
Kepadaku yang sangat tersiksa dengan hukuman yang di berikan oleh tuan Arsen saat itu.
Aku juga tahu sekretaris Mey hendak membantuku saat itu tetapi tuan Arsen langsung saja melarangnya dan memberikan ancaman kepada sekretaris Mey sehingga dia tidak berani untuk membantuku lagi dan aku juga bisa memahami posisi dia saat itu.
"Mau apa kau, sama pergi saja dari sini tidak ada yang boleh membantunya!" Ucap tuan Arsen menahan sekretaris Mey yang saat itu berniat untuk membantuku.
Aku benar-benar merasa sangat kesal dan emosi ketika melihatnya dia terlihat sangat kejam karena membiarkan aku harus menyelesaikan semua pekerjaan yang sangat banyak dan melelahkan seperti ini seorang diri.
Rasanya aku ingin menangis saat itu juga dan kabur dengan cepat dari dia, seandainya aku bisa tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan hal itu karena dia jelas berada di depanku dan dia memperhatikan aku dengan matanya yang terus saja menatap aku dengan tajam, dia benar-benar sangat menjengkelkan dengan wajahnya itu.
"Ta..tapi tuan bagaimana dengan Anna dia tidak mungkin bisa menyelesaikan semua ini dengan tepat waktu jika seorang diri" ucap sekretaris Mey yang masih berusaha untuk bicara kepada tuan Arsen agar mengijinkan dia untuk membantuku saat itu.
Namun lagi dan lagi tuan Arsen memang bukan orang yang tepat untuk diajak bekerja sama atau tawar menawar satu sama lain sebab dengan cepat saat itu juga dia langsung membentak sekretaris Mey dan melemparkan tatapan yang sangat tajam kepadanya hingga membuat seorang sekretaris Mey tidak berani lagi membantah ucapannya ataupun berusaha untuk membujuknya lagi saat itu, karena dia benar-benar sudah sangat pasrah dan takut pada tuan Arsen.
"Apa kau masih berani bicara denganku setelah aku sudah menyuruhmu untuk pergi hah? Pergi atau aku akan memotong gajimu!" Bentak tuan Arsen membuat sekretaris Mey langsung menatap kepadaku dan membungkuk meminta maaf.
Aku sudah tahu hal seperti itu akan terjadi dan sekretaris Mey langsung saja pergi dari sana dia tidak bisa membantu aku lagi dan aku benar-benar seorang diri sekarang, aku benar-benar terjebak dengan tuan Arsen dan semua pekerjaan yang sangat menyebalkan ini, aku masih harus menyapu semuanya tanpa henti.
Juga dedaunan dan bunga-bunga disana yang terus saja berguguran membuat aku sangat jengkel di buatnya hingga tidak lama teriakkan seseorang yang memanggilku dengan sangat keras membuat aku sangat kaget juga sedikit merasa senang ketika mendengar suaranya saat itu.
"Anna....." Teriak David yang saat itu tiba-tiba saja muncul di belakang tuan Arsen dan dia terlihat seperti habis berlari.
Tuan Arsen langsung berbalik dan mereka berdua langsung saja saling bertemu satu sama lain, aku yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung saja merasa sangat tegang dan takut, bahkan aku sampai kesulitan untuk menelan salivaku sendiri saat itu.
Aku benar-benar sangat syok ketika melihat David dan tuan Arsen sungguh berhadapan secara langsung seperti itu di hadapanku saat ini, aku tidak tahu bagaimana cara memisahkan mereka dan aku sangat takut sebuah pertengkaran diantara kedua manusia yang sama-sama keras kepala itu akan terjadi dan bisa saja membuat semuanya hancur.
"Astaga...kenapa mereka bisa berhadapan langsung seperti ini, padahal aku sudah berusaha untuk menghindari hal seperti ini terjadi" gerutuku merasa sangat cemas tidak karuan saat itu.
Aku langsung saja berlari menuju David dan aku memanggil namanya agar memecahkan fokus dirinya kepada tuan Arsen saat itu.
Sebab hanya itu yang bisa aku lakukan saat itu agar mereka berdua tidak langsung bertengkar di tempat itu saat aku masih berada jauh dari mereka.
"Aahhh...David....David.....aaaahh aku sangat merindukanmu" ucapku sambil berlari dan memeluk David dengan sangat erat saat itu.
David juga membalas pelukanku dan dia masih bisa tersenyum kepadaku, aku benar-benar merasa sangat senang ketika bisa melihat dia bisa tersenyum seperti itu, sehingga aku bisa berpikir bahwa dia tidak marah atau merajuk kepadaku saat itu karena dia masih bisa tersenyum padaku.
