LUKA

LUKA
Saran dari Ibu


__ADS_3

Tuan Arsen yang sudah berhasil mengusir David dia segera masuk ke dalam restoran lagi dan menghampiriku yang saat itu tengah duduk sendiri di salah satu meja yang ada disana sedangkan ibu tengah pergi mengantarkan Mika ke kosannya yang baru saja pindah tempat hari ini, sebelumnya mereka sudah berpamitan pergi padaku.


Sehingga saat itu hanya ada aku berdua dengan tuan Arsen saja, dia duduk di sampingku dan menyuruh aku menatap ke arahnya sedangkan saat itu aku masih berusaha untuk menahan air mataku agar tidak turun lagi.


"Heh.. ayo lihat kemari, apa kau menangis ya?" Ucap tuan Arsen kepadaku.


Aku langsung menyangkalnya dengan cepat karena tidak ingin terlihat lemah ataupun cengeng olehnya, aku malu jika harus terlihat menangisi pria seperti David ini dan sudah menduga tuan Arsen hanya akan menertawakan aku jika tahu aku menangisinya.


"Tidak...haha...mana mungkin aku menangisi David dia baru saja mengungkapkan perasaan kepadaku, aku sangat senang mendengarnya jadi aku menangis karena terharu bukan sedih," balasku berbohong kepada tuan Arsen.


Tuan Arsen terlihat langsung saja mengubah raut wajahnya dan dia mulai menatapku lebih lekat dibandingkan sebelumnya, aku sendiri tida tahu harus bersikap seperti apa pada dia saat ini, hanya saja aku sudah bisa menghentikan tangisku.


"CK... Jadi kau senang dia mengungkapkan perasaannya padamu? Lalu apa kau mau menerimanya begitu?" Balas tuan Arsen kepadaku dengan nada yang begitu sinis.


Aku langsung menaikkan kedua alisku bersamaan dan merasa sangat heran dengan reaksi yang dia berikan padaku saat bertanya mengenai hal itu barusan.


"Ehhh..tuan kenapa kau memberikan reaksi seperti itu, memangnya kenapa jika aku berniat untuk menerimanya?" Balasku asal bicara saja saat itu.


"Tidak papa, sudahlah terserah kau saja memang otakmu itu tidak berfungsi, aku akan pulang tidak ada gunanya disini lagi." Balas tuan Arsen yang sudah terlanjur kesal dan benar-benar pergi kali ini.


Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepadanya saat itu aku hanya mengira memang dia sudah seharusnya pergi ini sudah cukup malam untuk dia tetap berada disini, aku juga hendak menutup restoran saat itu dan ibu baru saja tiba disana, tapi bukannya membantuku membereskan beberapa meja setelah mengunci restoran ibu justru malah mendekatiku dan membicarakan mengenai tuan Arsen dengan wajahnya yang begitu bersemangat saat itu.


"Anna apa pria tadi itu bosmu tuan Arsen ya?" Tanya ibu kepadaku.


Aku langsung melirik ke arahnya karena sangat jarang sekali ibu menanyakan mengenai orang lain yang bersamaku sebelumnya.


"Iya... Dia tuan Arse dan ibu sudah perna bertemu dengannya beberapa kali bukan, dia juga yang meminta izin saat aku hendak lomba saat itu, tidak mungkin ibu lupa." Balasku kepadanya sambil terus mendorong kursi disana.


"Ehh...Anna kalau ibu lihat-lihat sepertinya tua Arsen ini menyukaimu, apa kamu juga menyukainya?" Tanya ibu begitu saja membuat aku tidak bisa menahan tawa saat itu.


"Apa? Ahaha..ibu ayolah jangan bercanda dimalam hari nanti aku tidak bisa tidur karena akan terus tertawa dengan leluconmu, mana mungkin seseorang seperti tuan Arsen menyukaiku, dia menyukai wanita lain namanya kak Alena, kak Alena ini model terkenal yang sangat cantik dan terkenal, aku sudah pernah bertemu dengannya saat mengikuti lomba sebelumnya." Balasku kepada ibu saat itu.

