
"Eh...eh..eh...Anna ayolah jangan seperti itu, kau sudah kacau begini saja masih tidak ingin berbagi denganku, ayo ceritakan atau aku tidak akan membiarkanmu istirahat malam ini" ancam sekretaris Mey kepadaku.
Aku menarik nafas dengan dalam dan berusaha untuk menenangkan diriku sendiri saat itu, meski sangat berat untukku bercerita mengenai hal yang telah aku lewati sebelumnya tetapi tidak ada cara lain untuk membungkam mulut sekretaris Mey agar dia tidak banyak bertanya lagi dan mengganggu diriku yang sudah sangat tidak tahan ingin tertidur malam ini.
"Baiklah aku akan menceritakannya tetapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan menertawakan aku jika aku bercerita apa kau mengerti?" Ucapku memperingati dia terlebih dahulu.
Sampai akhirnya sekretaris Mey mengangguk dan sudah berjanji denganku, barulah aku berani menceritakan semua kejadiannya itu, dari awal hingga akhir.
Aku menghembuskan nafas dengan lesu dan begitu berat saat itu lalu aku mulai membuka selimut yang menutupi badanku saat itu dan sekretaris Mey yang sudah tidak sabar untuk mendengar cerita dariku saat itu.
"Ayolah Anna tolong lebih cepat lagi, aku sudah sangat tidak sabar untuk mendengarkan cerita darimu itu, ayo cepat katakan aku sudah sangat siap untuk mendengarnya" ujar sekretaris Mey yang begitu antusias untuk mendengarkan cerita yang akan aku bagi padanya saat ini.
Aku pun mulai mengatakannya, mengatakan semua kejadian dimana aku harus masuk menerobos ke dalam kamar tuan Arsen dengan tanpa rasa malu sedikitpun dan memakai kamar mandinya tanpa izin hingga akan mendapatkan hukuman yang sampai sekarang aku sama sekali tidak mengetahui hukuman seperti apa yang akan aku dapatkan dari dia sebenarnya, ini sangat membuat pikiranku terganggu dan membuat diriku begitu malu untuk kembali berhadapan lagi dengan dia nantinya.
Sekretaris Mey sendiri justru malah terlihat menutup mulutnya dengan rapat padahal aku tahu jelas bahwa saat itu dia menahan tawa dengan sekuat tenaganya hanya karena dia sudah berjanji dengan aku sebelumnya, aku sungguh tidak bisa mihat dia yang terus menahan tawa seperti itu sampai aku pun mengijinkan dia untuk tertawa sepuasnya saat itu, lagi pula memang semuanya sudah aku ceritakan dan sudah terjadi, meski dia tidak tertawa di hadapanku saat ini aku juga yakin dia pasti akan tertawa di belakangku dan itu memang pasti akan terjadi.
"Aishhh .. sudahlah jangan menahan tawa seperti itu lagi, kau kalau mau menertawkan aku tertawakan sepuasnya aku tidak perduli" ucapku kepadanya sambil mendorong dia agar pergi dari ranjangku saat itu.
Setelah mendengar ucapanku barusan sekretaris Mey bukannya merasa bersalah atau mencoba meminta maaf kepadaku dia justru malah langsung saja tertawa dengan begitu keras membuat aku sangat kesal dengan kelakuannya tersebut yang benar-benar tidak menghargai aku sebagai atasannya di tempat kerja.
"Huahahaha....kau sangat konyol sekali, aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana wajahmu dan wajah tuan Arsen yang pasti akan sangat kesal karena kau menggunakan kamar mandi di kamar dia seenaknya saat itu, ahahaha....untung saja dia tidak sampai memecatmu, jika hal itu dilakukan olehku atau karyawan lainnya aku yakin tuan Arsen pasti sudah memecatnya saat itu juga" balas sekretaris Mey kepadaku.
"Aishhh..sudahlah aku tidak.ingin membahasnya lagi kau juga cepat minggir dari ranjangku sana pergi kau mengganggu aku untuk istirahat saja" balasku yang sudah sangat malu dan tidak sanggup lagi untuk membahas hal paling memalukan seumur hidupku seperti itu.
Sekretaris Mey tetap saja tertawa dengan puas bahkan di saat dia sudah pergi ke ranjangnya dan sudah membaringkan tubuhnya saat itu, akunyang tidak senang mendengar gelak tawa sekretaris Mey yang jelas menertawakan aku sedari tadi, langsung saja aku membalikkan badan membelakangi dirinya dan menutup telingaku dengan bantal agar tidak bisa mendengar gelegaran tawanya tersebut yang selalu membuat aku kesal dan mengingat dengan kejadian sangat memalukan tersebut.
__ADS_1
Sayangnya disaat aku sudah berbalik bahkan aku sudah menutup telingaku dengan bantal yang besar suara tawa cekikikan sekretaris Mey masih saja bisa aku dengar saat itu hingga aku mulai merasa jengkel di buatnya juga tidak bisa menahan diri lagi kepadanya kala itu.