"Eheha ...David kenapa kau malah kemari, darimana kau bisa tahu aku ada disini?" Tanyaku sengaja memalingkan pembicaraan dan menanyai dia.
Sambil aku juga sebenarnya memang sangat penasaran karena dia bisa tiba di tempat terpencil dan tidak banyak di ketahui oleh orang seperti ini, tapinseorang David bahkan bisa menemukannya, dia memang sedikit sesuatu untuk seseorang yang bisa mengetahui dimana keberadaanku kapan saja.
"Aku akan selalu tahu dimana kau berada apa kau sudah lupa tentang hal itu" balas David kepadaku.
"Eumm....aku tahu kau pasti akan mengetahui dimana aku berada, dan aku tahu kau pasti akan menemukan aku dengan cepat, kau memang seperti bayanganku hehe" balasku kepadanya sambil dengan sengaja mengalengkan kedua tanganku ke lehernya saat itu.
Sampai tidak lama tuan Arsen mulai berdehem dan menatap ke arahku dengan wajahnya yang sangat menakutkan saat itu bahkan aku tidak berani berlama-lama untuk melihat matanya tersebut.
"Ekhmm...." Suara tuan Arsen yang langsung saja menyadarkan aku dengan cepat tentang keberadaan dia yang masih ada disana.
"Ahhhh...tuan...maafkan aku, ini kenalkan dia adalah David sahabatku, ehhh...tunggu bukankah kalian sudah pernah aku kenalkan sebelumnya?" Ucapku baru mengingat hal tersebut saat itu.
"Iya..." Balas mereka berdua.
Dan langsung saja mereka saling tatap satu sama lain dengan tatapan yang tajam dan menusuk, hal itu membuatku sangat kaget ketika melihatnya menatap dengan bola mata yang membulat bahkan hampir terlihat seperti akan keluar dari kelopak matanya tersebut.
__ADS_1
Melihat mereka seperti hendak saling membunuh lewat tatapan satu sama lain aku langsung saja berusaha untuk memisahkan mereka dan berusaha untuk menenangkan mereka juga menciptakan suasana yang lebih menenangkan diantara mereka saat itu, walau pun sebenarnya aku sendiri juga merasa tidak terlalu yakin untuk melakukan hal tersebut.
"AA..a..ahhhh..kalian berdua sudahlah jangan saling membunuh seperti itu, bukankah ini sudah cukup sore? Sebaiknya kita cepat bubar kembali ke kota sebelum hari benar-benar menjadi gelap bukan, jadi sebaiknya ayo kita pergi saja dari sini" ucapku berusaha untuk memisahkan mereka secapatnya sebelumnya semua menjadi lebih buruk lagi dari sebelumnya.
Tetapi bukannya mereka mendengarkan dan segera berpisah sesuai dengan apa yang aku ucapkan kepadanya, mereka justru malah langsung memalingkan pandangannya kepadaku secara bersamaan dan mereka memberikan tatapan menyeramkan itu kepadaku secara bersamaan membuat aku benar-benar sangat kaget dan merinding ngeri mihatnya.
"AA .ahhh...kenapa kalian malah menatapku seperti itu, aku kan hanya meminta kalian untuk pergi pulang, lagi pula semua orang juga sudah pulang untuk apa lagi kita masih tetap disini" balasku kepada mereka berdua.
"Heh...apa kau lupa lihat itu kau masih belum menyelesaikan hukumanmu, kau tidak boleh pulang atau pergi kemanapun sebelum menyelesaikan semua hukumanmu itu!" Ucap tuan Arsen yang masih saja berbicara mengenai hukuman tersebut.
Padahal sebelumnya aku pikir dia sudah melupakan mengenai hal tersebut, tetapi nyatanya dia justru masih mengingatnya dan aku tidak ingin jika harus melanjutkan lagi pekerjaan itu lagi, benar-benar sangat tidak ingin sehingga aku langsung menatap ke arah David berharap dia bisa mengerti maksud dari tatapanku saat itu, namun sayangnya dia ternyata sama sekali tidak memahami aku sedikit pun dan dia justru malah seperti berada di pihak tuan Arsen.
Dimana dia justru malah menyuruh aku untuk segera pergi melanjutkan pekerjaannya sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh tuan Arsen kepadaku saat itu, dan semua harapanku kepadanya langsung saja hancur dan musnah seketika saat itu, wajahku juga langsung saja aku rubah menjadi datar dan menatapnya dengan kesal juga sedikit sinis saat itu, karena aku sungguh sangat tidak terima dengan apa yang dia katakan saat itu.
