LUKA

LUKA
Ketahuan Ibu


__ADS_3

Setidaknya dengan aku melihat pemandangan kota yang indah dengan berbagai lampu yang berkelap kelip di kejauhan aku bisa sedikit melupakan kesedihan yang ada di dalam hatiku sebelumnya aku terus tersenyum melihat ke arah perkotaan itu, sampai hari benar-benar telah berubah menjadi malah dan tiba-tiba saja tuan Arsen menyentuh wajahku dia menghapus sisa air mata di wajahku dengan perlahan saat itu.


Sehingga membuat aku langsung menatap dan berbalik ke arahnya dengan kedua mata yang terbuka cukup lebar dan menatapnya penuh dengan keheranan saat itu, rasanya gugup dan aku seakan seperti terhipnotis dengan wajah tampannya itu juga ucapan darinya yang mulai berbicara dengan lembut kepadaku.


"Jangan pernah menangisi pria sialan sepertinya, apalagi menangis di hadapanku, aku benci melihat wanita menangis!" Ucap tuan Arsen sambil menghapus air mata di pipiku.


Aku hanya mengedipkan mata sekali dan langsung saja membenarkan posisi berdiriku sambil sedikit menghindar darinya karena aku tidak ingin terbawa dengan suasana disana.


"AA..ahahah...Ita tuan, aku tidak akan menangis lagi di hadapanmu, maafkan aku jika tadi mengganggu, bisa kita pulang sekarang?" Ucapku kepadanya yang langsung di balas dengan anggukkan oleh tuan Arsen secepatnya.


Kami pun segera masuk ke dalam mobil dan tuan Arsen benar-benar mengantarkan aku sampai ke depan rumah dan aku kembali membungkuk mengucapkan kalimat terimakasih kepadanya dan memberi hormat, sampai tuan Arsen pergi dari sana barulah aku segera masuk ke dalam dan sudah di sambut oleh ibuku juga Mika saat itu.


"Kak...Anna....kenapa kamu pulang larut hari ini?" Tanya Mika sambil membantu aku membawakan tas milikku saat itu,


Baru saja aku hendak menjawab pertanyaan dari Mika namun ibu justru malah menimpali ucapanku lebih dulu dan dia justru menanyakan hal yang sama dengan apa yang di tanyakan oleh Mika padaku barusan.


"Ehh...Anna ada apa denganmu? Kenapa matamu itu terlihat sembab apa kamu baru saja menangis ya?" Tanya ibu sambil berjalan menghampiriku saat itu.


Ibu hendak memegangi wajahku namun dengan cepat aku langsung saja menahan tangan ibu karena aku tidak bisa membiarkan ibu mengetahui apa yang terjadi kepadaku di belakangnya, apalagi jika sampai ibu mengetahui kalau aku seperti ini karena melihat David sudah bisa di pastikan ibu tidak akan terima begitu saja dan bisa-bisa ibu akan pergi untuk memarahi David secara langsung.


"Aahh...ibu aku baik-baik saja tadi itu aku sangat mengantuk dan terus menguap hingga mataku berair karena aku terus menahan diri agar tidak tidur, aku pulang larut karena banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini, soalnya ada sekretaris baru yang menggantikan sekretaris Mey, jadi dia tidak secepat sekretaris Mey dalam membantuku" balasku menjelaskan kepada ibu dan beralasan terus kepadanya.


Ibu terlihat menatapku dan menyelidik namun untuknya itu sudah bisa di alihkan oleh Mika yang segera menarik aku dan mempersilahkan aku untuk duduk sambil menyajikan makanan kepadaku dengan cepat.


"Sudah...Tante kak Anna kan baru pulang, biarkan dia duduk dan makan malam dulu, ayo kak Anna" ucap Mika sambil menarikkan kursi untukku dan aku segera berterima kasih kepadanya.


"Hehe... terimakasih Mika kamu memang sangat perhatian sekali kepadaku" balasku kepadanya sambil segera duduk.


Tapi sayangnya ibu tetap saja merasa penasaran dan terlihat jelas bahwa saat itu ibu sama sekali tidak terlalu mempercayai jawaban dariku, sehingga dia malah duduk di hadapanku dan mulai memberikan tatapan lekat kepadaku tanpa henti.


"Anna ..memangnya siapa sekretaris barumu itu?" Tanya ibu kepadaku.


Bodohnya aku justru keceplosan mengatakan nama Gisel kepada ibu karena saat itu aku tengah fokus menikmati makanan yang di buat oleh Mika dan malah mengatakan semuanya secara jujur tanpa ada yang aku sembunyikan pada ibu, padahal sudah jelas ibu tidak menyukai Gisel sebab dulu aku sempat di buat menangis sepanjang hari hingga malam hanya karena David yang lebih mementingkan Gisel di bandingkan aku.


