
Hingga ketika sudah sampai di depan ruang kantornya segera aku mengetuk pintunya dan terdengar sahutan dari dalam mengijinkan aku untuk masuk, segera aku masuk dengan berjalan menunduk sambil terus saja memikirkan apa kesalahan aku kepada dia tanpa henti hingga ketika sudah menghadap kepada dia di depan wajahku aku langsung saja menanyakan secara langsung kepadanya.
"Selamat pagi tuan, ada apa anda memanggil saya kemari sepagi ini?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Aahhh tidak ada apapun, aku hanya ingin menanyakan apakah tanganku baik-baik saja dan apa kamu sudah memeriksakannya ke dokter?" Tanya tuan Arsen kepadaku membuat aku terperangah langsung saja membelalakkan mataku dengan sangat lebar saat itu juga.
"Hah?...a..apa...aahhhh...iya tanganku baik-baik saja tuan ini sudah sedikit membaik aku juga sudah memeriksakannya ke dokter ahaha...kau tidak perlu mencemaskannya" balasku kepadanya dengan sedikit gugup dan masih kaget tidak karuan.
Pada awalnya aku pikir tuan Arsen memanggilku karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku makanya aku sangat kaget dan merasa gugup pada awalnya dan ketika aku masuk lalu dia malah menanyakan mengenai keadaan tanganku makanya aku langsung terperangah sebab rasanya menanyakan hal tersebut tidak sepenting itu bagi dia seharusnya, sebab ini juga terjadi bukan karena kesalahannya hanya aku sendiri saja yang ceroboh dan tidak melihat bunga itu dengan benar sebelumnya sehingga kecelakaan kecil seperti ini tidak bisa aku hindari.
Setelah aku mengatakan kepadanya bahwa tanganku baik-baik saja dan sudah membaik seiring berjalannya waktu namun yang tidak aku sangka dia tiba-tiba saja memberikan aku libur dengan begitu mudahnya.
Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk meminta izin kepadanya karena aku pikir ini hanya luka biasa saja jadi aku masih bisa menahan rasa sakitnya dan aku masih bisa beraktivitas seperti biasanya walaupun telapak tanganku di perban seperti ini.
"Anna sebaiknya kau meliburkan diri saja, aku akan memberikan cuti sakit untukmu jika kau mau" ucap tuan Arsen begitu saja.
Tentu aku langsung menolak tawaran dari dia dengan halus karena aku tidak ingin menjadi sumber iri para karyawan lainnya dimana aku tahu ini tidak akan di lakukan oleh tuan Arsen kepada karyawan biasa lainnya dan aku tidak ingin menimbulkan kecemburuan sosial di tempat itu.
"O..ohhh... terimakasih tuan tapi saya rasa saya masih bisa menahannya dan bisa menangani pekerjaan saya sendiri walaupun tangan saya seperti ini, dokter juga sudah mengatakan ini sudah bisa dibuka setelah tiga hari saja dan aku bisa memakaikan plester khusus saja di tanganku agar memudahkan aku dalam menggerakkannya jari-jari tangannya" balasku segera menjelaskan kepadanya beserta dengan semua penjelasan yang rinci berharap dia akan mendengarkan aku.
Tapi aku memang sudah bodoh, dia tetap tidak akan mungkin mendengarkan aku meski aku sudah menjelaskan semuanya dengan panjang dan lebar bicara tanpa henti kepadanya berusaha meyakinkan dia bahwa ini hanya luka di tangan akibat sebuah duri tajam di bunga mawar saja, dan tidak perlu terlalu lebay untuk mengkhawatirkan masalah luka tersebut sampai memberikan aku cuti sakit dengan waktu yang cukup lama saat itu.
"Sudahlah kau sebaiknya tinggal dan istirahat saja dirimu di rumah, saya tidak akan memotong gajimu karena kau seperti itu dalam waktu kerjamu dan masih bersama denganku jadi anggap saja ini adalah bentuk pertanggung jawaban dari saya, kau harus mengambil cuti sakit selama lima hari yang saya berikan untukmu" ucap tuan Arsen begitu saja sudah memutuskan semuanya sendiri.
Aku hanya bisa menatap dengan kaget dan kedua mata yang terbuka lebar merasa sangat aneh dan keheranan tidak menentu mendengar penuturan kata darinya seperti itu.
"AA..AA..apa tuan? Lima hari?" Ucapku bertanya lagi kepadanya karena aku masih belum bisa mempercayai apa yang dia katakan barusan kepadaku.
