
Tidak bisa di biarkan begitu saja, meski aku sudah berusaha untuk menormalkan deru nafas pada diriku sendiri aku terus saja merasa sangat jengkel dan kesal rasanya aku ingin sekali menghajar dia karena dia meninggalkan aku begitu saja, dan jika aku tahu dia akan melakukan semua ini kepadaku, sejak awal aku lebih baik tidak usah untuk pergi dengannya, dia juga berlagak seakan sangat melindungi aku dan perduli padaku namun kenyataanya dia malah meninggalkan aku seorang diri di rumah sakit seperti ini.
Bahkan disaat dia tahu bahwa tanganku terluka dan aku bodoh sekali karena selama perjalanan terus saja menunggu kabar darinya, juga malah mencemaskan dia, aku kesal tapi tidak bisa mengungkapkannya kepada dia, dia memang pria yang sangat tidak peka terhadap wanita, entah hanya kepadaku saja dia seperti ini atau memang dia selalu bersikap sangat mudah bergaul dengan wanita mana saja dan meninggalkannya seenaknya, sama dengan yang sering dia lakukan kepadaku.
Semua ucapannya itu memang tidak ada yang bisa aku pegang dia benar-benar harus di berikan sebuah pelajaran baru dia akan mengerti apa artinya teman yang baik sesungguhnya.
"Eughhh....benar-benar sangat menjengkelkan, David awas kau aaahhh...dia sangat membuat aku naik pitam, dan aku malah mencemaskannya" gerutuku lagi saat itu.
Hingga sesampainya di rumah aku langsung saja masuk dengan kesal dan segera merebahkan tubuhku di ranjang sekaligus, sambil melemparkan tas selempang kecil yang aku pakai ke rumah sakit sebelumnya.
Aku berusaha untuk tidur bahkan melewatkan makan malamku di saat ibu terus berteriak memanggil aku saat itu, karena aku merasa sangat kesal dan emosi kepadanya jadi aku tidak bisa memperlihatkan kondisiku kepada ibu saat ini.
Aku terus saja memeriksa ponselku berkali-kali untuk memastikan apakah David sudah menghubungi aku atau tidak namun nyatanya tetap tidak ada satu pesan pun yang aku dapatkan darinya, dan saat itu juga aku sudah benar-benar memutuskan untuk langsung tertidur dan berusaha untuk mengabaikan semua hal saat itu.
Sedangkan disisi lain David yang pergi ke perusahaan dan mulai langsung meeting juga di sibukkan dengan pekerjaan kantor yang sudah menunggu kedatangannya saat itu, dia melupakan Anna begitu saja karena kesibukannya dan disaat dia baru saja selesai meeting dia baru teringat kepadanya.
"Astaga...aku lupa malah meninggalkan Anna di rumah sakit, aahh...ini sudah lewat tengah malam, pasti Anna juga sudah kembali ke rumahnya, harusnya dia sekarang sudah tidur bukan?" Gerutu David memikirkannya.
Dia pun segera saja menutup ponselnya dan berpikir bahwa Anna kemungkinan sudah pulang, dia tidak memikirkan hal lain lagi apalagi memikirkan tentang perasaan Anna sendiri dia hanya mencoba mengirim pesan kepada ibunya Anna dan menanyakan tentang Anna, hingga setelah dia mendapatkan informasi dari ibunya Anna bahwa dia sudah kembali ke rumah sejak lama dan sudah tertidur, barulah dia merasa sangat tenang dan langsung bisa tertidur secepatnya.
Sampai keesokan paginya aku bangun lebih awal dan tetap memutuskan untuk pergi ke kantor meski aku tahu bahwa tanganku masih di perban dan seharusnya masih belum bisa untuk kembali ke kantor dan bekerja, tetapi aku sudah terlanjur mengatakan kepada tuan Arsen bahwa aku akan kembali bekerja hari ini dan aku sudah mengatakan padanya bahwa perban di tanganku akan di lepas hari ini.
Namun karena David yang so soan perduli kepadaku dia malah menyuruh dokter untuk menutupnya kembali dan aku tidak bisa melepas perbannya, ini cukup menjengkelkan apalagi ketika kembali harus mengingat saat David meninggalkan aku saat itu.
Aku segera pergi berpamitan kepada ibu namun disaat batu saja hendak keluar dari restoran aku mendapatkan telpon dari David dan aku mengangkatnya sambil berjalan menuju halte bus terdekat untuk mengirit pengeluaran ku.
"Ahhh...dia baru menelponku, mari kita dengan alasan apa yang akan dia buat" ucapku bicara sendiri saat itu.
