
Sedangkan di perjalanan saat itu Alena terus saja menggerutu kesal kepada Viko karena dia masih tidak bisa terima atas sikap tuan Arsen yang dia rasa tiba-tiba saja berubah kepada dirinya saat itu.
"Viko ada apa sih dengan temanmu itu, kenapa dia bisa tiba-tiba tidak menyukai aku seperti ini? Dia sudah menyukai aku sejak aku kecil dan kalian berdua selalu ada untukku kenapa sekarang dia malah bersikap dingin dan cuek begitu padaku?" Gerutu Alena dengan wajahnya yang terus cemberut.
Viko hanya tersenyum kecil menanggapi gerutuan dari Alena dan dia segera saja berusaha untuk menenangkan Alena dan mencoba menghibur dia saat itu juga.
"Alena sayang, Arsen bukannya tidak peduli denganmu lagi tapi dia sekarang hanya sudah tidak mencintai kamu sebagai pasangan lagi tapi walau begitu kenapa juga kamu harus sedih? Bukannya kamu hanya menyukai aku? Kamu hanya perlu fokus denganku saja jangan memperdulikan Arsen lagi, oke." Ucap Viko kepada Alena.
Yang pada akhirnya berhasil membuat Alena kembali tersenyum lebar dan dia sudah tidak sekesal sebelumnya lagi.
"Eumm baiklah asalkan kamu ada di sampingku aku tidak perduli apapun tapi kamu harus janji padaku kamu tidak boleh berubah seperti Arsen aku akan sangat sedih jika kamu berubah menjadi seperti dia." Balas Alena bersikap manja dengannya.
"Tenang saja, aku akan selalu di sampingmu, aku sangat menyayangimu Alena aku tidak mungkin meninggalkan kamu, ataupun mengabaikan kamu sama seperti yang Arsen lakukan sebelumnya, itu tidak akan terjadi," ucap Viko sambil mengusap lembut kepala Alena untuk meyakinkan pacar kesayangannya itu.
Sampai ke esokan paginya tuan Arsen pergi bekerja lagi seperti biasa dan Viko juga Alena ikut ke kantor dengannya, meski Alena sudah merasa tidak terlalu perduli di abaikan oleh tuan Arsen namun tetap saja dia masih merasa kesal jika tuan Arsen bahkan tidak menoleh saat dia sudah memanggilnya beberapa kali saat itu.
"Arsen....hei...Arsen...Arseennn. Apa kau budek ya? Aku sudah memanggilmu berkali kali kenapa kau tidak berhenti dan tidak menoleh sedikitpun ke belakang?" Ucap Alena sambil memegangi tangan tuan Arsen dengan erat.
Alena sudah terbiasa melakukan hal itu pada tuan Arsen sehingga agak sulit untuk dia menghilangkan kebiasaannya yang memeluk tangan tuan Arsen seperti itu, Viko sendiri juga terlihat santai dan dia hanya tersenyum kecil lalu menyuruh Alena agar tidak terlalu dekat dengan Arsen lagi saat itu, sebab wajah tuan Arsen yang sudah menunjuk emosi kesal saat itu.
"Alena kemarilah jangan mengganggu dia, mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, sebaiknya kita pergi saja dari sini, aku akan menemanimu pergi ke manapun." Ucap Viko sambil menarik tangan Alena.
Tapi sayangnya saat itu Alena tidak ingin mengikuti Viko dia hanya ingin berada di ruangan tuan Arsen dan bicara dengannya, sebab dia masih penasaran apa yang membuat Arsen sangat berubah seperti itu dengannya.
"Tidak mau, aku ingin disini dan kau tidak bisa memaksaku untuk pergi ke manapun!" Ucap Alena sambil menghempaskan tangan Viko dengan kuat saat itu.
Bahkan Viko sendiri sudah tidak bisa membujuk Alena lagi karena dia sudah memutuskan untuk bicara seperti itu, sampai akhirnya tuan Arsen mulai menyuruh Viko untuk duduk dahulu dengan Alena di sofa tempat tamu yang ada di ruangannya saat itu.
