
Rasanya sangat kesal sekali melihat David terlihat begitu dekat dan sangat akur sekali dalam berbicara dengan wanita tersebut, rasanya aku ingin menjambak rambut wanita bernama Alena itu, aku merasa menyesal karena sebelumnya mengatakan bahwa wanita itu cantik, sekarang aku pikir dia tidak cantik dia buruk dan aku lebih baik daripada wanita ganjen itu.
Saat berada di dalam mobil aku sama sekali tidak ingin melihat wajah David sedikit pun karena aku masih menyimpan kekesalan terhadapnya, meski dia saat itu mencoba untuk bertanya kepadaku, tetapi aku hanya menjawab dia dengan seperlunya saja.
"Anna....ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba kau mau pergi dari sana sebelumnya kau terlihat antusias masuk ke dalam restoran itu, apa makanannya tidak enak?" Tanya David kepadaku sambil melirik sekilas karena dia tengah menyetir saat itu.
"Iya...restoran itu sangat jelek dan makanannya tidak enak sama sekali" balasku kepadanya dengan jelas menghina restoran tersebut.
Meski pada kenyataannya aku tahu restoran itu jauh sekali lebih besar, mewah dan lebih baik daripada restoran yang aku punya, tetapi tetap saja aku tidak ingin mengakui semua itu karena dia terlihat selalu keganjenan dekat dengan David begitu pula sebaliknya, di tambah David memang tipe pria yang terlalu baik kepada semua orang, dia selalu tidak bisa menolak permintaan orang lain kepadanya.
Itu terkadang membuat aku jengkel dalam menghadapinya dan rasanya dia selalu tidak memperdulikan perasaan aku, mungkin karena dia memang tidak tahu jika aku menyukainya juga tetap sejak kecil dia sudah pernah membuat janji denganku jika sudah besar dia akan menjadikan aku pacarnya aku juga menyetujui hal itu, namun setelah kami sudah menjadi sebesar sekarang bahkan kami sudah sama-sama bekerja, David masih tetap saja tidak menebus janjinya tersebut, saat duduk di bangku sekolah dia juga pernah mengatakan bahwa ketika dia sudah memimpin perusahaan dia akan menjadi aku pacarnya nyatanya dia hanya memberikan aku sebuah harapan palsu, harapan semua yang hanya membuat aku terus merasa senang dan beberapa banyak kepadanya, namun nyatanya dia tidak pernah melaksanakan janji yang dia ucapkan sendiri bahkan sekarang saja disaat aku tengah kesal dan cemburu kepadanya, dia sama sekali tidak menyadari hal itu, padahal aku sudah memperlihatkan rasa cemburu dan kekesalanku dengan sangat jelas kepadanya.
"Anna...kau ini aneh sekali, kalau kamu tidak suka dengan tempat tadi harusnya kamu mengatakan itu lebih awal denganku, jadi aku tidak perlu pergi kesana dan bertemu dengan kak Alena" balas David saat itu.
Aku sedikit senang dan tersenyum kala dia mengatakan hal itu karena aku pikir dia mungkin tidak menyukai kak Alena tersebut dan aku menanyakannya kepada dia untuk memastikan apakah dugaanku tersebut benar atau tidak.
"Ahh.....memangnya kenapa? Apa kamu tidak menyukai kak Alena?" Tanyaku sengaja menjebaknya saat itu,
"Tidak....aku cukup menyukainya dia cantik dan baik, dia juga rekan bisnis yang royal tentu aku cukup menyukainya hanya saja tadi kita pergi secara terburu-buru dan aku tidak sempat berpamitan dengannya, mungkin dia akan merasa kebingungan, tapi tidak papa aku akan memberitahunya alasan kita pergi nanti, jadi kau tidak perlu ikut merasa cemas" balasnya begitu saja membuat aku sangat jengkel dan kesal.
Aku langsung kembali memalingkan pandanganku lurus ke depan dan tidak ingin mihat wajahnya lagi, dia benar-benar sangat menjengkelkan dan rasanya aku tidak ingin mihat wajahnya lagi, aku memang sudah terlalu banyak berharap kepada orang seperti David yang selalu mengecewakan.
"CK....dasar sialan, siapa juga yang akan mengkhawatirkan wanita sepertinya aku sama sekali tidak perduli dengannya" gerutuku sangat kesal saat itu.
Aku pikir David tidak akan mendengarnya namun ternyata dia masih bisa mendengarnya walau itu hanya sedikit saja.
"Ehh....apa yang kamu katakan barusan, aku tidak terlalu jelas mendengarnya?" Tanya David saat itu.
