
Aku juga sangat kaget dan syok ketika mendengar penuturan kata dari Gisel saat itu dia mulai mendekati aku lagi dan aku masih belum bisa menyadari semuanya bahwa Gisel benar-benar sudah memberikan kesuciannya kepada David, dan saat itu David juga kembali menatap ke arahku dengan tatapan matanya yang sendu dan terus saja dia berjalan mendekati aku sambil hendak memberikan penjelasan kepadaku saat itu.
"Maafkan aku...maafkan aku Anna..aku tidak bermaksud melakukan itu, aku hanya tengah mabuk ketika melakukannya dengan Gisel semua itu di luar kendaliku, itu hanya sebuah kesalahan Anna tolong kembali padaku." Ucap David membuat semuanya semakin jelas.
Secara tidak langsung dan tanpa dia sadari ucapan dia saat itu menunjukkan bahwa dia mengakui perbuatan yang dia lakukan kepada Gisel sebelumnya dan kini Gisel juga terlihat semakin sedih dia yang sebelumnya begitu keras dan penuh dengan keberanian justru malah terlihat lemas dan menangis di hadapanku sambil memegangi mulutnya dan berusaha menahan rasa sakit di dalam hatinya dengan sekuat tenaga.
Aku sungguh benar-benar sangat tidak tega melihat kondisi Gisel saat itu, aku tahu dan memahami apa yang dia rasakan disaat pria yang sudah merenggut kesuciannya justru malah dengan mudah mengatakan semua itu adalah sebuah kesalahan padahal semuanya sudah terjadi dan seharusnya David bertanggung jawab atas Gisel bukannya malah mengungkapkan perasaannya kepadaku dan terus memaksa aku sampai seperti sebelumnya, dia bersikap liar kali ini dan aku tidak bisa menghadapi dia lagi.
Hingga dengan cepat aku segera menarik tangan Gisel dan membawa dia untuk segera masuk ke dalam taxi denganku secepatnya meninggalkan tempat itu.
"Gisel ayo kita pergi dari sini, David sudah bukan dirinya lagi sekarang, biarkan saja dia memikirkan kesalahan dia sendiri hingga dia sadar atas apa yang sudah dia lakukan padamu, ayo cepat masuk Gisel." Ucapku kepadanya.
Gisel segera masuk lebih dulu ke dalam taxi yang sudah aku hentikan sedangkan Davin menahan tanganku disaat aku hendak ikut masuk ke dalam taxi itu.
Dengan cepat aku segera mendorong dia sekali lagi hingga membuat David benar-benar tersungkur di tanah cukup kuat.
Entah darimana saat itu aku bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini, padahal sebelumnya aku sama sekali tidak memiliki kekuatan seperti ini aku sama sekali tidak pernah mendorong David apalagi bertindak kasar kepadanya selama ini, tapi kali ini untuk pertama kalinya aku sangat membenci sosok David dan rasanya ingin menghabisi dia dengan kedua tangan dan sekuat tenagaku seorang diri sampai aku puas saat itu.
Namun aku masih sadar bahwa David adalah temanku yang selalu menemani aku, melindungi aku dan selalu membersamai aku sejak aku kecil hingga sebesar sekarang, dia juga pernah menjadi pria yang sangat menghormati aku sebagai seorang perempuan buka pria brengsek seperti yang aku lihat saat ini.
"Anna..jangan tinggalkan aku, jika kau minta aku bertanggung jawab pada Gisel aku akan melakukannya Anna aku akan bertanggung jawab pada bayi di kandungan Gisel tapi kamu harus menjadi kekasihku, aku bisa membahagiakan kalian berdua bersama-sama aku janji padamu Anna!" Ucap David yang sangat serakah saat itu.
Entah mungkin karena mendengar ucapan itulah aku bisa tersulut emosi dan langsung saja mendorong dia dengan kuat.
Hingga membuat David jatuh tersungkur ke tanah dengan sangat kuat sekali saat itu, dan aku sama sekali tidak memperdulikan dia lagi mulai saat ini.
"Dengar baik-baik David, mulai sekarang aku tidak akan pernah bicara denganmu lagi, sebelum kau bisa mengetahui dimana letak kesalahan dalam dirimu dan bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah kamu lakukan, dan jangan pernah menemui aku lagi!" Ucapku dengan sorot mata yang tajam dan perkataan yang tegas kepadanya saat itu.
Aku langsung segera masuk dan membanting pintu taxi tersebut cukup keras, aku segera meminta sang supir membawa kami ke kantor tuan Arsen karena mau bagaimana pun aku sudah harus masuk dalam beberapa menit lagi jadi aku harus pergi ke sana dan membawa Gisel kesana juga agar kami bisa bicara di ruanganku nantinya.
__ADS_1
"Sejak kapan David berubah sampai menjadi seburuk ini? Kenapa aku baru menyadari perubahan dia ketika sudah menjadi sangat fatal seperti ini, aku gagal menjadi penjaga untuknya, aku juga gagal menjadi sahabat yang baik untuk David, aku justru malah memperlakukan dia dengan kasar, maafkan aku David." batinku merasa sangat tidak menentu.