Libur selama lima hari rasanya terlalu berlebihan untukku karena yang terluka hanya telapak tanganku saja itu pun juga tidak sepatah yang dia bayangkan atau apa yang dia pikirkan di kepalanya saat itu sampai bisa-bisanya memberikan aku cuti sakit kecelakaan kerja selama lima hari penuh di tambah hari Minggu libur menjadi enam hari, aku sungguh tidak mengerti dengan pola pikir seorang tuan Arsen saat itu.
"Iya...lima hari, memangnya kenapa kamu sampai kaget seperti itu, apa lima hari kurang? Baiklah kalau begitu tujuh hari saja" ucap dia yang malah menambahkan lagi jadwal cutinya.
__ADS_1
Dengan cepat aku segera menyanggah ucapannya karena aku takut dia akan menambah kembali libur cuti sakitnya untukku sehingga membuat aku semakin akan di curigai oleh para karyawan lainnya, terlebih lagi saat ini saja mereka sudah sering membicarakan aku di belakang dan banyak juga yang sering mengira bahwa aku di anak emaskan oleh tuan Arsen, daripada kenyataannya aku juga tidak pernah mengharapkan bisa di perlakukan seperti itu oleh tuan Arsen sendiri di tambah aku juga tidak pernah merasa di anak emaskan olehnya, dia hanya terlihat baik dan seperti memperhatikan aku pada luarnya saja karena dia juga tetap bersikap keras dan tegas kepadaku bahkan jika saja mereka tahu bahwa aku lebih senang diabaikan oleh tuan Arsen layaknya karyawan lainnya, mendapatkan perhatian seperti ini darinya cukup merepotkan untuk orang seperti aku yang tidak terlalu senang mendapatkan hal-hal seperti itu, sebab aku tidak terbiasa merasakannya.
"Tuan...tunggu, lima hari itu sudah terlalu banyak untukku di tambah anda malah menambahkannya lagi, maksud dari ucapanku sebelumnya adalah aku ingin tetap bekerja saja tanpa mengambil cuti sakit darimu, karena saat ini aku masih sehat dan aku sungguh sanggup untuk melakukan pekerjaanku, lagi pula pekerjaan ku tidak membutuhkan banyak energi sebab aku tidak akan mengangkat barang-barang apapun yang berat dan bisa membuat lukaku dalam bahaya, aku hanya duduk di depan komputer dan mencari ide lainnya untuk makanan baru aku juga hanya memeriksa hasil dari rancangan tim kreatif kita, itu sama sekali tidak akan mengganggu Lundi tanganku tuan" balasku menjelaskan semuanya kepada tuan Arsen.
Aku masih saja berusaha untuk menjelaskan semuanya dan berharap dia bisa memahami apa yang aku utarakan saat itu kepadanya, bahwa memang pada kenyataannya aku tidak terlalu membutuhkan Citi sakit, aku hanya ingin menggunakan cuti sakit ku jika suatu saat nanti aku mengalami sakit yang memang benar-benar membuat aku tidak bisa datang ke perusahaan itu, barulah aku ingin menggunakan kesempatan itu, tapi jika sekarang tentu saja aku tidak kan melakukannya dengan ceroboh sebab jika aku terlalu banyak di ketahui tidak masuk kerja oleh karyawan lainnya dan bisa mendapatkan cuti sakit dengan begitu mudahnya bahkan tuan Arsen sendiri yang memberikannya dengan senang hati padaku, sudah pasti semua karyawan disini akan merasa iri dan membenciku nantinya.
Ya mungkin tidak akan seluruh karyawan membenciku karena mereka iri aku dekat dengan tuan Arsen tetapi kebanyakan memang seperti itu, aku sudah sangat sering mendengarkan bisikan gosip mereka secara tidak sengaja, buruknya mereka tetap membicarakan hal itu disaat mereka tahu bahwa aku ada di tempat tersebut, malah yang ada mereka justru mengencangkan suaranya seakan dengan sengaja menyindir aku dan berharap aku akan mendengarkan semua ocehan mereka saat itu.
Namun untungnya aku tidak sebodoh itu aku selalu memakai earphone ketika keluar dari ruanganku atau pergi ke dapur dan kamar mandi karena hanya kedua tempat itu dimana terdapat banyak orang yang selalu terciduk olehmu tengah menggosipkan aku dengan tuan Arsen dengan ucapan dan berita yang tidak berdasar sedikit pun, mereka terlalu mudah membicarakan keburukan orang lain bahwa dengan sengaja mengada-ada keburukan itu pada diri orang lain.
