Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Awal mula


__ADS_3

Mobil sport hitam melaju membelah


kemacetan ibukota di pagi hari. Suara riuh piuh di ibukota melengkapi suasana


ketika manusia memulai aktivitas masing masing.


Terlihat kendaraan roda dua dan


roda empat berlomba lomba membunyikan klakson mereka ketika pendar lampu lalu


lintas berubah.


"Shittt" Umpat seorang


pria gagah kesal melihat kendaraan roda dua menyalip pas dari depan mobilnya.


Terdengar gesekan ban dengan aspal tanda jika pria itu menginjak rem tiba tiba.


Derap langkah gagah perkasa


disertai aroma maskulin bertebaran di sekitar lobby. Dua pengawal juga berjalan


di belakang pemuda tersebut. Melepas kacamata hitamnya pemuda itu duduk di


kursi kebesaran miliknya.


selang beberapa menit datang


seorang wanita dengan raut wajah ketakutan. Dia enggan membuka suara ketika


melihat lawan bicaranya masih membelakanginya.


"Kau hanya berdiri disitu


tanpa berniat menjelaskan semua ini ! "


Byar! lembaran kertas kertas


terlempar berterbangan hingga kertas malang itu mendarat pas di depan kaki


wanita tersebut.


"Ma...maafkan aku Tuan


Marco! "


"Tutup mulut mu !! jangan


menyebut namaku dengan bibir iblis mu ! " Tampak Marco mendudukkan


bokongnya dengan kasar di sofa yang tidak jauh dari wanita itu berdiri.


"Kau mencoba bermain main


denganku? sudah bosan hidup? " Senyum tipis menyeringai dengan tatapan


membunuh. Tidak bisa ku bayangkan atau ku ibaratkan mirip siapa kira kira wajah


seram nya ini ya.


"Tidak tuan ! maafkan saya


dan suami saya, Ini semua di luar dugaan saya Tuan maafkan saya !''


Marco memandang jijik wanita yang


sedang berlutut di hadapannya itu. Bukan sekali atau dua kali dia seperti ini


namun sudah berkali kali. Jika bukan karena adab mungkin marco sudah menendang


wanita ini keluar dari ruangannya.


''Maafkan saya tuan. Sa...saya


akan mengganti semua kerugian perusahaan. Berikan saya waktu tuan. saya mohon

__ADS_1


belas kasihan tuan untuk saya dan juga keluarga saya. ampuni saya tuan saya


mohon''.


Wanita itu terus memohon dengan


kedua tangan terkatup, pasrah melupakan harga diri. Uang perusahaan tidak


tanggung tanggung jumlahnya yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya itu tapi kepercayaan seorang Marco sudah ternodai.


''Kau tau uang dengan jumlah itu


bagiku tidak berarti.Tapi aku benci PENGHIANATAN!!!!'' BLARRR kertas kertas


memenuhi udara satu persatu mendarat dengan dramatis bergabung dengan kaumnya yang


sudah duluan tiarap di lantai. Kini lantai itu bagaikan gudang pabrik kertas


yang belum di sortir. Serakan dimana mana.


''Keluar!''


Satu jam setelahnya, kini marco


sudah kembali duduk di bangku kebesarannya. Seorang OB terlihat sedang membersihkan kertas kertas yang berserak di lantai. Untuk pertama kalinya dia membersihkan ruangan itu ketika penghuninya di dalam. Biasanya dia akan membersihkan ruangan itu ketika pagi hari sebelum Marco datang, atau sore setelah penghuni pulang. Saat dia membersihkan ruangan itu pun harus tetap di dampingi atasannya agar semua berjalan dengan baik tanpa ada kesalahan seujung rambut.


Ketukan jari diatas meja semakin membuat aura menegang. Petugas kebersihan tersebut dengan susah payah menjaga konsentrasi dengan baik agar tidak melakukan kesalahan.


Terlihat tangan kanan Marco memijit dahi sedangkan kiri mengetuk ngetuk meja seperti sedang memikirkan sesuatu, matanya terpejam. Namun walaupun begitu petugas kebersihan itu merasa jika dia seperti ingin di eksekusi.


Lantai terlihat sudah bersih. Petugas kebersihan menundukkan kepala lalu membawa peralatannya keluar.