Selain itu selama di perjalanan aku juga berusaha untuk menenangkan Gisel karena dia terus saja terlihat menunduk sambil menangis terisak tanpa henti dan menutupi wajah dia dengan kedua telapak tangannya.
"Gisel sudah kamu tidak pantas menangisi pria seperti dia, sudahlah semuanya sudah terjadi kamu harus tetap melanjutkan hidupmu yang lebih baik lagi dan lupakan lah David dia bukan pria yang baik untukmu." Ucapku kepadanya sambil mengelus punggungnya dengan perlahan.
"Hiks...hiks...hiks.. aku tidak bisa Anna..aku sudah sangat menyayangi David, dan janin yang ada di perutku saat ini adalah buat dari perbuatan dia kepadaku malam itu, aku pikir dia akan bertanggung jawab walau karena terpaksa kepadaku, namun ternyata... ternyata aku salah, dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas semua ini, aku harus bagaimana sekarang Anna..hiks...hiks..aku tidak mau menjadi gunjingan orang-orang nantinya jika sampai perutku membesar dan aku belum menikah dengan siapapun, aku tidak sanggup jika harus menanggung malu sebesar itu Anna," jawab Gisel kepadaku.
Aku langsung memeluknya dan aku tahu bahwa semua ini sangatlah berat untuk seorang Gisel, aku juga tahu bahwa semua ini bukanlah hal yang mudah untuk di hadapi seorang Gisel, terlebih dia hanya tinggal sebatang kara selama ini.
"Gisel...tenang saja aku punya cara yang bagus agar bisa membuat David bertanggung jawab pada janinmu, setidaknya agar dia mau untuk menikahimu walaupun aku tahu dia bukan pria yang pantas untukmu," ucapku kepadanya.
"Anna..apa kamu masih mau membantuku di saat aku sudah mengkhianati kamu? Sebenarnya semua ini tidak sepenuhnya kesalahan David, aku menikmati semuanya aku juga sama sekali tidak berontak ataupun berusaha untuk menyadarkan David di saat dia mengira aku adalah dirimu, dan dia tengah dalam pengaruh alkohol saat itu, aku hanya diam saja dan malah terlena dengan dia, jadi aku juga salah disini, aku mohon maaf padamu Anna sekarang aku merasa sangat malu padamu." Balas Gisel yang membuat aku sangat kaget mendengarnya.
Setelah mengetahui hal itu dengan cepat aku menarik kembali tanganku yang sempat mengusap punggungnya dengan pelan saat itu, dan aku dengan cepat segera dan menjauh dari dudukku darinya.
"Jadi maksudmu, kau dan David adalah orang brengsek yang sama? Dan kalian pantas mendapatkan semua ini? Seperti itu?" Tanyaku kepada dia untuk memastikan.
Mudah sekali dia meminta maaf kepadaku disaat aku sudah membela dia dan membantu dia terlepas dari David aku juga sudah menyalahkan semuanya pada David, tapi rupanya mereka memang sama saja, tidak ada yang benar ataupun baik diantara mereka berdua dan aku tahu sekarang bahwa mereka berdua pantas mendapatkan hal seperti ini.
"Hah....aku sudah memaafkanmu dan sepertinya kamu tidak harus meminta maaf kepadaku karena David bukan siapa-siapa untukku, kamu bisa memilikinya sebagai apapun yang kamu mau, bahkan jika kau mau menjadi pelacur hanya untuk David aku tidak masalah." Ucapku kepadanya.
Aku segera menghentikan taxi tersebut dan segara keluar dari sana sambil segera berlari dengan kencang masuk ke dalam perusahaan sambil memegangi hatiku yang terasa sangat sakit sekali, rasanya aku sungguh sudah benar-benar mati rasa hanya karena ulah mereka berdua saat itu, aku sudah berusaha menahan emosi dan rasa sakit di dalam hatiku terlalu lama untuk mereka berdua selama ini dan puncaknya malah aku ketahui di waktu yang tidak tepat seperti ini, tidak terbayangkan bagaimana perasaan omanya David jika sampai dia mengetahui tentang semua kelakuan David di luar sana yang sangat rusak sampai seburuk ini.
Gisel juga langsung berteriak berusaha untuk memanggil aku dan menghentikanku namun aku tetap pergi darinya hingga Gisel juga tidak berani untuk keluar dari taxi untuk mengejar aku, mungkin dia juga akan merasa malu dengan wajahnya yang sudah sembap karena terus menangis sangat lama saat di perjalanan sebelumnya.
"Anna..Anna..tunggu jangan pergi dulu Anna aku belum selesai!" Teriak Gisel kepadaku dan aku sudah mengabaikan dia dengan sangat cepat.
