
Mendengar ucapan yang menenangkan seperti itu untuk pertama kalinya dan hal itu justru malah keluar dari mulut tuan Arsen, sungguh aku bisa merasa sangat tenang dengan cepat dan langsung saja mengangguk kepadanya dan aku tidak bisa membiarkan dia untuk melepaskan tangan dia dariku.
"Tu..tuan tolong jangan lepaskan tangku, aku mohon padamu," ucapku kepadanya saat itu dengan wajah yang benar-benar penuh ketakutan saat itu.
Tuan Antonio langsung menyuruh aku untuk menutup mataku saat itu dan dia terus saja meminta agar aku membayangkan hal-hal yang menyenangkan lainnya agar aku bisa menjadi lebih tenang lagi.
"Kalau kau tetap merasa takut, pejamkan saja matamu lalu bayangkan hal yang menyenangkan untukmu, jangan terus menatap pada bagian yang gelap, ayo tutup matamu sekarang kau hanya perlu merasakan genggaman tangan dariku saja apa kamu mengerti?" Ucap tuan Antonio tersenyum dan meyakinkan aku entah untuk yang kesekian kalinya lagi.
Aku langsung melakukan apa yang dia katakan, menutup mataku dengan cepat dan berusaha untuk menenangkan diriku sendiri saat itu, aku berusaha untuk membayangkan hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi dalam hidupku, aku terus saja merasa menjadi lebih baik ketika aku membayangkan dan mengingat momen ketika aku dan ibu berhasil membangu restoran itu sendiri, mengumpulkan uang dengan dia bersama-sama dan membangun sebuah restoran yang memang tidak besar tapi karena kami membangunnya berkat tenaga kami sendiri tanpa menggunakan bantuan siapapun sehingga kami merasa sangat puas karenanya.
"Tuan aku sudah tidak takut lagi, terimakasih sudah membantu aku untuk menjadi lebih berani lagi," ucapku kepadanya sambil membuka mataku lagi saat ini.
"Jika kamu sudah tidak takut lagi, tidak masalah, kita akan segera keluar dari sini," ujarnya kepadaku saat itu.
Meski biasanya aku sering melihat sosok tuan Antonio yang kasar, sinis dan jutek serta selalu membawa aura dingin di sekitarnya namun entah kenapa kali ini aku bisa merasakan dengan jelas bahwa dia terlihat begitu tenang dan lembut dalam menanggapi ucapan dariku, genggaman tangannya juga terasa jauh lebih meyakinkan padaku saat ini.
Aku merasa bersyukur karena setidaknya aku berada di alam lift yang sama dengannya, tidak bisa aku bayangkan lagi bagaimana jadinya jika sampai aku terjebak di dalam lift hanya seorang diri saja.
Sudah bisa di pastikan aku tidak akan bisa berpikir jernih dan mungkin sudah jatuh pingsan sejak awal lift ini berhenti.
Hingga tidak lama kemudian akhirnya lift kembali menyala, lampunya membuat aku silau dan tuan Antonio membantu aku menutupi cahaya lampu yang membuat mataku silau dengan tangannya sendiri.
"Aahhh..tuan terimakasih banyak," ucapku kepadanya.
Dan pintu lift langsung saja terbuka menampakkan sekretaris Mey yang langsung datang menghampiri aku dan memelukku dengan sangat erat saat itu, dia juga terlihat begitu panik padaku aku segera menenangkan dia yang malah menangisi aku karena mencemaskanku sedari tadi.
"Anna..aaahh sayangku apa kamu baik-baik saja? Anna maafkan aku aku terlambat, untung kamu masih selamat, apa kamu benar-benar tidak apa-apa?" Tanya sekretaris Mey yang sangat mencemaskan aku seperti itu.
