LUKA

LUKA
Penasaran


__ADS_3

Aku tidak tahu harus menghadapi tuan Arsen seperti apa sekarang karena dia terlihat menatapku dengan mengerutkan kedua alisnya juga salah satu tangan yang dia simpan di pinggangnya bak seperti orang yang cukup kesal denganku, padahal aku rasa aku tidak melakukan hal yang bisa membuatnya kesal sedikit pun, tidak tahu apa yang dia rasakan sebenarnya saat itu hingga terlihat cukup kesal dan gemas ketika melihat wajahku bahkan dia terdengar berdecak kesal dalam sesaat.


"Aishhh...kenapa kau malah berada di tempat seperti ini, dan membawa banyak sekali belanjaan apa kau pikir aku memberikan cuti sakit kepadamu agar kau bisa berbelanja seperti ini, hah?" Ucap tuan Arsen kembali menaikkan nada bicaranya.


Aku hanya bisa tertunduk tanpa bisa melawan sedikitpun karena aku tahu apa yang aku lakukan saat ini memang buruk dan tidak baik, seharusnya aku memang berada di rumah dan diam saja hingga cuti sakitku selesai atau setidaknya hingga tanganku sudah menjadi lebih baik, tetapi aku tidak bisa terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun, aku tidak biasa melakukan semua itu dan aku sungguh orang yang aktif tidak bisa jika hanya di suruh diam saja, itu sangat membosankan untuk diriku sendiri.


"Tu..tuan..aku minta maaf, aku tahu ini tidak seharusnya terjadi tapi aku..." Ucapku yang tidak sampai selesai karena tuan Arsen langsung saja memotong ucapanku dengan cepat, juga wajahnya yang terlihat tidak ingin mendengarkan alasan dariku lagi.


"Aaahhh..sudahlah minggir kau aku akan mengantarkanmu kembali ke rumah dan aku akan mengatakan kepada ibumu jika kau harus terus diam hingga tanganmu sembuh" ucap tuan Arsen sambil segera mendorong troli belanjaan miliknya saat itu.


"Tuan tolong jangan lakukan itu, biarkan saja aku membawanya aku .asih bisa melakukan semua ini, tidak perlu merepotkan dirimu" ucapku berusaha menahannya saat itu.


Sayangnya aku tetap tidak bisa menahan dirinya karena tuan Arsen terus saja menghempaskan tanganku yang saat itu memegangi pegangan pada troli belanjaan milikku, dia masih tetap berusaha melakukan semuanya sendiri dan melarang aku untuk melakukannya.


"Heh...apa tanganku itu sudah sembuh? Jika kau masih merasa sakit di tanganmu, jadi lebih baik kau diam saja, apa kau mengerti hah!" balas tuan Arsen yang cukup keras membentakku.


Aku sungguh merasa sedikit tidak enak karena melihat tuan Arsen yang memindahkan barang belanjaannya ke dalam satu troli denganku lalu dia segera pergi mengantri dengan yang lainnya dan harus memisahkan barang belanjaan miliknya juga belanjaan milikku yang memang cukup banyak saat itu.


Dia membawa semua belanjaanku sambil terus menyuruh aku untuk pergi lebih dulu ke mobilnya, padahal aku merasa tidak enak hati padanya dan ingin membantu dia membawakan barang belanjaanku yang dia bawa saat itu.


"Tuan...sini aku bantu untuk membawakan sebagian belanjaanku" ucapku kepadanya menawarkan bantuan.


Namun dia justru malah melemparkan tatapan tajam kepadaku, dia cukup mengerikan dengan wajah dinginnya yang sangat datar dan seakan menyeruak ke dalam tubuhku membuat aku merinding takut ketika melihatnya saat itu.


"Kau akan pergi atau aku akan membuang semua belanjaanku ini" ancam tuan Arsen kepadaku.


"I..i..iya tuan" balasku sangat gugup saat itu.


Aku langsung menelan salivaku sendiri dengan susah payah karena takut mendengar ancaman juga tatapan tajam darinya saat itu.


