
Aku terus saja tersenyum aneh dan berusaha untuk berpikir mencari alasan yang tepat agar bisa menyembunyikan rahasia ini darinya karena aku tidak ingin tuan Arsen mengetahui bahwa nyatanya tanganku masih di perban.
"Ya...ampun apa lagi yang harus aku katakan kepadanya, apa dia akan percaya jika aku membuat alasan aneh" batinku terus memikirkan dengan bingung,
"Kenapa kau malah diam? Ayo cepat jawab!" Ucapnya kepadaku dengan kedua alis yang dia kerutkan.
Terlihat dengan jelas bahwa saat itu dia tengah menyelidik kepadaku dan wajahnya terlihat sangat serius sekali, aku juga merasa sangat aneh kepadanya, sebab dia bahkan lebih mementingkan masalah luka di tanganku itu di bandingkan sahabat baikku David.
"AA....a..anu...itu tuan tanganku sudah baik-baik saja kok, kamu tidak tidak perlu memikirkan hal tersebut, aku masih bisa bekerja apalagi sekarang sudah ada sekretaris baru, ahaha....sangat mudah untuk aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat iya...begitu tuan Arsen" balasku kepadanya yang memang sedikit terdengar aneh.
Jangankan tuan Arsen aku sendiri saja merasa aneh dengan apa yang sebenarnya aku katakan barusan, aku seperti berbicara tidak jelas dan tidak menentu kepadanya, tapi bodohnya walau sudah tahu begitu aku masih saja berharap tuan Arsen bisa mempercayai omong kosong yang aku katakan kepadanya.
"Kalau begitu tunjukkan padaku, ayo kemari aku ingin melihatnya" balas tuan Arsen membuat aku cukup kaget dan refleks langsung membuka mataku dengan lebar.
"Hah....AA..apa? Kau ingin melihat tanganku ya? Aaaa...aahh...tuan sebaiknya aku pergi saja sekretaris Gisel dia belum aku beritahu banyak hal takutnya dia tidak mengerti pekerjaan yang harus di kerjakan, aku harus membimbing dia segera" ucapku mencari alasan untuk bisa kabur dan membebaskan diri darinya.
Namun sayangnya aku lupa dengan siapa aku berhadapan saat ini, tuan Arsen sama sekali tidak dapat aku hindari dan semua keputusan yang dia katakan sama sekali tidak bisa di ubah, dia langsung memanggil namaku dengan keras dan terdengar begitu mendominasi, hingga aku yang tadinya hendak berbalik, langsung saja menjadi berdiri mematung dan kembali harus menatap kepadanya dengan sorot mata yang cemas.
"Anna....apa kau tidak mau mendengarkan hah!" Ucap tuan Arsen padaku,
"Ehehe....bukan begitu tapi itu sekretaris Gisel membutuhkanmu" balasku tetap saja berusaha dan tidak mau kalah degannya.
"Tunjukkan kepadaku atau aku akan membuatmu libur selamanya dari pekerjaan ini!" Ancam diam membuat aku langsung membelalakkan mata dengan lebar.
Aku tidak mengerti bagaimana bisa dia mengatakan ancaman seperti itu kepadaku, benar-benar sangat menyebalkan dan aku sangat membencinya saat itu juga.
Aku tidak mengerti bagaimana cara untuk menghentikannya, rasanya semua ini benar-benar sudah terlambat dan tidak ada jalan lain lagi untuk aku menghindar, bahkan kini tuan Arsen sudah bangkit berdiri dan dia mulai berjalan menghampiri aku dengan perlahan, juga tatapan matanya yang cukup menyeramkan untukku.
Perlahan aku mulai berjalan Munduk melangkahkan kakiku menjauh darinya sedikit demi sedikit dan tuan Arsen terus saja mendesak aku hingga dia berhasil meraih tanganku dan langsung saja dia bisa mengetahui semuanya dan aku benar-benar ketahuan sudah berbohong kepadanya.
"Aaahhhh....tuan....itu aku bisa menjelaskannya kau jangan marah dan banyak menduga-duga hal lain ya" ucapku berusaha untuk menenangkan dia.
Dan berharap agar dia tidak akan marah kepadaku saat itu, dia terus menatapku dengan tangannya yang memegangi pergelangan tanganku saat itu, tidak tahu lagi ekspresi apa yang aku berikan kepadanya saat itu, hanya saja aku benar-benar merasa kebingungan dan tidak mengerti dengan diriku sendiri mengapa aku harus menjelaskan semua ini kepadanya.
