
Kenapa penghuni rumah ini wajahnya seram semua. Bicara kek atau apa. Ini diam diam kan aku jadi takut. Dua orang laki laki lagi.
Gabriela duduk di belakang kemudi sambil meremas jarinya. mobil melaju sudah 30 menit tapi tujuan mereka belum sampai. dia merogoh tas kecil yang membelah tubuhnya memastikan bahwa dia membawa kartu debit miliknya dan juga kartu warna hitam yang tadi dia dapat dari tuan Marco.
Dia membawa debit miliknya untuk antisipasi. Sisa uang di dalam tabungannya masih cukup untuk membeli ponsel sederhana.
"Tuan kita kemana ya? kan kita sudah banyak melewati konter dari tadi" Akhirnya dia memberanikan diri membuka suara.
Dua pria itu bersitatap. "Nona jangan khawatir. Sebentar lagi kita akan sampai".
"Tapi kalau ada yang dekat untuk apa kita pergi ke yang jauh"
Bagaiman aku menjelaskan pada anda jika limit itu tidak bisa digunakan di sembarang tempat. "Tenang saja nona kita akan sampai"
Ditanya apa? jawabnya apa? menjengkelkan sekali. Aku mau protes tapi aku takut ah. Melihat wajah kalian berdua saja aku ketakutan.
Tuan Marco dingin dan kejam begitu masih Tampan. Kalau kalian? eh apa yang kukatakan. Tapi memang iya sih. Sikap iblis tuan Marco masih termaafkan dengan tampan dan gagah nya dia. Hahaha otakku sudah mulai pandai membandingkan.
"Silahkan nona" Gabriela memasuki sebuah Mall khusus penjualan alat elektronik. Toko toko berjejer dengan sales promotion yang terlihat sedang menawarkan barang baru mereka. Gabriela sempat kebingungan sendiri. Kalau disini mah tidak akan ada menjual ponsel seperti milikku kemarin. Gumamnya.
Dia melirik dua pengawal bertato tadi. Kemana mereka? tadi di belakangku. Kemana perginya. Ya tuhan bagaimana ini.
Seorang SPG sudah melihat Gabriela tapi dia tidak menggubris. Tidak mungkinkan wanita lusuh seperti ini mau beli ponsel. Jadi SPG itu mengabaikannya dia fokus dengan pelanggan yang terlihat meyakinkan.
Berapa uang di dalam limit itu ya? Bukan itu sekarang. Apakah disini ada hp kayak punyaku kemarin.
Dia mulai menyentuh estalase kaca. Mencari cari ponsel seperti miliknya. sepertinya ada. ada ponsel yang agak mirip dengan ponsel miliknya. Dia kemudian memanggil SPG.
"Berapa harga ponsel itu?" harga duluan dong yang ditanya. kalau kira-kira murah lanjut kalau mahal maaf sepertinya aku harus ganti toko. Fix mundur kalo mahal. Rakyat jelata sepertiku mah gitu pikirnya.
seorang wanita yang berprofesi sebagai SPG yang masih training itu memperhatikan penampilan Gabriela. antara yakin dan tidak yakin tapi karena profesional dia tetap melayani dengan tulus.
"Maaf non barangnya sudah tidak ada itu hanya pajangan. tapi kalau Nona berkenan saya akan mengambilkan daftar ponsel-ponsel terbaru kami yang mungkin Nona suka" Wanita pergi mengambil selebaran daftar ponsel keluaran terbaru.
Gabriela ternganga melihat harga harga yang tertera. "Apakah tidak ada yang lebih murah?" Ucapnya sambil menyodorkan kembali selebaran itu.
__ADS_1
"Ada non tunggu ya" Wanita itu pergi mengambil selebaran lagi. Namun harga yang ditawarkan hanya beda tipis dengan yang pertama.
"Nona akan sangat keren jika membeli yang ini saja non. Harganya tidak beda jauh kok. nona bisa selfie di ruangan gelap tapi kecantikan nona tidak akan pudar karena ponsel ini dilengkapi dengan bla bla bla". Gabriela tersipu malu saat SPG itu mengatai dia cantik.
"Jangan ragu nona kualitas ponsel ini terbaik non" Gabriela sudah ingin menolak tapi dia segan karena SPG itu sudah melayaninya dengan ini itu.
"Nona tidak perlu khawatir. Nona bisa kok menyicil mana tau nona tidak membawa uang senilai Hp ini. Atau Bayar besok juga bisa kok" Melihat keraguan di wajah Gabriela sepertinya SPG itu mengerti.
Menyicil? tidak tidak utangku sudah terlalu banyak.
"Ahh maaf kak, apa boleh aku pilih yang paling murah saja?" Gabriela menunjuk ponsel paling murah. Tapi Speknya sudah dewa sih sebenarnya.