Hanya karena rasa iri dan tidak terima di dalam hatinya bahwa dia telah tertinggal cukup jauh daripada orang yang dia bicarakan saat itu sehingga dengan sengaja mereka memperburuk nama orang tersebut agar bisa setara lagi dengan dirinya atau bahkan ada juga yang sering dengan sengaja menjatuhkan orang lain lalu membandingkan dirinya sendiri denganku seakan dia lebih baik dariku padahal aku sama sekali tidak perduli sedikitpun dengannya.
Semua itu memang cukup menjengkelkan bagi dirinya juga dengan semua ucapan dan rumor yang mereka bicarakan tentang dirinya juga tentang tuan Arsen.
Tetapi apa yang dikatakan olehku pada tuan Arsen sambil berusaha untuk menahannya semua itu hanyalah pembicaraan yang sia-sia sebab tuan Arsen tetap saja menyuruh dia untuk tetap harus mengambil cuti sakit yang dia berikan saat itu.
"Ya sudah kau bisa libur berapa hari pun yang kau inginkan, aku memberikan kebebasan untukmu karena kau sudah memenangkan lomba itu untuk perusahaan kami" balas tuan Arsen kepadaku.
Aku tau bahwa maksudnya itu baik untukku tetapi aku sama sekali tidak menginginkan hal itu sebab aku mengerti dengan jelas bagaimana sikap dan karakter dari orang-orang lain yang ada di sekitar kantor ini, dimana mereka tentu melihat semua kebaikan tuan Arsen dari sudut pandang yang berbeda dari apa yang dia lihat sendiri saat itu.
"Kau tahu siapa aku dan bagaimana aku bukan, jadi tidak ada yang bisa kau bantah jika aku sendiri sudah memutuskan, setidaknya kau harus menghargai kebaikan ku dengan tetap mengambil cuti sakit yang sudah aku berikan padamu untuk beberapa hari saja, bahkan jika kau hanya akan mengambilnya selama satu atau dua hari saja, aku tidak mempermasalahkan itu namun jika kau menolaknya terus seperti ini aku rasa aku tidak bisa menerima sebuah penolakkan dari siapapun tidak terkecuali dengan dirimu Anna" ucap tuan Arsen kepadaku dengan wajahnya yang begitu serius dan menatapku sangat tajam saat itu.
Karena dia sudah berbicara seperti itu kepadaku dan aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu saat itu, aku tidak bisa melakukan apapun lagi dan tidak bisa membantahnya sedikit pun sehingga aku hanya bisa pasrah menerima semuanya dengan hati yang lapang.
"Baiklah tuan, aku akan pergi dan akan mengambil cuti sakit darimu sebanyak tiga hari saja, bukan aku tidak menghormati dirimu tuan tapi aku hanya meminimalisir rumor yang akan beredar nantinya di kantor ini jika kau terus memperlakukan aku berbeda dengan karyawan lainnya terus menerus seperti ini, dan saya harap anda mengerti maksud saya itu" balasku padanya sambil segera berpamitan pergi dari sana secepatnya.
Aku segera pergi dari sana secepatnya dan kembali ke ruang kerjaku sendiri, aku masuk ke dalam kantor pribadiku dan langsung saja duduk di hadapan sekretaris Mey yang tengah fokus mengerjakan pekerjaan milikku di depan sana, aku hanya bisa langsung saja duduk dengan lesu sambil menempelkan kepalaku ke atas meja dengan wajah yang sangat tidak bersemangat saat itu.
"Huuuffftt....." Suara nafasku dengan lesu,
Aku tidak bisa bicara apapun lagi dan terus saja duduk dengan lesu sambil terus saja menempelkan wajahku ke atas meja dengan lesu, sampai sekretaris Mey langsung saja menegur aku dengan wajahnya yang terlihat sangat penasaran terhadapku.
__ADS_1
"Ehhhh.... Anna kamu sudah kembali? Kenapa menatap aku seperti itu, ada apa denganmu apa jangan-jangan kamu mendapatkan semprotan dari tuan Arsen ya?" Ucap sekretaris Mey sambil langsung saja berjalan mendekati aku dan terus menatap seperti menyelidiki aku saat itu.
"Tidak dia sama sekali tidak menyemprot aku dengan apapun, dia justru terlalu aneh dan baik padaku, aku tidak bisa menerima semuanya" balasku kepadanya saat itu.
Dengan cepat sekretaris Mey langsung saja menatapku dengan lebih tajam daripada sebelumnya dia begitu serius mendengarkan ucapanku tadi, dan sekarang justru mah menatapku dengan ke antusias san yang luar biasa, memang dia ini si paling senang jika membicarakan tentang tuan Arsen dan segala hal tentang dia.