"Sudahlah jangan memaksanya lagi jika dia tidak ingin pergi, ayo duduk dulu Viko Alena kau juga duduklah," ucap tuan Arsen saat itu.
Bukannya duduk di samping pacarnya sendiri Alena justru malah duduk di samping tuan Arsen dan terus saja mendesak tubuhnya sambil terus memeluk sebelah tangan tuan Arsen saat itu, hal tersebut sangat membuat tuan Arsen risih begitu juga dengan Viko yang menampakkan wajah tidak senang kepada tuan Arsen saat itu.
Tapi Alena terus saja melakukan hal itu dan tidak mau jauh dari tuan Arsen meski tuan Arsen sudah mencoba untuk menghindar dan mendorongnya saat itu, sampai tidak lama aku masuk dan melihat semuanya, rasanya sangat sakit ketika melihat tuan Arsen malah di peluk wanita lain walaupun di peluknya itu hanya pada tangannya saja dan oleh sahabat perempuan nya sendiri, tetapi walau pun mereka bersahabat tetap saja itu tidak pantas untuk seorang wanita dan pria melakukannya.
"Alena....hei..apa yang kau lakukan lepaskan aku, apa kau tidak malu dengan Viko, dia pacarmu, kenapa kau malah memeluk tanganku begini, ayo cepat lepaskan!" Bentak tuan Arse berusaha untuk melepaskan tangannya dari dekapan Alena saat itu.
"Tidak mau, aku sangat merindukanmu, aku sudah bertemu Viko setiap hari jadi aku bisa memeluk dia kapan saja tapi padamu aku sudah lama tidak bertemu denganmu aku hanya merindukan kamu Arsen, aku ingin kau memanjakan aku seperti biasanya meskipun kau tidak menyukai aku lagi." Ucap Alena saat itu.
Tuan Arsen terlihat begitu risih dengan kelakuan Alena saat itu tetapi seakan Alena terus saja tidak mau lepas dari tuan Arsen dia terus lengket dengannya dan malah semakin memeluk tangan tuan Arsen dengan erat ketika tuan Arsen berusaha untuk melepaskan diri dari Alena yang sangat mengganggu dirinya tersebut dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman berada di ruang kantornya sendiri.
Dan konyolnya Viko yang jelas adalah pacar Alena dia juga malah terlihat biasa saja dan sama sekali tidak terlihat niatnya untuk membantu tuan Arsen agar terbebas dari pacarnya tersebut yang malah menempel pada sahabat pacarnya sendiri.
"Heh..Viko tarik pacarmu ini bawa dia menjauh dariku kenapa kau malah diam saja, apa kau tidak cemburu apa?" ucap tuan Arsen kepadanya saat itu.
"Tidak, untuk apa aku cemburu pada sahabatku sendiri, apalagi sekarang aku sudah tahu kau sudah tidak menyukai Alena lagi, kalian kan sudah dekat sejak kecil jadi wajah saja Alena sangat dekat denganmu, dia mungkin hanya merindukan kau saja, sudah lama sekali kalian tidak bertemu bukan?" balas Viko yang masih terlihat santai saat itu.
Tuan Arsen benar-benar tidak habis pikir dengan dia sejoli pasangan kekasih itu, dia mengerutkan kedua alisnya sebab sangat kesal sendiri dan tidak bisa meminta bantuan dari Viko untuk menjauhkan Alena dari dirinya saat itu.
"Apa kalian berdua gila ya? aaaahhhh Alena lepaskan aku cepat lepaskan sebelum nanti ada orang yang masuk dan menjadi salah paham, ayo lepaskan tanganku!" ucap tuan Arsen sudah meninggikan suaranya berkali-kali kepada Alena saat itu.
