
Melihat David begitu akrab dengan wanita tersebut rasanya hatiku terasa begitu panas dan kesal yang bergejolak terus menerus tiada henti, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun, apalagi di saat harus melihat David memberikan minum pada sekretarisnya Lisa aku benar-benar sangat kesal di buatnya.
"Ya ampun sekretaris Lisa kau makan pelan saja ini aku ambilkan kamu minum" ucap David sambil mengambilkan minuman yang seharusnya itu milikku karena sebelumnya tuan Arsen yang memesankan itu untukku.
Aku membelalakkan mata melihat David mengambil minumanku begitu saja dan memberikannya pada wanita lain, aku sangat kesal meski seandainya dia tidak menyukai aku lagi, tetapi bukan berarti dia harus melakukan hal seperti ini padaku, bahkan sekretaris Mey saja mengetahui kejanggalan itu, aku sungguh merasa kesal dan malu, namun untungnya tuan Arsen memberikan minuman miliknya padaku dan dia menyuruhku untuk kembali makan secepatnya.
"Anna...ini ambil milikku saja aku akan pesan yang baru" ucap tuan Arsen memberikan minumannya kepadaku.
Aku hanya mengangguk membalas ucapan darinya dan berterima kasih kepadanya karena dengan adanya dia yang memberikan minuman itu kepadaku ternyata itu dapat menyadarkan David kalau dia salah mengambil gelas waktu itu.
"Aahhh...Anna, maaf ya aku ambil dulu minumanmu kau bisa pesan lagi kan, tadi Lisa tidak sengaja tersedak jadi aku refleks mengambil minuman yang paling dekat" ucap David dengan mudahnya mengatakan alasan itu padaku.
Aku masih sabar saat itu karena aku tidak ingin terlihat bertengkar dengan David di hadapan tuan Arsen juga sekretaris Mey, sehingga aku memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi masalah tersebut, membiarkan dia berlalu semaunya dan aku berusaha untuk mencoba mengesampingkan masalah tersebut.
"Ya...tidak papa, lagipula kamu sudah mengambilnya kan, dan sekretaris Lisa juga sudah meminumnya, aku tidak akan mengambilnya kembali" balasku kepadanya.
Bukan berpikir David justru malah berterima kasih dengan wajahnya yang masih santai seakan dia tidak memiliki dosa dan kesalahan terhadapku, dia benar-benar tidak peka dan tidak memahami aku sedikipun, padahal kita sudah bersama sejak kecil dan telah menghabiskan banyak waktu bersama-sama dalam melakukan semua hal selama ini.
Namun bisa-bisanya dia memperlakukan aku seperti ini hanya karena wanita yang baru saja bekerja dengannya dan baru satu Minggu dia kenal, jika semua ini terjadi pada Gisel mungkin aku tidak heran karena mereka juga sudah mengenal satu sama lain cukup lama, tapi kini aku melihatnya sendiri David tidak baik padaku saja atau pada Gisel tetapi dia memang baik pada semua wanita, dia selalu saja memperlakukan semua wanita di sekelilingnya dengan baik sehingga bisa saja semua wanita itu mengira bahwa dirinya di spesialkan oleh David dan parahnya David tidak bisa menahan dirinya untuk melakukan semua itu di hadapan aku sendiri.
"Ternyata bukan karena Gisel, tetapi memang David yang tidak pernah berubah atau aku yang baru benar-benar mengenal dia" batinku menyadarinya sekarang.
Sudah sekali dua kali aku di abaikan dan selalu tidak di jadikan yang pertama oleh David, aku mungkin bisa memaafkan dia dan melupakan semua masalah tersebut, aku bisa saja menganggap semua itu hanya kesalahpahaman saja diantara aku dan David, tapi ini benar-benar terjadi terus menerus sampai aku tidak tahu sudah berapa kali David membuat aku kecewa karena sifatnya tersebut.
Dia juga tidak pernah menyadari kesalahannya sendiri, dia tidak mengerti aku dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri, moodku untuk makan sudah terlanjur hancur karena David, aku tidak bisa melanjutkan makanku dengan baik saat itu dan hanya bisa terus menunduk dengan lesu.
"Anna...kenapa kau malah melamun seperti itu, apa kamu sakit?" Tanya David berbicara seakan dia mencemaskan dan memperdulikan aku,
"Tidak aku hanya sudah kenyang, kamu jangan menatapku seakan kamu mencemaskanku, aku tidak ingin di khawatirkan oleh sahabat sepertimu" balasku kepadanya sambil menekankan kata sahabat di dalamnya.
