentikan aku saat itu, bahkan disaat aku sudah masuk ke dalam kamar mandinya dan mengunci pintunya tersebut, dia tetap saja mengetuk pintu kamar mandinya dengan sangat keras dan berisik sekali saat itu.
"Eh ..eh...ehh...mau kemana kau hey...jangan masuk ke dalam kamar mandiku sembarangan hey aku baru saja membersihkannya!" Teriak tuan Arsen saat itu,
"Anna keluar kau buk....buk..buk....hey....Anna keluar dari kamar mandiku, kau beraninya masuk ke sana tanpa izinku, hey....Anna!" Bentak tuan Arsen sambil terus menepuk pintu kamar mandinya dengan sangat keras saat itu.
Aku sama sekali tidak memperdulikan semua itu karena yang terpenting saat itu bagiku adalah mengeluarkan semuany dahulu sampai aku bisa merasa lega.
Hingga akhirnya aku benar-benar sudah selesai dan baru sadar saat sudah merapihkan celanaku lagi saat itu.
"Astaga.... Tuan Arsen pasti sangat marah dengan aku sekarang, ahhh... bagaimana aku harus menghadapinya" gerutuku mulai merasa takut.
Aku terus diam berdiri di depan pintu kamar mandinya dan sudah mencoba memegangi gagang pintu untuk membukanya tetapi selalu aku urungkan niat itu karena takut dia akan berdiri di depanku saat aku membukakannya dan langsung memarahi aku dengan sangat keras aku takut sekali hal seperti itu akan terjadi.
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan sekarang, aahhh...dia pasti benar-benar sangat kesal kepadaku" gerutuku lagi yang masih saja tidak bisa merasa tenang sedikitpun.
Sampai tidak lama kemudian semuanya terdengar cukup sepi dan aku pikir mungkin tuan Arsen sudah pergi dari kamarnya saat itu sebab dia sudah berhenti meneriaki aku dan tidak lagi menepuk pintu kamar mandinya secara terus menerus tanpa henti seperti sebelumnya.
"Ehh....kenapa dia tidak terdengar lagi suaranya? Apa jangan-jangan tuan Arsen sudah pergi keluar ya?" Gerutuku bicara menduga-duga sendiri.
Aku mencoba mendekatikan telingaku ke pintu kamar mandi tersebut dan mencoba untuk mendengarkan suara di luar sana, hingga tidak lama terdengar suara tuan Arsen yang sepertinya tengah menelpon seseorang yang tidak jauh dari pintu kamar mandi itu.
"Aahh...iya..aku akan mulai syuting besok, kau tidak perlu membantu apapun semuanya sudah di jadwal dengan baik" ucap tuan Arsen yang mengangkat telpon saat itu.
Dia sibuk terus mengobrol dengan orang di telpon dan aku mulai merasa bahwa itulah kesempatan untuk aku bisa melarikan diri secepatnya.
"Haha...dia sedang menelpon seseorang, sepertinya orang penting, aku harus memanfaatkan waktu yang sangat bagus ini," ucapku sambil segera memegang gagang pintu kamar mandinya dan mulai membuka pintu tersebut secara perlahan.
Aku berusaha agar tidak mengeluarkan suara saat membukanya, aku juga mengintipnya sedikit dulu sebelum benar-benar akan keluar dari kamar mandi tersebut karena aku juga takut suaranya berbicara mengobrol tadi adalah jebakkan untukku, hingga aku sudah bisa melihatnya bahwa tuan Arsen benar-benar tengah menelpon di ujung ranjangnya saat itu, dan tempatnya berdiri cukup jauh dari lokasi kamar mandi sehingga aku memiliki kesempatan besar untuk kabur saat itu, aku tersenyum merasa senang dan mulai keluar dari dalam kamar mandi dengan perlahan juga mengendap-ngendap berjalan menuju pintu keluar sambil menutupi wajahku dengan kedua tangan yang di kesampingkan agar tidak melihat tuan Arsen.
"Semoga dia tidak menyadarinya, semoga dia tidak melihatku" batinku yang penuh harap saat itu.
Sampai tidak lama ketika aku hendak menyentuh pintu keluar dari kamarnya tiba-tiba saja dari belakang tuan Arsen langsung muncul dan tangannya menggebrak ke arah pintu itu sehingga mengagetkan aku dan aku langsung berbalik menatapnya yang langsung saja memasang wajah serius ke arahku saat itu.