__ADS_1


Namun ibu tetap saja tida mempercayai ucapanku dan dia malah langsung menarik tanganku mengajak aku untuk membicarakan hal serius dengannya saat itu juga dan tidak bisa dia tahan lagi, sampai harus menyeret aku dengan cara seperti itu.


"Aishh ..Anna ayo cepat ikut ibu, ayo masuk apa lagi yang kamu tunggu ini sudah sangat malam ibu ingin bicara serius dengan, ayo cepat duduk disini." Ucap ibu sambil terus menarikkan tanganku dan memintaku untuk duduk di sofa tepat disampingnya saat itu.


Aku pun tidak bisa membantah dirinya dan segera saja duduk di samping ibu sambil menghembuskan nafas pelan dan mulai bertanya lagi kepadanya karena gelagat ibu kali ini cukup aneh untukku.


"Iya ada apa ibu, kenapa ibu terlihat begitu terburu-buru apa yang mau ibu katakan padaku?" Tanyaku lagi kepadanya dengan sangat penasaran.


"Anna..ibu tahu kamu, ibu sangat mengerti perasaanmu dan tahu apa yang kamu rasakan selama ini, kau juga tahu bahwa ibu sangat mendukung hubunganmu dan kedekatanmu dengan David, ibu tidak pernah mengatakan bahwa David pria yang buruk, hanya saja Anna ibu pikir dia tidak cocok dengan kepribadianmu yang pendiam dan selalu seperti ini, dia adalah pria yang bebas dan banyak bergaul dengan semua orang diluar saja, jika kamu ingin memaksakan ketidak cocokan ini, maka kamu harus bisa menerima sifat David yang bebas itu, karena akan sulit untuk dia berubah disaat sejak kecil dia sudah memiliki karakter seperti ini, sedangkan kamu, kamu seseorang yang sulit mengungkapkan perasaanmu, selalu menyembunyikan dan menahan semuanya sendiri, kamu berbeda dengannya sayang." Ucap ibu membuat aku tertunduk dengan lesu.


Aku juga mengerti apa yang sebenarnya tengah ibu maksudkan kepadaku saat ini, tapi semua orang juga tahu bahwa perasaan itu tidak dapat diubah dengan mudah atau digantikan dengan apapun, terlebih aku dengannya sudah bersama dalam waktu yang sangat lama, tidak mungkin jika aku akan melupakan semuanya hanya dalam beberapa saat saja, itu terlalu mustahil untukku.


"Bu... Jadi apa maksudmu aku tidak bisa menerima David? Tapi aku juga sudah menolaknya, dia yang terus meminta agar aku memikirkannya dahulu, aku harus apa?" Balasku kepadanya saat itu.


"Kamu harus memberikan dia jawaban yang lebih pasti dan tegas." Jawab ibu kepadaku sambil menggenggam kedua tanganku saat itu.


"Maksud ibu?" Tanyaku kepadanya sedikit tidak memahaminya.


Apa yang dikatakan oleh ibu memang ada benarnya tetapi aku sendiri tidak tahu siapa yang harus aku pacari, tidak ada yang aku sukai selain David dan tidak ada pria lain yang dekat denganku, tidak mungkin jika aku harus menggunakan pacar sewaan untuk berbohong padanya, itu akan merepotkan karena aku pasti harus membayar pria tersebut.


"Bu... Tapi kau tahu bukan, aku tidak memiliki teman pria, aku tidak bisa mencari pria mendadak hanya untuk meminta menjadi pacar pura-pura ku," balasku kepada ibu saat itu.


"Ya ampun Anna. Siapa yang memintamu mencari pria untuk dijadikan pacar pura-pura hah?" Balas ibu sambil menepuk jidatnya sendiri pelan saat itu.