"Aahh..itu dia Gisel ibu juga mengenalnya" jawabku dengan santai.


Ibu langsung membelalakkan mata menatap ke arahku dengan lebih lekat di bandingkan sebelumnya bahkan kedua tangan ibu sampai menyentuh meja dan dia terus mendekatkan wajahnya ke arahku saat itu.


"Apa dia Gisel teman SMA mu itu? Wanita yang menyukai David?" Tanya ibu semakin serius kepadaku,

__ADS_1


"Iya..memangnya siapa lagi, tidak ada Gisel lain yang aku kenal" balasku kepada ibu yang membuat ibu langsung menggebrak meja dengan keras sampai mengagetkan aku.


"Brak!" Suara gebrakan meja oleh ibuku saat itu.


"Eh...ayam ..ayam...ayam..aahhh..ibu, ada apa?" Tanyaku kepada ibu dengan wajah yang kebingungan.


Sedangkan ibu malah terus saja menatap ke arahku dengan tatapan yang terbilang sangat tajam sekali saat itu bahkan aku sendiri tidak tahu mengapa ibu bisa sampai seperti itu kepadaku, aku merasa aku tidak salah bicara saat itu, sampai tidak lama ibu mulai membicarakan masalah Gisel dan David, barulah saat itu aku langsung tersadar dengan apa yang membuat ibu membentak bahkan sampai menggebrak meja sekeras itu kepadaku sebelumnya.


"Apa Gisel bertemu dengan David di hadapanmu? Apa mereka kembali menyakiti kamu lagi, apa wanita sialan itu mau merebut David darimu lagi dan lagi? Anna kenapa kamu diam, ayo cepat jawab ibu!" Ucap ibu membentakku dengan matanya yang terbelalak sangat lebar saat itu.


Aku langsung terperangah kaget dan baru sadar bahwa aku sudah keceplosan membicarakan masalah kembalinya Gisel kepada ibuku saat itu, dan aku pun segera mendekati ibu lalu mulai memegangi kedua pundaknya dengan pelan sambil mengusapnya perlahan agar ibu tidak kembali marah lagi, karena akan sangat bahaya jika sampai ibu marah besar kepadaku ataupun pada David nantinya.


"Aahh..haha...ibu sebaiknya ibu duduk dulu dan tenangkan diri ibu, tidak ada sesuatu yang terjadi diantara dia dan Gisel ataupun diantara aku dengan mereka berdua, aku baik-baik saja jadi ibu tidak perlu merasa cemas oke" ucapku sambil bicara dengan lembut agar bisa membujuk ibu saat itu.


Untungnya ibu mau mendengarkan ucapanku meski wajahnya terlihat sangat kesal juga di penuhi dengan amarah tapi ibu masih mau mengikuti ucapanku untuk duduk kembali dan aku segera meminta Mika untuk membawakan minuman bagi ibuku secepatnya.


"Syuutt ..Mika tolong bawakan minuman dingin ya" ucapku kepadanya dan Mika segera pergi mengambilkannya.


Sedangkan aku segera duduk menggeser kursi ke samping ibu agar bisa lebih dekat dengannya dan berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan baik-baik.


"Ibu jangan marah lebih dulu, aku bisa menjelaskan semuanya padamu, dengarkan aku ibu David adalah pria yang baik omanya juga sangat baik kepada kita selama ini, ibu juga pasti merasakan semua kebaikan mereka bukan? Jadi sebaiknya ibu jangan marah kepada David ataupun mengatakan semua ini kepada omanya, aku baik-baik saja sekarang aku tidak masalah bahkan jika David mau dekat dengan wanita manapun" ungkapku membicarakannya kepada ibu.


"Anna...apa kamu yakin sudah tidak menyukai David lagi? Ibu masih bisa mengingat jelas bagaimana kamu dua kali di sakiti oleh David karena wanita yang sama dan semua ini jelas terjadi karena wanita bernama Gisel itu, sekarang dia kembali dan kamu malah mau menyerah seperti ini, apa kamu benar-benar sudah melepaskannya?" Tanya ibu kepadaku.


Aku tersenyum membalasnya dan segera meraih tangan ibu lalu menggenggam tangan itu dengan lembut sambil mengangguk berusaha untuk meyakinkan kepada ibu bahwa aku sungguh sudah baik-baik saja meski belum sepenuhnya.