David hanya menatapku dengan mengerutkan kedua alisnya dan kebingungan sendiri, tapi aku sudah tidak merasa heran lagi ketika mendapatkan tatapan seperti itu darinya, dia lebih sering kebingungan, tidak memahami aku dan sering lupa akan janji denganku, itu selalu terjadi akhir-akhir ini diantara dia dan aku.
__ADS_1
Aku sudah banyak memberikan dia kesempatan dan selalu memaafkan dia tanpa dia meminta maaf sekalipun kepadaku, namun dilihat-lihat semakin kesini dia justru semakin bertingkah bebas dan tidak belajar dari kesalahan yang dia buat sekali, dia mungkin berpikir aku akan terus memaafkannya karena status kami yang sudah bersahabat sangat lama sejak kami kecil hingga kami dewasa seperti saat ini.
Namun aku rasa David telah salah dalam berpikir, aku tidak akan terus memaafkannya lagi, lagi dan lagi hanya untuk menyakiti aku.
"Anna...apa kamu sedang marah, apa yang membuatmu marah? Dan pada siapa kamu marah?" Tanya David kepadaku,
Sampai tidak lama, sebelum aku menjawab pertanyaan dari David sekretarisnya justru malah menyelah lebih dulu dan dia mengatakan bahwa dirinya tidak enak badan padahal aku tahu dan bisa melihatnya dengan jelas bahwa dia baik-baik saja beberapa saat yang lalu, tepat ketika David baru menanyakan keadaanku beberapa detik yang lalu.
"Aaa....aahhh...tuan David perutku sakit, aku juga merasa sedikit pusing, aku benar-benar merasa sangat tidak nyaman bisakah kita pulang sekarang?" Ucap sekretaris Lisa sambil memegangi tangan David.
Aku tahu wanita itu seperti tengah menggoda David dan lagi-lagi David mengabaikan aku, padahal sebelumnya jelas sekali bahwa David tengah bertanya kepadaku, mengenai keadaan aku, tapi wanita itu malah menyelah begitu saja.
"Ohhh...ya sudah ayo biar aku antar kau ke rumah sakit, Anna...tuan Arsen kami harus segera pergi, biar aku yang mentraktir kalian semua hari ini, maafkan aku Anna... Nanti aku akan menjemputmu saat pulang bekerja" ucap David dan aku hanya bisa diam saja melihat dia yang memapah wanita itu dengan terburu-buru pergi keluar dari restoran tersebut.
Setelah David pergi barulah aku benar-benar menghilangkan topeng di wajahku, aku langsung menundukkan kepalaku dengan perasaan sakit yang tidak menentu, dan tanpa sadar rupanya aku menitikan air mata saat itu.
"AA .....ahahah...konyol sekali, untuk apa aku menangis? Aneh, kenapa aku malah menangis?" Gerutuku terus saja bicara sendiri dan dengan cepat menengadahkan kepalaku ke atas berusaha agar air mataku tidak jatuh lebih banyak lagi.
"Ini hapus air matamu aku benci melihat wanita menangis, jadi berhentilah" ucap tuan Arsen kepadaku sambil memberikan tisyu,
"Tuan dengan kamu memberikan aku tisyu seperti ini, justru aku merasa ingin menangis sekarang, aahh...aku tidak akan tahan mataku sudah perih sekali, sepertinya aku kelilipan, sekretaris Mey ayo kita pergi dari sini" ucapku segera bangkit dan terus mengipasi wajahku sendiri.
Aku bahkan tidak menerima tisyu dari tuan Arsen dan segera menarik tangan sekretaris Mey untuk membawanya pergi dari tempat itu secepatnya, hingga setelah aku keluar dari restoran tersebut dan menghirup udara segar aku sudah bisa menahan air mataku lagi dan bisa menjadi jauh lebih baik di bandingkan sebelumnya.
"Huuuuh... udaranya cukup segar ya hari ini, langitnya juga cantik lihatlah senja mulai terlihat matahari sudah bergilir ini suda sore, apa kita terlalu lama meeting dan makan ya, waktu cepat sekali bergulir" ucapku berusaha untuk mengalihkan kesedihanku dengan melihat langit saat itu.
Sekretaris Mey seakan mengerti keadaanku, padahal dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku dan penyebab aku seperti ini tapi dia masih mau menggenggam tanganku dan menenangkan aku sampai membawa aku segera masuk ke dalam mobil di ikuti oleh tuan Arsen saat itu.
"Anna...tidak tahu masalah apa yang kamu hadapi sampai kamu seperti ini, tapi Anna aku yakin kamu bukan wanita lemah, ayo kita masuk, jangan mengingat rasa sakit lagi jika kamu tidak menginginkan hatimu terluka dan air mata membasahi pipiku lagi" ujar sekretaris Mey menyadarkan aku.
