
Aku langsung turun dari mobilnya dan pergi meninggalkan dia, menghentikan taxi yang tidak sengaja melintas disana dan segera pergi dengan menahan kesedihannya juga air mata agar tidak jatuh membasahi pipiku saat itu, sedangkan disisi lain David sendiri terlihat sangat sedih, dia tertunduk dengan lesu dan begitu menyesal karena telah menyia-nyiakan banyak sekali kesempatan untuk bersama dengan Anna selama ini.
Bahkan saat itu ketika melihat Anna sudah pergi dari sana dia sudah tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa berteriak dengan kencang sambil mem*kul stir mobilnya dengan tangan sangat keras untuk melampiaskan emosi di dalam dirinya saat itu.
"Aarrrkkkk....Anna.... Tolong beri aku kesempatan lagi hiks...hiks..Anna!" Teriak David begitu kencang saat itu.
"Aku menyesal Anna kenapa... kenapa hal seperti ini harus terjadi?" gerutu David lagi dengan perasaan yang tidak menentu.
Dia terlihat benar-benar frustasi tetapi meski begitu tidak ada pilihan lain lagi, saat ini dia tidak bisa langsung mengejar Anna sebab ada urusan lain yang perlu dia lakukan, David pergi menuju kantornya dengan mengemudi mobil sangat kencang, meski dengan perasaan yang kacau dan tidak menentu seorang diri saat itu, dia terlihat benar-benar berbeda dari biasanya dan begitu tidak terkendali saat ini.
Sesampainya di kantor hampir semua orang yang dia temui mendapatkan bentakkan dan amarah kekesalan darinya, David terus saja melampiaskan semua itu kepada orang-orang yang melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, meskipun kesalahan itu hanya sedikit saja, David tetap memarahi mereka habis-habisan bak seperti manusia kejam yang sama sekali berbeda dengan David yang sebelumnya.
Aku juga sampai di perusahaan dan kebetulan sekali saat itu datang bersamaan dengan tuan Arsen, aku segera menyapa dia dengan membungkuk memberi hormat padanya, namun terlihat ada yang aneh dengannya kali ini, dia yang biasanya membalas hormatan dariku sekarang justru malah terus saja berjalan melewati aku begitu saja.
Dengan wajah datar yang tidak memiliki ekspresi apapun juga kedua tangan yang dia masukkan di saku celananya tuan Arsen sama sekali tidak menengok sedikitpun ke arahku saat itu.
Entah apa yang membuat dia seperti ini, cukup membuatku bingung namun aku tidak bisa memikirkannya terlalu lama, aku pikir mungkin ada masalah di belakangnya yang tidak aku ketahui sehingga membuat dia agak berbeda dalam menghadapi aku saat ini atau ada paktor lainnya yang membuat dia menjadi seperti itu, aku tidak bisa menghakiminya dan bersikap seakan dia begitu hanya padaku saja.
"Selamat pagi tuan." Ucapku menyapanya saat itu.
"Eehhh ada apa dengannya? Dia pergi begitu saja, apa dia ada masalah di luar?" Gerutuku terus merasa heran saat itu.
Aku menghembuskan nafas dengan lesu dan segera masuk ke dalam, pergi menuju lift dan hendak masuk ke dalam lift itu tadinya aku tahu ada beberapa karyawan lain di samping dan belakangku yang hendak masuk ke dalam lift itu namun saat pintu lift terbuka sudah ada tuan Arsen di dalam sana membuat semua karyawan yang tadinya berkerumun langsung pergi ke lift lain dan mereka juga cukup kaget dengan hal itu sedangkan aku hanya bisa mengerutkan kedua alisku merasa heran melihat semua karyawan bersikap seperti itu.
Terlihat sangat jelas bahwa mereka semua memang menghindari sosok tuan Arsen, mungkin mereka juga takut dengan raut wajah tuan Arsen pagi ini yang memang terlihat sangat buruk, bahkan aku saja tidak sanggup melihatnya aku takut dia akan mengoceh kepadaku dan melampiaskan kekesalannya denganku, jadi saat itu aku juga hendak menghindari dia, dengan bergegas pergi dari sana, namun rupanya aku sudah terlambat tuan Arsen menyuruhku untuk masuk saat itu dan karyawan lain juga mendorongku sampai masuk ke dalam lift tersebut dan tidak bisa mencari jalan keluar lagi.
"Kenapa kalian terus berdiri disana, ayo masuk!" Ucap tua Arsen pada kami semua awalannya.
Tiba-tiba saja semua karyawan menolaknya dengan lembut dan tuan Arsen mulai menatap padaku saat itu dia langsung menyuruh aku untuk masuk dan para karyawan itu seakan menumbalkan aku pada tuan Arsen, mereka langsung mendorongku masuk ke dalam dengan paksa tanpa persetujuanku sama sekali sampai aku masuk dengan cara yang cukup memalukan karena hampir saja tersandung saat itu.
"Anna ayo masuk, apa kau mau seperti mereka juga hah!" Ucap tuan Arsen padaku.