Dia bukan orang tuaku, bukan saudaraku ataupun kekasih dan teman bagiku dia hanya seorang bos yang seharusnya tidak berperilaku berlebihan seperti ini kepada karyawan biasa sepertiku.
"Bukankah kau bilang luka di tanganmu sudah membaik dan perbannya sudah bisa di lepas hari ini, lalu apa yang aku lihat sekarang apa kau tidak ingin menjelaskannya padaku hah?" Balas tuan Arsen bertanya kepadaku.
__ADS_1
"Tuan ....tapi untuk apa aku menjelaskannya padamu, memangnya kau ini siapa, seharusnya sebagai bos kau merasa senang memiliki karyawan rajin sepertiku dan seharusnya izin cuti dan libur bekerja dia ajukan oleh aku jika aku memerlukannya tetapi kau malah memberikannya begitu saja tanpa aku minta terlebih liburnya cukup banyak, apa kau tidak rugi, ada denganmu padaku kenapa aku merasa kau berbeda dalam memperlakukan aku?" Tanyaku membalasnya dengan semua keanehan yang aku rasakan.
Dengan cepat tiba-tiba saja tuan Arsen melepaskan tanganku dan aku segera menarik tanganku kembali, juga menyembunyikan semua itu darinya, tuan Arsen terlihat sedikit menahan amarah di dalam hatinya dan dia memegangi dagunya sendiri.
"Aish..... Kau ini benar-benar tidak tahu terimakasih dan apa itu bersyukur, harusnya kau senang dan bersyukur karena memiliki bos sebaik aku, dan apa tadi kau bilang? Kau merasa aku memperlakukanmu berbeda ya? Ahahah....itu hanya perasaanmu saja, aku bersikap yang sama seperti ini kepada sekretaris Mey, dan seluruh karyawan yang setiap hari bekerja cukup dekat denganku, apa yang kau pikirkan, sudah sana pergi terserah kau jika memang tetap ingin bekerja dengan kondisi tangan seperti itu, jika sampai kau melakukan kesalahan dan membuat alasan karena masalah tanganmu itu, aku tidak akan mengampuni mu!" Ucap tuan Arsen terlihat cukup marah kepadaku.
Bahkan dia terlihat berkacak pinggang dan mengeratkan giginya dengan kuat saat itu, aku benar-benar sedikit merinding ketika melihat wajahnya saat marah seperti itu, namun aku sedikit merasa senang juga sehingga langsung saja aku pergi dari ruangan tuan Arsen dengan cepat, sebelum tuan Arsen semakin menjadi-jadi kepadaku.
"AA ...AA..ahh...iya kalau begitu aku akan pergi, permisi tuan" balasku kepadanya.
Setelah keluar dari ruangannya baru saja aku bisa melepaskan semua emosi dan kekesalan yang tertahan di dalam hatiku yang sudah aku pendam selama ini, aku benar-benar sangat stress dibuatnya, rasanya ingin berteriak dengan sekencang yang aku bisa dan mencabik-cabik muka menyebalkan ya itu dengan sekuat tenagaku.
"Arghhhhhkkkk... benar-benar bos yang menjengkelkan bagaimana aku malah memiliki bos sepertinya, lihat saja nanti setelah kontrak kerja satu tahun ini selesai aku akan langsung keluar dari sini dan terus membangun restoran serta bisnis sendiri sehingga aku tidak perlu lagi bekerja di tempat manusia menjengkelkan itu!" Bentakku berteriak dengan kencang membuang semua energi negatif di dalam diriku saat itu.
Aku segera pergi dengan menghentakkan kaki dan penuh emosi masuk ke dalam ruang kerjaku dan terus saja menggerutu dengan kesal seterusnya.
"Dasar manusia sialan, bagaimana bisa dia bicara seperti itu...CK apa katanya dia memperlakukan semua karyawannya dengan baik haha...lucu baik darimananya yang ada dia terus mengekang semua orang agar patuh kepada perintahnya dan dia terus saja memuji dirinya sendiri dengan sepuas yang dia lakukan, selalu mudah marah dan terus saja menjengkelkan, aishh.....menyebalkan!" Gerutuku terus merasa sangat kesal dan penuh emosi.
Hingga kekesalan itu membuat aku lupa akan satu hal, bahwa di dalam ruanganku sudah bukan sekretaris Mey lagi yang menempati kursi di ujung sana tepat berhadapan dengan meja kerjaku, melainkan Gisel yang sama menjengkelkannya dengan tuan Arsen, bahkan dia lebih menakutkan lagi.
Saat aku menggerutu kesal seperti tadi, dia langsung saja berjalan menghampiri aku dengan cepat dan dia langsung berbicara kepadaku dengan wajahnya yang selalu terlihat cerah tersebut.