"Dia benar sana kau selesaikan pekerjaan dirimu sendiri aku akan berhadapan dengan manusia satu ini karena dia sudah berani sekali berbicara dengan sombongnya di balik telpon sebelumnya" ucap David yang sangat menyebalkan sekali.
"AA...a..apa? David apa kau gila? David kau benar-benar tega membiarkan aku untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini sendirian, kau lihatlah ini sangat banyak dan mustahil sekali aku bisa menyelesaikan semuanya seorang diri" ucapku protes dengan keras kepadanya.
Tetapi dia masih tetap saja menyuruh aku untuk melakukannya dan tidak terlihat sedikitpun di wajahnya dimana dia ingin membantu aku atau segera membawa aku pergi dari tempat itu secepatnya agar terbebas dari hukuman yang sangat tidak masuk akal seperti ini.
"Sudah Anna sana kau bereskan dulu, aku akan berurusan dengan orang yang satu ini, kau tahu aku sangat marah denganmu juga pria ini bukan?" Balas David kepadaku yang ternyata dia masih kesal padaku.
Aku benar-benar tidak habis pikir sahabatku ini bisa bersikap seperti ini kepadaku dan dia malah lebih memilih untuk menghadapi tuan Arsen juga memperpanjang masalah dengannya dibandingkan untuk membantu aku terbebas dari hukuman yang jelas sama dengan menyiksa tubuhku sendiri di tempat tersebut.
Ditambah saat itu sudah jelas sekali hari sudah semakin sore seharusnya David mendengarkan aku dan tidak memperpanjang lagi masalah dengan tuan Arsen, sebab orang seperti tuan Arsen bukanlah lawan yang tepat untuk kami berdua saat itu, dia selalu bisa melakukan apapun yang dia inginkan dan tuan Arsen selalu menentukan keputusan satu kali saja, dia tidak akan bisa di bantah sedikit pun bahkan oleh siapapun di dunia ini, aku bahkan belum pernah melihat dia mengubah keputusannya walau satu kali saja bahkan jika itu sebuah keputusan kecil sekalipun.
Dia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali keputusan apapun yang dia ambil sendiri kapan dan dimanapun atau dengan siapapun orangnya termasuk dengan David sendiri.
Tidak tahu kenapa mereka bisa terlihat saling membenci sampai seperti itu padahal semuanya hanya di awali dengan sebuah permasalahan yang sepele dan itu hanya sebuah kesalahan pahaman yang biasa tetapi David dan tuan Arsen terlihat sengaja memperbesarkan masalah tersebut sehingga aku benar-benar sangat sudah jengkel dan pasrah tidak ingin lagi menahan mereka saat itu.
David sama sekali tidak menjegah aku atau mencoba menahan tanganku saat itu padahal aku sangat berharap sekali dia akan menahan tanganku atau menahan aku, bahkan berlari untuk melakukannya, tetapi semua harapan itu sia-sia, saat aku mencoba berbalik menatapnya dia bahkan malah terus saja berharap dengan tuan Arsen saling tatap dengan tatapan yang tajam satu sama lain juga terlihat sangat serius dan di penuhi dengan suasana yang sangat mencekam saat itu.
"Aishh ..sangat menyebalkan sekali, bagaimana dia malah terlihat biasa saja dan begitu santai di saat aku sudah pergi dalam keadaan marah seperti tadi...aaahhh... mereka sangat menyebalkan terutam David, dia benar-benar tidak bisa diandalkan di waktu yang tepat!" Gerutuku sangat kesal dan terus saja berjalan sambil menghentakkan kakiku dengan keras.
Aku terus berusaha melampiaskan emosi di dalam diriku sambil membersihkan tempat tersebut dan masih bisa aku lihat dari kejauhan mereka terlihat berdebat satu sama lain bahkan mereka terlihat adu panco juga bermain suit seperti seorang anak-anak, sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai seorang pimpinan sebuah perusahaan yang besar satu sama lain, dan mereka terus saja berdebat juga aduk kekuatan satu sama lain, terutama David yang memang selalu banyak bicara bahkan dia jauh lebih cerewet di bandingkan diriku sendiri.