''Permisi tuan''.


Selang beberapa lama setelah kepergian OB tersebut Marco akhirnya membuka mata.


''Sita semua aset Mahalini jangan


sisakan apapun tanpa terkecuali '' Ucap Marco dingin tapi intonasinya penuh


''Kami sudah mengumpulkan semua


data aset Mahalini tuan. Tapi satu per empat pun dari dana perusahaan yang


hangus sama sekali tidak tertutupi'' Ucap Gerald asisten pribadinya.


Terlihat Marco terkekeh dengan


penuh ejekan. ''Kalau begitu jadikan saja dia budak dirumahku''. Ucap Marco


sinis. Hitung hitung otaknya tidak berguna setidaknya ada tubuhnya yang bermanfaat. Sayang juga kalau dibuang percuma. Sampah saja bisa di daur ulang agar bermanfaat. Tapi masalahnya wanita itu lebih dari sampah Dimata Marco, tidak mau ambil pusing dia tetap pada pendiriannya menjadikan wanita itu budak.


Marco pun segera melanjutkan


agenda agenda penting yang harus dia selesaikan. Semenjak kepindahan kedua


orangtuanya ke luar negeri 11 tahun lalu, Marco memegang penuh perusaahan. Kejadian memilukan


yang dialami keluarganya membuat dia harus berdiri di perusahaan walau usianya


pada waktu itu masih tergolong muda. Timbal balik dari kejadian tersebut


menciptakan kepribadian Marco yang dulunya hanya remaja dingin turunan ayahnya


menjadi seorang anak penuh dendam,emosi serta mudah meledak ledak. Juga hal itu membuat pria 30 tahun itu keras tanpa


belas kasih sama sekali.


Tumbuh di lingkungan yang penuh luka dan liku membuat Marco menjadi pria yang terlatih menata keadaan, membaca pikiran orang, dan juga menyusun strategi untuk bertahan dan mendapatkan keadilan.


Terkadang dia tidak segan lalu tangan sama bawahan


yang tidak becus ketika dia sedang emosi.


Hal tersebut membuat dirinya

__ADS_1


sangat di takuti oleh para bawahan ataupun jajarannya. Pantang salah, itu adalah motto dalam hidupnya. Dia akan rela mengorbankan dana besar untuk hasil yang memuaskan. Iya rela bekerja keras untuk hasil yang lebih baik. Tidak heran jika perusahaan yang dia pimpin Sekarang menjadi perusahaan maju yang berkompeten dan juga memiliki daya saing yang prestisius.


Sore hari setelah selesai berjibaku dengan pekerjaan nya, dia segera pulang kerumah. Malam gelap menyambut kepulangannya ke rumah megah di komplek perumahan elit di ibu kota. Rumah itu berada di ujung, dengan model rumah mengikuti desain rumah Eropa yang ikonik. Luas rumah itu hampir tiga kalinya dari ukuran awal nya.


''selamat malam tuan" Seorang pria paruh baya yang menjadi kepala asisten dirumahnya terlihat enggan berbicara. "Maaf tuan, Mahalini digantikan oleh anaknya. '' Kedua alis Marco bertautan. Gerald yang berada tepat di belakang Marco akhirnya buka suara dan menjelaskan. ''Mahalini dilarikan kerumah sakit saat mengetahui semua


asetnya disita, suaminya juga meninggalkannya karena tidak mau kena imbas, dia drop maka dari itu Dia mengirim anaknya sebagai gantinya"


ucap Gerald sambil dengan hati hati menerima jas yang diberikan Marco.


''Dasar


pengecut''. Seringai tipis itu masih terlihat penuh ejekan.


Saat mereka hendak sama sama


melangkah ke ruangan kerja, saat itu juga seorang gadis remaja mendekat.


Tampilan lusuh dengan rambut kucir satu. Badannya kurus seperti tidak terawat.


Meremas kedua tangan dia mencoba menegakkan kepala. ''Tuan ini sudah malam


apakah saya sudah bisa pulang''.


Marco melirik Gerald sejenak.


''Ger?'' seolah tau arti tatapan tuannya akhirnya Gerald membuka suara. ''Iya


tuan dia anak Mahalini yang saya maksud''.