Dengan kedua alis yang dia kerutkan dengan kuat bahkan dia menatap aku dengan sorot mata yang sangat tajam saat itu.
"Brak...." Suara tangan tuan Arsen yang menggebrak pintu sangat keras saat itu.
Aku menatapnya kaget dengan kedua mata yang terbuka cukup lebar dan merasa sangat tegang sekali saat itu, tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa menatap wajah tuan Arsen dengan penuh ketakutan juga rasa gugup yang tiada Tara saat itu.
"Tu...tu..tuan...saya..." Ucapku terhenti karena tuan Arsen langsung membentak aku sangat keras,
"Apa kau tidak memiliki kamar mandi di kamarmu sendiri hah? Kenapa kau harus masuk menerobos ke dalam kamar seorang pria secara tiba-tiba seperti itu!" Bentak tuan Arsen memarahi aku.
Aku tidak tahu harus menjawab bentakkannya seperti apa dan dengan kalimat apa aku juga langsung saja menutup kedua mataku karena takut dengan wajahnya yang cukup menyeramkan ketika marah seperti itu.
"Maafkan aku tuan tapi tadi di kamar mandinya ada sekretaris Mey dia masuk begitu saja ke dalam dan aku sudah tidak tahan lagi, aku sudah mencoba pergi ke kamar mandi para kru tetapi" ucapku lagi dan kembali tertahan oleh tuan Arsen yang memotong ucapanku untuk ke dua kalinya.
"APA? Kau juga pergi ke kamar mandi para kru? Kru yang mana yang mau temui hah? Beraninya kau seperti itu, kau kan tahu semua kru kita seorang pria apa kau tidak takut mereka akan mengintipmu disaat kau menggunakan kamar mandinya!" Bentak tuan Arsen lagi dan lagi membuat aku kaget juga sedikit takut.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa semarah itu padahal aku hanya meminjam kamar mandinya sebentar saja bahkan aku juga langsung membersihkan kamar mandinya lagi, karena aku tahu dia mungkin tidak akan suka jika kamar mandinya bekas di gunakan oleh orang lain apalagi aku yang jelas-jelas hanya bawahannya saja.
"Maafkan aku tuan tapi aku juga tidak jadi menggunakan kamar mandi para kru itu, makanya aku datang kepadamu aku pikir tidak ada kamar mandi lain selain milikmu, tadinya aku juga mau meminta izin dengan baik-baik kepadamu tetapi aku sudah sangat tidak tahan aku juga sudah mengatakannya kepadamu tapi kau tidak mengerti makanya aku terpaksa langsung masuk menerobos sebelum aku akan membasahi celanaku sendiri di hadapanmu, kau juga pasti tidak ingin kan melihat aku memalukan seperti itu" balasku kepadanya hingga berhasil membuat dia terperangah dan seketika menjadi diam membisu.
Aku merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa diam juga, setelah banyknya bentakkan dan ucapan yang di penuhi dengan amarah yang dia lontarkan kepadaku sedari tadi, bahkan dia sendiri tidak memberikan aku satu kesempatan saja untuk menjelaskan, jadi ketika aku mendapatkan kesempatan itu aku langsung mengatakan semuanya agar dia tidak semakin salah paham terhadapku.
Karena aku sendiri juga tidak mungkin masuk menerobos ke dalam kamarnya dan menggunakan kamar mandinya tanpa sebab yang jelas secara tiba-tiba seperti tadi, aku juga masih memiliki rasa malu dan sadar diri, aku tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Dan aku rasa dia juga terlalu berlebihan saat membentakku.
Sampai akhirnya ketika sudah mendengarkan penjelasan dariku tuan Arsen langsung mengusap kasar rambutnya tersebut dan dia langsung berjalan mundur menjauh dariku juga tidak lagi bicara membentak dengan penuh emosi seperti sebelumnya.
"Aahhh...kenapa kau malah tidak bilang sejak awal, kalau kau mengatakannya aku kan tidak perlu membuang banyak energiku kepadamu" ujar tuan Arsen yang membuat aku langsung membelalakkan mataku seketika.
"Hah?...tuan tapi saat itu aku juga hendak mengatakannya kepadamu, kau saja yang tidak memberikan aku kesempatan itu, kau selalu memotong ucapan dariku, kau juga terus saja marah tiasa henti, kau seperti sangat takut aku masuk ke dalam kamarmu dan kau bahkan menggebrak pintunya sangat keras sampai membuat aku sangat takut untuk mihatmu, jadi menurutmu bagaimana aku bisa menjelaskannya jika kau sudah melakukan semua itu kepadaku" balasku tidak bisa menahan diri saat itu.
