
"Maaf tuan mungkin aku buta di matamu dengan bagaimana cara pandang aku mengenai sahabat kecilku, tetapi dia hanya melakukan hal fatal sekali ini meski itu sangat menyakitkan untukku tetapi semua nya juga percuma, jika aku membencinya juga tetap tidak akan merubah apapun," balasku kepada tuan Arsen.
"Aaahhh..ya sudah kalau kau memutuskan untuk seperti itu seharusnya kau juga jangan memikirkannya lagi, lupakan saja dia, masih banyak pria di dunia ini kau tidak akan kehabisan pria baik." Ucap tuan Arsen kepadaku.
Aku hanya bisa menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil saja karena bagiku tuan Arsen marah dengan wajahnya yang cukup lucu dia juga malah ikut emosi dengan nasib yang aku terima padahal seharusnya dia tidak harus sampai ikut emosi seperti itu kepadaku lagi pula, yang sakit dan yang merasakan semuanya juga hanya aku sendiri seharusnya dia tidak ikut campur sampai sejauh ini kepadaku.
Tuan Arsen yang melihat aku tersenyum kecil sambil memandangi dia dalam beberapa saat, rupanya dia mungkin sedikit tidak nyaman dengan tatapan yang aku berikan kepadanya sampai dia langsung saja membentak aku lagi dan menyuruh aku untuk berhenti memalingkan pandanganku padanya saat itu.
"Heh...kenapa kau terus tersenyum begitu, apa kau menertawakan aku ya?" Ucap tuan Arsen saat itu.
"Tidak..aku hanya merasa kamu sangat baik tuan Arsen," balasku kepadanya.
"Kenapa kau berkata begitu, semua orang tahu aku selalu memutuskan semua hal seorang diri dan aku di kenal dengan orang yang paling egois di kantor, kenapa kau bisa berpikir aku orang baik? Dasar konyol." Ucap tuan Arsen kepadaku.
"Mungkin orang lain hanya belum pernah merasakan kebaikan darimu jadi mereka tidak tahu, dan itu bukan berarti kamu jahat, kamu juga mbuat keputusan sesuai dengan sudut pandang yang benar, karena kamu bos nya kamu yang paling tahu apapun untuk kebaikan perusahaan, dan itu juga hal yang baik untuk para karyawan lainnya, jadi tidak ada salahnya kamu membuat keputusan sendiri bukan?" Ujarku kepadanya menjelaskan.
Tuan Arsen tiba-tiba saja langsung memalingkan pandangannya dariku dan berdehem kecil seperti sedikit gugup saat itu dan dia malah memalingkan pembicaraan dengan pembahasan yang lain saat itu.
"Aaa...ekhmm... sudahlah, terserah kau saja, aku akan segera tiba di rumahku sebentar lagi," ucap tuan Arsen kepadaku saat itu.
Padahal meski dia berusaha keras menyembunyikan rasa gugupnya di dalam hati sekuat apapun aku tetap saja bisa mengetahui dan bisa melihat dengan jelas rasa gugup yang begitu besar dalam diri tuan Arsen saat itu, terlebih wajahnya sangat menggambarkan dengan jelas bagai dia gugup sampai matanya saja terlihat menatap dengan ragu-ragu.
Tapi aku tidak bisa menggoda dia di dalam mobil sebab aku takut dia menjadi tidak fokus dalam menyetir dan resikonya adalah sebuah hal yang sangat besar jadi aku hanya bisa ikut memalingkan pandangan ke arah yang lain sambil terus saja menahan tawa seorang diri karena melihat wajah tuan Arsen yang gugup dan terlihat cukup lucu sekali saat itu.
"Fffttt...dia sangat lucu sekali saat gugup begitu, seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan makanan," gerutuku pelan saat itu.
Hingga sesampainya di depan resto aku segera masuk ke dalam dan berpamitan sambil melambaikan tangan kepada tuan Arsen aku juga mengucapkan terima kasih kepadanya dengan membungkuk untuk menghormatinya.