Sehingga mau tidak mau aku hanya bisa menuruti dia saja saat ini, segera aku pergi ke samping mobilnya dan dengan cepat membantu tuan Arsen membukakan bagasi mobil saat itu hingga dia memasukkan semua belanjaan itu ke dalam dan kembi membentak aku untuk menyuruhku segera masuk ke dalam mobilnya.


"Apa yang kau lihat, cepat masuk!" Ucapnya membuatku sedikit kaget karena saat itu aku termenung cukup lama di sampingnya melihat dia memasukkan semua belanjaan yang cukup banyak seorang diri.


"Apa yang harus aku katakan kepadanya, dia tidak bicara lagi denganku, aaahhh ini cukup menyiksaku karena suasananya sangat canggung dan tegang, aku tidak bisa duduk dengan rileks" batinku merasa resah sendiri.

__ADS_1


Di dalam mobil aku merasa cukup canggung dan tidak tahu harus melakukan apa kepadanya, ingin berterimakasih juga tidak tahu bagaimana cara mengatakannya karena hal tersebut terasa cukup umum untuk aku ucapkan kepadanya dalam keadaan seperti ini, sebab ucapan terimakasih saja pasti tidak cukup untuk membayar semua kebaikannya kepadaku selama ini.


Hingga aku memberanikan diri untuk mengajaknya mentraktir makan sebagai ucapan terimakasih atas bantuan yang sudah dia berikan kepadaku dan semua kebaikan yang selalu dia berikan meski terkadang dia sering menyebalkan dan membuat aku sangat kesal hingga kelimpungan, namun melihat kebaikan dia yang lebih banyak aku sendiri yang kini merasa malu dan tidak enak hati dengannya, karena merasa seperti memiliki sebuah hutang budi yang cukup besar atas kebaikan dia padaku.


Sementara aku sendiri belum bisa membalas sedikitpun kebaikan yang dia berikan selama ini, dan itu terlampau banyak hingga tidak tahu bagaimana aku akan membalas kebaikan dia kepadaku suatu hari nanti.


"Eumm...tuan...apa kau..." Ucapku tidak sampai karena dering ponsel tuan Arsen membuat dia langsung memotong ucapanku dan dia meminta bantuan padaku untuk mengangkatnya panggilan telpon yang masuk ke dalam ponselnya saat itu.


"Drrrtttt... drrrtttt....." Suara dering ponsel milik tuan Arsen saat itu.


"Hey...cepat angkat panggilan itu dan tempelkan ponselnya di samping telingaku" ucap tuan Arsen kepadaku memerintah.


Aku segera mengangguk dan menjawabnya dengan sedikit gugup sambil segera mengambil ponsel tuan Arsen yang berada di dalam rak mobil depan saat itu.


"AA..AA..ahhh..iya baiklah tuan" balasku kepadanya dengan segera.


"Kak Alena? Ada apa dia menghubungi tuan Arsen" batinku bertanya-tanya.


Saat aku melihatnya ternyata itu panggilan dari kak Alena, ya itu panggilan dari kak Alena yang merupakan model terkenal yang pernah aku temui saat di luar negeri sebelumnya bukan kak Alena rekan bisnisnya David, mereka memiliki nama yang sama namun mungkin kepanjangan mereka berbeda.


Aku segera mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponsel tersebut dengan sedikit ragu pada samping telinga tuan Arsen saat itu, tanganku juga sedikit bergetar ketika menempelkan ponsel itu ke samping telinganya.


"Ah..benarkah? Haha...itu bagus sekali aku tidak sabar untuk melihatnya, baiklah-baiklah kau terus saja lanjutkan pekerjaanmu" balas tuan Arsen lagi hingga panggilan selesai.


Aku memalingkan pandangan ke arah lain karena aku tidak ingin menguping pembicaraan diantara kak Alena itu dengan tuan Arsen sedikitpun, aku sama sekali tidak perduli dengan apa yang tengah mereka bicarakan dan tuan Arsen terlihat cukup senang ketika sudah membalas panggilan dari kak Alena.