Hingga ketika tuan Arsen mulai menatap dengan menyipitkan matanya kepadaku aku baru sadar dengan siapa aku berbicara saat itu, dan langsung saja aku menutup mulutku juga menepuknya pelan beberapa kali juga langsung saja meminta maaf kembali kepadanya secepat yang aku bisa agar dia tidak kembali marah lagi kepadaku.
"A..ahhh...tuan...maafkan aku tadi aku juga tersulut emosi, mohon maafkan aku tuan aku tidak akan mengulanginya lagi" ucapku sambil membungkuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepadanya saat itu.
Aku memegangimkedua tanganku dan mulai merasa cemas sekarang karena tuan Arsen terus menatapku dengan wajah datarnya yang sulit untuk aku tebak saat itu.
"Aishh....dasar kau ini, sudah memakai toiletku tanpa izin dan sekarang kau malah menyalahkan aku lagi, aaaahhh...kau ini benar-benar awas saja kau aku tidak akan memberikan ponselmu, akan aku simpan lebih lama, sudah sana kau pergi!" Ucap tuan Arsen mengusir aku saat itu.
Aku membelalakkan mataku dengan lebar, tentu saja aku sangat tidak terima jika dia harus memberikan aku hukuman dengan memperpanjang penyitaan ponsel milikku saat itu, padahal aku sudah sangat tidak sabar untuk bisa kembali memegangi ponselku itu, aku sudah sangat merindukannya untuk waktu yang lama selama ini, dia malah menambah waktunya membuat aku sangat kesal.
"Tuan....tapi kan itu ponselku harusnya kau memberikan itu kepadaku aku janji tidak akan menggunakannya saat bekerja aku akan profesional tuan" ucapku masih berusaha membujuknya saat itu.
Aku sangat berharap banyak dia bisa mengembalikan ponselku dengan secepatnya karena aku sangat memerlukan itu, aku belum menjelaskan juga kepada David apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan tuan Arsen sampai foto kami berdua bisa terjadi dan di kirim kepadanya saat itu.
"Aishh...sudahlah percuma saja kau membujukku dan memohon seperti itu, aku tidak akan goyah sedikit pun, sana kau pergi untuk apa tetap disini" balas tuan Arsen padaku lagi.
Ini sangat menyedihkan dan terlalu berlebihan untukku, aku sangat kesal dan tidak bisa menerima semuanya begitu saja, meski aku sangat takut dengannya aku harus melakukan ini agar dia mau mengembalikan ponselku bersama dengan ponsel milik yang lainnya, karena aku tidak ingin terus kesepian tanpa ponsel seperti ini.
Aku berjalan pelan mendekati tuan Arsen yang saat itu duduk di depan laptop miliknya.
"Tuan....aku mohon kepadamu sekali lagi, tolong lihatlah wajahku yang sangat menyedihkan ini, aku sangat bosan tanpa ponselku, aku tidak bisa membagikan momenku saat disini bersama kru dan yang lainnya, aku juga membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi dengan orang luar, aku tidak bisa jika harus menahan diri tanpa ponselku lebih lama lagi, kau mengerti itu kan tuan, jadi...." Ucapku tidak sampai karena dia memotongnya lagi,
"Tidak..aku tidak mengerti!" Balas tuan Arsen yang membuat aku semakin sedih juga menahan kekesalan terhadapnya saat itu.
Ingin sekali rasanya aku menghajar kepalanya saat itu juga hingga dia pingsan dan aku bisa merebut ponselku darinya tanpa harus memohon seperti ini kepada dirinya yang sangat membuat aku kesal dan harus terus menahan emosi dalam diriku yang hampir saja akan meledak dalam setiap saat.
"Benar-benar manusia terkutuk, tampan tapi dia sangat menyebalkan, aarghhh...aku ingin menghajarnya!" Batinku yang sangat sudah tidak tahan dengannya saat itu.
Aku berusaha untuk tetap sabar dan menarik nafasku dengan perlahan lalu mulai membuangnya dengan lembut, hingga kembali bisa mengukir senyum palsu itu di hadapan manusia yang menjengkelkan itu.