Dan tanpa aku sadari rupanya di balik pintu restoran yang sudah tutup itu ternyata ada ibu yang mengintip aku dengan Mika secara diam-diam saat itu, bahkan ketika aku berbalik dan membuka pintu restorang mereka terlihat kaget dan refleks langsung berlari tidak jelas kesana kemari berpura-pura menyibukkan diri mereka sendiri.
"Aihhh? Ibu....Mika ayolah kalian jangan berpura-pura sibuk seperti itu lagi, aku tahu kalian mengintip aku dan menguping pembicaraan aku dengan tuan Arsen kan?" Ucapku kepada mereka berdua.
Yang langsung saja membuat Ibu juga Mika langsung menatap kembali ke arahku sambil menunjukkan sebuah senyum kecil dan terlihat agak malu dengan perbuatan yang mereka lakukan sebelumnya yang sama sekali tidak mencerminkan sosok mereka yang sudah dewasa dan tidak pantas melakukan hal seperti tadi.
"Eheheh...maafkan kami Anna..ibu dan Mika hanya penasaran saja," ucap ibu kepadaku.
Dan aku hanya bisa membalasnya dengan mrnghembuskan nafas pelan dan segera saja pergi dari sana untuk beristirahat secepatnya.
"Aahh..sudahlah aku juga tidak mau mempermasalahkannya, aku mau istirahat dulu, jalan juga cepatlah beristirahat, kalian juga lelah bukan?" Ucapku kepada ibu dan Mika sambil segera pergi dari sana secepatnya.
Aku langsung pergi masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar secepatnya, aku masih belum menyangka aku adalah orang yang menyatukan David dengan Gisel padahak sebelumnya aku sangat menyukai David dan aku membenci Gisel, seharusnya aku memang tidak melakukan kebaikan pada orang yang sudah menyakiti aku dan mengkhianati aku dari belakang.
Tapi aku tidak bisa membalas mereka dengan kejahatan juga dan saat itu aku langsung menidurkan diriku ke ranjang dengan harapan semoga besok aku sudah bisa melupakan semua masalah yang pernah aku hadapi ini, dan akan memulai hidup baru yang jauh lebih baik dan tidak akan mengingat semua hal tentang David ataupun Gisel.
__ADS_1
"Huaa...ayo kita tidur dan lupakan semua masalah hari ini lalu bersiap memulai hidup baru ke esokan paginya," gerutuku bicara sendiri membuat janji dengan diriku sendiri dan mulai merebahkan tubuhku ke belakang dengan segera.
Aku menarik selimut hangat milikku dan langsung menutup mataku dan tertidur dengan lelap hanya dalam beberapa menit saja saat itu.
Sedangkan disisi lain saat tuan Arsen sampai di rumahnya dia justru malah di sambut oleh kedua sahabatnya yang ternyata sudah berada di kota ini di beberapa hari yang lalu namun mereka baru saja bisa mengunjungi tuan Arsen karena terlalu di sibukkan dengan urusannya sendiri sebelumnya.
"Haiii.....Arsen....hallo..." Teriak Alena yang langsung berlari menghampiri tuan Arsen dan memeluk dia dengan erat begitu saja.
Tuan Arsen sendiri mengerutkan kedua alisnya karena dia merasa kaget saat dia baru keluar dari mobilnya sudah ada dua sahabatnya di depan rumah di tambah Alena yang langsung memeluknya dengan cara seperti itu di hadapan Viko yang juga sahabat tuan Arsen juga saat itu.
Alena memang sudah terbiasa begitu dekat dengan kedua sahabat laki-lakinya tapi diam-diam di belakang tuan Arsen sebenarnya dia sudah berpacaran lama dengan Ciko hanya tuan Arsen saja yang tidak mengetahui hal itu karena dahulu tuan Arsen pernah menyukai Alena bahkan sangat menyukai dia sampai tuan Arsen tidak bisa tertarik dengan wanita manapun lagi, sehingga saat ini pun Alena masih berpikir bahwa tuan Arsen masih tetap memiliki perasaan yang sama kepada dirinya, dan sangat menyukai dia seperti sebelumnya.