Namun tidak ada satupun ucapan darinya yang di gubris oleh Alena saat itu, tetap saja Alena memeluk dengan erat dan menempelkan kepalanya pada pundak tuan Arsen semakin dekat dan erat.
Aku berdiri tidak jauh dari sana dan aku memang lupa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu saat hendak masuk sebelumnya, karena melihat semua itu aku tidak berani melanjutkan langkahku jadi aku segera berbalik untuk pergi, namun saat aku hendak berbalik justru aku malah tersandung dengan kakiku sendiri sampai jatuh tersungkur di lantai saat itu, dan membuat tuan Arsen juga yang lainnya mengetahui keberadaan aku saat itu, di tambah aku masih dalam posisi jatuh di bawah.
__ADS_1
"Mereka? Aaahh aku seharusnya mengetuk pintu dulu sebelum masuk, setidaknya agar aku tidak memandangi hal seperti ini," gerutuku saat itu.
"Aaahh..brukkk...aduhh sakit sekali." Gerutuku memegangi sebelah kakiku yang agak sakit, namun untungnya tidak terjadi apapun hanya sedikit lebam saja tapi aku masih bisa kembali berdiri walaupun berjalan dengan pincang sedikit.
Tuan Arsen, Viko dan Alena langsung berbalik dan melihat aku yang terjatuh saat itu, sampai Alena yang memang sudah aku kenal sejak aku melakukan lomba di luar negeri itu, dia memanggil namaku.
"Anna..apa kamu baik-baik saja?" Ucap Alena sambil berjalan menghampiri aku dan hendak membantu aku untuk berdiri dengan segera saat itu.
"AA..aahh..aku baik-baik saja kak Alena, terimakasih sudah membantuku berdiri," ucapku kepadanya.
Namun tiba-tiba saja tuan Arsen memegangi kedua pundakku dan dia menggoyangkan tubuhku dengan kedua tangannya itu sambil menatap panik dengan kedua bola mata yang terbuka sangat lebar dan menanyakan keadaanku saat itu.
"Anna..apa kau baik-baik saja, kenapa kau bisa terjadi, apa ada yang sakit? Apa kau sungguh sudah memeriksa seluruh tubuhmu?" Ucap tuan Arsen yang terdengar terlalu lebat dalam menanyakan keadaanku saat itu.
Padahal aku hanya terjatuh bisa saja dan aku juga sama sekali tidak mendapatkan luka apapun di tubuhku, tetapi dia malah bicara seakan aku mengalami kecelakaan yang hebat saja, padahal aku hanya jatuh biasa.
"Tuan aku baik-baik saja tadi itu hanya jatuh tersandung biasa karena aku tidak cukup terbiasa mengenakan high heels seperti ini, jadi wajar jika aku akan tersandung dengan kakiku sendiri seperti sebelumnya, anda tidak perlu terlalu mencemaskan saya," balasku kepadanya, sambil tersenyum kecil saat itu dan menatap sedikit aneh padanya.
"Bagaimana aku tidak cemas kau berteriak sekencang tadi aku pikir kau terluka, tapi aku senang jika kau benar-benar baik," ucap tuan Arsen kepadaku.
Alena yang melihat betapa cemasnya tuan Arsen kepada Anna dia mulai mengerutkan kedua alisnya dan menatap curiga pada tuan Arsen saat itu, sampai Alena langsung saja menghempaskan tangan tuan Arsen yang memegangi pundak Anna saat itu dengan segera, dan terlihat cukup marah padanya.
"Eehh ..Arsen lepaskan, kenapa kau begitu berlebihan saat bertanya kepadanya, apa kau menyukai Anna ya?" Ucap Alena yang membuat aku kaget dan langsung terperangah melihat dirinya juga pada tuan Arsen saat itu.
Aku langsung saja hendak meluruskan hal tersebut dan aku ingin membantah ucapan dari kak Alena saat itu namun tuan Arsen tiba-tiba saja menghentikan aku dan dia malah menjawab ucapan dari kak Alena dengan jawaban yang sama sekali tidak pernah aku duga sebelumnya.