Melihat bagaimana sekretaris Mey mencemaskan aku sampai seperti ini, dan dia bahkan tidak memperdulikan adanya tuan Arsen saat itu, dia terus memelukku dengan erat dan sibuk memeriksa tubuhku dengan seksama tanpa henti hingga dia benar-benar merasa bahwa aku sudah baik-baik saja dan aman saat itu.
"Aku baik-baik saja sekretaris Mey kamu tidak perlu mencemaskan aku terlalu berlebihan seperti ini, aku juga berterima kasih padamu karena kamu sudah datang di waktu yang tepat, terimakasih sekretaris Mey." Balasku kepadanya.
Dia kembali memelukku sampai tuan Arsen berdehem dan menyadarkan sekretaris Mey sampai dia langsung melepaskan pelukannya padaku dan dia segera mengusap air matanya yang tersisa di pipi cukup banyak saat itu.
"Ekhm...ekhm...," Suara tuan Arsen yang berdehem terus.
__ADS_1
"AA..aahhh..tuan maafkan saya, apakah anda juga baik-baik saja?" Tanya sekretaris Mey yang baru sadar bahwa bukan hanya aku saja yang terjebak di dalam lift tersebut namun tuan Arsen juga ada di dalam bersamaku.
"Aishhh..kau baru mencemaskan bosmu sekarang, sudah sana pergi kembali pada pekerjaan kalian masing-masing dan jangan sampai kesalahan pada lift seperti barusan terjadi lagi, kalian bisa saja melayangkan banyak nyawa jika hal itu terus terjadi di waktu yang tiba-tiba dan cukup lama untuk bantuan seperti sebelumnya, apa kalian mengerti hah!" Bentak tuan Arsen dengan keras.
Semua orang yang ada disana segera bergegas kabur dari sana kembali berlari kesana kemari untuk menghindari bentakkan dan tatapan tajam dari tuan Arsen saat itu.
Begitu pula dengan sekretaris Mey dan aku juga segera berpamitan kepada tua Arsen secepatnya, karena aku sudah harus pergi juga dari sana.
"AA.....AA..ahh..tuan terimakasih banyak atas bantuanmu sebelumnya, aku...aku pergi dulu dari sini, permisi." Ucapku sambil membungkuk kepadanya saat itu.
Aku benar-benar merasa sedikit berbeda dengannya saat ini entah kenapa jantungku terasa berdetak kencang ketika berhadapan dengan dia saat itu, jelas berbeda sekali dengan apa yang aku rasakan sebelumnya saat berhadapan dengan dia, karena sebelumnya aku sama sekali tidak pernah merasakan perasaan berbeda seperti ini, dan yang aku rasakan aku hanya memiliki perasaan seperti ini ketika berada di dekat David saja, namun kali ini di sampingnya aku tiba-tiba saja merasakan hal seperti itu.
Buru-buru aku pergi ke ruanganku dengan cepat dan segera duduk di kursi kerjaku hingga tidak lama aku tidak sengaja melihat sebuah surat yang ada diatas mejaku saat itu.
Aku merasa heran dan penasaran sehingga dengan cepat aku langsung mengambil surat tersebut dan mulai membukanya.
"Aaahh...ada apa dengan perasaanku ini, rasanya aku tidak pernah merasakan perasaan gugup dan aneh begini ketika di dekat tuan Arsen kenapa sekarang tiba-tiba saja begini, apa ini hanya karena aku baru saja syok sebelumnya? Aaahh iya palingan aku hanya syok saja karena terjebak di dalam lift terlalu lama sebelumnya," ucapku sambil terus saja berusaha mengatur nafas dengan sebisaku saat itu.
Sampai tidak sengaja aku melihat sebuah amplop di atas meja aku mulai mengambil amplop itu dan membukanya dengan segera.
Segera aku membukanya dan ketika membaca aku kaget melihat rupanya itu adalah surat izin dari Gisel dan saat aku membacanya lagi bukan surat izin tetapi memang dia izin selamanya yang artinya dia berhenti dari perusahaan ini dan tidak bekerja lagi denganku.