Namun semua itu jelas sangat salah sebab saat ini orang yang disukai oleh tuan Arsen sudah bukan dirinya lagi tetapi Anna wanita yang sudah berhasil merebut hati tuan Arsen seutuhnya tersebut sekaligus membuat tuan Arsen berhasil benar-benar melupakan Alena sepenuhnya, walau sebenarnya sejak lama sebelum Anna hadir di kehidupannya tuan Arsen sudah melupakan Alena sejak lama karena dia tidak ingin berebut wanita dengan Viko sahabatnya sendiri.
Jadi ketika Alena memeluk dia seperti itu kali ini dengan cepat tuan Arsen langsung saja mendorong tubuh Alena ke belakang untuk menjauh darinya dengan cepat, karena dia menghargai perasaan dari Viko sahabatnya tersebut yang ada disana juga saat itu.
"Lepaskan, kau ini selalu saja memeluk orang lain seenaknya apa kau tidak pikir bahkan memeluk orang lain sembarangan begitu tidak sopan!" Ucap tuan Arsen bicara dengan tegas kepada Alena.
Sampai membuat Alena menatap dengan mengerutkan kedua alisnya dan merasa sangat heran sekali dengan perubahan yang ada pada diri tuan Arsen saat ini, padahal sebelumnya jelas sekali dia tahu bahwa tuan Arsen tidak pernah menolak pelukan atau hal apapun yang dia lakukan kepada dirinya, bahkan saat dia pergi untuk menemani lombanya Anna di luar negeri sebelumnya saat bertemu dengan dia, tuan Arsen masih mau menerima pelukan darinya dan masih menuruti dia sama seperti biasanya, namun kali ini tiba-tiba saja berubah bahkan meninggalkan dia begitu saja dan bicara dengan sangat tegas kepadanya, tentu hal itu membuat Alena kebingungan dan dia mulai terlihat kesal saat itu.
"Eehh...Arsen ada apa denganmu? Arsen tunggu aku kenapa kau meninggalkan aku begini?" Teriak Alena sambil segera masuk ke dalam dengan cepat.
Sedangkan Ciko merasa senang karena tuan Arsen sudah mulai bisa menghargai perasaannya kali ini meski sebelumnya Viko sendiri tidak pernah mengatakan apapun keberatannya kepada tuan Arsen setiap kali wanita yang sudah menjadi miliknya itu memeluk tuan Arsen lebih dulu, kecuali jika tuan Arsen lah yang memulainya barulah Viko akan marah besar jika sampai itu terjadi.
Mau tidak mau Alena segera menuruti ucapan Viko dan dia segera ikut masuk ke dalam meski dengan wajah yang cemberut dan di tekuk dengan kuat dan kusut saat itu, karena dia masih cukup kelas atas perlakuan Arsen yang diberikan kepada dia sebelumnya, tapi Alena tahu dia tetap harus masuk ke dalam rumah sebab ini sudah cukup larut malam sekali dan niat mereka juga untuk mengunjungi tuan Arsen tidak bisa di batalkan begitu saja saat mereka jelas sudah berada di depan rumahnya saat itu.
Hingga setelah masuk ke dalam tuan Arsen yang tengah menuangkan air mineral dia kembali di dekati oleh Alena dan dia masih ingin memastikan alasan mengapa tuan Arsen seperti mengabaikan dia sejak di luar sebelumnya.
"Arsen bisakah kamu ambilkan aku minum juga? Aku haus," ucap Alena kepadanya.
"Ini ambil saja sendiri kau punya tangan kan?" Balas tuan Arsen yang justru malah memberikan gelas kosong yang baru kepada Alena saat itu.
Hal tersebut semakin saja membuat Alena kesal terlebih lagi tuan Arsen langsung pergi ke sofa menghampiri Viko yang tengah duduk disana sambil memegangi remote televisi dan tengah memilih siaran yang cocok untuk dia tonton saat itu.
Tuan Arsen masih bersikap sama kepada Viko dan dia bahkan langsung merangkul pundak Viko dengan ramah dan bersikap asik seperti biasanya namun kepada Alena dia justru malah bersikap acuh tak acuh seperti sebelumnya sehingga membuat Alena yang melihat sikap tuan Arsen berubah dia semakin penasaran dan merasa sangat aneh kepada tuan Arsen saat itu.