Segera aku mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil, bahkan tuan Arsen juga kembali duduk di sampingku dan mobil mulai melaju kembali menuju perusahaan secepatnya saat itu juga.
__ADS_1
Selama di perjalanan aku sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun hanya terus menatap ke luar jendela dengan menurunkan kaca jendelanya dan terus membiarkan angin dari luar menerpa wajahku saat itu.
Aku juga terus melihat ke arah langit dan melihat awan yang terus bergerak karena angin yang menghembus dengan cukup kencang sore itu.
"Apa aku terlalu berharap kepada David, tapi aku menyayangi dia, aku mencintai dia sejak lama, itu juga karena dia yang mengungkapkan perasaannya padaku saat itu, jika tidak mungkin aku tidak akan secinta ini padanya, apa aku bodoh sekarang?" Batinku terus saja tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri.
Aku dulu hanya menganggap David sebagai saudara laki-laki saja, aku tidak pernah menganggap lebih dirinya, namun selalu saja David yang memperlakukan aku layak ya seperti seorang pasangan baginya bahkan dia mengungkapkan perasaannya padaku sehingga lama kelamaan aku mulai menyukai dia sampai aku sadar bahwa saat ini aku benar-benar jatuh cinta kepadanya dan sudah benar-benar jatuh karena cintanya.
Ingin marah tapi aku tidak bisa ingin menegur dia juga tidak bisa.
Aku selalu berpikir bahwa aku tidak memiliki hak untuk melarang David dengan wanita manapun dan dengan siapapun karena dia bukan kekasihku, tatapi David tidak pernah bisa menjaga perasaanku, tidak mengerti apa yang sebenarnya dia pikirkan sampai dia melakukan semua ini kepadaku, dan tidak tahu apa yang kurang dariku hingga dia terus saja membuat aku tidak menentu dan tidak jelas statusnya seperti ini.
Rasanya aku tidak ingin lagi mendapatkan perhatian dan semua keistimewaan yang selalu dia berikan kepadaku, karena pada nyatanya aku tidak se istimewa itu di hatinya, mungkin dia juga hanya menganggap aku sebagai saudara perempuan saja, dan mungkin saja saat itu dia yang keliru memahami perasaannya sendiri sehingga kini setelah dia sudah sadar dia memutuskan untuk tidak melanjutkan janjinya padaku lagi.
"David...sampai kapan kamu akan seperti ini, aku butuh kejelasan darimu, jika memang kita berteman aku lebih senang jika kau hanya memperlakukan aku layaknya seorang teman biasa" batinku terus merasa sangat sesak karenanya.
Hingga tiba-tiba saja tuan Arsen mendekat ke arahku dan dia menaikkan jendela kaca mobil begitu saja membuat aku menatap heran kepadanya karena dia melakukan itu secara tiba-tiba tanpa memberitahu aku terlebih dahulu.
"Eehh ...tuan kenapa kau menutupnya aku ingin...." Ucapku tertahan karena tuan Arsen langsung saja memotong ucapanku saat itu,
"Anginnya terlalu kencang, apa kau mau membuatku jatuh sakit ya" balas tuan Arsen kepadaku.
Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu juga hanya bisa diam terduduk dengan pasrah tidak bisa melakukan apapun lagi, karena jika tuan Arsen sudah memutuskan seperti itu maka siapapun tidak ada yang bisa menyanggah dirinya, duduk hanya berdiam diri tanpa melihat apapun itu hanya akan membuat aku menjadi semakin terpuruk sehingga aku memutuskan untuk membuka ponselku, namun sialnya disaat aku membuka ponselku aku justru melihat sebuah cerita baru yang di unggah oleh David dan itu adalah fotret dirinya yang tengah duduk bersampingan dengan wanita bernama Lisa juga ada salah satu pria di samping David saat itu.
Meski di foto tersebut ada tiga orang tapi posisi duduk Lisa yang begitu dekat bahkan sampai menempel pada samping tubuh David itu sangat mengganggu aku dan membuatku semakin kesal.
Hingga tanpa sadar saat itu aku menggerutu sendiri, dan lupa bahwa ada sekretaris Mey di depanku juga tuan Arsen yang duduk di sampingku saat itu.
"Aishh...dasar menjengkelkan aku tidak akan melihatnya lagi, dasar sialan!" Gerutuku yang bicara terlalu kelas sambil terus saja memasukkan ponselku kembali ke dalam tas dengan kesal juga terburu-buru saat itu.
Sampai aku menoleh ke samping karena aku merasa ada suasana yang cukup mencekam pada bagian sampingku, aku baru saja tersadar bahwa ada tuan Arsen saat itu, dia tengah menatap tajam ke arahku dengan sorot mata yang dia sipitkan.
__ADS_1