"Tidak ada, aku hanya bilang bahwa kak Alena itu bukan wanita yang baik jadi sebaiknya kau menjauh dari wanita ganjen sepertinya" balasku yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, rasanya cukup puas setelah mengatakan itu pada David.
Walaupun David hanya terlihat menaikkan kedua alisnya sekilas dan dia tersenyum kepadaku saat itu, entah apa yang sebenarnya dia pikirkan sampai dia tersenyum seperti itu, padahal aku tengah kesal dan marah kepadanya namun dia malah terlihat santai saja.
"Anna....apa kau tidak suka dengan kak Alena ya? Atau apa kau pernah mengenal dia sebelumnya?" Tanya David yang memang benar-benar bodoh itu.
"Tidak aku sama sekali tidak mengenal dia dulu ataupun ke depannya aku tidak ingin bertemu wanita spesies sepertinya lagi, dia wanita yang buruk, aishh...apa kau tidak melihat bagaimana kepribadian dia saat menatapku di restoran hah, dia sangat menjengkelkan, bahkan tidak menerima uluran tangan dariku" balasku kepadanya dengan penuh emosi saat itu.
David hanya diam saja dan dia terus fokus menyetir sambil menatap lurus ke depan, aku juga hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar dan terus saja berusaha untuk menenangkan diriku sendiri saat itu hingga tidak lama setelah sampai di depan restoran rumahku aku langsung saja masuk dan melarang David yang saat itu mengikuti aku untuk masuk ke dalam rumah.
"E...e...eh...mau kemana kau?" Tanyaku menghentikan langkahnya dengan cepat,
"Tentu saja aku mau masuk memangnya kenapa?" Balas dia dengan wajah sedikit kebingungan kepadaku,
__ADS_1
"Tidak boleh...ini sudah malah dan ibu juga Mika pasti sedang membereskan restoran sekarang, kau tidak boleh masuk, sebaiknya kau pergi saja, sana pergi untuk apa lagi kau masih berdiri disini, restorannya sudah tutup!" Bentakku meninggikan suara kepadanya dan mengusir David untuk pergi dari sana.
Hingga dia terlihat mundur dengan perlahan lalu pergi sambil menggaruk belakang kepalanya dan masuk ke dalam mobil dengan cepat sedangkan aku segera masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satu kursi dengan kesal.
"Euhhgghhh... benar-benar sangat menyebalkan, bagaimana bisa wanita sialan itu bersikap begitu santai dan seakan dia lebih dekat dengan David di bandingkan diriku, sangat menjengkelkan!" Gerutuku terus merasa kesal sendiri.
Hingga tidak lama Mika datang menghampiri aku dan dia mulai menyajikan minuman dingin padaku, seakan dia sudah tahu bahwa aku tengah di penuhi dengan banyak sekali emosi yang buruk dalam diriku.
"Kak....Anna...ini minum dulu, sepertinya kakak membutuhkan minuman dingin" ucap Mika padaku saat itu.
"Aahh.... terimakasih Mika kamu perngertian sekali, berbeda dengan manusia sialan itu, dia benar-benar orang paling bodoh yang pernah aku temui" ucapku kepada Mika.
Mika terlihat tertawa cukup lebar dan dia malah menebak orang yang tengah aku bicarakan kepadanya, parahnya lagi dia menebaknya dengan sangat benar, entah darimana dia bisa mengetahui kalau aku tengah membicarakan mengenai David saat itu.
"Dia pasti kak David kan?" Balas Mika begitu saja.
Aku tentu terperangah sesaat dan membulatkan mataku ketika mendengarnya karena aku sama sekali tidak terlalu banyak bicara dengan Mika dan kini dia bisa tiba-tiba tahu bahwa aku tengah kesal dengan David, cukup mengagetkan untukku tapi aku segera menanyakannya kepada dia saat itu juga.
"Ehh...darimana kamu tahu kalau aku sedang menyinggung David? Apa kamu paranormal ya?" Balasku merasa heran dengan menaikkan kedua alisku padanya.
"Haha...kak Anna ini bisa saja, mana mungkin aku seorang paranormal sudah jelas aku karyawanmu yang imut dan lucu, aku tahu semua itu dari ibu dia yang sering bercerita tentang kak Anna dan kak David, kalian selalu bersama sejak kecil tapi kenapa kalian belum bersama sampai sekarang itu yang selalu ibu pikirkan ketika berbicara kepadaku, aku juga mereka heran kenapa kakak tidak bersama dengan kak David padahal aku lihat kalian cukup serasi" balas Mika kepadaku.