"Ibu....lihatlah aku sekarang, bukankah aku sudah dua puluh satu tahun, bahkan sebentar lagi aku akan berusia dua puluh dua tahun, aku sudah harus terlepas dari perasaan yang tidak menentu ini bukan? Dan ibu sendiri yang mengatakan kepadaku, jika David tidak memberikan penjelasan terus menerus, bukankah aku harus melepaskan dia? Aku juga tidak bisa terus menunggu seseorang yang tidak pasti sepertinya, aku rasa aku akan membuka hatiku untuk orang lain, meskipun aku belum bisa melupakan semua kenangan ku dengan David sepenuhnya, atau mungkin saja semua itu tidak akan pernah bisa aku lupakan, namun bukan berarti aku akan bersama dengannya" balasku memberikan pengertian kepada ibuku saat itu.


Ibu langsung memelukku dan mengusap pundakku saat itu juga, dia terus menenangkan aku dan menghiburku dengan perkataan yang dia ucapkan padahal aku tahu dia merasa sangat kecewa dan pasti akan merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini, namun sayangnya ibu lebih pandai untuk menyembunyikan rasa sakit di dalam dirinya di bandingkan aku atau siapapun di dunia ini.


"Anna....ibu percaya denganmu, ibu akan selalu mendukung apapun keputusanmu tetapi ini adalah yang terakhir kalinya bagi ibu memberikan kesempatan untuk David, jika kedepannya kau membujuk ibu lagi untuk membiarkan kamu bergaul dengannya atau pun dengan wanita bernama Gisel itu terlalu dekat ibu tidak akan membiarkan semua itu terjadi, dan kamu harus menurut kepada ibumu ini, agar kamu tidak terus jatuh ke lubang yang sama, apa kamu mengerti?" Ucap ibu menasehati aku saat itu.


Langsung saja aku mengangguk dan mengusap tangan ibu yang memelukku dengan erat saat itu.


"Eumm...aku janji padamu ibu, aku akan hidup dengan bahagia tanpa kesedihan ataupun terus terjebak di masa lalu, aku akan melepaskan semua kesedihan itu aku akan terlahir kembali dengan Anna yang baru dan yang lebih bahagia" balasku kepada ibu saat itu.


"Iya...tapi ingat jangan lupakan dengan penyakit radang ususmu kamu harus tetap menjaga kondisimu apa kamu mengerti?" Ucap ibu terus saja menasehati aku.


"Haha...iya iya ibu, lagi pula ini hanya penyakit biasa kamu tidak perlu cemas, ini akan terus terjaga dan tidak akan memburuk, kau harus tenang oke" ucapku kepada ibu.

__ADS_1


Hingga tidak lama Mika datang membawakan minuman yang sudah dia buatkan untuk ibu, dia juga rupanya membawakan cemilan untuk kami berdua, dan kami langsung saja menikmati cemilan itu bersama-sama dengan adanya Mika aku merasa memiliki satu keluarga baru lagi, dan kami mulai mengobrol sambil bercanda bersama satu sama lain, itu sangat menyenangkan dan terasa sangat hangat bak sebuah keluarga bahagia sesungguhnya.


"Eeehh...sudah dong berpelukannya ini aku bawakan minuman dan cemilan malam untuk ibu dan kak Anna, ayo di coba ini buatan tanganku loh" ucap Mika mencairkan suasan diantara aku dan ibu yang hampir saja akan larut dalam kesedihan.


Aku mulai mencoba cemilan buatan Mika dan rasanya sungguh enak, dia adalah seseorang yang berbakat dalam membuat cemilan ataupun makanan penutup lainnya, semua jenis makanan penutup yang dia buat tidak pernah mengecewakan semuanya selalu enak dan sangat nikmat.


"Wahhh...Mika kamu semakin mahir saja membuat makanan penutup seperti ini, ini enak sekali loh tidak terlalu manis dan cukup renyah, iya kan Bu" ucapku kepada ibu.


"Iya....cocok sekali jika kue kering ini di nikmati sambil menonton film ataupun bersantai sambil menikmatinya di temani oleh kopi hangat, itu akan terasa lebih nikmat" balas ibu ikut memberikan komentar yang baik.


"Ahaha...kalian bisa saja, semua ini aku mendapatkan ilmu dari buku catatan yang kak Anna berikan kepadaku, setelah membacanya aku merasa memiliki keinginan besar untuk mencoba membuat semua itu, dan aku senang jika kalian berdua menyukai hasilnya, jadi ayo kita habiskan" balas Mika yang langsung saja membuat aku dan ibu tertawa lepas bersama.