Aku sangat kaget ketika mengetahui hal itu dan tentu saja aku segera pergi mencari sekretaris Mey dengan cepat aku terus berteriak memanggil dia sambil berlari kecil mencari keberadaan sekretaris Mey saat itu.
"Sekretaris Mey.... Sekretaris Mey..dimana kau... sekretaris Mey..." Teriakku kepadanya saat itu.
Sampai dia tiba menghampiri aku dan mulai bertanya kepadaku saat itu juga.
"Eh ..Anna ada apa mencariku?" Tanya sekretaris Mey kepadaku lagi saat itu.
"Sekretaris Mey kenapa kamu tidak memberitahukan aku kalau ternyata Gisel berhenti dari perusahaan ini." Tanyaku kepada dia dengan wajah yang masih menatap kaget padanya saat itu juga.
Dia hanya membalas tatapanku dengan kebingungan dan menaikkan kedua alisnya saat itu, ditambah dia malah bertanya balik kepadaku yang dia pikir aku sudah mengetahui hal itu lebih dulu dibandingkan dengan dirinya sebab yang sekretaris Mey tahu bahwa Gisel sudah mengenal aku cukup lama, namun dia salah besar tentang hal itu, sebab meski sudah kenal lama kami tetap tidak sedekat yang dia pikirkan.
"Ehhh..bukannya kamu sudah mengetahuinya lebih dulu ya, aku pikir kamu sudah tahu Anna, dia kan temanmu sejak SMA tidak mungkin dia sendiri tidak memberitahu semua ini kepadamu sebelum dia pergi." ucap sekretaris Mey kepadaku.
__ADS_1
Aku sangat kaget mendengar itu darinya dan dengan cepat aku segera meminta data informasi dan CV dari Gisel karena aku harus tahu dimana dia tinggal saat ini dan alasan dia keluar dari pekerjaan yang dia kamar sendiri.
"Sekretaris Mey tolong kirimkan CV milik Gisel padaku aku mohon aku harus mencari dia karena dia sungguh tidak memberitahukan apapun kepadaku, aku hanya takut sesuatu terjadi dengannya," ucapku memohon kepada sekretaris Mey saat itu.
Namun sayangnya sekretaris Mey mengatakan bahwa dia tetap tidak bisa memberikan informasi masih itu kepadaku sebab setiap informasi milik karyawan dijaga dengan baik oleh staf yang mengurusi masalah perekrutan karyawan, bahkan sekretaris Mey juga tidak bisa memintanya sembarangan, harus ada alasan yang jelas agar dia bisa memintanya pada staf yang bersangkutan nantinya, jika alasannya hanya hal yang tidak ada urusannya dengan perusahaan seperti ini, tentu saja dia tidak bisa membantu Anna untuk hal seperti ini.
"Maafkan aku Anna tetapi aku tidak bisa membantu kamu kali ini, harus ada surat khusus dari tuan Arsen ataupun kami memiliki alasan yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan baru bisa meminta datanya, ini sudah peraturan yang berlaku di perusahaan ini, dan juga untuk menjaga privasi para karyawan disini dan menjaga data mereka dari retasan yang tidak bertanggung jawab nantinya," jelas sekretarias Mey kepadaku saat itu.
Aku menghembuskan nafas dengan lesu dan aku juga tahu bahwa apa yang dikatakan oleh sekretaris Mey memang bisa aku mengerti aku tahu dia juga berada dalam pilihan yang sulit saat ini, dia tidak bisa memilih salah satu dan tidak bisa terus memaksakan diri untuk meminta data orang lain secara sembarangan meski dia seorang sekretaris di perusahaan tersebut dan memiliki jabatan tinggi dengan menjadi sekretaris bagi tuan Arsen secara langsung, tapi dia tetap tidak bisa jika harus melanggar peraturan seperti itu, sebab sekretaris Mey juga pasti takut dengan hukumannya nanti.
