
Bukan tidak memiliki cukup uang untuk membelinya tetapi uang yang aku punya harus benar-benar aku gunakan kepada barang dan hal yang aku butuhkan bukan yang aku suka, sehingga aku selalu harus berpikir ribuan kali jika ingin membeli barang-barang seperti itu, terlebih ibu juga selalu mengingatkan aku untuk menjadi hemat dan mengelola uang dengan benar agar tidak menyesal di akhirnya.
Jadi ketika aku bisa mendapatkan bonek yang aku harapkan sejak lama tentu saja aku merasa sangat senang dan terlampau gembira saat itu.
Hingga saking merasa senangnya aku tidak bisa berhenti terus tersenyum dan memeluk boneka Olaf kesayanganku itu sepanjang perjalanan, disisi lain tuan Arsen sendiri terlihat menatap sekilas dengan ujung matanya kepada Anna yang terus saja memeluk Boneka pemberiannya tersebut.
"Ekhmm...apa kau sangat menyukai boneka tersebut, sampai harus terus memeluknya seperti itu?" Tanya tuan Arsen kepadaku.
Aku langsung menatap ke arahnya sambil tersenyum lebar menampakkan gigiku yang putih saat itu.
"Tentu saja aku sangat menyukainya, kau tahu aku sudah menginginkan boneka ini sejak lama tapi harganya yang tidak masuk akal itu tidak mampu untuk wanita seperti aku yang harus mengelola restoran sendiri, semuanya harus sesuai dengan persetujuan ibu, sekalipun ibu mengijinkan, aku sayang jika membelikan yang yang sulit kami dapatkan untuk barang-barang seperti ini, tapi karena ini pemberian darimu aku akan menjaganya dan aku sangat senang sekali hehe terimakasih ya tuan Arsen" balasku kepadanya samb terus saja tersenyum cerah kepadanya saat itu.
"Baiklah mulai sekarang aku akan membelikan boneka apapun yang kau mau, kau tinggal katakan saja kepadaku" balasnya membuat aku sangat kaget dan heran.
Aku langsung saja membelalakkan kedua mataku dengan lebar ketika mendengar dia akan membelikan aku boneka dan aku hanya perlu mengatakannya saja kepada dia, aku sangat heran dan merasa kebingungan sendiri mendengar ucapan darinya saat itu, karena bagiku untuk apa juga dia membelikan boneka lain lagi bagiku di kemudian hari aku tidak seperti yang dia bayangkan.
"Ehhh.....tuan untuk apa kau berbicara seperti ini, aku hanya menginginkan boneka ini saja, tidak dengan yang lainnya, boneka ini saja sudah terlampau mahal aku belum tentu tahu kapan aku bisa mengganti uangmu yang kau habiskan untuk membeli boneka ini tadi, apalagi jika kau akan membelikan banyak boneka lainnya untukku, aku bisa mati pusing karena banyak hutang padamu" balasku kepadanya saat itu.
Tuan Arsen terlihat berwajah datar dan dia langsung saja menaikkan nada suaranya saat berbicara denganku saat itu, padahal aku sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan apapun kepadanya, aku tidak berbohong dan tidak membuat dia kesal saat itu, hanya saja dia malah terlihat kesal dan marah kepadaku tanpa aku tahu dimana titik kesalahan yang aku buat sampai membuat dirinya hingga semarah itu denganku.
"Heh....apa kau pikir aku memberikan pinjam uang untukmu, aku kan sudah bilang aku membelikannya untukmu itu gratis bodoh kau tidak perlu mengembalikan uangku" balas tuan Arsen kepadaku.
Aku semakin saja kaget dan heran di buatnya, karena pada awalnya aku pikir dia hanya meminjamkan uang kepadaku dan aku bisa mengembalikan uangnya di kemudian hari, namun rupanya dia malah memberikan itu kepadaku secara cuma-cuma, tentu saja aku sangat kebingungan, di jaman sekarang siapa yang mau memberikan hadiah dengan harga yang sangat mahal seperti itu kepada orang lain secara cuma-cuma, aku pikir itu tidak mungkin jadi aku berpikir dia hanya memberikan pinjam saja kepadaku.
"Hah? Tapi tuan untuk apa kamu memberikan ini padaku, aku kan tidak ulang tahun dan aku sama sekali tidak meminta hal seperti ini kepadamu, kenapa kau malah memberikannya kepada secara cuma-cuma?" Tanyaku kepadanya sambil mengerutkan kedua alisku bersamaan hingga hampir menyatu.
Saat aku bertanya seperti itu kepadanya, tuan Arsen justru malah terlihat sedikit gugup wajahnya itu meski tetap terlihat datar tapi aku tahu dan bisa melihatnya bahwa dia sedikit gugup karena tatapannya yang tidak fokus saat itu, melihatnya seperti itu aku semakin keheranan dan mencurigai dirinya yang terlihat aneh akhir-akhir ini.