"Boleh dong nona, anda mau yang mana saja kami siap melayani. Tunggu sebentar disini ya. nona minum dulu" SPG itu berlari kecil mengambil barang.
Bagaimana ini aku mau hp ratusan ribu. malah jadi jutaan. Ya tuhan. Tapi mau pindah toko aku malu. mereka kemana lagi membiarkan ku disini. Paling tidak kalau mereka ada kan aku tidak malu kepalang kalau pun ganti ke toko lain.
Mata Gabriela menyapu semua isi Mall. mencari-cari ke mana dua pengawal jelek yang tadi mengantarnya. Dasar tidak bertanggungjawab. Batin Gabriela. Aku gugup, gugup sekali aaaa.
Tanpa sadar SPG tadi sudah berdiri di depannya membuka segel ponsel yang dipilih Gabriella.
"Iya tidak apa apa kak" mata Gabriela terperangah melihat ponsel yang akan dia beli. mana tau aku cara memakai itu. Dia kebingungan sendiri.
SPG itu menerangkan semua tentang Spesifikasi dan juga keunggulan ponsel itu. Tidak kalah jauh dengan ponsel paling mahal tadi. Dia juga bernafas lega ternyata penggunaan semua Hp sama ya hanya beda dikit dikit saja.
Gabriela tampak mengangguk walau tidak mengerti apa apa.
"Saya akan install semua aplikasi umum yang nona butuhkan. Tunggu sebentar disini"
****
Sementara itu Marco mengangkat kakinya kemudian melambaikan tangan saat Gerald kesal keluar dari ruangannya. Dia sibuk melihat lihat gadis bodoh yang sedang duduk kebingungan di dalam sebuah mall.
Haha dia pakai juga akhirnya kartu itu. Baiklah baiklah.
"Ger ke ruanganku sekarang!!!" Suara dentuman keras menyadarkan Gerald yang sedang sibuk berkutat dengan laptop. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya. Sialan apa lagi sih. Anda kenapa jadi semakin aneh tuan begini tuan.
__ADS_1
"Cari tau identitas wanita ini?" Menunjuk ponsel miliknya. "Kalau kira kira meyakinkan pindahkan ke departemen yang lebih baik" Marco menyerahkan ponselnya tepat di dada Gerald.
Wanita baju putih ini? biar apa? Walau bingung Gerald tetap melakukan tugas dari raja yang berkuasa ini. Tidak ada alasan untuk menolak. Baiklah tuan terserah anda. Tapi kenapa anda ingin menaikkan jabatan wanita itu.
Gerald menonton ulang rekaman itu. Memastikan bahwa tindakan Marco tidak salah.
Huh jadi karena dia naik membantu nona Gabriela ya. Ya ya ya. Aku setuju sih. Orang baik memang selalu dapat berkah ya. Tindakan sekecil apa pun dapat mengubah segalanya. Gerald menghubungi Manager operasional mall. Sambil mengirim pesan bergambar. Dan wanita itu benar benar langsung naik jabatan.
Marco dan Gerald sudah berada di dalam mobil. Mereka pulang lebih awal. Dengan senyum mengembang Marco duduk di mobil tanpa dosa telah meninggalkan rapat penting. Sedangkan Gerald mulai pusing. Ini ketiga kalinya rapat penting di undur.
Akan semakin banyak berkas yang menumpuk. Dan itu akan menjadi urusan Gerald.
Dan anda lagi lagi tersenyum lagi. Kenapa? ada sesuatu yang menggelitik hati anda?
"Aku tidak sabar melihat otak bodohnya belajar menggunakan Hp canggih haha pasti akan jadi seru" Marco terbahak lagi.
Gerald hampir menepuk kepala. Jadi anda meninggalkan rapat proyek milyaran rupiah hanya untuk melihat Non Gabriela belajar main hp?
Konspirasi apa lagi ini?
Kalau tadi non Gabriela sakit atau kabur itu aku masih toleransi. Berarti hipotesa ku pas. Mungkin tuan sudah membuka hati. Tapi ini masalahnya nona mau belajar main Hp dan rapat harus tertinggal? Gerald geleng geleng kepala.
"Kenapa?" Marco menatap tajam kearah Gerald.
"Tidak tuan aku hanya berpikir...
"Kau berpikir kalau aku aneh? Kau tidak tau betapa menyenangkan melihat kebodohannya yang melebihi anak kecil".
Dan Marco berbicara layaknya manusia biasa. Tidak ketus ketus. atau hanya angkat bahu.
"Makanya sana cari pacar!"
Lagi lagi kata kata sarkas ini membuat Gerald terkejut. Makanya sana cari pacar. kata kata itu terngiang di kepalanya. Jadi anda merasa jika Non Gabriela pacar anda?
Ini bagaimana sih ceritanya aku jadi bingung.
__ADS_1
Bersambung*.....