"Huuuhh....sabar Anna sabar, orang yang sabar akan di sayang tuhan, oke sabar aku harus sabar menghadapi manusia sialan ini" batinku terus menguatkan diriku sendiri.
Segera aku mulai memberanikan diri bicara lagi kepadanya saat itu, dan membuat penawaran terhadapnya agar dia tidak melakukan hal yang menjengkelkan lagi padaku atau menolak aku lagi untuk mendapatkan ponselku itu.
"Eumm...tuan tidak masalah jika kau mau menahan ponselku sampai acara syuting selesai besok, tetapi tuan bisakah kau menahannya hanya sampai besok saja, kau bisa memberikan hukuman lain kepadaku nanti jika kau masih tidak terima aku masih dan menggunakan kamar mandimu tanpa izin, bagaimana?" Ucapku kepadanya sambil menatapnya memperlihatkan senyum cerah dengan kedipan mata beberapa kali karena aku sudah tidak tahan lagi menahan emosi saat itu.
Dia hanya menatap aku dengan tatapan yang yang aneh sampai akhirnya dia mengangguk dan menyetujui ucapan dariku kali ini.
"Ya..baiklah, tapi ingat jika kau membuat masalah lagi denganku aku akan terus membuat hukuman yang lebih menyedihkan lagi di bandingkan dengan merampas ponselmu" ucapnya memperingati aku dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku saat itu.
__ADS_1
Aku tersentak kaget dan terperangah melihatnya, jujur saja wajahnya itu memang cukup tampan apalagi jika di lihat dari dekat seperti ini, tetapi dengan kepribadian yang sulit di tebak dia memang bukan tipe diriku lagi, aku tetap lebih memilih David yang selalu ada di sampingku walau dia terkadang selalu meninggalkan aku dan membuat aku kesal juga menunggu.
Aku langsung mundur menjauhi dirinya dan segera berpamitan pergi keluar dari kamar tuan Arsen karena semua urusanku dengannya sudah selesai saat itu.
"A..ahh...kalau begitu aku pergi dulu tuan, terimakasih atas kemurahan hatimu" ucapku kepadanya dan langsung saja pergi dari sana secepat yang aku bisa.
Bahkan karena aku pergi dengan terburu-buru aku sampai tersandung dengan keset yang ada di bawah pintu kamar tuan Arsen saat itu, hampir saja aku akan membuat diriku menahan malu lagi jika saja tanganku tidak berhasil memegangi gagang pintunya saat itu.
"Aaahhhh ...." Ucapku yang hampir terjatuh saat itu.
Tuan Arsen juga memalingkan pandangannya menatap ke arahku dengan wajah datar dan sedikit kebingungan melihat aku dalam posisi yang sangat memalukan saat itu karena aku hampir terpeleset sebelumnya, segera aku berdiri dengan tegak dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja kepadanya sambil menahan malu yang teramat sangat saat itu.
"A...ahhh...aku baik-baik saja tuan, jangan cemas aku baik-baik saja hanya sedikit kehilangan keseimbangan aku bisa mengatasinya hehe, aku pergi" ucapku kepadanya menahan malu sambil segera keluar dari sana dengan cepat.
Di sisi lain tuan Arsen yang melihat tingkah Anna seperti itu dia diam-diam tersenyum kecil melihatnya dan terus berbicara sendiri disaat Anna sudah keluar dari kamarnya.
"Dasar cewek konyol, bagaimana bisa ada seorang chef jatuh terpeleset seperti itu dan dia haha sangat konyol sekali" ucap tuan Arsen sambil tersenyum memikirkan reaksi Anna yang tadi terpeleset dan berbicara kepadanya seperti itu.
Aku sendiri justru benar-benar sangat malu dan tidak tahu harus melakukan apa segera aku berlari ke kamarku dengan menutup wajah menggunakan kedua tanganku lalu sesampainya di dalam kamar segera aku tidur menutup seluruh tubuhku dengan selimut yang tebal saat itu, saking merasa malunya dengan diri sendiri yang begitu konyol ketika berhadapan dengan tuan Arsen, bosku sendiri.
"Hua....aku sangat memalukan sekali, ini tidak bisa di bayangkan lagi" gerutuku saat itu.
Hingga tidak lama sekretaris Mey yang baru selesai mandi dia melihat aku yang sudah ada diatas ranjang lalu segera duduk di samping ranjangku dan menepuk tubuhku pelan saat itu, meminta aku untuk segera bangun.
