
Tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghadapi seseorang seperti Gisel ini, dia benar-benar sangat menyebalkan dan mulutnya itu selalu saja tidak bisa diam, dia terus saja berbicara dengan cerewet dan aku sangat malas jika dia akan meminta bantuan padaku untuk di dekatkan kepada David, sejak dulu semuanya menjadi sulit antara aku dan David untuk bersama karena adanya Gisel, apa sekarang aku harus mengalami hal menyebalkan itu lagi.
"Huaaa....aku harus bagaimana sekarang, dia benar-benar sangat menyebalkan, sebaiknya aku pergi memeriksa tim saja" ucapku sambil segera bangkit hendak pergi ke ruangan produksi tim.
Saat baru saja aku bangkit dan mendorong kursiku tiba-tiba saja Gisel muncul dengan cepat dan dia benar-benar membawa minuman untukku dengan wajahnya yang selalu terlihat ceria namun aku tidak tahu kenapa dia seperti itu.
"E...ee...eehh...Anna kau mau kemana ini aku sudah buatkan teh manis dengan es kesukaanmu" ucap Gisel sambil memberikan gelas itu padaku,
"Maaf Gisel tapi aku sudah tidak suka teh dengan es batu seperti itu, sebaiknya kau minum saja aku akan memeriksa beberapa dengan tim produksi" ucapku menolaknya dengan cepat.
Aku pikir dia tidak akan mengikutiku namun aku salah besar, karena dia sekarang sudah menjadi sekretaris pribadiku, tentu saja dia akan selalu berada di belakangku mengikuti aku dan terus saja berjalan seperti ekor untukku dia benar-benar sangat merepotkan, saat aku melihat dia mengikutiku keluar dan menaruh gelasnya begitu saja aku mulai mengerutkan kedua alisku dan langsung menghentikan langkahnya dengan cepat.
"Heh....kamu mau kemana? Jangan mengikutiku" ucapku menghentikan dia dengan cepat sambil memberikan tatapan serius kepadanya,
"Anna...apa kau masih menyimpan dendam dan kekesalan padaku hanya karena kejadian di SMA dan di kampus saat dulu?" Ucap Gisel kepadaku.
Sudah tahu aku masih kesal kepadanya dia malah bertanya seperti itu, tentu aku tidak mungkin mengakuinya secara langsung kepada dia, karena aku juga masih seorang manusia yang memiliki hati, aku pun langsung menghembuskan nafas dengan lesu dan berusaha untuk menenangkan diriku sendiri.
"Huft....Gisel tolong jangan ungkit masalah itu dan aku sudah melupakan semua itu, jika kau mengungkitnya lagi, kau hanya akan mengingatkan aku pada hal yang paling aku benci, dan aku menghentikan mu bukan karena masalah itu, tapi karena kau memang tidak perlu ikut denganku, sebaiknya kau tetap disini dan susun semua datanya, itu akan segera aku serahkan pada tuan Arsen nanti" ucapku menjelaskan kepadanya.
Dengan sekejap Gisel langsung saja mengubah ekspresi di wajahnya, dia langsung saja tersenyum lebar seperti sebelumnya dan langsung mengangguk mengikuti perintah yang aku katakan kepadanya, melihat dia yang menuruti ucapanku dengan cepat seperti itu, aku pikir dia sudah sedikit berubah karena sebelumnya dia tidak akan pernah mau mendengarkan aku, apalagi mau di perintah seperti barusan olehku, mungkin jika semua itu terjadi dulu dia akan membentakku, menyenggol aku dengan keras dan terus saja tidak akan mau dekat denganku, dia hanya memanfaatkan aku saja untuk bisa dekat dengan David, padahal dulu aku menganggap dia sebagai teman ya satu satunya teman wanita yang dekat denganku, namun sayangnya dia ternyata tidak setulus itu untuk berteman denganku, jadi aku masih merasa kecewa kepadanya saat ini.
Sehingga aku tidak ingin bersama dengan dia terlalu lama dan menggunakan semua itu sebagai alasan agar aku tidak perlu bertemu atau mengobrol terlalu lama lagi dengan orang yang membuat aku kecewa di masa lalu dan hanya membuat aku mengingat kembali kejadian masa lalu yang sangat aku benci.