"AA..aahhh..kak Alena...sepertinya kau salah...aku dan tuan Arsen hanya.." ucapku tidak sampai saat itu.
Bukan hanya aku saja yang kaget mendengar jawaban tersebut dari tuan Arsen tetapi kak Alena juga terlihat sangat syok mendengarnya begitu pula dengan kak Viko yang juga mendengarnya saat itu.
"Hah...jadi dia, karena dia kau berubah padaku? Dan karena dia juga kau menjadi menjaga jarak dariku, awalnya aku juga menyukai gadis yang pandai memasak dan penurut ini, tetapi sekarang aku tidak menyukainya karena dia sudah merebut kau dariku!" Bentak kak Alena dengan sorot mata kebencian padaku.
Aku tidak tahu mengapa kak Alena harus berbicara seperti itu padaku, padahal aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun terhadapnya dan aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan saat itu, bahkan kepalaku saja masih di buat pusing dengan ucapan dari tuan Arsen yang sebelumnya mengatakan menyukai aku, sekarang yang satu belum selesai aku cerna, malah muncul permasalahan yang rumit dan membuat aku semakin kebingungan lagi seperti ini.
Tuan Arsen juga terus bertengkar dengan kak Alena saat itu namun untungnya ada kak Viko yang langsung menengahkan mereka berdua dan kak Viko langsung saja membawa kak Alena pergi dari sana dengan secepatnya.
"Alena untuk apa kau membenci Anna kau tidak berhak melakukan itu karena Anna sama sekali tidak bersalah hanya aku saja yang menyukai dia, dan lagi pula apa urusannya denganmu jika aku menyukai dia dan sudah tidak menyukai dirimu lagi?" Bentak tuan Arsen kepada kak Alena saat itu.
Aku hanya diam saja karena tidak tahu harus melakukan apa saat itu, dan hanya bisa terus menunduk karena tidak ingin menyaksikan hal seperti ini yang membuat aku bingung harus berbuat apa kepada mereka berdua.
"Heh...apa kau bilang? Apa urusannya denganku? Tentu saja semua ini berurusan denganku Arsen! Kau sahabatku dan kau seharusnya menyukai aku, bukan si Anna sialan ini!" Bentak kak Alena sambil menunjuk lagi padaku.
"Hei..jangan berani-beraninya kau menunjuk Anna, kau harusnya sadar diri Alena, tidak akan ada pria yang akan terus bertahan denganmu, jika kau sendiri bahkan tidak cukup dengan satu pria saja, apa kau pikir selama ini aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakang aku dan Viko? Hah! Aku tahu Alena, aku tahu semuanya tetapi aku diam karena aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan Viko, dan aku tahu Viko tetap menerima dirimu meski dia tahu kau menyukai banyak pria, tapi tidak denganku, aku sudah lama tidak menyukai dirimu lagi setelah mengetahui semuanya dan aku seterusnya tidak akan menyukai wanita sepertimu." Balas tuan Arsen kepadanya saat itu.
Kak Alena hampir saja menampar tuan Arsen saat itu tapi aku tidak bisa diam saja sehingga aku menahan tangannya dengan kuat dan menatap tajam kepada kak Alena saat itu. Walaupun sebenarnya aku tidak berani ikut campur dalam urusan mereka dan aku tidak cukup berani melawan kak Alena tetapi tetap saja saat itu seakan tubuhku bergerak secara refleks begitu saja untuk menghalangi dan menahan tangan kak Alena agar tidak sampai mengenai pipi tua Arsen.
"Cukup! Kak Alena aku sebelumnya tidak melawanku karena aku menghormati dirimu, tetapi sekarang tidak lagi, siapapun berhak menyukai orang yang memang ingin mereka cintai, dan kau tidak berhak mengatur semua orang di bumi ini termasuk pada tuan Arsen, jadi turunkan tangan kotormu ini!" Ucapku sambil menghempaskan tangannya sampai kak Alena terlihat meringis kesakitan saat itu.