Aku pun segera mengangkat panggilannya dan langsung saja terdengar suara dia di balik panggilan telpon saat itu, dan seperti biasa nada bicaranya selalu terdengar seperti menyedihkan ketika berbicara dan meminta maaf mengakui kesalahannya kepadaku saat itu, aku benar-benar merasa sangat kesal dan jengkel terhadapnya, tapi aku hanya bisa menerima panggilannya dan sejak dulu karena hubungan kami sangat dekat entah kenapa aku selalu tidak bisa merah terlalu lama kepadanya.
"Hallo Anna bagaimana kabarmu, soal kemarin aku sangat minta maaf aku tidak bermaksud meninggalkanmu tapi aku harus pergi dengan terburu-buru ke perusahaan karena tiba-tiba saja klien memintaku untuk meeting secara mendadak, aku benar-benar minta maaf padamu, aku salah kemarin" ucap David meminta maaf kepadaku beberapa kali.
Mendengar dia mengakui kesalahannya saja itu sudah membuatku merasa jauh lebih baik dan aku sudah bisa memaafkannya lagi juga segera melupakan masalah yang pernah terjadi sebelumnya, walau kemarin itu cukup menyebalkan untuk di ingat olehku.
"Haaa...baiklah aku akan memaafkanmu, tapi awas saja jika kau meninggalkan aku lagi seperti kemarin aku akan merusak mobil kesayanganmu itu, lihat saja nanti!" Ucapku mengancam dia karena aku tidak ingin di perlakukan seperti itu lagi olehnya,
"Ahaha...iya..iya aku janji tidak akan meninggikan kamu, eumm..kalau begitu biar aku mengantarmu ke perusahaan sebagai balasan dan tanda minta maafku kepadamu, bagaimana?" Ucap David menawarkan lagi tumpangan padaku,
"Baiklah, aku akan menunggumu di halte dekat taman kecil ya" balasku kepadanya dan dia sudah menyetujuinya.
Segera saja aku pergi ke halte bus dan duduk disana menunggu kedatangan David saat itu, hingga beberapa saat sudah berlalu David tidak juga datang untuk menjemput ku, padahal hari ini aku keluar lebih pagi dari rumah, sengaja agar bisa sarapan di kantor dan bisa sedikit bersantai disana, namun karena menunggu David aku kehilangan waktu luangku tersebut dengan sia-sia.
Aku sudah menunggunya hampir satu jam lebih tapi dia tetap tidak muncul juga, aku bahkan sudah mengiriminya pesan dan menyuruh dia agar tidak datang karena aku harus menaiki bus terakhir ini, jika tidak maka aku akan kesiangan untuk sampai di kantor nantinya.
__ADS_1
"David, kau tidak usah datang menemuiku, aku akan pergi dengan bus yang sekarang, karena jika tidak mungkin aku akan kesiangan" isi pesan teks yang aku ketik kepadanya.
Aku menghembuskan nafas dengan lesu juga kasar sambil segera saja aku pergi menaiki bus saat itu, dan duduk di kursi paling belakang seorang diri, aku terus memasang wajah yang cemberut dan mulai memeriksa pesanku lagi, tapi tetap tidak ada satu notif pun dari David, aku hanya terlalu percaya dan banyak berharap yang tidak pasti kepadanya.
"CK...dia lagi lagi mengabaikan aku dan aku masih saja berharap dia akan menghubungiku, dasar menyebalkan" gerutuku saat itu.
Hingga aku sampai di kantor baru saja David membalas pesanku dan dia justru malah mengatakan bahwa dia harus menjemput klein dia di bandara yang ternyata dari luar negeri, itu cukup menjengkelkan untukku.
"Maafkan aku Anna aku baru saja kedatangan klien dari luar negeri dan harus menjemputnya di bandara karena dia tidak mengetahui wilayah ini, aku akan menjemputmu dan mentraktirmu makan setelah kau pulang kerja" isi pesan dari David padaku.
Aku sudah terlanjur kesal dan emosi kepadanya sehingga tidak memiliki energi lagi untuk marah atau menegurnya, aku pikir seharusnya dia tahu bahwa apa yang dia lakukan kepadaku benar-benar selalu membuat aku kesal dan emosi terus menerus.
"Ya..baiklah" balasku kepadanya.
Sungguh tidak ada lagi yang bisa aku hadapi dengannya, aku lebih baik melupakan masalah itu dan segera pergi bekerja, terlebih sudah ada sekretaris baru yang di pekerjaan oleh tuan Arsen untuk mendampingi aku, jadi aku harus menyapa rekan kerja yang baru tersebut.
"Huuhh...sabar, biarkan saja David sialan ini, aku akan menghabiskan uangnya ketika dia datang menjemputmu nanti" ucapku sambil segera memasukkan ponsel ke dalam tas selempang yang aku kenakan.