Aku benar-benar sangat kesal dan emosi melihat mereka berdua yang sama sekali tidak mempedulikan aku, dan malah membiarkan aku membereskan semua hukamanku seorang diri padahal aku sama sekali tidak merasa melakukan hal yang fatal, aku terus membereskan semuanya sambil terus menggerutu kesal karena melihat tingkah mereka berdua yang sangat menyebalkan dan sangat konyol di mataku saat itu.
"Aishhh... mereka mengabaikan aku hanya demi adu main panco dan suit seperti itu, saling bertengkar dan berdebat layaknya anak kecil, mereka benar-benar sangat tidak dewasa, menyebalkan sekali!" Gerutuku dengan sangat kesal.
Bahkan satu jam sudah berlalu mereka tidak mau mengakui kekalahan satu sama lain dimana saat itu mereka kembali beradu panco dimana setiap kali beradu panco tuan Arsen selalu saja kalah tetapi dalam bermain catur dan suit David lah yang akan kalah dengan tuan Arsen sebab dia memang terkenal dengan kejeniusan otaknya tersebut berbeda dengan Arsen yang sangat kuat dalam fisiknya selama ini dan dia adalah mantan pemain basket terkenal saat di SMA dulu.
Tidak aneh jika dia sangat kuat dan begitu sehat, otot-ototnya selalu dia rawat dan dia jaga dengan baik, berbeda dengan tuan Arsen yang lebih banyak membaca buku juga selalu diam di kantor untuk menemukan banyak ide menarik bagi perkembangan perusahaan yang dia bangun sendiri dari nol menggunakan otak cerdas juga kejeniusan dirinya selama ini.
Aku sebenarnya sangat ingin menegur mereka tetapi aku takut mereka akan mengabaikan aku karena terlalu fokus dan asik terus berau kekuatan satu sama lain seperti itu, dan aku mana mungkin bisa melawan kedua orang yang sama keras kepalanya seperti itu.
Hingga tidak sengaja ketika aku tengah membersihkan semua dedaunan kering juga sisa-sisa bunga yang berjatuhan tanganku tidak sengaja menyentuh sebuah duri bunga mawar dimana aku berteriak menjerit kesakitan cukup keras saat itu, dan melihat duri mawar yang menancap cukup banyak pada telapak tanganku saat itu dan rasanya benar-benar sangat sakit saat itu.
"Aishh... mereka benar-benar sangat menyebalkan sekali, bisa-bisanya mereka terus mengabaikan aku seperti ini, apa maksudnya semua ini" gerutuku saat itu.
Aku benar-benar tidak fokus karena mataku terus menatap kearah kedua pria yang tengah bertengkar itu sedangkan tanganku terus membersihkan tempat tersebut hingga tidak sengaja justru malah menggenggam batang mawar dengan banyak duri disana.
"Aaarrtkkkkkkkkm...." Teriakku sangat kencang dan melihat tanganku sudah berdarah dengan banyak duri mawar yang cukup besar menancap pada telapak tanganku saat itu.
__ADS_1
Seketika tuan Arsen dan David yang mendengar teriakkanku saat itu, mereka langsung menatap ke arahku dan mihat aku yang memegangi tanganku berdarah sambil berjongkok di tengah jalan seorang diri mereka langsung berlari dengan cepat menghampiri aku walau masih tetap.saking bertengkar satu sama lain tanpa henti.
"Anna...." Teriak mereka berdua bersama saat itu.
Mereka langsung berlari sangat kencang menghampiri aku dan aku menangis sendiri merasakan tanganku sedikit sakit tapi saat itu aku hanya menangis tanpa suara sebab aku sudah dewasa tidak mungkin aku akan menangis merengek atau terisak hanya karena tanganku terkena duri mawar walaupun dirinya memang cukup besar dan menancap cukup tajam pada telapak tanganku saat itu.
"Anna...apa yang terjadi denganmu?" Ucap tuan Arsen kepadaku.
David sendiri langsung saja berjongkok di hadapanku dan dia langsung menarik tanganku dengan cepat dia langsung menarik aku begitu saja untuk berdiri dan hendak membawa aku pergi dari sana.
"Ya ampun Anna...kenapa tanganmu bisa sampai seperti ini, ayo cepat aku akan mengobatinya disana" ucap David saat itu.
Tapi tanganku di tahan dengan cepat oleh tuan Arsen saat itu, membuat David langsung berbalik menatap ke arah tuan Arsen dan melihat tanganku yang satunya di genggam oleh tuan Arsen saat itu.
"Hey...lepaskan tangan Anna, apa yang mau kau lakukan malah menahan ya seperti itu" ucap David yang terlihat sangat marah saat itu.