"Aaaahhh ...... Arsen lihatlah dia memperlakukan aku dengan sangat kasar dan dia beraninya menghempaskan tanganku sekasar tadi, apa kau masih mau dengan wanita seperti dia?" Ucap kak Alena lagi saat itu.
"Alena sudah cukup ayo kita pergi dari sini, kau terus membuat kekacauan ayo kita pergi," ucap kak Viko yang langsung saja menarik tangan kak Alena dengan kuat dan segera menariknya untuk pergi dari ruangan kantor tuan Arsen saat itu.
Meski terlihat kak Alena yang terus berontak keras dan berteriak sangat kencang ingin melepaskan diri dari kak Viko tetapi tentu saja kekuatan kak Alena tidak bisa menandingin kak Viko sehingga dia tetap saja berhasil di tarik terus keluar dari sana saat itu juga oleh kak Viko sampai pintu tertutup.
__ADS_1
"Tidak Viko lepaskan aku...aku tidak ingin pergi dari sini aku masih mau berurusan dengan wanita itu, aku harus membalas dia karena sudah merebut Arsen dariku, lepaskan! Lepaskan aku Viko! Teriak kak Alena sangat kencang.
Bahkan saking jengkelnya kak Viko melihat kak Alena yang sulit untuk di bawa pergi, dia sampai menggendong kak Alena dan terus saja membawanya pergi dari sana dengan cepat, bahkan meski Kaka Alena terlihat terus menepuk punggung dengan bunyi yang keras, aku akui kak Viko sangat kuat saat itu.
Dan kini tinggal hanya ada aku dan tuan Arsen, aku merasa gugup setengah kak Alena dan kak Viko pergi dari sini, dan tidak tahu harus berbicara apa dengan tuan Arsen sehingga aku langsung saja berpamitan pergi kepadanya saat itu.
"AA...eeee..aaahh..aku permisi tuan," ucapku sambil segera hendak berbalik saat itu.
Namun tuan Arsen langsung saja menahan tanganku dan dia mulai bicara kepadaku mengajak aku untuk dinner malam ini.
"Tunggu Anna," ucap tuan Arsen padaku saat itu yang membuat aku langsung berbalik dengan tegas dan menatap kepadanya sambil menaikkan kedua alisku menatapnya dengan tatapan yang lekat.
Sejujurnya saat itu aku juga sangat penasaran dengan apa yang akan tuan Arsen katakan padaku sebab sebelumnya aku pikir dia akan mengungkapkan perasaan dia kepadaku secara langsung saat itu dan entah kenapa aku malah mengharapkan hal seperti itu darinya, namun saat aku berbalik dan bertanya padanya, rupanya tuan Arsen hanya mengajak aku untuk dinner saja.
"Ada apa tuan?" Tanyaku yang tidak sabar saat itu.
Aku sudah memasang wajah yang sebaik mungkin dan menampakkan senyum yang menurutku akan bagus untuk di lihat olehnya saat itu.
Tapi yang aku dapatkan justru malah sebuah kekecewaan karena dia hanya mengajak aku untuk makan malam saja nanti malam.
"Euh ...itu bisakah kau meluangkan waktumu nanti malam, aku membutuhkan bantuan darimu untuk hadir ke acara jamuan makan malam salah satu rekan bisnisku malam ini." Ucap tuan Arsen yang benar-benar membuat aku sangat kecewa sekali.
Aku langsung saja merubah raut wajahku yang tadinya begitu senang dan ceria kini langsung saja menjadi murung dan tidak bergairah sama sekali.
"Oh..begitu, baiklah aku bisa kau jangan khawatir nanti kau datang saja ke restoran aku pasti akan ada disana, kalau begitu aku permisi tuan," ucapku padanya sambil membungkuk dan segera pergi dari sana secepatnya.