Aku mengerutkan kedua alisku merasa heran dengan ibu, karena aku pikir itulah yang dia maksudkan namun rupanya tidak, ibu malah terlihat kesal padaku padahal aku merasa tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kesal.


"Kenapa ibu sekesal itu, memangnya apa yang sebenarnya ibu maksudkan, setidaknya ibu harus menjelaskan dengan benar padaku, agar aku bisa mengerti sepenuhnya maksud ibu itu," balasku kepadanya.


"Anna.. bukankah tuan Arsen sudah jelas, ibu yakin sekali kalian sangat cocok, kenapa kamu tidak meminta bantuan saja kepadanya, David hanya akan kalah dengan tuan Arsen, dia lebih tampan, tinggi, lebih pintar dan kaya daripada David tentu David juga tidak bisa melawannya dan hanya tuan Arsen yang menyukaimu saat ini, dia bisa membantumu." Ucap ibu membuat aku kaget sampai terbelalak dengan lebar kepadanya.


Aku tidak menduga yang ibu maksudkan malah seorang tuan Arsen, ibu sama sekali tidak mengenali tuan Arsen sepenuhnya dia tidak tahu bagaimana sikap tuan Arsen sebenarnya jika di belakang dia atau ketika berada di kantor, aku sangat tidak mau meminta bantuan darinya, apalagi bantuan hal konyol seperti ini, terlebih tuan Arsen juga tidak mungkin akan membantuku dalam hal seperti ini.

__ADS_1


Karena hal seperti ini bersipat private dia tidak mungkin mau membuang-buang waktu berharga yang dia miliki hanya untuk hal konyol seperti ini terlebih padaku, aku hanya karyawan biasa saja, dia tidak mungkin melakukan semua itu.


Dengan cepat aku langsung menyangkal ucapan ibu, karena jika tidak ibu pasti akan terus mendesakku bahkan ketika aku menyangkal saja ibu tetap tidak mengubah hal tersebut dalam keputusannya.


"Ya ampun ibu, orang seperti tuan Arsen tidak mungkin mau membantuku menjadi pacar pura-pura ku, apalagi menjadi pacar sungguhan, sudah pasti dia yang ada akan memecatku dari kantornya. Tidak-tidak aku tidak akan meminta bantuan darinya aahhh ibu ini ada-ada saja, sudahlah aku mau ke kamar saja ibu juga cepatlah istirahat jangan memikirkan masalah ini, aku akan menyelesaikannya sendiri." Balasku kepada ibu dan segera pergi menuju kamarku secepatnya.


Menghindarinya adalah jalan terbaik agar ibu tidak terus mendesak aku lagi untuk melakukan saran darinya mendekati tuan Arsen, jangankan mendekatinya da meminta bantuan seperti ini dengannya, melihat wajahnya saja aku sudah tidak ingin dia sangat menyebalkan dengan wajah dinginnya tersebut, bahkan senyum kecilnya hanya untuk sebuah hal yang sadis dan keberhasilan di perusahaan saja, dia terlalu menakutkan untuk dijadikan sebagai seorang pasangan karena dia adalah manusia paling egois yang pernah aku kenal di dunia ini.


Semua keputusan dan ucapan yang sudah keluar dari mulutnya, tidak akan pernah bisa diganggu gugat dan tidak ada siapapun yang bisa mengganti hal tersebut, dia selalu dikenal dengan manusia yang sekali ucap, dimana dia selalu saja memutuskan semua sendiri, walaupun semua keputusan yang dia lakukan memang tidak pernah salah dan selalu untuk kebaikan semuanya namun tetap saja bagiku caranya yang seperti itu, terkesan egois karena dia tidak ingin mendengar pendapat atau usulan dari orang lain, entah temannya atau pun karyawannya seperti aku ini.