"Kau yang apa-apaan, kita harus mengobati lukanya dengan cepat, dia terluka karena duri mawar, dan duri mawar itu masih menancap di telapak tangannya apa kau mau membuat tangannya sampai mengalami infeksi akibat bakteri yang terdapat pada diri itu hah?" Balas tuan Arsen yang terlihat tidak kalah marah dari David.
Sampai akhirnya ketika mendengar ucapan dari tuan Arsen David pun langsung melepaskan tanganku yang terluka itu dan lagi-lagi aku juga yang harus merasakan rasa sakitnya karena tanganku itu masih terluka bahkan durinya saja masih menempel di tanganku.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan, aku mau membawanya ke mobilku di sana baru ada obat untuk mengobati lukanya ini" balas David kepada tuan Arsen saat itu.
"Membawanya kesana terlalu lama jarak dari sini ke mobilmu apa kau pikir itu dekat, kau pergi ke sana dan ambil obatnya aku akan mengobati dia disini dan mencabuti semua sisa duri yang masih ada di tangannya itu" balas tua Arsen membagi tugas pada David.
Namun mendengar itu David langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar dia tidak terima jika harus membiarkan tuan Arsen memiliki waktu berdua saja denganku.
Sehingga dia langsung membentak lagi tidak bisa menerima semua itu.
"Hah....apa yang kau bilang barusa? Tidak aku tidak mau... Kau saja yang pergi ke sana, ayo cepat kau ambil saja obatnya dan aku yang akan menemani Anna disini" balas David saat itu.
"Ssstttt...kalian berdua cepatlah aku rasa aku tidak bisa menahan rasa sakitnya ini perih dan tanganku akan mulai bengkak jika kalian terus membuang waktu seperti ini" ucapku kepada mereka untuk menghentikan perdebatan diantara mereka saat itu.
"Baiklah aku akan pergi mengambil obatnya tapi apa kau bisa mengambil semua duri di tangan Anna dengan benar tanpa melukai dia hah?" Balas tua Arsen membuat David langsung terdiam tidak dapat berbicara apapun lagi karena dia memang tidak bisa melakukan hal seperti itu.
"A..a..ahhhh.. sudahlah biar aku saja yang pergi untuk mengambil obatnya, tapi awas saja jika kau mengambil kesempatan dalam kesimpitan seperti ini, awas kau!" Ucap David yang masih sempat memperingati dan mengancam tuan Arsen dalam situasi mendesak seperti ini.
"Kau akan pergi atau Anna akan benar-benar infeksi" balas tuan Arsen lagi.
Dengan cepat David pun segera pergi dari sana berlari dengan sekencang yang dia bisa saat itu, dia terlihat tetap saja beberapa kali menengok ke bakang untuk melihat aku dan tuan Arsen padahal saat itu kami berdua juga memang tidak melakukan apapun tuan Arsen hanya langsung saja menyuruh aku untuk menutup mata.
"Ayo tutup matamu, aku akan mencabuti semua durinya dan ini akan sangat sakit, kau harus bisa menahannya" ucap tuan Arsen memberitahu aku terlebih dahulu.
Aku mengangguk dan langsung saja memejamkan mataku saat itu juga.
Aku melipatkan bibirku ke dalam dengan menutup mataku dan memegangi pundak tuan Arsen dengan tanganku yang satunya sedangkan tanganku yang terluka di pegang oleh tuan Arsen dia terlihat mengeluarkan tisyu basah dalam sakunya dan dia mulai mencabuti diri di telapak tanganku dengan tarikkan yang sangat cepat satu per satu.
Beberapa duri yang dia cabut awalnya baik-baik saja aku masih bisa menahannya dengan mengeratkan peganganku kepada pundak tuan Arsen saat itu.
Tapi di saat dia mencabut diri yang ketika aku benar-benar kesakitan dan tidak bisa menahan mulutku lagi untuk menjerit dengan keras saat itu.
"Aaaarrkkkk....aaahh...." Teriakku sangat kencang saat itu.
Sampai membuat tuan Arsen langsung menatap ke arah wajahku.
__ADS_1
"Apa sangat sakit ya?" Tanya tuan Arsen kepadaku dan aku langsung menganggukkan kepala membalasnya hingga dia pun mulai menenangkan aku.
"Tidak papa aku akan berusaha mencabutnya dengan lebih pelan, kau bisa meremas pundakku lebih kuat untuk menahan rasa sakitnya" balas tuan Arsen kepadaku dan aku hanya bisa mengangguk saja menjawab ucapannya saat itu.