Disisi lain tuan Arsen sendiri dia terlihat gemas dan kesal dengan dirinya sendiri saat itu karena tidak berhasil mengungkapkan perasaannya kepada Anna saat itu.
"Aishh..bodoh, kenapa aku malah mengajak dia ke acara jamuan itu, aku kan mau mengungkapkan perasaanku, aahhh bodoh sekali," gerutu tuan Arsen sendiri saat itu.
Aku pergi ke ruangan kerjaku dan bertemu dengan sekretaris Mey disana, wajahku sudah tidak memiliki ekspresi apapun lagi, aku hanya bisa merasa kesal dan menghembuskan nafas dengan penuh emosi saat itu sambil segera duduk di kursi kerjaku yang ada di sana tepat berhadapan dengan kursi kerja milik sekretaris Mey.
"Huh ....menyebalkan euh...eughh... benar-benar manusia menjengkelkan!" Gerutuku terus saja merasa kesal dan uring-uringan sendiri saja saat itu.
Sekretaris Mey segera menghampiri aku saat itu karena dia melihat aku yang terus menggerutu kesal dan penuh emosi di meja kerjaku sendiri sambil menepuk mejaku dengan kesal berkali-kali saat itu.
"Hei...Anna ada denganmu, bukannya tadi kamu bilang mau ke ruangan tuan Arsen untuk menanyakan dokumen yang sudah dia tandatangani, kenapa malah balik-balik seperti ini, apa dia memarahi kau lagi." Tanya sekretaris Mey kepadaku.
"Tidak ada, dia tidak memarahi aku tali aku yang sangat membenci dia, sudahlah mulai sekarang tidak ada yang boleh menyebut namanya di dalam ruanganku aku benar-benar sangat benci dengan pria menjengkelkan sepetinya." Ucapku dengan nafas yang menderu karena sebelumnya terus menahan kekesalan seorang diri dan tidak dapat aku lampiaskan saat itu.
"Eehh..kau ini aneh sekali, ada apa sih denganmu? Ya sudah aku mau balik kerja lagi, kau kalau mau menggerutu ya lanjutkan saja," balas sekretaris Mey kepadaku.
Dan aku hanya membalasnya dengan anggukan saja, aku benar-benar sangat emosi sekali dan sudah tidak memperdulikan apapun lagi yang menyangkut orang seperti tuan Arsen ini, entah ekspektasi diriku saja yang terlalu tinggi kepadanya atau memang dia yang memang selalu tidak bisa di percaya.
"Aaarrkkkkk..seharusnya aku tidak boleh berharap apapun dengan manusia sepertinya, kenapa juga aku harus merasa kesal atasnya, aahhh aku sudah gila jika benar-benar mengharapkan dia mengatakan perasaannya padaku." Gerutuku lagi semakin kesal sendiri.
Aku memutuskan untuk pergi ke dapur dan menyeduh teh manis disana untuk menyegarkan otakmu setidaknya agar aku tidak terus memikirkan tentang manusia seperti dia lagi nantinya.
"Sekretaris Mey aku mau ke dapur dulu, apa kau mau menitip sesuatu biar nantia aku ambilkan sekalian?" Tanyaku menawarkan diri padanya.
"Eumm aku mau cemilan saja, terimakasih sebelumnya Anna," balas sekretarias Mey yang langsung aku anggukkan.
Segera saja aku pergi meski dengan energi yang sudah banyak berkuran dan emosi yang sedang tidak stabil saat itu, aku pergi hendak menuju dapur namun sialnya malah bertemu dengan tuan Arsen yang saat itu terlihat tengah mengobrol dengan beberapa orang yang hendak dia antar ke dekat lift saat itu, aku sangat kesal sekali padanya jadi dengan cepat sebelum dia yang melihat aku lebih dulu, segera saja aku memalingkan pandangan dan mempercepat jalanku agar dia tidak memanggilku ataupun meminta bantuan apapun dariku lagi.
__ADS_1