Bahkan dia yang sebelumnya ingin mengambil air menjadi tidak jadi karena dia sudah terlanjur kesal lebih dulu sehingga tidak ada lagi keinginan untuk mengambil minum dan langsung pergi duduk di samping Viko dan bermanja dengannya berniat untuk membuat tuan Arsen cemburu kepadanya saat itu.
"Aishh..kenapa sih Arsen berubah begini padaku? Apa dia marah deganku? Perasaan aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun pada dia sebelumnya?" Batin Alena yang terus saja memikirkan dan kebingungan sendiri saat itu.
Dia segera berjalan cepat dan duduk di samping Viko sambil memeluk tangan Viko dan dengan sengaja dia terus menyandarkan kepalanya pada dada bidang Viko saat itu.
"Viko aku mau duduk di dekatmu, jangan mengganggu atau mengusirku seperti orang itu, aku sangat sebal sekali dengannya," ucap Alena sambil menatap tajam pada tuan Arsen saat itu.
__ADS_1
Dan hanya di tanggapi dengan sebuah senyuman oleh Viko sambil dia segera mengusap lembut kepala Alena saat itu.
"Iya..iya..aku tidak akan seperti itu sayang," ucap Viko keceplosan di depan tuan Arsen sehingga membuat Alena sangat kaget dan membelalakkan matanya, begitu pula dengan Arsen yang juga baru tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan saat itu.
Mereka langsung terlihat sangat panik sendiri dan Alrna langsung saja berusaha untuk menjelaskan semua itu kepada tuan Arsen padahal saat itu tuan Arsen sama sekali tidak perduli lagi dengan mereka berdua.
"AA..aaa..ahhh..Arsen tadi itu tidak seperti yang kamu dengan, belakangan ini Viko memang sering memanggil aku dengan sebutan itu untuk menggoda aku saja, kau jangan sampai salah paham ya pada kamu?" Ucap Alena dengan wajahnya yang cukup panik saat itu.
"Heh...apa yang perlu di salah pahami? Sejak lama aku sudah tahu kau dan Viko sudah berhubungan, aku hanya pura-pura tidak tahu saja agar kalian tenang, jadi sekarang baguslah kalian tidak perlu menyembunyikan hubungan kalian lagi dariku dan aku juga tidak perlu berpura-pura tidak tahu, imbas kan?" Balas tuan Arsen menjawabnya dengan sangat santai saat itu.
Viko dan Alena langsung saja menatap dengan kedua mata yang mereka bulatkan pada tuan Arsen karena mereka tidak menduga bahwa tuan Arsen bisa menerima semua itu dengan begitu santai dan begitu mudahnya mengatakan bahwa dia sudah tahu sejak lama tentang hubungan dia dengan Alena padahal dia sendiri sama sekali tidak pernah mengatakan mengenai hal ini kepada tuan Arsen sedikitpun selama ini.
"Arsen apa kau yakin kau tidak marah kepadaku dan Viko? Atau apakah sikap kamu yang dingin padaku saat ini karena kamu sudah lebih dulu mengetahui mengenai hubunganku dengan Viko ya?" Ucap Alena terus saja bertanya-tanya kepada tuan Arsen saat itu.
"Arsen aku tidak bermaksud mengkhianati dirimu tapi aku dan Alena saling mencintai, aku tidak mungkin memberikan dia pada pria lain sekalipun itu dirimu, kau tahu itu bukan?" Tambah Viko kepada tuan Arsen saat itu.
Wajah mereka berdua terlihat begitu tegang sekali dan tuan Arsen justru malah tertawa melihat wajah panik mereka berdua saat itu hingga dia terus saja tertawa dengan begitu lepas sampai membuat Viko dan Alena menggelengkan kepala mereka merasa heran dan tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan tuan Arsen saat itu karena dia malah tertawa disaat mereka berdua merasa sangat tegang dan takut seperti saat ini.