#FlashBack
Beberapa tahun yang lalu tepatnya saat aku masih berusia tujuh belas tahun kala itu dan aku duduk di kelas dua belas bersama dengan David, kami suda memiliki meja masing-masing saat itu dan mejaku tentu bersampingan dengan David juga Gisel, saat itu adalah pertama kalinya Gisel pindah kelas, aku tidak mengenalinya dan aku hanya selalu bermain dengan David saja ketika masa SMA, namun tiba-tiba saja seorang wanita dengan karakter yang sangat ceria seperti Gisel datang menghampiri aku di saat aku tengah menonton permainan basket yang di lakukan oleh David kala itu.
"David...ayo ..semangat aku yakin kau pasti bisa...David! David! Go David! Go David Go!" Teriakku yang terus saja memberikan dukungan penuh pada David saat itu.
David juga menatap sekilas padaku dan dia mengacungkan jempol tangannya padaku, hingga aku balas dengan acungan jempol juga padanya.
Sampai tidak lama tiba-tiba saja Gisel menghampiri aku dan dia menyapaku lebih dulu padahal aku sama sekali tidak mengenal dia saat itu dan tidak tertarik juga untuk berkenalan dengan dia, sebab dia adalah gadis yang cukup populer di sekolah meski baru saja pindah kelas.
"Hai....kamu Anna kan? Boleh aku duduk di sampingmu?" Ucap Gisel pertama kali menyapaku dengan senyum cerah yang dia miliki saat itu.
Aku yang memiliki perasaan tidak enakkan tentu saja tidak berani mengatakan tidak kepadanya, sehingga aku langsung bergeser dan mempersilahkan dia untuk duduk di sampingku saat itu juga.
"Aahhh... Duduklah" balasku kepadanya sambil memberikan ruang untuknya duduk di sampingku.
__ADS_1
"Hehe... terimakasih, oh ya Anna, boleh aku berkenalan denganmu? Aku Gisel aku mau menjadi temanmu, apa kamu mau menjadi temanku juga?" Tanya dia kepadaku mengajak aku untuk berteman dengannya.
Aku langsung mengerutkan kedua alisku merasa sangat heran kala itu, karena sejak aku sekolah dari kecil hingga besar tidak ada seorangpun yang mengajak aku berteman dengan cara seperti itu, mereka hanya mengenali aku sekilas saja begitu pula deganku kepada mereka, dan dalam pikiranku hanya ada satu sahabat terbaik saja untukku yang tidak pernah aku lupakan dia adalah David, seorang pria yang selalu menjaga aku, menemani aku dan terus berada di sampingku sejak aku kecil.
Saat itu aku pikir hanya ada David saja itu sudah cukup untukku dan aku tidak perlu memiliki teman lain lagi selama ada David di sampingku namun kemunculan Gisel yang datang ke dalam hidupku secara tiba-tiba dan mengajak aku untuk menjadi temannya tentu saja itu sangat membuatku senang, sebab dia adalah teman wanita pertama yang mengajak berteman dekat denganku padahal dia tahu bahwa aku sering kali di jauhi oleh teman-teman sekelas karena mereka mengira aku sombong, sebab jarang sekali bicara dan selalu menolak tiap kali ada acara atau perkumpulan apapun yang mereka adakan.
Aku termenung menatapnya dengan heran tapi Gisel langsung menarik tanganku dan dia bersalaman begitu saja padaku sambil memperkenalkan namanya saat itu.
"Aishh...kenapa kamu malah termenung dan diam saja, kenalkan aku Gisel dan mulai sekarang aku adalah teman dekatmu, kita harus terus bersama selamanya, apa kau mengerti?" Ucapnya kepadaku saat itu.
Bodohnya aku langsung mengangguk begitu saja tanpa aku tahu bahwa niat utama Gisel berteman dan mendekati aku adalah untuk mengambil David dariku, dia terus bermain denganku setiap hari ketika di sekolah hingga tidak lama dia mulai meminta agar aku mengenalkannya pada David, aku juga langsung mengenalkannya, hingga lama kelamaan dia mulai berteman dekat dengan David dan mereka lebih memiliki banyak waktu bersama di bandingkan diriku, David mengabaikan aku setiap kali ada Gisel, tapi dia bilang bahwa dia menyukai aku dan saat itu ada Gisel yang mendengarnya David langsung berubah pikiran dan dia mengejar Gisel.
"Anna... sebenarnya aku menyukaimu bisakah kita berpacaran ketika kita kuliah nanti?" Tanya David padaku saat itu.
Aku hampir saja akan mengangguk membalasnya namun Gisel tiba-tiba saja muncul dan dengan matanya yang berkaca-kaca, aku tahu Gisel mungkin menyukai David karena dia selalu saja menanyakan semua tentang David padaku.