Aku juga tidak bisa mendesak atau pun memaksanya karena semua ini memang sudah ketentuan yang berlaku di perusahaan tersebut.
Tapi walau aku tidak bisa mencaritahu tentang alamat tempat tinggal dan menemukan dimana keberadaan Gisel saat ini, aku tetap masih bisa menahan sekretaris Mey agar jangan dulu mencari pengganti Gisel.
Aku juga mulai memikirkan hal lain hingga aku teringat dengan sosok David yang saat ini sudah cukup dekat dengan Sela, mereka juga sering pulang bersama jadi aku pikir David pasti mengetahui tempat tinggal dari Gisel, jadi saat itu juga aku segera untuk menghubungi dia dengan cepat.
"Aahhh..baiklah aku mengerti posisimu sekretaris Mey, tapi setidaknya tolong bantu aku kali ini saja, tolong jangan mencari penggantinya dahulu, aku akan berusaha untuk mencari tahu keberadaan Gisel, kamu bisa membantu aku kan tentang hal ini," ucapku kepada sekretaris Mey meminta bantuan dan pengertian darinya.
Untungnya untuk hal seperti ini sekretaris Mey baru bisa menanganinya dan dia meyakinkan aku bahwa tidak akan mencari penggantinya terlebih dahulu sampai aku sendiri yang memintanya nanti.
"Iya aku bisa membantumu jika tentang hal itu, kamu tenang saja jika kamu membutuhkan asisten dengan mendesak aku akan melakukan yang terbaik untukmu juga," balas sekretaris Mey yang membuat aku merasa cukup tenang saat ini.
"Terimakasih banyak sekretaris Mey, kamu benar-benar yang terbaik aku sangat senang dan banyak bersyukur atas semua kebaikan yang kamu berikan padaku selama ini," balasku kepadanya saat itu.
Aku segera pergi dari sana dan mulai membuat surat izin keluar dari kantor tapi kebetulan sekali saat itu masuk jam makan siang jadi aku tidak perlu repot-repot untuk membuat surat izin lagi kepada tuan Arsen, aku segera menghubungi David dengan cepat.
Karena aku pikir dia pasti akan mengetahui mengenai menghilangnya Gisel secara tiba-tiba seperti ini, aku terus saja menelpon David beberapa kali sampai dia mengangkat panggilan dariku, dan dengan cepat aku membuat janji dengannya saat itu juga.
"David ayo kita ketemu aku akan menunggumu di cafe dekat bundaran," ucapku kepadanya di dalam panggilan telpon tersebut.
Setelah David menyetujuinya aku segera bergegas menghentikan taxi yang ada disana dan segera pergi ke tempat tujuan yang sudah aku sebutkan kepada David sebelumnya, aku benar-benar merasa sangat tida sabar dan entah kenapa sepanjang jalan aku terus mencemaskan Gisel dan tidak bisa merasa tenang sama sekali, padahal sebelumnya aku tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini dan mencemaskan seseorang seperti Gisel yang memang selalu bermusuhan denganku sejak lama hingga sekarang ini.
Tentu semua ini cukup membuat aku panik bahkan saat sampai di cafe aku langsung saja berteriak memanggil David dan duduk di satu meja yang sama dengannya saat itu juga, aku tidak banyak berbasa basi lagi padanya dan langsung saja menanyakan mengenai keberadaan Gisel saat ini.
"David dimana Gisel sekarang? Aku tahu kamu pasti mengetahui tempat dia tinggal bukan?" Ucapku menanyakan keberadaanya saat ini.
__ADS_1
Namun ada hal yang mencurigakan dari tatapan dan reaksi yang diperlihatkan oleh David padaku saat itu, dia terlihat gugup dan canggung dia benar-benar sama sekali tidak terlihat seperti David yang biasanya dan aku hanya bisa terus mengerutkan kedua alis menunggu dia untuk segera menjawab pertanyaan dariku.