Terlebih aku juga tidak pernah tahu dengan siapa keluarga dari tuan Arsen sebenarnya, dia selalu tertutup dengan urusan pribadi dirinya termasuk mengenai siapa keluarganya dan darimana dia sebenarnya berasal, karena tiba-tiba saja dia membangun perusahaan baru di bidang pengiklanan makanan dan kuliner seperti itu, di tambah perusahaan yang dia pimpin langsung mendapatkan rating yang tinggi dan menjadi perusahaan yang berpengaruh di kota sebesar ini bahkan sudah masuk deretan perusahaan yang sangat maju akhir-akhir ini.


Sehingga bagiku cukup ragu untuk memilihnya aku tidak bisa memutuskan semua ini begitu saja hanya karena mendengar ucapan dari ibu saja, sebab ibu juga sama sekali belum mengetahui tentang tuan Arsen sepenuhnya.


Namun yang mengganggu pikiranku saat ini, adalah ucapan ibu barusan yang seakan dia meminta aku untuk menjauh dari David sekarang, memang aku juga akan melakukan itu, aku tidak ingin berurusan lagi dengannya bahkan aku sudah berusaha untuk meninggalkan dia sebelum kejadian ini terjadi.


Ketika melihat beberapa foto yang terpajang di kamarku, dimana ada foto masa kecilku dengan David sampai foto terbaru kami berdua disaat aku membuka restoran ini, saat itu di dalam foto tersebut masih terlihat dengan jelas, wajah bahagiaku dan rangkulan dari David yang sangat hangat padaku, senyum kami yang lebar dan sangat bahagia satu sama lain, namun waktu berlalu terlalu cepat seakan semuanya hanya dalam hitungan detik saja, kini hanya dalam beberapa hari semua sudah menjadi berubah total.


Orang-orang yang tidak pernah berkontribusi dalam hidupku tiba-tiba saja muncul termasuk dengan berubahnya David karena kehadiran mereka.


Ingin sekali rasanya aku menyalahkan mereka yang hadir tersebut dalam berubahnya sikap David padaku saat ini, namun aku tidak bisa melakukan itu karena pada nyatanya jika memang dia benar-benar menyayangi aku, dia seharusnya tidak akan berubah meski waktu berlalu selama mungkin dan meski banyak orang lama atau orang baru yang berdatangan dalam hidup kami masing-masing.


Disisi lain tua Arsen sangat kesal dia benar-benar tidak mengharapkan Anna malah bersikap seperti itu kepadanya dan dia sangat membenci David.


"Sialan... Bagaimana mungkin dia masih mau memikirkannya, kenapa dia tidak langsung saja menolaknya dengan tegas, tidak mungkin dia mau menerima pria brengsek sepertinya bukan? Dia bahkan mendekati sekretarisnya sendiri, aishh..melihatnya sudah membuat aku sangat muak." Gerutu tuan Arsen ketika di perjalanan saat itu.


Sampai tidak lama dia mendapatkan panggilan telpon dari sahabatnya Viko.


Saat mengangkatnya ternyata Viko hanya memberikan informasi bahwa dia dan Alena akan kembali ke kota tersebut karena urusan mereka disana sudah selesai termasuk mereka akan mulai membuat projects baru dan menandatangani kontrak dengan perusahaan yang ada di negara tersebut, sehingga Viko akan tinggal untuk beberapa saat di kota itu sama dengan tuan Arsen, begitu pula dengan Alena yang selalu mengikuti Viko kemanapun dia pergi.


Tuan Arsen yang mendengar mereka akan kembali dia terdengar biasa saja dan menyuruh Viko untuk datang secepatnya, sikapnya yang terlalu santai membuat Viko merasa heran dan sedikit menyimpan curiga kepadanya, karena biasanya tuan Arsen selalu menyambut kedatangan dia dengan perasaan senang terutama dengan kembalinya Alena.

__ADS_1


__ADS_2