Saat aku hendak masuk ke dalam lift aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang aku pernah kenal sebelumnya, aku cukup kaget ketika melihat wanita yang bertabrakan denganku di depan lift itu adalah Gisel, temanku saat duduk di sekolah menengah atas sekaligus orang yang selalu mengikuti aku hingga aku masuk ke kampus populer saat itu, bahkan dia terus saja mendekati David dan selalu berada di sampingnya karena sejak dulu Gisel sangat menyukai David juga selalu mengejar-ngejar David dalam setiap saat, Gisel juga alasan David dahulu menunda untuk berpacaran denganku.
"Bruk....aduhh" ucapku merasakan sakit karena tanganku yang terluka tergores olehnya.
Itu benar-benar cukup sakit tapi rasa sakit di tanganku bisa langsung teralihkan karena kaget mihat Gisel yang menunjuk ke arahku dan memanggil namaku.
"Hah? KA..kau...kau Gisel teman SMA ku yang selalu tergila-gila dengan David kan?" Ucapku kepadanya sambil menunjuk balik.
Aku sungguh tidak percaya bisa mihat wanita yang sangat cerewet dan menjengkelkan ini, bukan karena dia menyukai David tapi aku selalu kesal dengannya karena dia terlalu berisik, sekarang aku malah bertemu lagi dengan manusia semacam dia, aku benar-benar merasa sudah hancur sekali dan buru-buru saja aku hendak pergi menghindar darinya secepatnya.
"Iya aku Gisel aahh Anna senang sekali bisa kembali bertemu denganmu, kau adalah teman terbaikku sejak SMA sampai di perguruan tinggi, Anna aku sangat merindukanmu" ucap Gisel sambil hendak memelukku.
Namun untungnya dengan cepat aku menghindar darinya sehingga Gisel malah memeluk udara kosong saat itu.
"Eeeehhh ..jangan menyentuhku, apalagi memelukku sembarangan tanganku sedang sakit, lihatlah jangan sampai kau menyentuhnya lagi ini sungguh sakit tahu" ucapku beralasan kepadanya.
Padahal kenyataannya aku tidak ingin berada dekat-dekat dengan wanita cerewet yang tiada henti sepertinya lagi, aku hanya ingin menghindarinya saat itu.
Dengan cepat ketika lift terbuka aku langsung saja berlari masuk ke dalam dan segera meninggalkannya dengan cepat untuk menghindari dia.
"AAh...liftnya sudah terbuka aku terburu-buru, sampai bertemu nanti ya, semoga saja tidak tidak bertemu lagi" ucapku kepadanya sambil segera masuk ke dalam lift dengan cepat.
"Ehhh....Anna...Anna... Tunggu, hey... Anna kenapa kau malah pergi, aku belum selesai bicara dengannya" teriak Gisel yang memanggil Anna saat itu.
Sebelumnya Gisel sudah mengetahui bahwa bos yang akan menjadi partner kerjanya adalah Anna teman masa SMA nya dahulu sehingga dia dengan senang hati menerima pekerjaan ini dan menolak tawaran pekerjaan dari banyak perusahaan lain, termasuk panggilan kerja dari perusahaan David sebelumnya.
__ADS_1
Aku masih belum mengetahui hal itu dan aku sungguh merasa sangat lega dan tenang ketika bisa menghindarinya saat itu, melihat dia saja sudah bisa membuat kepalaku pecah dan terus membuat jantungku tidak bisa berdetak dengan seharusnya, dia selalu membuat aku kesal dan emosi setiap kali dia berbicara dan sangat cerewet sekali.
"Aaahh.. syukurlah aku bisa menghindarinya dengan cepat, kenapa dia bisa ada di kantor ini, perasaan aku sudah cukup lama disini tapi tidak pernah bertemu dengannya, kenapa dia tiba-tiba muncul?" Ucapku merasa keheranan sekali saat itu.
Aku benar-benar tidak ingin memikirkan lagi orang seperti dia sehingga aku segera mengesampingkan masalah tersebut, dan segera pergi menuju ruang kerjaku seperti biasanya, tapi disaat aku baru saja membuka pintu ruang kerjaku, aku sangat kaget melihat ada sekretaris Mey dan Gisel di dalam sana.
"Ehhh.... sekretaris Mey kenapa kau membawa dia masuk ke dalam ruanganku?" Tanyaku dengan kedua alis yang aku kerutkan dan merasa sangat heran.
Pasalnya dia baru saja aku tinggalkan di bawah tapi dia sudah berada di tempat itu lebih dulu dariku, dia benar-benar seperti hantu gentayangan yang selalu menghantui hidupku, dan tidak memberikan aku jeda untuk menenangkan diri dan mencari kedamaian dalam hidup ini.