"Tuan kenapa kau seperti itu, apa kau gugup karena aku menanyakan hal seperti tadi?" Tanyaku lagi kepadanya,
"Hahaha....apa yang kau pikirkan, mana mungkin aku gugup hanya karena hal semacam itu, aku sama sekali tidak gugup aku memberikanmu boneka itu karena aku merasa kasihan saja melihatmu terus menatap boneka itu dan malah mendapatkan bentakkan dari pelayan yang sombong tadi, aku hanya ingin membuktikan saja pada mereka bahwa aku bisa membeli seluruhnya yang ada disana jika aku ingin agar mereka tidak bersikap sombong lagi terhadap pelanggan seperti itu, apalagi sampai menepis tangan mereka dengan kasar" balas tuan Arsen menjelaskan.
Aku pikir apa yang dia katakan memang masuk akal aku pun hanya bisa mengangguk mengerti, tapi tetap saja alasan yang dia buat untuk memberikan boneka itu kepadaku rasanya terkesan seperti aku orang yang sangat menyedihkan sekali.
"Tuan... Padahal seharusnya jika kau merasa kasihan denganku kau tidak perlu membelikan ini padaku, aku merasa tidak enak denganmu...eumm.... Bagaimana jika aku akan membayarnya kepadamu jika nanti aku sudah mengumpulkan uangnya" ucapku mengusulkan kepadanya.
Aku sungguh tidak bisa merasa tenang ketika mendapatkan barang secara cuma-cuma tanpa ada sebab atau sesuatu hal yang jelas mengapa aku di berikan hadiah tersebut, apalagi ini diberikan oleh seorang tuan Arsen hanya karena kasihan kepadaku, aku tidak ingin orang lain mengasihani aku, karena aku pikir hidupku sudah jauh lebih baik dan aku tidak membutuhkan rasa kasihan dari orang lain.
"Tidak bisa sudahlah uang sekecil itu tidak ada apa-apanya untukku, kau jangan membuat semuanya semakin ribet" balas tuan Arsen kepadaku.
__ADS_1
Aku tahu uang senilai itu mungkin memang kecil di mata tuan Arsen karena dia sudah terbiasa memegang uang yang jauh lebih banyak dari itu, tetapi bagi orang di kelas sederhana sepertiku dan selalu berjuang dalam hidup untuk mencari makan sendiri, tentu saja uang senilai itu adalah uang dengan jumlah yang banyak dan bagiku itu berharga sehingga aku merasa sangat tidak enak jika menerimanya secara cuma-cuma saja seperti itu, aku pun tetap menolaknya dan masih tetap saja meminta dia agar menyetujui kesepakatan yang aku katakan kepadanya.
"Tidak bisa begitu tuan, kamu harus tetap menerima uang dariku, aku tidak terbiasa mendapatkan hal-hal seperti ini, jadi aku tidak bisa merasa tenang begitu saja, tolong kamu terima saja usulan dariku, aku janji kok aku akan benar-benar membayarnya kepadamu meski aku harus menyicilnya atau kau bisa memotong dari gajiku saja agar cepat lunas" balasku kepadanya.
Tuan Arsen yang sudah merasa jengkel dan kesal dia tidak bisa mengatakan apapun lagi selain dari menyetujui keinginan dari Anna yang ada di sampingnya saat itu, karena memang sangat menyebalkan baginya jika terus saja mendengarkan ocehan dan paksaan dari Anna yang terus memaksa untuk membayar uang dari membeli boneka tersebut.
"Ya..sudah...sudah....terserah kau saja aku tidak perduli urus saja sesuai dengan yang kau inginkan, aahhh kau ini benar-benar membuat aku pusing saja" balas tuan Arsen yang memang sudah tidak perlu dengan apapun lagi.
Aku merasa sangat senang karena akhirnya dia mau menerima ucapan dan usulan dariku, dengan begitu aku bisa merasa senang sekarang dan ketika ibu menanyakannya nanti aku juga bisa menjawabnya dengan jujur dan mudah jika memang akulah yang membelinya menggunakan uang orang lain, ya aku memang terlihat seperti meminjam tuan Arsen padahal aku sama sekali tidak berniat melakukan hal seperti itu, namun karena sudah terlanjur aku terima dan aku juga sangat senang menerimanya tentu saja aku harus tetap membayarnya dengan uangku sendiri.