Mendengar ucapan Mika dan kini aku mengetahui bahwa ternyata diam-diam ibu juga memikirkan tentang hal itu, David memang pria yang sangat baik dia selalu melindungiku sejak kecil tetapi sikapnya itu sulit sekali aku tebak, aku merasa di perlakukan spesial olehnya tetapi ketika melihat dia bersikap baik juga kepada orang lain terutama seorang wanita aku merasa tidak terima sekaligus tersadar bahwa dia ternyata tidak hanya baik kepadaku saja, melainkan dia baik kepada semua orang.
Hingga restoran benar-benar tutup dan Mika berpamitan pergi dengan cepat dari restoran menuju kediamannya yang tidak jauh dari restoranku.
Aku segera masuk ke dalam kamar dan mulai merebahkan tubuhku secepatnya, aku berusaha melupakan semua kejadian tadi yang sangat membuatku kesal sepanjang waktu tetapi rasanya itu sulit aku lupakan, David benar-benar bodoh sekali karena dia sama sekali tidak peka terhadap perasaanku, padahal dia selalu bersama denganku selama ini, seharusnya meski aku tidak mengatakannya dengan jelas dan lantang, dia harus sudah bisa menebaknya karena kita sudah sangat dekat selama ini.
Bahkan kami bersama-sama bukan hanya setahun dia tahun tapi sejak kecil hingga sebesar sekarang karena dulu ibunya bersahabat dengan ibuku bahkan sampai sekarang omanya sudah menganggap aku sebagai cucuknya sendiri dan ibu menganggap David sebagai putranya sendiri.
Sedangkan disisi lain saat Mika tengah berjalan sendiri menuju rumahnya tidak sengaja David yang masih berada di tempat itu dia mulai menghentikan mobilnya dan mengajak Mika untuk masuk ke dalam mobilnya karena dia merasa tidak tega melihat Mika harus pulang dan menunggu bus di jam malam seperti itu.
"Mika ayo masuk aku antar kamu pulang" teriak David menyapa Mika saat itu,
"Ehh...tidak perlu kak David aku bisa pulang sendiri" ucap Mika menolaknya.
Dia menolak karena merasa tidak enak terlebih dia memang tidak dekat dengan David meskipun saat itu David yang sudah membantunya mendapatkan pekerjaan di restoran milik Anna, tempat dimana dia bekerja saat itu.
"Sudah ayo masuk, kau itu karyawan Anna aku tentu tidak akan membiarkanmu kenapa-napa jika pulang selarut ini, cepat masuk jangan merasa canggung" ucapnya kepada Mika.
Mika pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil, selama perjalanan dia sama sekali tidak berbicara apapun dan hanya fokus dengan dunianya masing-masing hingga David benar-benar mengantarkan Mika hingga ke depan rumahnya saat itu, Mika juga sangat berterima kepadanya karena berkat David dia tidak perlu menunggu bus lagi.
__ADS_1
"Terimakasih kak, lain kali aku akan membalas kebaikanmu" ucap Mika saat itu,
"Tidak perlu, aku pulang sekarang" balas David dan Anna segera mengangguk.
Mobilnya mulai pergi dan Mika tersenyum melihat kepergian David, dia segera masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang cukup bahagia karena bisa pulang lebih awal sehingga dia bisa tidur lebih cepat malam itu.
Hingga ke esokan paginya, kini aku tidak perlu bangun pagi-pagi seperti biasanya karena aku sudah mendapatkan cuti sakit dari tuan Arsen sehingga aku hanya berdiam diri di rumah dengan santai dan hanya membantu urusan di restoran sedikit-sedikit bersama Mika juga ibuku saat itu.
Kebetulan sekali restoran terlihat sangat ramai dan di penuhi dengan banyak pembeli sehingga bantuanmu cukup di gunakan disana, aku juga merasa cukup senang karena ternyata libur cutiki tidak terlalu sia-sia, meski ibu dan Mika terus saja menyuruh aku untuk duduk dan tidak boleh membantu mereka tapi aku tetap saja melakukannya.
Bagaimana mungkin aku hanya duduk berdiam diri saja di saat sudah jelas aku lihat Mika memasak dengan sibuk begitu juga ibu yang terus mengantarkan makanan kesana kemari, aku juga membantu Mika untuk memasak dan ibu hanya menunggu di kasir saja selebihnya aku dan Mika yang menyelesaikan semua pesanan pengunjung di restoran.