Baru saja saat itu aku membelalakkan mata dengan lebar dan berniat menolaknya tapi para karyawan itu sudah lebih dulu mendorongku.
__ADS_1
"Aahhhh....hei..kenapa kalian aaishh." Gerutuku tidak sempat kembali ke luar karena pintu lift sudah terlanjur tertutup saja itu dan tuan Arsen sudah menekan lantainya.
Kini suasana di dalam lift terasa begitu canggung aku tidak tahu harus bagaimana dan bersikap seperti aku kami berdiri berdampingan satu sama lain dan tidak ada yang saling menyapa lebih dulu ataupun membicarakan hal lain diantara kami saat itu.
"Ya ampun suasana macam apa ini, aku bisa mati terbunuh jika suasana terus saja menyeramkan dan menusuk seperti ini, aahhh aku tidak bisa terus berada dalam keadaan canggung terus menerus seperti ini," batinku terus saja memikirkan cara.
Dan aku sungguh sudah tidak tahan untuk segera pergi dari sana, terus saja tidak sabar untuk menunggu liftnya terbuka saat itu, sayangnya ketika kita sudah tidak tahan untuk keluar rasanya lift itu lama sekali sampainya.
Hingga tuan Arsen mulai menoleh ke arahku karena saat itu aku tidak bisa menghentikan gerakkan kakiku yang terus aku hentakkan pelan tanpa henti dan cukup cepat tekanannya saat itu.
"Tuk tuk tuk tuk tuk tuk...." Suara ketukan kakiku yang terus saja tanpa henti saat itu.
Tuan Arsen yang sangat kesal mendengar ketukan kaki tersebut dia sudah tidak bisa menahannya lagi dan langsung mendesakku ke dinding lift membuat aku tersentak kaget dan membuka mata dengan sangat lebar juga merasakan degup jantung yang begitu kencang saat itu.
"Aahhh...tu..tu..tuan ada apa?" Tanyaku kepadanya dengan perasaan yang sangat gugup dan sulit untuk di jelaskan saat itu.
"Kenapa kau selalu saja membuatku emosi, apa kau tidak bisa diam hah?" Bentak dia kepadaku dengan tatapan mata yang tajam.
Aku tahu sekarang apa yang menyebabkan dia marah sampai seperti itu aku juga segera meminta maaf dan mengakui kesalahan yang aku buat kepadanya saat itu.
Bukannya memberikan aku ruang yang lebih banyak atau melepaskan aku, dia justru malah semakin mendesak tubuhku sampai aku benar-benar tidak bisa bergerak lagi saat itu karena tangan tuan Arsen yang menghimpit tubuhku cukup dekat dan kuat.
Aku ingin sekali menghilang atau mengubur diriku saat saat itu namun sayangnya tentu saja semua itu tidak akan bisa aku lakukan.
Sampai tidak lama kemudian tiba-tiba saja tuan Arsen semakin mendekatkan wajahnya kepadaku dan suasana menjadi sangat tegang juga canggung aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu, aku hanya merasa takut, cemas dan tidak menentu.
Dia terus menatap aku dengan lekat seperti tengah memperhatikan wajahku dengan sangat serius dalam jarak yang sangat dekat sekali.
"Tuan ada apa denganmu, tuan sadarlah tuan!" Ucapku berusaha untuk menyadarkan ya dan sedikit meninggikan suara padanya agar dia bisa segera sadar saat itu.
Namun yang terjadi tiba-tiba saja listri di dalam lift itu padam dan aku refleks langsung berteriak sambil memeluk tuan Arsen yang jelas-jelas ada di hadapanku saat itu, karena dia yang berada di hadapanku sangat dekat tentu itu begitu mudah untuk aku meraihnya jadi aku secara tidak langsung memeluk dia seperti itu karena kaget dan takut melihat lampu lift tiba-tiba saja padam.
Dan terasa sangat jelas lift itu juga berhenti di tengah-tengah saat itu.
__ADS_1
"Aaatrrkkkkkk....tuan ada apa ini hah ..hah..hah," ucapku sambil memeluknya dengan erat.
Bukan hanya Anna yang kaget karena takut tetapi tuan Arsen sendiri justru tersenyum lebar di tengah kegelapan pada ruangan lift yang kecil itu, dia merasa senang karena tanpa diminta Anna bisa memeluknya seperti itu, begitu erat dan dekat dengan tubuhnya. Itulah yang dia inginkan sejak lama namun Anna tidak pernah peka dengan semua itu, sehingga ketika kali ini Anna kehilangan kendali dia tentu merasa sangat senang.
Bahkan tuan Arsen sama sekali tidak takut ataupun perduli mau dia terjebak di lift itu sekalipun, sedangkan Anna sendiri tentu saja tidak bisa diam saja saat itu.
"Tuan...tuan ada apa ini, tuan kenapa kau diam saja tuan liftnya berhenti kita terjebak disini tuan!" Ucap Anna yang begitu panik dan dia terus saja semakin mengeratkan pelukannya kepada tuan Arsen saat ini.