Karena melihat wajah tuan Arsen yang terlihat cukup senang juga terlihat cerah setelah mendapatkan panggilan telpon dari kak Alena, itu cukup mengganggu pikiranku dan membuat aku sedikit kepo juga mulai merasa penasaran dengan apa yang yang sudah mereka bicarakan sebelumnya hingga membuat seorang tuan Arsen bisa tersenyum lebar seperti itu.


Aku pun memberanikan diri untuk menanyakannya secara langsung kepada tuan Arsen karena tidak bisa menahan diri sama sekali atas kepenasaranan yang ada di dalam hatiku saat itu.


"Ekmm...tuan kenapa kau terlihat sangat senang setelah mendapatkan panggilan dari kak Alena, memangnya apa yang baru saja dia katakan?" Tanyaku kepadanya.


Seketika tuan Arsen langsung saja menoleh ke arahku sekilas dan dengan cepat aku memalingkan pandangan untuk menghindari tatapan darinya karena aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku tengah penasaran dan gugup ketika menanyakan hal itu kepadanya, apalagi tuan Arsen terlihat terus tersenyum seperti itu.


"Hey...apa kau sangat ingin tahu, aku bisa memberitahumu apa yang Alena katakan padaku jika kau ingin mengetahuinya" ucap tuan Arsen kepadaku saat itu.

__ADS_1


Aku sebenarnya sangat ingin tahu, tetapi aku cukup gengsi untuk mengatakannya secara gamblang jadi saat itu aku menolak dia untuk mengatakannya dan dia ingin mengakui bahwa aku sangat penasaran sekali dengan hal tersebut, aku juga tidak ingin membuatnya merasa bahwa aku terlalu perduli atau sangat kepo dengan urusannya, jadi aku lebih memilih untuk diam saja dan mengurungkan dirimu untuk menanyakannya lagi.


"AA..AA..aahh...aku tidak terlalu perduli jika tuan tidak mau memberitahuku, lagi pula itu tidak ada hubungannya denganku, jadi aku sama sekali tidak keberatan meski tidak mengetahuinya" balasku dengan wajah yang terus menatap ke depan menghindari tatapan darinya saat itu.


Tuan Arsen sendiri terlihat tersenyum kecil dan dia sangat senang mihat Anna seperti penasaran dengan apa yang baru saja dia bicarakan dengan Alena.


"Hey....darimana kau bisa menyimpulkan jika itu tidak ada hubungannya denganmu, justru Alena membicarakanmu" balas tuan Arsen membuat aku kehilangan kendali dan langsung saja menoleh ke arahnya dengan membelalakkan mataku.


Saking kagetnya aku lupa jika saat itu aku tengah berpura-pura tidak perduli tetapi aku gagal melakukannya dan langsung bertanya dengan antusias kepada tuan Arsen secara tidak sabar untuk bisa mengetahui semuanya.


"Aahh...benarkah? Apa dia membicarakan tentangku, apa yang kak Alena katakan apa dia merindukan aku, atau dia ingin bertemu denganku?" Tanyaku sangat antusias saat itu.


"Tidak...dia sama sekali tidak merindukanmu dia sangat sibuk dan memiliki banyak projects iklan juga beberapa pemotretan yang sangat padat mana mungkin dia memiliki waktu untuk memikirkan orang tidak penting sepertimu, jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti kau jatuh tidak akan tertolong rasa sakitnya" balas tuan Arsen yang benar-benar membuat aku sangat kesal.


Aku langsung saja kembali menatap tanpa ekspresi dan cukup kesal saat mendengar jawaban darinya, dan aku merasa dia sudah mempermainkan aku dan membohongiku saat itu, namun ternyata memang kak Alena mengatakan sesuatu tentangku kepada tuan Arsen.


"Apa kau membohongi aku ya, kau sangat pandai mengerjai karyawan teladanmu tuan" balasku kepadanya dengan wajah yang cemberut di penuhi kekesalan namun aku tidak bisa melawan sama sekali kepadanya, meski rasa kesalku teramat sangat besar dan sudah menguap di dalam hatiku.