Aku langsung saja kembali bangkit terduduk dan melemparkan bantal yang aku pegang tepat mengenai wajah sekretaris Mey dan aku langsung saja membentak dia sedikit menyuruhnya untuk diam.
"Buk....diam kau, sudah cukup menertawakan aku, ini saatnya tidur kau bisa melanjutkan tawamu yang sangat padaku, padahal kau sudah berjanji padaku untuk tidak menertawakan aku bahkan semua ini juga terjadi karena ulahmu yang bermain licik denganku aishhh kau sangat membuat aku marah dan kesal sekretaris Mey!" Ucapku kepadanya dengan wajah yang sangat serius.
Dan sekretaris Mey yang langsung berhenti tertawa dia hanya menatap ke arahku dengan wajahnya yang terlihat kebingungan dan mungkin dia mulai merasa bersalah setelah aku sudah marah besar dan berbicara dengan sangat serius seperti itu kepadanya.
Aku sudah tidak bisa menahan emosi di dalam diriku lagi sebab aku rasa saat itu sekretaris Mey benar-benar sudah di luar batas.
Makanya aku berani berbicara lantang padanya dan memarahi dia seperti itu, lagi pula aku pikir meski usianya lebih tua dariku tetapi bukan berarti dia bisa menertawakn aku dengan sepuas itu, seakan semua kejadian memalukan yang aku alami adalah sebuah lelucon yang menghibur bagi dirinya, sedang aku yang menerima semuanya harus merasakan rasa malu yang tidak bisa aku gambarkan juga menerima hukuman sebab dari terjadinya hal tersebut yang seharusnya tidak aku alami karena saat itu aku menang suit dan memang aku seharusnya yang memakai toilet di kamarku sendiri lebih dulu.
Lagi pula setelah aku pikir lagi, kamar itu milikku dan sekretaris Mey hanya menumpang disana sebab dia menjadi pendampingku, tetapi seakan aku sendiri tidak memiliki ke bebaskan untuk menggunakan kamar itu beserta semua fasilitas yang di berikan oleh tuan Arsen untukku.
Aku memang meminta sekretaris Mey agar bicara santai saja dengan aku karena aku ingin menjadi lebih dekat dan mau memulai hubungan pertemanan yang baik dengan nya, namun ternyata dia memang bukan orang yang tepat karena justru malah semakin berani bersikap begitu santai bahkan tidak memandang aku seperti atasannya sedikitpun, dia juga berani mendesak aku sekan dia benar-benar orang yang sudah dekat denganku, padahal kita hanyalah sebuah rekan kerja biasa saja dan seharusnya dia bisa menghargai aku apapun keadaannya dan apapun alasan yang akan dia bicarakan untuk melindungi dirinya sendiri nanti.
Aku langsung saja tertidur setelah berbicara seperti itu kepada sekretaris Mey, sedangkan dia hanya menatap dengan heran kepadaku saat itu, sampai dia berjalan mendekati aku lagi hingga duduk kembali di samping ranjangku dan dia berbicara meminta maaf kepadaku dengan suara intonasi nadanya yang cukup baik saat itu.
"Eummm..Anna aku minta maaf aku sama sekali tidak bermaksud untuk menertawakan kamu sampai membuat dirimu kesal seperti ini, aku sungguh merasa bersalah padamu, tolong maafkan aku ya" ucap sekretaris Mey sambil memegangi kakiku saat itu.
Aku semakin menaikkan selimut dan terus saja memejamkan mataku.
Aku masih belum bisa memberikan dia maaf jika dia sama sekali belum mendapatkan pelajaran sesungguh dari kejadian ini, dan aku tidak ingin memaafkan dia dengan mudah seperti itu sedangkan karena nya aku harus menerima hukuman yang kapan saja bisa di ucapankan dan di minta oleh tuan Arsen kepadaku sedang nanti aku tidak akan pernah bisa menolaknya sedikit pun.
"Anna..ayolah aku tahu kau tidak tidur tolong katakan sesuatu kepadaku, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang jika kau seperti ini padaku" tambah sekretaris Mey lagi kepadaku dan dia terlihat terus membujukku tanpa menyerah.
__ADS_1
"Sekretaris Mey sudahlah aku kan sudah bilang padamu jika aku baik-baik saja, aku juga tidak perduli meski kau menertawakan dirimu sepanjang hari atau selamanya, aku ingin tidur sekarang dan sebaiknya kau tidur juga karena besok masih harus bangun pagi" balasku kepadanya dan langsung tertidur dengan cepat, masih bisa aku dengar saat itu ketika sekretaris Mey seperti menghembuskan nafas dengan berat dan dia segera pergi ke ranjangnya kembali kemudian pergi tidur menyusulku saat itu.
"Huuuuhh...baiklah aku akan kembali dan tidur tapi aku harap kau tidak akan mendiami aku seperti ini lebih lama aku akan merasa sangat bersalah kepadamu dan kita akan canggung aku tidak mau itu terjadi diantara kita Anna, karena aku sangat merasa nyaman bersamamu kau teman dan partner kerja yang baik untuk pertama kali aku temui selama aku bekerja di perusahaan tuan Arsen bertahun-tahun lamanya" ucap sekretaris Mey sambil segera bangkit dan langsung kembali ke ranjangnya saat itu juga.