Hingga tidak lama kemudian akhirnya tuan Arsen tersadar dan dia dengan segera berusaha untuk menenangkan Anna saat itu juga, sebab dia tahu dan memahami bahwa saat itu Anna tengah sangat panik sekali.
"Anna..hei...Anna lihat aku, aku sudah menyalakan lampu senter di ponselku jangan panik oke, kau nyalakan senter di ponselmu aku akan menghubungi sekretarias Mey untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini, kamu tenanglah oke." Ucap tuan Arsen sambil menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya.
Akhirnya aku bisa sedikit merasa tenang karena tuan Arsen mengatakan bahwa dia akan menghubungi orang lain di luar sana, namun sayangnya saat tuan Arsen mengirimkan pesan dan mencoba untuk menelponnya tidak ada jaringan disana dan dia tidak bisa mengakses apapun, itu membuat tuan Arsen ikut merasa cemas dan dia takut tidak karuan saat itu namun karena ada Anna yang perlu dia lindungi, jadi dia terus menyembunyikan rasa takut yang dia rasakan saat itu, tuan Arsen berpura-pura bahwa dia berani dan tidak akan ada yang terjadi, padahal di dalam hatinya dia juga cukup panik dan sangat takut saat itu.
"Aahh....kenapa tidak ada jaringan disini, Anna coba pakai ponselmu apakah ada jaringan atau tidak," ucap tuan Arsen kepadaku.
Untungnya ponselku memiliki jaringan saat itu dan dengan cepat aku menghubungi sekretarias Mey, tapi sayangnya aku juga tidak sempat berbicara panjang lebar kepadanya sebab jaringan langsung saja terputus begitu saja saat itu, hal tersebut membuat aku semakin panik dan takut.
Aku benar-benar tidak bisa terkurung di tempat kecil dan gelap seperti ini, rasanya aku menjadi sulit untuk bernafas karenanya, aku juga tidak tahu harus bagaimana saat itu.
"Aahh..bisa ini tersambung, sekretaris Mey...tolong aku, aku terjebak di dalam lift, hallo.. sekretaris Mey.... sekretaris Mey aku tidak bisa mendengarmu..hallo!" Teriakku terus saja kehilangan komunikasi dengan sekretaris Mey saat itu.
Tidak tahu lagi harus melakukan apa, aku juga tidak tahu apakah sekretaris Mey sudah mendengar suaraku atau tidak saat itu namun panggilannya benar-benar sudah terputus dan ketika aku mencoba untuk menghubunginya lagi, itu sudah tidak bisa, semua jaringan di ponselku sudah hilang dan aku tidak bisa menghubunginya lagi.
"Tuan... bagaimana ini, aku tidak tahu apa sekretaris Mey mendengarkan atau tidak, kita sudah terjebak disini tuan hiks..hiks.." ucapku merasa sangat cemas tidak karuan dan mulai menangis saat itu.
Kini tuan Arsen memegangi kedua pundakku dia kembali berusaha untuk menenangkan aku dengan berbagai cara yang bisa dia lakukan saat itu, aku juga tidak tahu mengapa dia mau melakukan hal seperti ini kepadaku, tetapi ucapan penenang darinya benar-benar berfungsi untukku saat ini, setidaknya karena dia aku bisa berhenti menangis dan menjadi lebih baik lagi, tidak sepanik sebelumnya.
"Hei..Anna ayolah jangan menangis seperti itu, kalau kau menangis semua akan menjadi sangat buruk, kamu harus tenang dan santai jangan terlalu panik, aku sudah mengirim pesan padanya dan itu terkirim kamu juga sudah menghubunginya dia pasti mendengarkan, kita tunggu saja dia menyelamatkan kita sembari mencari cara lain agar bisa terbebas dari sini secepatnya, tenang ada aku disini, kamu tidak perlu mencemaskan apapun lagi, oke." Ucapnya kepadaku saat itu.
Aku hanya mengangguk mengerti dan mulai berhenti menangis, tuan Arsen juga langsung menghapus sisa air mata di pipiku saat itu, dan aku bisa menjadi lebih tenang lagi, sampai tidak lama tuan Arsen langsung saja mempersilahkan aku untuk duduk di samping tembok lift tersebut.
"Sudah ayo kita duduk kemarilah." Ucap tuan Arsen padaku.
__ADS_1
Aku duduk di sampingnya dan memeluk kedua kaki yang aku tekukkan sendiri sambil memegangi ponselku yang menyala karena senternya, sebab aku terus saja tidak bisa benar-benar tenang, meski sebelumnya sudah agak tenang tetapi berlama-lama di tempat tertutup seperti itu sungguh membuat aku cemas sekali, sampai tiba-tiba saja tuan Arsen meraih tangannya dan dia menggenggamnya dengan erat sambil mengusap lembut padaku saat itu.
"Tenang ya, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu." Ujarnya yang membuat aku seakan lupa bahwa saat itu masih terjebak di dalam lift.