Marco tersenyum menyeringai. Dia


berlalu begitu saja. Kau pikir bisa lari dari penghianatan mu ini dengan


mengirimkan anakmu yang menyedihkan ini. Aku mengenalmu bertahun tahun, apa


kau pikir aku semudah itu menerima anakmu sebagai gantimu, lalu kau anak dengan ganteng santai cuci tangan.


''Pulanglah nona, besok jangan


lupa tanggungjawabmu'' Ucap Gerald sembari menatap kosong anak remaja


tersebut. Wajah polos menyedihkan yang menjadi korban keegoisan ibunya.


Gadis itu menutup pelan pintu rumah besar itu dengan hati hati. Kemudian dia mengambil sendal miliknya yang dia letakkan tadi di sudut terasa sebelum masuk.


Gadis itu setengah berlari membawa tote kain miliknya yang dia sandang di bahu. Dia harus berjalan jauh agar sampai di pinggiran jalan yang di lalui angkutan umum. Setelah turun dari angkot dia membeli ayam kentacky yang di jual di pinggiran jalan. Dia memang menyukai menu yang satu ini. Dia kemudian berjalan menelusuri lorong demi lorong agar tiba di rumah sempit tempat dia dan ibunya tinggal.


Sesampainya di rumah dia terkejut ternyata Mahalini ada dirumahnya. ''Kau sudah  pulang?'' Wanita paruh baya yang terlihat masih segar itu sedang duduk di sofa sambil memangku kakinya. ''Sudah tante''


''Apa kamu bekerja dengan benar di rumah tuan Marco tadi?'' Mahalini masih tetap dalam posisinya melipat tangan di dada dengan gaya angkuhnya.


''Iya tante saya  bekerja sesuai instruksi mu''


''Baguslah mulai hari ini kau akan bekerja di rumah tuan Marco. Ingat jangan sesekali membuat kesalahan kalau kau masih ingin hidup dan juga ibu mu. Kau tau kan tuan Marco itu seperti apa''


''Tapi tante.....''


''Tidak ada tapi tapian. Tante tidak bisa lagi kerja memenuhi kebutuhan mu dan juga ibumu. Di Sana kau akan mendapat upah yang lebih baik, dan seterusnya ibu mu akan menjadi tanggung jawabmu. Kau harus tau diri, selama ini om Haris dan tante sudah menanggung biaya berobat ibu mu dan juga kau telah menempati rumah ini dengan cuma cuma. Jadi kau kerja menggantikan tante itu tidak ada apa apanya''.


Gadis itu menunduk dalam. Dia seperti kena jepit dengan dahan kata kata menyakitkan yang memang benar adanya.


''Sana temui ibu mu''.


Gadis itu tidak menjawab apa apa lagi. Dia segera ke dapur menemui ibunya. Dan ternyata ibunya sedang menyiapkan makan malam. Gadis itu mengernyit heran tidak biasanya ibu memasak. ''Ini untuk makan malam tante  mu. tante akan tinggal disini jadi jaga sikap mu. makanlah mana yang bisa kau makan setelah tante mu selesai''.


Setelah selesai Mandi gadis itu pergi ke dapur, dan ternyata sisa makanan yang tertinggal hanya kuah sayur dan nasi putih, Gadis itu menatap sebentar kemudian memakan nasi bersama ayam kentucky yang dia beli tadi. Setelah selesai makan dia segera membereskan dapur. Dan ternyata Mahalini juga datang ke dapur.


''Satu hal lagi ingat apa yang aku katakan tadi siang kan! jika siapapun bertanya padamu katakan kau anakku, Tuan Marco tidak sembarang menerima orang bekerja dengannya. Tuan Marco mau memberikan mu kesempatan bekerja itu karena mereka mengira kau anakku, jadi pertahankan identitas mu sebagai anakku''. Ucap Mahalini tegas penuh penekanan.


Tanpa sengaja dia mengikat gadis remaja yang tidak tau apa apa dengan masalah besar. Mahalini sendiri tau jika setelah ini gadis yang sedang dihadapannya ini tidak akan bisa lepas dari seorang Tuan Marco. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia juga tidak akan mau jadi babu kan, maka dari itu dia mengorbankan gadis polos yang lugu yang tidak punya pendidikan sebagai tumbal keserakahannya.


Bersambung.....


.

__ADS_1


__ADS_2