"David?" Ucap Gisel memergoki kami berdua saat itu.
Gisel kemudian pergi berlari dan entah kenapa David langsung saja mengejar Gisel dengan cepat dan aku di tinggal begitu saja, aku juga merasa cemas pada Gisel saat itu, sehingga aku pergi untuk menyusulnya juga, namun yang aku dapatkan David tengah memeluk Gisel dan Gisel menatap ke arahku saat itu, hanya David yang tidak tahu bahwa saat itu aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri bahwa mereka berpelukan dan Gisel menyatakan cintanya pada David di hadapan aku.
"David...aku menyukaimu kenapa kau lebih memilih Anna di bandingkan aku, apakah aku lebih buruk darinya?" Ucap Gisel pada David saat itu.
Namun aku sama sekali tidak berani menegurnya, hingga suara kakiku yang tidak sengaja menginjak ranting pohon terdengar oleh David dan aku langsung saja berlari karena tidak ingin David mihat aku dengan wajah menyedihkan seperti itu, aku tidak seperti Gisel aku berbeda dengannya, aku tidak bisa mengatakan apa yang aku inginkan atau apa yang aku rasakan pada David, aku pikir dia selalu memahami aku namun sejak saat itu dia rupanya telah berubah karena adanya Gisel.
"Anna...Anna..tunggu aku!" Teriak David kembali hendak mengejarku.
Tapi dia di tahan oleh Gisel dan aku tetap berlari sendirian.
Hingga ketika kami pulang sekolah barulah David berbicara kepadaku dan dia mulai menjelaskan semuanya seakan kami seperti sebuah pasangan yang sudah berpacaran padahal saat itu aku dan dia sama sekali tidak memiliki hubungan apapun selain dari seorang teman dan sahabat satu sama lain sejak kecil.
"Anna..apa kau marah denganku, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu aku hanya tidak bisa menolak Gisel aku tidak mau menyakiti perasaannya karena dia sudah tidak memiliki orang tua, aku hanya kasihan padanya Anna, dan aku harap kamu bisa memahami aku" ucap David menghentikan aku saat itu.
"David... Aku mengerti kamu tidak perlu cemas aku sama sekali tidak marah padamu ataupun pada Gisel tapi kamu harus menepati janjimu padaku, saat kita sudah kuliah bukankah kita akan menjadi kekasih, dengan begitu tidak ada siapapun yang bisa mengambil mu dariku ataupun sebaliknya" ucapku kepadanya.
David langsung mengangguk dan menyetujui janji itu denganku bahkan kita berdua saling mengaitkan jari kelingking satu sama lain, saat itu aku memang sakit, tapi aku menahannya, aku pikir tidak ada gunanya mempermasalahkan masalah seperti itu karena aku sudah tahu bahwa David hanya menyukai aku, tanpa aku sadari bahwa hal itu justru semakin membuat Gisel terus bersemangat dan berusaha lebih keras untuk terus mengambil David dariku, dia selalu saja bersikap lemah dan seakan tidak berdaya di hadapan David hanya untuk mengambil simpatinya, ku pikir saat kita bertiga lulus dari SMA aku akan terbebas dari Gisel namun saat itu aku salah lagi, David memberitahu Gisel kemana dia akan melanjutkan kuliahnya sehingga tentu saja Gisel ikut masuk ke universitas yang sama denganku juga David, bahkan Gisel mengambil jurusan bisnis sama dengan David, mereka selalu bersama-sama sejak kuliah sebab aku mengikuti jurusan memasak berbeda dengan mereka berdua saat itu.
Pada waktu itulah Gisel mendapatkan banyak sekali kesempatan besar merebut David dariku, aku seakan benar-benar hampir kehilangan David saat itu, dia tidak memiliki waktu untukku dan selalu bersama Gisel, dia juga melupakan janjinya padaku bahkan tidak ada kesempatan untuk aku menanyakan padanya apa janji saat itu masih berlaku atau tidak, atau apakah David masih menyukai aku atau tidak.
Aku memilih fokus belajar dan belajar, aku berusaha untuk melupakan David namun nyatanya tetap tidak bisa, dan Gisel pergi ke luar negeri saat kami wisuda kala itu, dia menghilang secara tiba-tiba dan aku merasa sangat bahagia, aku menjadi memiliki lebih banyak waktu lagi untuk bersama dengan David dan suasana kembali seperti dulu, walau aku tahu David masih sering menanyakan tentang Gisel kepadaku selama beberapa Minggu kepergian Gisel.