Disisi lain Gisel justru malah terlihat sangat senang dan antusias untuk menyambut kedatangan Anna ke dalam ruangan tersebut.
"Aaaahh ..selamat datang ibu Anna....ayo masuk kau pasti sangat kaget bukan, aku akan menjadi partner bisnismu dan aku akan membantumu dalam semua hal kau bisa meminta bantuan ku jika kau membutuhkan apapun karena mulai saat ini akulah yang akan menjadi sekretaris pribadimu" ucap Gisel dengan ceria dan tersenyum lebar.
Aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar dan langsung saja kepalaku terasa sangat pusing saat itu, aku hampir saja kehilangan kesadaran di dalam diriku sendiri tidak tahu lagi harus berbuat apa dan menanggapinya seperti apa lagi, rasanya duniaku benar-benar runtuh seketika saat itu.
"AA....a...ahh....tidak...ini tidak mungkin hiks..hiks...kenapa aku sangat sial sekali, ohh..tuhan kenapa kau malah mengirimkan aku manusia cerewet yang sangat menyebalkan ini huaaaa" gerutuku sambil memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing saat itu.
Sekretaris Mey segera menghampiri aku karena dia melihat aku yang sedikit sempoyongan ketika baru saja mendengar kabar tersebut secara langsung dari Gisel.
"E...e...eehh...Anna ada apa denganmu, apa kau baik-baik saja?" Ucap sekretaris Mey mencemaskan kondisiku saat itu,
"Aku tidak baik-baik saja, aku sangat hancur sekretaris Mey, aku hancur sekali" balasku sambil merengek sedikit kepadanya,
Gisel justru malah memberikan tisyu kepadaku dan dia seakan seperti memperdulikan aku hingga dia menyuruh aku untuk menghapus air mata yang sama sekali sudah tidak.bisa keluar dari mataku saking kesalnya melihat Gisel saat itu.
"Aahh...sudah..sudah..Anna aku tahu kau pasti terharu karena kedatanganku bukan, tidak sia-sia aku mengejutkanmu, tadinya aku mau memberitahu kamu saat di bawah tapi karena kau terburu-buru aku pikir mengejutkanmu lebih baik, ini sudah ambil tisyunya aku tahu kau terharu dengan kedatanganku bukan, aku juga merasakan hal yang sama saat pertama kali tahu kau adalah atasanku hehe" ucap Gisel yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah aku rasakan saat ini.
Dia benar-benar manusia paling menjengkelkan dan tidak ada bedanya dengan David, aku tidak bisa berbuat apapun lagi dan hanya bisa meratapi semuanya dengan kesal dan merengek sendiri.
Sedangkan sekretaris Mey malah meninggalkan aku dengan cepat karena dia mendapatkan panggilan dari tuan Arsen saat itu sehingga dia tidak bisa berada terlalu lama menemani aku di ruangan tersebut.
"Aahh..iya baik tuan saya akan segera kesana sekarang juga, iya tuan" ucap sekretaris Mey membalas panggilan telpon dari tuan Arsen saat itu,
"Sekretaris Mey tolong selamatkan aku, jangan pergi dari sini, aku akan mati sekretaris Mey, aku mohon huhu hu...." Ucapku memohon sambil memegangi tangannya.
Tapi semua permohonan yang aku katakan padanya sungguh sia-sia sebab mau bagaimana pun sekretaris Mey tetap pergi untuk menemui tuan Arsen karena dia tidak ingin membuat tuan Arsen menunggu kedatangannya terlalu lama dan membuat gajinya yang akan menjadi ancaman paling bahaya bagi dirinya sendiri.
"Maafkan aku Anna tapi kau tahu sendiri bagaimana tuan Arsen, aku harus segera pergi, kau jangan cemas atau takut sekarang sudah ada Gisel, karena dia teman masa sekolahmu, pasti kalian juga cukup dekat dan sudah saling mengenal jadi tidak akan terlalu sulit untuk bekerjasama bukan, aku pergi dulu ya" ucap sekretaris Mey yang langsung melepaskan tangannya dari genggamanku.
Aku tidak bisa melakukan apapun lagi selain dari menunduk dengan lesu dan segera duduk di depan meja kerjaku.
"Anna...apa kau benar-benar baik-baik saja, aku akan mengambilkan minum untukmu" ucap Gisel begitu saja dan dia segera pergi untuk mengambilkan minuman bagi aku.
__ADS_1
Dia masih saja belum berubah sangat persis seperti dulu dan aku tahu dia bersikap seperti itu pasti karena dia ingin aku mendekatkannya pada David lagi, aku tidak bisa membiarkan semua ini terus terjadi, sungguh tidak bisa.