Aku tidak ingin membuat semua orang menjadi salah paham jika seandainya mereka tahu kalau tuan Arsen membelikan boneka untukku secara cuma-cuma seperti itu, apalagi dengan David aku tahu dia akan marah dan kesal denganku nantinya, atau bisa juga dia yang akan menghajar tuan Arsen secara diam-diam di belakangku nanti, aku tidak ingin semua itu terjadi, dan hanya dengan cara itulah aku bisa meminimalisir hal semacam itu agar tidak terjadi lebih buruk di kemudian hari.
Hingga tidak lama kemudian akhirnya kami sampai di depan sebuah restoran kecil namun terlihat begitu ramai di penuhi dengan pengunjung, restorang daging panggang itu terlihat benar-benar seperti restoran yang menyajikan makanan enak bahkan harus daging panggang nya bisa aku cium ketika aku baru saja turun dari mobil bersama tuan Arsen saat itu.
"Euummm...bau apa ini sangat harus sekali dan rasanya ini seperti makanan yang lezat membuat aku semakin lapar saja" ucapku sambil menghirup wangi yang lezat tersebut.
"Ayo masuk jika kau sudah lapar, untuk apa mengendus di luar seperti kucing saja" balas tuan Arsen yang membuat aku langsung tertunduk malu.
Dia mengatakan hal tersebut secara gamblang dan cukup keras sehingga membuat orang lain yang ada disana juga bisa mendengar ucapannya kepada aku barusan, itu sungguh membuat aku malu tapi dia memang selalu benar dan tidak bisa dibantah oleh siapapun di dunia ini, bahkan meski aku keras kepala dan David sangat sulit di kalahkan tuan Arsen lebih dari kami berdua dia mungkin bisa dikatakan sebagai perpaduan dari manusia keras kepala dan karakter yang dingin yang sangat melekat pada tubuhnya itu.
Pemikirannya juga sangat sulit untuk di mengerti tapi dia adalah CEO yang kaya raya dan tentu saja dia seseorang yang jenius karena bisa memimpin perusahaan di usianya yang terbilang masih muda saat ini.
Aku juga segera masuk berlari kecil menyusul langkahnya yang sangat besar saat itu.
Hingga kami sudah memilih duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari tempat masuk ke ruangan itu, lalu tuan Arsen langsung saja memanggil pelayan dan memesankan makanannya segera. Aku sudah sangat tidak sabar menunggu makanan itu tiba dan aku juga terus melihat sedikit demi sedikit secara diam-diam ke arah wajah tuan Arsen yang saat itu masih terlihat fokus dengan layar ponsel di tangannya.
Entah apa yang sedang dia lihat saat itu sampai membuat wajahnya terlihat cukup serius dan alisnya sedikit mengkerut saat itu.
Aku juga berusaha mencari waktu yang tepat untuk meminta ponselku di kembalikan olehnya karena aku tidak bisa hidup tanpa ponselku, aku membutuhkannya untuk menghubungi ibuku dan David, aku masih berhutang penjelasan kepada David dan dia pasti akan marah besar jika aku tidak bisa dia hubungi dalam waktu yang cukup lama.
"Ekhm.....tu..tuan...boleh aku meminta ponselku kembali?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang cukup ragu dan sedikit takut saat itu.
Disatu sisi aku takut mendapatkan penolakkan darinya dan bentakkan, tali disisi lain aku lebih takut jika aku tidak mencoba untuk mengatakannya dan meminta agar ponselku di kembalikan olehnya, karena wajahnya saat ini terlihat cukup tidak senang.
Saat aku sudah mengatakannya dan meminta untuk dia mengembalikan ponsel itu kepadaku, dia justru langsung menaruh ponselnya dengan cukup keras ke atas meja dan menatap aku dengan tatapan yang sangat tajam saat itu.
Bahkan saking kerasnya dia menaruh ponselnya ke atas meja aku sampai tersentak ke belakang dengan kaget dan mengedipkan mataku dengan gugup saat itu.
"Brak....." Suara tuan Arsen yang menaruh ponselnya dengan keras hingga membuat aku sangat kaget, terperanjat cukup kuat saat itu.
__ADS_1
"Astaga....tu..tuan kenapa kau malah menaruh ponselmu seperti itu, apa kau tidak takut ponselmu akan rusak layarnya?" Tanyaku kepada dia.
Aku berusaha menahan diriku dan berpura-pura baik-baik saja saat itu padahal di dalam hatiku, aku merasa cukup kaget dan tanganku sebenarnya saat itu gemetar ketakutan karena melihat wajah dia yang menatap datar dan tajam kepadaku saat itu, aku bahkan sampai kesulitan menelan salivaku sendiri ketika melihat dia mendekatkan wajahnya kepadaku saat itu.
"Tuan..apa yang mau kau lakukan dimana ponselku, aku ingin memintanya kembali" ucapku kepadanya saat itu.