Sedangkan tuan Arsen sendiri malah terlihat tertawa cekikikan sendiri dia terlihat sangat puas karena sudah membohongi aku dan mengerjai aku saat itu, aku benar-benar ingin menghajar dia dan menyesal sudah menuruti dia untuk ikut masuk ke dalam mobil bersama dengannya padahal aku masih bisa untuk pergi menggunakan taxi seorang diri karena sebelumnya aku pergi berbelanja juga seorang diri.


Benar-benar sangat menjengkelkan sekali dan aku tidak suka melihat wajah dia yang terlihat senang menertawakan aku seperti itu terus menerus tanpa henti.


"Ahahah....Anna...Anna, kau ini memang sangat mudah sekali untuk di kerjai dasar konyol" ucap tuan Arsen yang terus menertawakan aku dengan puas.


"Terus...terus saja tuan menertawakan aku, aku sama sekali tidak keberatan bahkan jika mau terus menertawakan aku di setiap saat hingga aku akan berhenti bekerja padamu" balasku sengaja mengancamnya.


Aku pikir dia akan takut jika aku mengancamnya dengan cara seperti itu, namun rupanya aku memang salah perhitungan dan salah besar, aku tidak melihat dahulu siapa lawanku sebenarnya saat ini, dan dia bukan David yang akan memilih aku daripada apapun di dunia ini, aku menyesal mengatakan ancaman itu kepadanya.


"Silahkan saja jika kau mau berhenti, lagi pula mudah untukku mencari seseorang pengganti dirimu" balas tuan Arsen dengan santainya.


Tuan Arsen sengaja mengatakan hal tersebut karena dia tidak ingin membuat Anna besar kepala dan mengancam dia dengan hal murahan seperti itu, meski pada kenyataannya apa yang di katakan oleh Anna barusan cukup mengagetkan jiwanya dan membuat dia merasa cukup cemas.


Sebab wajah chief dari perusahaannya saat ini adalah Anna semua orang sudah mengetahui hal itu dan iklan yang sudah mereka jalankan sudah di tayangkan di seluruh televisi dalam negeri bahkan ada juga yang sampai hingga ke luar negeri dan itu memberikan banyak pemasukkan yang fantastis sejak Anna masuk ke dalam kantor meiliknya, sehingga hal tersebut yang menjadikan Arsen tidak ingin kehilangan seseorang yang ahli seperti ya sebab cukup sulit juga mencari seseorang yang bisa memasak sejak kecil dan sudah hebat seperti Anna ini, di tambah dia juga bisa syuting dan melakukan semua dengan sendirian tidak terlalu bergantung kepada sekretarisnya atau pun dirinya yang biasa sekali mendapatkan banyak pertanyaan dari koki sebelumnya.


Disisi lain aku yang mendengar tuan Arsen begitu santainya berbicara seperti itu seakan dia sama sekali tidak membutuhkan aku dan akan membiarkan aku pergi begitu saja disaat suatu saat nanti aku memilih berhenti bekerja kepadanya dan dengan orang seperti dia.

__ADS_1


"Hah... bagaimana bisa dia mengatakan semua itu, jika aku tidak benar-benar berharga bagi perusahaan yang dia pimpin, kenapa juga dia harus membuat sepanduk dan banner yang banyak dengan wajahnya yang di gunakan sebagai banner iklan yang sangat besar itu, bahkan dia tempel di berbagai tempat, bak seperti sangat mendukung aku" gerutuku cukup kesal.


Namun kali ini aku mendengar hal itu dari tuan Arsen secara langsung, tentu saja aku mempercayai ucapannya dan aku mengakui memang aku tidak sepandai dan tidak seberbakat yang lainnya, aku juga terus merasa insecure kepada sekretaris Mey sendiri yang selalu terlihat cocok dan memiliki vibes positif yang luar biasa.


__ADS_2