Mendengar dia berbicara seperti itu, rasanya aku ingin mencakar wajah dia dengan sekaligus dan mendorongnya sekuat tenaga agar tidak mendekati aku lagi dan bisa menjauh secepatnya, karena dia hanya membuat kepalaku semakin pusing dan ruwet.
"Aishhh.....kau ini kenapa sih, bisa tidak kamu jangan mengganggu aku, dan semua yang kamu katakan adalah kebenaran bukan hanya rumor itulah kenapa aku datang dengan kesal kau malah menambah kekesalan dalam diriku, ohhh astaga kepalaku akan pecah huhu" ucapku sambil memegangi kepalaku dengan perasaan yang sakit dan tidak menentu saat itu.
"Eummm maafkan aku tapi Anna....aku ada sesuatu yang mau di bicarakan denganmu, dan ini adalah masalah yang sangat penting dan menjadi alasan aku kembali ke kota ini" ucap Gisel kepadaku.
Aku langsung melirik ke arahnya dengan menaikkan kedua alisku dan menatapnya dengan penuh keheranan karena dia terlihat cukup gugup sambil tersenyum kecil ketika hendak bertanya padaku saat itu.
Semua gerak geriknya membuat aku merasa sangat curiga terhadap dia, dan sejak lama aku sudah tidak bisa mempercayai orang seperti dia lagi, bahkan jika dia sudah berubah sekalipun, aku pun terus saja menatapnya dengan menyipitkan mataku kepadanya.
"Apa yang mau kau tanyakan kepadaku, cepat katakan aku sibuk sekarang" ucapku sambil kembali fokus menatap ke depan komputernya saat itu,
"Begini...apakah kamu dan David sudah bersama disaat aku tidak ada?" Tanya dia kepadaku yang membuat aku seketika terdiam mematung.
Mendengar dia kembali bertanya tentang David membuat aku kembali merasakan luka lama yang kembali terbuka di dalam hatiku, aku sangat benci dan terus menahan kekesalan di dalam hatiku ketika mendengar Gisel menanyakan tentang hubungan aku dengan David saat ini.
__ADS_1
"Anna....ada apa denganmu? Apa jangan-jangan kalian sudah menikah ya atau sudah bertunangan?" Tanya dia lagi kepadaku.
Aku tidak tahu sama sekali apa maksud dia sebenarnya mendekati aku dan malah memilih bekerja denganku, lalu sekarang malah menanyakan masalah David lagi kepadaku, dia seperti bayang-bayang yang sangat menyebalkan dalam hidupku dan hubungan antara aku dan David, aku benci karena aku terus saja tidak bisa menghindari dirinya dalam setiap waktu.
Aku mencoba menarik nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan untuk menguatkan diriku sendiri dan segera berbalik menatap ke arah Gisel dengan memasang wajah yang sangat serius saat itu juga.
"Gisel kau tahu sejak dulu David menyukai aku dan aku menyukainya, kenapa kau masih menanyakan dia kepadaku, apa kamu masih menyukainya dan apakah alasan kamu datang ke kota ini juga sengaja bekerja denganku hanya untuk menanyakan David, dan mencari tahu tentang dia lagi kepadaku, iya?" Tanyaku dengan serius kepadanya,
"Maafkan aku Anna...tapi aku benar-benar menyukai David sejak dulu, hanya dia yang baik kepadaku dan hanya dia pria yang aku sukai, sebelumnya aku menghilang karena aku menyerah sebab aku tahu David akan memilihmu selalu di bandingkan aku, namun selama bertahun-tahun di luar negeri tinggal seorag diri dan kesepian, aku tidak memiliki siapapun disana jadi aku memutuskan untuk kembali dan aku mendapatkan informasi mengenai David dan kau, aku melihat kamu di televisi mengikuti lomba memasak da menjadi Chef yang luar biasa, aku juga melihat kamu di kelilingi orang-orang hebat yang mendukungmu dalam lomba itu, jadi aku pikir kamu sudah tidak bersama dengan David lagi, makanya aku memutuskan kembali ke sini, jika kau sudah dengan David aku akan benar-benar menyerah Anna, tapi jika ternyata kamu dan David tidak bersama aku harap kamu bisa mendukungku, aku sangat mencintai dia lebih besar daripada cintamu kepadanya" ucap Gisel kepadaku seakan dia yang paling mengetahui rasa dalam hatiku terhadap David.