"Hah?...hahaha..aishh wajah kalian berdua ini kenapa? Hahahah...konyol sekali kenapa kalian harus tegang dan syok seperti itu, santai saja dong haha," ucap tuan Arsen di sela-sela tawanya yang menggelegar saat itu.
"Hei...Arsen apa kau sudah gila ya? Kenapa kau malah tertawa selepas itu, bukannya kau juga menyukai Alena ya? Apa kau tidak kesal denganku atau apa kau tidak kesal melihat aku dan Alena sudah bersama sekarang?" Tanya Viko kepada tuan Arsen saat itu dengan mengerutkan kedua alisnya dengan kuat.
"Ya...tentu saja..aku biasa saja, dan satu yang harus kalian dengan saat ini, aku masih waras dan aku tidak gila hanya saja sejak kalian berdua memutuskan untuk meninggalkan aku sendiri di kota ini, aku sudah tahu apa yang akan kalian lakukan tanpa adanya aku, aku sudah sejak lama tidak menyukai Alena lagi jadi kau bisa memilikinya seutuhnya seorang diri!" Ucap tuan Arsen sambil menepuk sebelah pundak sahabatnya Viko saat itu.
Alena menatap dengan penuh kekesalan dan dia tidak bisa menerima semua itu, dia tidak mau tuan Arsen tidak menyukai dia lagi karena dia juga menyukai tuan Arsen jadi tentu saja Alena sangat tidak terima, sedangkan Viko justru tersenyum dengan lebar, dia sangat senang sekali mendengar ucapan dari tuan Arsen sampai mereka berdua langsung saja berpelukannya dengan gagah dan saling menepuk punggung masing-masing saat itu dengan cukup keras satu sama lain.
"Hah..benarkah?" Ucap Viko memastikannya lebih dulu saat itu.
"Ya tentu saja untuk apa aku berbohong denganmu, bagiku sekarang Alena hanya seorang teman kecil biasa saja," balas tuan Arsen mengatakannya lagi sambil mengangguk begitu yakin kepada Viko.
"Uaa.... terimakasih banyak Arsen kau memang sahabat terbaikku, aku sangat merasa beruntung sekali memiliki sahabat sebaik dirimu," ucap Viko sambil memeluk tuan Arsen lebih dulu dan dia menepuk pundaknya terus menerus saat itu dengan maco.
Sedangkan disisi lain Alena tentu saja terlihat sangat kesal dan penuh dengan emosi saat itu, dia terus memasang wajah yang cemberut kepada Viko dan tuan Arsen sampai dia langsung saja melepaskan pelukan mereka berdua dengan kasar saat itu juga.
"Eughh...apa yang kalian lakukan sih, lepas...ayo lepas untuk apa kalian terlihat begitu senang karena Viko tidak menyukai aku lagi?" Bentak Alena dengan kesal saat itu.
Viko dan tuan Arsen langsung menatap ke arahnya dengan perasaan yang heran hingga tuan Arsen mulai berbicara dengannya lebih dulu saat itu.
"Heh..Alena bukankah kau juga menyukai Viko, selama ini kau tidak pernah menyukai aku dan tidak pernah menerima aku untuk apa kau merasa kesal seperti itu?" Tanya tuan Arsen kepadanya.
"Terserah kau saja, ayo Viko kita pergi dari sini dia bukan Arsen yang aku kenal lagi, kau sudah berubah sekarang." Ucap Alena sambil menarik tangan Viko dan membawanya pergi dari sana dengan cepat.
Tuan Arsen sendiri terus saja menatap kepergian Alena dan Viko dengan perasaan yang bingung dan dia terus mengerutkan kedua alisnya dan merasa sangat heran dengan apa yang terjadi pada Alena saat itu karena dia terlihat marah tidak jelas seperti itu kepadanya.
__ADS_1
"Aishh..ada apa dengannya? Kenapa dia harus marah denganku? Apa masalahnya, harusnya dia senang aku sudah tidak mengejar dia lagi dan dengan begitu tidak akan ada lagi penghalang untuk mereka bersama dan menjalani hubungan dengan terang-terangan bukan?" Gerutu tuan Antonio memikirkan.