Hingga ketika aku sudah berada di dalam ruanganku, aku hanya bisa duduk di depan meja kebesaranku sambil menatap kosong ke depan laptop sambil terus merasa kebingungan sendiri, tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan saat ini bahkan untuk bekerja pun tidak akan bisa aku lakukan dengan benar, sebab pikiranku sudah terlalu kacau saat ini, aku hanya menghembuskan nafas berkali-kali dengan kasar, aku berusaha keras untuk melupakan dua sosok yang sudah menghancurkan kepercayaan dan meninggalkan sebuah kekecewaan untukku sejauh ini.
__ADS_1
"Kenapa... kenapa mereka bisa sampai melewati batas seperti itu? Hah....kenapa aunharus mengetahui semua ini? Lebih aku tidak mengetahuinya sama sekali dari pada harus terlibat sampai sejauh ini dengan mereka berdua yang sama-sama teman tidak tahu diri." Gerutuku terus saja merasa sangat emosi sendirian.
Aku langsung menundukkan kepalaku ke bawah hingga sekretaris Mey datang menemui aku dan dia langsung menghampiriku sambil menanyakan keberadaan aku saat itu.
"Anna..ada apa denganmu, apa kamu sakit?" Tanya sekretaris Mey dengan wajah yang mencemaskan aku saat itu.
Aku segera saja mengangkat kepalaku dengan tegak dan berusaha untuk menyembunyikan semua kesedihan di dalam hatiku pada sekretariat Mey.
"Ohh, tidak kok, aku baik-baik saja, hanya saja tadi aku pergi ke sini dengan berlari terburu-buru karena takut telat jadi agak kelelahan saja, tidak ada masalah lain kok," ucapku menjelaskan kepada sekretaris Mey saat itu.
Untungnya sekretaris Mey mempercayai aku dan dia sudah tidak membahasnya lagi, dia juga segera saja memberitahukan akan mengenai dirinya yang akan kembali menjadi asisten pribadi untukku menggantikan Gisel untuk sementara waktu lagi sampai mereka bisa mendapatkan kandidat yang cocok nantinya.
"Ohh..begitu ya, syukur deh kalau ternyata kamu baik-baik saja, tapi Anna ada yang mau aku katakan padamu ini sangat penting dan aku yakin kamu akan sangat senang mendengar pengumuman ini dariku." Balas sekretaris Mey kepadaku dengan wajahnya yang cukup mencurigakan saat itu.
Hal tersebut tentu saja membuat aku sangat penasaran dengannya dan aku langsung mengerutkan kedua alisku sambil menatap sekretaris Mey dengan lebih lekat dan tajam karena aku sangat mencemaskan apa yang sebenarnya akan dia beritahukan kepadaku saat itu.
Meski dia sendiri sudah memberikan sedikit bocoran padaku bahwa kabar yang dia bawa akan membuat aku bahagia ketika mengetahuinya, namun tetap saja aku yang pada dasarnya seorang introvert justru malah terus merasa tidak sabar sekali untuk mendengarnya dengan lebih cepat.
"Apa yang mau kamu katakan, ayo cepat katakan saja aku sudah sangat tidak sabar sekali untuk mendengarnya." Ujarku kepada dia saat itu.
"Ahah...kau sudah sangat penasaran ya? Haha..oke aku akan memberitahumu, pasang telingamu dengan baik saat ini, aku akan mulai membicarakan hal yang penting ini kepadamu dengan secepatnya." Ujar sekretaris Mey yang masih belum mengatakannya juga, padahal aku sudah benar-benar sangat tidak sabar.
"Anna..aku akan menjadi asisten dirimu lagi huaaa.. bagaimana apakah kamu sangat senang mendengarnya?" Ungkap sekretaris Mey dengan begitu antusias sekali mengatakan ucapan tersebut kepadaku.
Padahal aku sama sekali tidak merasa antusis atau pun kaget dengan apa yang di ungkapkan oleh sekretaris Mey kepadaku saat itu.
"Oh...hanya itu saja? Aku pikir kabar apa, ahh sudahlah kau pergi ke mejamu sekretaris Mey aku akan segera beristirahat dahulu saat ini, karena pikiranku sudah sangat mumet sekali dan aku tidak sanggup lagi untuk mengerjakan tugas ini sendiri." Balasku kepadanya dengan jujur dan terdengar sangat datar sampai tidak memiliki energi sedikitpun pun di dalam hatiku saat itu.
Sedangkan sekretaris Mey terlihat mengerutkan kedua alisnya kepadaku dan jelas sekali saat itu dia terlihat sangat kecewa dengan apa yang aku berikan dalam menyambut keberadaan dia saat itu.
__ADS_1
"Kamu....kenapa kamu sangat santai dan biasa saja seperti ini? Apa kamu tidak senang ya, ketika mendengar kabar gembira ini?" Ujar sekretaris Mey terus bertanya-tanya kepadaku saat itu dengan wajahnya yang keheranan sendiri.
"Hmm..aku senang kok, aku bahkan sangat senang sampai ingin berjingkrak ria, tapi kau lihat bukan, energiku sedang sangat tidak baik akhir-akhir ini jadi aku tidak memiliki mood untuk terlalu antusias saat ini, maafkan aku." Balasku dengan jujur kepadanya.