__ADS_1
Tapi karena dia sibuk bekerja dan aku juga sibuk mencari pekerjaan hingga membangun restoran sendiri, kami mulai melupakan sosok Gisel dan David bahkan tidak pernah menanyakan tentang dia lagi, aku sudah senang dan sudah bisa kembali menjalin hubungan dengan David seperti dulu lagi, sangat dekat dan bak seperti sepasang kekasih, namun ada yang David tidak tepati padaku, janji untuk menjalin hubungan denganku, dia tidak mengatakannya sampai saat ini hingga Gisel kembali hadir di tengah-tengah kami berdua lagi.
#FlashBack Off
"Anna....Anna...hey..Anna!" Ucap sekretaris Mey yang membangunkan aku dari lamunan yang panjang saat itu.
"Aaahh ... sekretaris Mey, ada apa?" Tanyaku kepadanya dengan mata yang terbuka lebar dan kebingungan sendiri.
"Anna...apa kamu baik-baik saja kenapa kamu malah terus termenung seperti tadi sampai tidak mendengarkan sapaan dariku, padahal aku sudah memanggilmu berkali-kali" ucap sekretaris Mey kepadaku.
Aku hanya bisa menggaruk belakang kepalaku pelan saat itu karena aku tidak bisa mengatakan semua yang sebenarnya aku pikirkan dalam kepalaku sebelumnya.
"Ohh...tidak ada sekretaris Mey aku hanya sedikit melamun saja mungkin karena perutku sudah sangat lapar, hehe aku akan memeriksa makanan yang lainnya" ucapku kepadanya sambil segera berjalan memeriksa makanan yang tengah di produksi oleh tim saat itu.
Sekretaris Mey hanya terlihat menggelengkan kepalanya pelan mihat tingkahku yang agak aneh hari itu.
Aku bisa kembali fokus bekerja lagi dan mulai meminta data yang sudah di buat oleh Gisel sebelumnya, aku melihat pekerjaannya cukup bagus walau ada beberapa hal yang masih harus aku perbaiki saat itu, dan tentu itu membuat aku harus bekerja dua kali, dia sama sekali tidak membantuku, tapi malah membuat aku semakin repot, apalagi tanganku masih di perban saat itu sehingga agak sulit untuk aku mengetuk di depan komputer, untungnya semua bisa di selesaikan tepat waktu dan aku sama sekali tidak mengatakan apapun kepada Gisel saat berhadapan dengannya.
Aku segera pergi ke ruangan tuan Arsen hendak memberikan data pencapaian target penjualan tersebut juga beberapa makanan baru yang akan mulai kami produksi dalam jumlah yang cukup banyak sebagai pembukaan.
"Tok...tok....tok..." Suara ketukan pintu yang aku ketuk perlahan.
Sahutan dari tuan Arsen yang mempersilahkan aku untuk masuk mulai terdengar, barulah aku segera mendorong pintunya dan berjalan pelan menghadapnya, aku memberikan dokumen tersebut kepadanya.
"Tuan ..ini data yang anda minta" ucapku padanya sambil membungkuk.
Dia langsung mengambilnya dan aku hendak pergi dari sana namun tuan Arsen malah menahanku dengan memanggil namaku saat aku hendak berbalik.
"Tunggu Anna!" Ucap tuan Arsen menahan langkahku membuat aku tidak jadi untuk pergi saat itu.
Saat mendengar tuan Arsen memanggilku dan menahan aku disana aku sudah memiliki pirasat buruk dalam hatiku dan aku juga sudah menyimpan tanganku yang sakit di belakang dengan sengaja agar di tidak mengetahui bahwa tanganku sebenarnya masih di perban saat itu dan aku terus menyembunyikannya dari dia.
"Ohh ..tuhan dia mau apa lagi, semoga saja tidak menanyakan tentang tanganku ini" gumamku merasa cemas.
"Bagaimana dengan tanganmu, apa itu sudah benar-benar sembuh?" Tanya tuan Arsen membuat aku sangat kaget.
Baru saja aku berharap dia tidak akan membahas mengenai tanganku tetapi justru dia malah langsung menanyakannya seperti itu tepat di saat aku baru saja berharap, sekaan semuanya benar-benar sia-sia dan tidak ada keberuntungan untukku saat itu.
Aku hanya bisa menatapnya sambil tersenyum tipis dan kebingungan bagaimana cara menjawab pertanyaannya tersebut.
__ADS_1