Sampai bahan makan terlihat sudah habis saat itu dan pengunjung sudah mulai sedikit, aku berniat untuk membeli bahan makanan sebab mereka terus menyuruhku untuk jangan membantunya.
"Bu aku bosan diam saja, kalau begitu aku pergi membeli bahan makanan saja ya" ucapku kepada ibu,
"Ehhh...untuk apa, tanganmu kan masih sakit kau diam saja jangan melakukan apapun yang menggunakan tanganmu itu" ucap ibu yang masih saja melarang aku,
"Bu aku baik-baik saja lagi pula aku kan punya dua tangan, belanjanya juga tidak akan banyak kok" balasku kepada ibu,
"Aishh ...ya sudah terserah kamu saja, tapi jika nanti mengeluh tanganmu sakit ibu tidak akan mendengarnya" balas ibu kepadaku.
Aku hanya tersenyum menanggapinya karena ibu memang selalu saja mengancamku dengan cara yang sama setiap kali aku membantah ucapannya, aku pun segera pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan, sengaja aku pergi dengan taxi agar bisa sampai ke sana dengan cepat hingga sesampainya disana aku mulai membeli beberapa barang yang aku butuhkan untuk di restoran.
Namun setelah berkeliling di supermarket dalam waktu yang cukup lama dia mulai sadar bahwa troli belanjaannya sudah penuh, jujur saja saat itu aku cukup kesulitan untuk mendorongnya menggunakan satu tangan karena beratnya semakin bertambah dan membuat aku harus mengeluarkan sedikit kekuatan lebih besar agar bisa mendoronganya dengan cepat, dan aku berusaha untuk mengambil salah satu bahan makanan yang berada diatas saat itu.
Aku yang pendek ini tidak bisa menggapainya sehingga membuat aku harus berjinjit dan mencoba untuk meraihnya saat itu, aku sedikit menggerutu kesal karena benda itu sulit sekali untuk aku gapai hingga aku terpaksa haru mencoba memanjat salah satu tak yang ada di bawah agar bisa sedikit lebih tinggi.
"Eughh ..sial siapa sih yang menaruh botol minyak setinggi itu, memangnya ibu-ibu sekarang semuanya tinggi apa?" Gerutuku merasa kesal saat itu.
Sampai tiba-tiba saja aku tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke belakang, aku benar-benar sudah pasrah menerima apapun yang akan terjadi dengan diriku, entah aku akan jatuh dan mengalami cedera tulang ataupun aku akan menabrak rak lain di belakang dan membuat aku bangkrut nantinya karena harus mengganti rugi, aku memejamkan mataku dan jatuh ke belakang begitu saja sampai tidak lama ternyata ada tuan Arsen yang tiba-tiba saja muncul entah darimana dan dia menangkap tubuhku yang hampir terjatuh saat itu.
"Aaahhhh.....tu..tu..tuan?" Ucapku merasa cukup kaget melihat raut wajahnya yang datar dan menangkap aku begitu saja.
Dia terlihat begitu santai dan datar di hadapanku, tanpa Anna ketahui sebenarnya sebelum itu dia sempat panik sebab melihat Anna yang mulai memanjat rak tersebut, dari kejauhan tuan Arsen yang melihat itu langsung berlari secepat yang dia bisa karena dia cemas Anna akan terjatuh hingga dugaannya memang benar saat dia tidak jauh dari tempat Anna berada, dia jatuh dan untungnya tuan Arsen masih sempat untuk menangkap tubuhnya, jika tidak mungkin Anna akan jatuh tergeletak di lantai.
"Heh...apa kau bodoh? Kenapa kau memanjat rak yang rapuh seperti ini, apa kau tahu bahwa kau akan jatuh dan memiliki dampak besar pada dirimu jika aku tidak sempat menangkapnya barusan?" Ucap tuan Arsen membentakku secara tiba-tiba.
Aku hanya bisa memandangnya dengan perasaan setengah bingung karena tidak tahu mengapa dia malah langsung memarahi aku dengan membentakku di hadapan umum seperti itu, bahkan ada banyak orang yang menatap ke arah kami.
"Aahhh... Kau ini benar-benar, apa kau baik-baik saja?" Ucapnya kepadaku.
__ADS_1
Dia sekejap marah dan sekarang terlihat mengkhawatirkan aku, dia benar-benar terlihat sangat aneh dan sulit di tebak dalam setiap saat aku hanya bisa terus menaikkan kedua alisku dengan kebingungan dan merasa sangat heran.
"Aku baik-baik saja tuan" balasku kepadanya dengan wajah kebingungan.