Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Menemui seseorang


__ADS_3

Gerald memajukan mobil dengan kecepatan sedang. Bersama pikirannya yang masih memikirkan hubungan antara Tua Marco dengan nona Gabriela sore ini dia mendapatkan tugas yang sangat merepotkan.


Marco mengutusnya untuk menemui Mahalini. Entah sepenting apa hal yang ingin disampaikan, tapi melalui pesan Marco terpancing. Tapi hari ini ada yang lebih menghibur. Dan juga Marco yang jelas tidak mau melihat wanita penghianat itu apalagi dalam keadaan hidup.


"Cih tidak tau diri sekali, dia berlagak orang penting ingin menemui ku" Hanya itu saja yang di ucapkan Marco saat Gerald memberi tahu informasi yang dia dapat dari Danri.


"Ger, kau tidak penasaran dengan apa yang ingin di sampaikan wanita itu?" Sebenarnya disini tuan Marco yang penasaran. Tapi ini adalah ucapan mendeskripsikan bahwa dia tidak tertarik menemui pemberi informasi. Jadi Gerald sebagai penghubung. Baik tuan aku akan maju untuk anda.


Gerald akhirnya menggantikan posisi tuannya untuk menemui wanita itu. Walaupun merepotkan tapi ini demi Tuan Marco. Karena sudah menjadi tugasnya untuk mewakili Marco. Asisten dan juga tangan kanan Tuan Marco yang tidak diragukan lagi kualitasnya.


Dia mulai mengedarkan pandangannya menyapu seluruh isi Cafe. Pertemuan mereka hanya jarak beberapa kilo meter dari kediaman Gerald.


Gerald mendengus saat netranya sudah menangkap sosok wanita yang ingin bertemu dengannya. Dasar rubah betina.


Gerald duduk dengan tenang. Tatapannya datar seperti biasa. "Tuan Marco sedang istirahat jika ada yang mau anda katakan saya akan menyampaikan pada beliau"


Artinya kau tidak lebih penting dari tidur tuanku.


Tuan Marco tidak ingin tidurnya terusik hanya demi rubah sampah sepertimu.


Ucapan Gerald hanya di tanggapi Mahalini dengan senyum manis yang menjijikkan. Dia sudah menduga bahwa Marco tidak akan menemui nya.


"Apa anda tidak haus tuan? setidaknya pesankan teh untuk anda. Banyak yang harus kita bicarakan" Mahalini menyedot jus di depannya. "Sayang sekali ya tuan Marco tidak dapat hadir"


"Tuan Marco hanya menghadiri pertemuan penting" Ucapan sarkas penuh cibiran yang langsung membungkam Mahalini.


"Begitu ya tuan" Mahalini mencengkeram rok nya. "Bagaimana kalau kita pesan makan dahulu?" Masih dengan ekspresi basa basi.


"Baiklah tuan Gerald sepertinya anda buru buru sekali ya" Mahalini menyerah berbasa basi karena tau laki laki di depannya ini tidak akan gampang di kelabui.


"Aku hanya ingin menjemput kembali anak ku" Mahalini menyodorkan sebuah amplop coklat. Gerald sudah menyeringai. "Aku akan menggantikan semua uang yang sudah hilang" Mahalini mengambil bolpoin. "Silahkan tanda tangan disini tuan" Langsung to the point aja. Biar cepat pikir Mahalini.


Gerald tergelak. "Nona sudah seharusnya nona sujud syukur Tuan Marco tidak hadir disini?" Gerald tersenyum tipis kemudian wajahnya berubah menjadi dingin menakutkan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa anda ingin bertemu tuan Marco tanpa persiapan. Hanya untuk sampah selembar ini yang mau anda berikan?" Ucapan Gerald penuh dengan balutan ejekan. Gerald memandang jijik lembaran itu kemudian menjauhkannya.


Tidak ada niat sedikitpun untuk membaca entah apa isi lembaran itu. Kalau ada tong sampah mungkin amplop itu sudah masuk ke tong sampah.