Butuh banyak keberanian untuk aku mengatakan hal tersebut kepada tuan Arsen, dan aku sudah berusaha mempersiapkan ucapan itu kepadanya dalam beberapa waktu terakhir sejak aku pertama kali masuk ke dalam restoran tersebut.
"Heh ...kau dengan baik-baik ucapanku ini" ujar tuan Arsen kepadaku dengan wajah yang sangat serius.
Aku langsung saja membalasnya dengan anggukan penuh karena aku juga refleks melakukannya saking takutnya melihat dia.
Dan tanpa aku sadari saat itu ternyata tuan Arsen melihat kaki dan tanganku yang gemetar saat dia berbicara denganku dan membentak aku seperti itu, aku tidak tahu apa yang dia lihat dariku karena matanya sama seki tidak beralih dengan benar, dan aku hanya merasa fokus dengan dirimu sendiri yang cukup gemetar merasa takut karenanya saat itu.
"CK....dia berbicara secara keras dan seakan berani kepadaku, padahal tubuhnya memberikan reaksi yang jujur jika dia tidak nyaman denganku, dasar manusia ini" batin tuan Arsen saat melihat tangan dan kaki Anna yang gemetar cukup keras saat itu.
Sampai tidak lama kemudian tuan Arsen pun kembali melanjutkan ucapannya kepada Anna tadi dan dia menatapnya dengan tatapan yang semakin tajam juga menyipitkan matanya untuk meyakinkan Anna bahwa ucapanya serius dan sungguh-sungguh memberikan peringatan kepadanya saat itu.
"Kau....tidak akan bisa mendapatkan ponselmu kembali sebelum syuting ini selesai aku, sudah membalaskan pesan dari ibumu dan akunsudah mengatakan bahwa semua orang tidak di izinkan untuk memakai ponselnya di saat syuting denganku, jadi kau jangan coba-coba meminta ponselmu lagi, apa kau mengerti!" Ucap tuan Arsen dengan tegas dan dia langsung saja kembali membenarkan posisi duduknya dengan tegak.
Lalu tuan Arsen pun segera meneguk kopinya yang sudah di sajikan oleh pelayan lebih dulu saat itu.
Aku sangat merasa sedih dan kesal yang bercampur menjadi satu ketika mendengar jawaban darinya, dia benar-benar membuat aku sangat kesal dan emosi, dia berbicara seperti itu kepadaku dan dengan berani-beraninya membalaskan pesan dari ibuku bahkan tanpa sepengetahuan aku atau meminta izin dahulu dariku.
"Tuan bagaimana kau bisa membalaskan pesan dari ibuku, memangnya kau tau password ponselku?" Tanyaku kepadanya merasa sedikit heran,
"Heh apakah kau sebodoh ini, ponselmu sama sekali tidak memakai password apapun tentu saja aku bisa dengan mudah memakainya" balas tuan Arsen membuat aku sangat kaget.
Aku langsung saja membelalakkan mataku dengan sangat lebar saat itu, aku baru ingat bahwa aku memang sudah tidak memakai password lagi di ponselku karena hal itu sering kali membuat aku kesulitan saat membuka panggilan darurat dari ibu atau yang lainnya, aku benar-benar merasa malu ketika sudah menyadarinya dan langsung menunduk dengan penuh rasa malu juga tidak tahu lagi harus menghadapi tuan Arsen bagaimana lagi disana.
"Aishh....bodoh, benar-benar konyol bagaimana aku bisa lupa dengan hal seperti itu, aahhh otakku sepertinya memang sudah harus di servis" batinku merasa malu sendiri.
Tuan Arsen diam-diam memperhatikan wajah Anna yang saat itu terlihat tertunduk dengan kedua pipinya yang sedikit merona karena malu, tuan Arsen tersenyum kecil melihat tingkah Anna yang cukup lucu di matanya saat itu.
"Dia konyol juga ternyata, benar-benar perpaduan yang lengkap sudah bodoh konyol pula dasar wanita ini, bagaimana bisa dia malah memenangkan lomba di luar negeri itu" batin tuan Arsen yang merasa tidak menduga bahwa Anna yang seperti itu bisa memenangkan lomba memasak proporsional di luar negeri seperti sebelumnya.
Meski tuan Arsen mengakui keahlian Anna dalam bidang memasak tapi menurutnya karakter Anna dan tingkah lakukanya sama sekali tidak cocok untuk menjadi seorang chef yang profesional, karena dengan karakternya yang polos seperti itu, dia bisa saja dengan mudah di tipu atau di manfaatkan oleh orang lain di sekitarnya.
Itulah kenapa tuan Arsen juga bersikap ketat kepada Anna sebab dia tidak ingin orang sebagus Anna bisa jatuh ke perusahaan lain, sebab dia sendiri sangat membutuhkannya untuk memajukan bisnis perusahaannta sendiri.
__ADS_1