"Hey...Anna ada apa denganmu, kenapa tidur dengan menutup tubuh seperti itu, apa kamu tidak gerah? Ayo turunkan selimutmu" ucap sekretaris Mey kepadaku.
"Tidak..mau sekretaris Mey aku sangat malu sekali, aku tidak ingin melihat wajah siapapun saat ini, aku ingin tidur" balasku kepadanya.
Sekretaris Mey tetap saja memaksa aku untuk bangkit dan bercerita kepadanya saat itu, padahal aku sudah menolaknya dan mengatakan bahwa aku ingin tidur malam itu bahkan aku sendiri juga sudah menyuruh dia untuk pergi dari sana juga segera tertidur saja daripada mengganggu diriku.
"Anna ada apa denganmu kenapa kamu aneh seperti ini, aku bangun dan ceritakan semuanya kepadaku, ayo cepat" ucap sekretaris Mey yang terus saja memaksaku saat itu,
"Aku tidak mau sekretaris Mey, sebaiknya kau pergi tidur juga jangan mengkhawatirkanku aku" balasku lagi yang tetap menolak ucapannya.
Aku pikir sekretaris Mey akan membiarkan aku bebas dari dirinya kali ini, namun rupanya dugaan diriku salah dia malah langsung menarik selimut yang aku pakai sampai menarik kedua tanganku dan membangunkan aku dengan paksa sampai akhirnya mau tidak mau aku tetap terduduk di sampingnya dengan wajah yang cemberut dan di tekuk sangat kuat, menunduk dengan lesu seperti tidak ada lagi gairah untuk menikah hidup saat ini.
"Huuuh.....ada apa sih, kenapa kau malah memaksaku seperti ini" ucapku kepadanya sambil terus menunduk ke bawah dengan rambut panjang berantakan yang menutupi wajahku bak seperti seorang hantu,
"Aishh ...Anna ada apa sebenarnya denganmu, kenapa kamu terlihat sangat kacau seperti ini? Ayo cepat cerita saja denganku setidaknya itu akan membuatmu lega dan kau bisa lebih baik nantinya, apalagi besok kan kamu akan syuting dan itu penentuannya jadi kau harus baik-baik saja termasuk mood dirimu jangan rusak seperti ini" ujar sekretaris Mey kepadaku dengan raut wajahnya yang sangat serius sekali.
Aku sebenarnya sangat tidak ingin menceritakan kejadian konyol dan begitu memalukan seperti ini kepada siapapun, karena aku takut orang lain yang akan mendengar ya dari ceritaku dia pasti akan menertawakan aku dengan puas, dan aku benci di tertawakan apalagi dalam keadaan mood diriku yang sudah tidak menentu seperti ini.
"Tidak apa-apa sekretaris Mey aku hanya salah masuk kamar mandi saja dan malah mendapatkan hukuman, aku baik-baik saja dan bisa menanganinya sendiri" balasku kepadanya sambil langsung menjatuhkan tubuhku sendiri kembali ke ranjang.
Namun sayangnya sekretaris Mey memang benar-benar tidak menyerah sedikit pun dia kembali menarik tanganku dan mengangkat lagi tubuhku sampai aku terduduk lagi saat itu, dia juga terus mendesak aku untuk menceritakan semua itu lebih detail padahal aku sudah mengatakan yang singkatnya kepada dia tetapi dia terus saja penasaran kepadaku.
"Eh...eh..eh...Anna ayolah jangan seperti itu, kau sudah kacau begini saja masih tidak ingin berbagi denganku, ayo ceritakan atau aku tidak akan membiarkanmu istirahat malam ini" ancam sekretaris Mey kepadaku.
Aku menarik nafas dengan dalam dan berusaha untuk menenangkan diriku sendiri saat itu, meski sangat berat untukku bercerita mengenai hal yang telah aku lewati sebelumnya tetapi tidak ada cara lain untuk membungkam mulut sekretaris Mey agar dia tidak banyak bertanya lagi dan mengganggu diriku yang sudah sangat tidak tahan ingin tertidur malam ini.
"Baiklah aku akan menceritakannya tetapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan menertawakan aku jika aku bercerita apa kau mengerti?" Ucapku memperingati dia terlebih dahulu.
Sampai akhirnya sekretaris Mey mengangguk dan sudah berjanji denganku, barulah aku berani menceritakan semua kejadiannya itu, dari awal hingga akhir.
__ADS_1