Saat dia mengatakan semua itu aku masih belum benar-benar tidur dan jelas sekali aku mendengar apa yang dia ucapankan saat itu, aku juga memahami apa yang dia rasakan namun seharusnya dia tidak melakukan hal seperti tadi jika memang benar-benar menganggap aku sebagai rekan dan teman terbaik pertama bagi dirinya.
Dia juga tidak seharusnya bersikap keras kepala dan selalu mendesak aku juga berbuat licik padaku dalam segala hal, bahkan hanya perkara sebuah kamar mandi saja dia memperebutkan itu denganku dan berbuat tidak adil, padahal saat itu aku benar-benar sudah sangat tidak tahan dan seharusnya dia memberikan aku kesempatan untuk memakainya lebih dulu, karena aku tidak akan masuk di dalam dan menggunakan kamar mandi dalam waktu yang lama sebab aku sungguh hanya akan membuang air kecil saja tetapi dia tetap saja tidak memberikan aku kesempatan, dan malah dengan mudahnya menyuruh aku untuk pergi memakai kamar mandi orang lain.
Dimana tidak ada kamar mandi lain lagi yang bisa aku gunakan di sebuah villa terbatas seperti itu, meski memang bangunan villa nya cukup besar tetapi juga ada banyak orang yang tinggal dan menempatinya sehingga tentu saja semua kamar yang ada disana di isi oleh para kru dan orang perusahaan lainnya, yang jelas sekali mereka kebanyakan seorang pria bahkan tidak ada kru wanita kecuali yang bertugas untuk merias wajahku saja dan dia juga tentu menggunakan kamar mandi miliknya yang ada di dalam kamarnya di sore hari setelah selesai latihan syuting sebelumnya hingga aku tidak bisa meminjam kamar mandinya.
Sampai pada akhirnya aku harus mengalami hal yang sangat memalukan seperti ini dan hal seperti itu sungguh sulit untuk aku terima dan aku lupakan meski aku tahu semua itu memang kesalahan diriku, hal yang sudah aku perbuat dan tidak ada hubungannya dengan sekretaris Mey mengapa aku memilih kamar mandi tuan Arsen yang harus aku pakai saat itu, tetapi aku pikir lagi jika seandainya sekretaris Mey tidak bersikap licik padaku, mungkin aku juga tidak akan terjebak dalam situasi yang mendesak seperti itu sampai memaksa diriku harus melakukannya dan seperti mempermalukan diriku sendiri.
"Tidur sejenak dan besok aku akan bangun dengan diriku yang baru dan melupakan semua kejadian menyebalkan dan sangat memalukan ini" gerutuku pelan sambil langsung saja menutup kembali mataku juga mulai tertidur dengan lelap secepatnya saat itu.
Ku pikir hanya dengan tidurlah yang bisa menetralkan emosiku dan membuat aku melupakan semuanya sehingga aku bisa melewati semua rasa kesal yang begitu membekas di dalam diriku saat ini.
Dan tidur memanglah obat paling ampuh dari segala macam penyakit termasuk penyakit kesal sepertimu saat ini.
Sampai ke esokan paginya di saat kami semua sarapan aku dan sekretaris Mey sama sekali tidak saling menegur sampai hal tersebut membuat semua orang terlihat menatap ke arah aku dan sekretaris Mey beberapa saat hingga tuan Arsen sendiri menanyakan mengenai hal tersebut.
"Heh...ada apa dengan kalian, kenapa kalian tidak saling bicara satu sama lain apa kalian bertengkar ya?" Ucap tuan Arsen kepadaku saat itu.
Aku langsung menjawabnya dengan menggelengkan kepada cepat kepadanya dan membalasnya juga dengan begitu yakin bahwa memang tidak ada yang terjadi diantara aku dan sekretaris Mey aku tahu dia sangat takut dengan tuan Arsen sehingga tentu harus aku yang menjawabnya.
"Tidak...kami tidak bertengkar, aku hanya sedang tidak ingin banyak bicara saja" balasku kepadanya dengan mengeluarkan alasan terbaikku agar mereka tidak menanyakan mengenai hal tersebut lagi.
__ADS_1
Kini tatapan tuan Arsen mulai beralih kepada sekretaris Mey yang seakan-akan saat itu dia tengah mengintrogasi kami berdua dan menyidiki kebenaran dari jawaban yang aku berikan kepadanya saat itu.
"Sekretaris Mey aku hanya mempercayai dirimu dari sekian banyaknya orang disini karena mau sudah bekerja dalam waktu yang begitu lama juga di bandingkan dengan yang lainnya jadi tolong jawab dengan jujur apakah yang di ucapkan oleh Anna benar?" Tanya tuan Arsen begitu serius menatap tajam dengan menyipitkan matanya seperti menyelidiki sekretaris Mey saat itu.