Kami menikmati cemilan itu bersama-sama dengan penuh canda dan tawa, persaudaraan yang sangat harmonis diantara kami berdua sudah terjalin dengan sangat baik, bahkan aku dan ibu memang sudah menganggap Mika sebagai keluarga kami sendiri khususnya aku sudah merasa dia seperti seorang adik untukku.


Meski Mika hanya lulusan SMA tetapi dia bisa belajar dengan cepat, dan dia cukup berbakat dalam memasak, sehingga aku berpikir untuk menyekolahkan dia lebih tinggi dan kuliah di fakultas khusus untuk mendalami skill memasaknya itu.


Maka dari itu aku harus lebih semangat bekerja agar bisa menguliahkan Mika sekaligus mengembangkan restoran yang tengah aku perjuangkan saat ini.


Selama masih ada ibu di sampingku dan ada Mika yang bisa membantu kami kapanpun, rasanya aku tidak memerlukan apapun lagi, karena mereka sudah lebih dari cukup untukku, hidupku terasa luar biasa dengan adanya mereka dan aku selalu merasa di perhatikan juga sangat disayangi dengan adanya mereka berdua yang selalu menyambut aku setiap kali aku pulang bekerja juga selalu menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untukku.


Hari demi hari sudah terus berganti, semua pekerjaan di kantor sudah bisa aku tangani dengan lebih mudah, semua penjualan berkembang sangat pesat dan aku sangat bersyukur sekali atas semua pencapaian yang bisa kami semua lakukan namun belakangan ini semenjak adanya Gisel aku merasa aku menjadi sedikit jauh dari David, dan rasanya jarak diantara David denganku terlihat semakin jelas dari hari ke hari, di tambah David yang kini semakin di sibukkan dengan semua pekerjaan yang dia lakukan, juga pembangunan yang tengah dia tangani termasuk pengembangan bisnis real estate yang dia jalani saat ini.


Aku sudah berusaha untuk melupakan dia tapi aku tetap merasa penasaran dan heran sebab sudah berhari-hari David sama sekali tidak mengirimi aku satu pesanpun, Gisel juga tidak pernah membicarakan mengenai David kepadaku dia hanya bekerja seperti biasanya dan sudah tidak terlalu banyak bicara lagi kepadaku.


Tidak tahu apa yang terjadi kepadanya belakangan ini, karena wajahnya terlihat agak berbeda daripada biasanya yang selalu terlihat tidak bisa diam, banyak bicara dan sangat ceria, dia juga selalu membawa banyak make up di tasnya tapi kali ini dia terlihat berdandan sederhana dan mengubah tas yang biasa dia kenakan menjadi tas yang lebih minimalis.


"Ada apa dengan anak ini, dia mirip seperti orang yang tengah putus cinta, seharian tidak bicara padaku sama sekali, atau apa dia sakit ya?" Gerutuku memikirkan.


Aku ingin menanyakan kepadanya dan ingin memanggil nama dia untuk memastikan namun karena terus saja melihat ekspresi wajahnya yang terus cemberutmu seperti itu membuat aku agak canggung untuk bicara kepadanya dan aku sangat ragu-ragu sekali untuk memanggilnya saat itu.


Sampai tidak lama malah sekretaris Mey juga beberapa karyawan lain yang datang secara tiba-tiba ke dalam ruanganku memberikan sebuah kejutan untukmu secara tiba-tiba membuat aku sedikit kaget dan senang mendapatkan kejutan tersebut.


"Tak ....petak...petak......horeee...selamat Chef Anna....." Suara sekretaris Mey yang membuat suara-suara keras mengagetkan aku dengan banyaknya bunga yang dia lemparkan keatas kepalaku hingga semua itu berserakan di lantai dan ada juga yang memenuhi tubuhku.


"Eehhh...ada apa ini, kenapa kalian melakukan semua ini, oohhh astaga ruanganku berantakan karena kalian" ucapku untuk pertama kalinya karena tidak mengerti dengan apa maksud mereka melakukan semua ini,


"Ahaha....Anna ayolah kami membuat kejutan karena kamu berhasil menjual banyak sekali produk makanan terbaru bahkan sampai menguasai pasar untuk dua bulan berturut-turut, dan aku rasa ini akan terus berlangsung lama karena angkanya terus menanjak, bukankah itu keberhasilan pertamamu yang sangat luar biasa, jadi kami pantas merayakannya untukmu dan memberikan kejutan ini" ucap sekretaris Mey menjelaskan kepadaku.


Aku pun langsung tersenyum merasa sangat senang ketika mendengar penjelasan itu, aku tidak menduga mereka bisa se sweet ini dalam memperlakukan aku.

__ADS_1


__ADS_2