"Wahh ...Anna lalu apa yang perlu kamu cemaskan dan perlu membuatmu sampai terlihat lesu dan lemah seperti ini jika memang tuan Arsen bersikap baik kepadamu, harusnya kau merasa senang bukan?" Balas sekretaris Mey kepadaku saat itu.
Dia sama sekali tidak tahu apapun dan tentu dia tidak akan merasakan apa yang aku rasakan dia tidak akan memahaminya karena tidak mengalami apapun yang aku alami, tentu itu sulit untuk menjelaskan kepadanya bagaimana dengan posisi aku saat ini dan aku juga tidak ingin membicarakan masalah tadi kepada sekretaris Mey sehingga ketika dia mendesak aku untuk segera menceritakan semua itu kepadanya aku langsung saja mendorong dia untuk pergi dari ruangan kerjaku sebab aku sudah tidak mood lagi untuk berbicara dengan siapapun termasuk dengan dirinya sekalipun.
"Anna kenapa kau malah diam saja, ayo dong bicara denganmu, ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi denganmu, siapa tahu aku bisa memberikan solusi terbaik untukmu, kenapa kamu malah tidak menjawabku seperti ini" ucap sekretaris Mey yang terus saja mendesak aku semaunya.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan yang datar dan sungguh sudah tidak bisa memberikan ekspresi apapun lagi kepadanya saat itu.
"Sekretaris Mey aku sedang tidak baik-baik saja sekarang, aku sudah lelah bisakah kau pergi saja dari sini, tolong berikan aku waktu untuk sendiri dulu, aku ingin menenangkan pikiranku, bisa kan sekretaris Mey?" Ucapku kepadanya dengan cara yang baik.
"Anna aku ingin menemanimu disini kenapa kau mah menyuruh aku untuk keluar, aku kan sekretaris mu tentu aku harus menemanimu" balas Sekretaris Mey yang malah membuat aku sedikit jengkel di buatnya.
"Sekretaris Mey....kau ini kenapa sih, tolong jika kau ingin memahami aku, pergilah dahulu, aku tidak ingin menyakitimu dengan ucapanku yang akan bisa keluar kalimat apa saja jika aku marah nantinya, aku mohon padamu" ucapku memohon padanya.
Sampai akhirnya sekretaris Mey pun mengangguk dan akhirnya dia mau juga keluar dari ruanganku dengan secepatnya.
"Ya...sudah..jika memang kamu mau ya begitu, aku akan keluar tapi jika kamu butuh apapun, beritahu aku secepatnya, jangan memendam semuanya sendirian ya, aku sangat memperdulikan dirimu" ucap sekretaris Mey dan langsung aku anggukkan kepadanya dengan cepat.
Dia pun segera pergi keluar dari ruangan kerjaku, dan aku hanya bisa berdiam diri sendiri dengan perasaan yang tidak menentu dan hanya bisa menunduk dengan lesu sambil menatap tanganku yang di bungkus perban seperti ini, aku benar-benar baik-baik saja tetapi dia terus menyuruh aku untu mengambil cuti sakit yang dia berikan, padahal aku sama sekali tidak memintanya.
"Aaishh...apa yang harus aku lakukan jika nanti mengambil cuti sakit darinya sebanyak tiga hari, aku harus apa tidak mungkin juga aku memasak dengan tangan seperti ini, ibu pasti tidak akan mengijinkannya" gerutuku terus saja merasa tidak menentu saat itu dan terus saja kebingungan sendiri.
Hingga jam pulang kerja sudah tiba dan sekretaris Mey sudah datang menjemputmu ke ruang kerja, hingga kami berdua segera pergi bersama untuk turun ke lantai bawah, saat sampai di di bawah aku melihat sekretaris Mey sudah di jemput oleh adiknya sehingga dia langsung saja pergi dengan cepat sedangkan aku sendiri hany berdiri menunggu taxi yang lewat di sekitar sana saat itu.
"Aahhh...Anna adikku sudah datang menjemput apa kau mau pergi denganku aku bisa mengantarmu" ucap sekretaris Mey menawarkan tumpangan,
__ADS_1
"Tidak usah aku baik taxi saja kasihan adikmu, bukankah kau bilang dia sama galaknya dengan tuan Arsen aku tidak bisa menghadapi orang yang mirip dengan tuan Arsen, aku sudah pusing hanya dengan satu tuan Arsen saja" ucapku kepadanya dengan sedikit bercanda saat itu.
Sekretaris Mey juga hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku sampai dia segera melambaikan tangan sambil masuk dengan cepat ke dalam mobil dan pergi bersama adiknya.