"Gisel apa yang kamu katakan, seakan kamu paling mengetahui isi hatiku, aku dan David memang masih belum berhubungan karena aku dan dia terus bersahabat seperti ini, itu juga karenamu, apa kau tidak berpikir seperti itu?" Balasku kepadanya.
Cukup lama Gisel terdiam saat mendapatkan jawab dariku saat itu hingga tidak lama dia kembali mengangkat kepalanya dan bicara lagi dengan penuh percaya diri kepadaku.
"Anna..aku sudah memberikan banyak waktu kepadamu agar kamu mengutarakan isi hatimu pada David, agar kalian bersama ketika aku tidak ada, tapi apa yang terjadi kamu dan David tetap tidak bersama, bukankah itu sudah membuktikan bahwa kalian hanya bisa menjadi seorang sahabat saja? Tanyakan lagi pada dirimu sendiri Anna apakah kamu sungguh mencintai David sebagai pasangan atau kau hanya nyaman dengannya karena dia bersama di sampingmu sejak kecil" ucap Gisel membuat aku langsung terdiam.
Setelah mendengarkan ucapan dari Gisel barusan aku mulai tersadar, bahwa apa yang Gisel katakan memang benar, jika memang David benar-benar berjodoh deganku dan dia sungguh mencintai aku, seharusnya dia mengatakan semuanya dan mengajak aku untuk berhubungan dengan yang lebih serius disaat Gisel tidak ada.
Namun nyatanya dia masih tetap tidak menyatakan perasaan kepadaku, dan aku merasa mungkin selama ini aku yang bodoh karena terus berharap lebih kepadanya.
"Baiklah Gisel aku mengerti apa yang kamu mau dan apa yang kamu maksudkan, jika kamu benar-benar mencintai David, maka kejarlah dia tapi aku tidak bisa memastikan apakah dia akan mencintai kamu balik atau tidak, semua tergantung denganmu aku hanya akan bersaing secara adik denganmu, kamu bisa mendekatinya dan mengejar dia lagi seperti yang selalu kamu lakukan dahulu, tapi sekarang aku tidak akan bersaing denganmu seperti dulu, aku akan diam saja" balasku kepadanya.
Gisel terlihat sangat senang dan dia langsung memeluk aku dengan sangat erat termasuk mengucapkan terimakasih kepadaku, padahal aku sangat berat untuk mengatakan kalimat itu, kesedihan dan luka di masa lalu akan aku alami lagi saat ini, sungguh aku sangat membencinya, bukan pada Gisel tapi pada rasa sakit dan kenangan yang buruk itu, aku sangat membencinya.
"Terimakasih banyak Anna...kamu memang sahabat terbaikku aku sangat menyayangimu, mulai sekarang kita akan bersaing dengan adil, aku akan mengejar David dan kamu juga bisa melakukannya, siapapun yang akan mendapatkan David nantinya kita tidak boleh bertengkar dan harus menjadi ikhlas bagaimana?" Ucap Gisel mengajak aku bersalaman saat itu.
Melihat dia mengulurkan tangan seperti itu aku enggan sekali untuk menerimanya namun dengan cepat Gisel langsung saja menarik tanganku dan dia sendiri yang menyentuh tanganku hingga seakan dia berjabat tangan padaku saat itu.
Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapi semuanya sedangkan dia terlihat sangat senang dan begitu bahagia, aku benar-benar merasa sangat sakit.
Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan semuanya sudah terjadi aku merasa memang semua ini takdir yang harus aku hadapi sekarang, tidak perduli kedepannya akan seperti apa, aku hanya bisa menerimanya dengan pasrah.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan segera kembali bekerja, kau diam saja aku akan menyelesaikan semua salinan datanya" ucap Gisel yang seketika menjadi sangat baik dan rajin padaku.
Sedangkan aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan terus tertunduk merasa sangat buruk saat itu, hingga tidak lama bunyi notifikasi di ponselku terdengar dan yang aku lihat rupanya itu pesan dari David dan dia baru saja mengatakan bahwa dia akan menjemput aku, aku bahkan tidak mau membalasnya lagi dan hanya membaca pesannya saja sekilas.
"Anna ...tunggulah aku di depan kantormu, aku akan menjemputmu nanti" isi pesan dari David dengan emoticon senyum yang lebar.
__ADS_1
"Huft....dia masih bisa mengirim emoticon seperti itu di saat tadi pagi dia tidak datang untuk mengantarkanku, dia selalu sulit menepati janjinya, rasanya David benar-benar sudah berubah sejak hadirnya Gisel diantara aku dan dia atau memang dia yang tidak benar-benar menyukai aku" gerutuku sambil menutup ponselku secepatnya.