"Pulanglah nona, anda butuh istirahat sepertinya" Gerald masih memandang penuh ejekan melihat wanita yang tidak tau malu ini. Aku pikir apa yang mau kau sampaikan bodoh. Gerald berdiri.


Harga diriku di injak. "Tunggu!" Gerald mendengus malas. "Anda tau kan Gabriela itu anak tidak berdosa. Dan dia layak bahagia! Aku sebagai orang tuanya merasa sangat bersalah dan aku akan maju untuk melindunginya" Ini saat yang tepat. Mahalini memperbaiki posisinya. "Aku akan mengembalikan dana perusahaan. Dan aku akan membawa pulang anakku"


Bisa bisanya kau mengatakan nona Gabriela anak mu!


"Berhenti sampai disini kalau anda mau hidup tenang kedepannya" Gerald mulai melangkah pergi namun langkahnya berhenti lagi. "Satu lagi nona aku peringatkan anda untuk jangan mengusik ketenangan tuan Marco dan Nona Gabriela. Anda juga punya anak kandung kan! anda masih ingin anak kandung anda sehat kan" Gerald meninggalkan cafe bersama dengan kata katanya yang penuh ancaman.


Mahalini mengepalkan tangan saat gagal bernegosiasi. Belum melangkah sudah gagal. Gadis itu meninju meja hingga terdengar suara brak. Dia kembali mengenakan kaca mata hitam dan meninggalkan Cafe.


Apa Gabriela sudah mengaku bukan anak ku. Kurang ajar! Aku berniat menyelamatkanmu malah kau yang menghancurkan semuanya. Dasar bodoh! bodoh! aaaa kau memang bodoh.


Mahalini mencakar cakar dinding toilet meluapkan kemarahannya. Bagaimana bisa dia terlihat persis layaknya badut saat bertemu dengan Gerald tadi. Kalah telak tanpa balas.


Aku tidak memprediksi bahwa Marco sudah mengetahui tentang Gabriela. Pantas saja ibunya juga menolak bertemu denganku. Mahalini semakin geram kenapa dia tidak bisa memperkirakan semua ini.


.....


Marco menyeringai saat Gerald selesai dengan laporannya. Marco berdecak kembali, dia sepertinya mulai menikmati permainan yang sangat tidak penting itu. Namun dia penasaran endingnya.


Kau masih berani mau mengambil Geby dariku? Kau tidak tau diri sudah menjual yang bukan barangmu untuk menebus kesalahanmu. Betapa tidak tau malu nya kau.


"Biarkan saja dia. Rahasiakan pertemuan mu dengannya dari Gaby. Jangan sampai geby tau" Nanti pikirannya terusik untuk berpikir lari dariku.


Gerald mengangguk. "Satu lagi tuan"


Marco mendesah, apa lagi sih. Aku mau menemui Geby. Aku mau lihat dia memakai lingerie. Marco tertawa lepas, Gerald bingung sendiri.


Padahal aku belum bicara tapi anda sudah tertawa Apa yang lucu?

__ADS_1


"Tuan besar dan nyonya ingin bertemu dengan nona Gabriela. Nyonya bahkan mengancam akan datang besok ke kota ini"


Gerald mendengus kesal. "Aku serahkan padamu Ger. Aku mau menemui Geby dulu" Saat Marco sudah meninggalkan ruang kerja Gerald hanya bisa pasrah. Kenapa pekerjaanku semakin hari semakin rumit tuan.


Aku lebih baik menghadapi klien gila dan tidak punya rasa malu ketimbang bertemu dengan tuan besar dan beliau menanyakan tentang anda.


Bahkan satu kata pun tidak boleh terlewatkan saatnya beliau bertanya padaku.


Tuan besar sudah tau tapi beliau sengaja menanyakan ku entah untuk apa.


Gerald meraih ponsel menghubungi seseorang. Dia hanya bicara beberapa detik kemudian berlalu dari ruang kerja Marco.


Sebelum turun dia masih melewati kamar Marco dan Gabriela. Tidak ada suara. Mereka sedang apa apa ya? Tiba tiba pertanyaan nakal ini meluncur begitu saja di otaknya.


Gerald kembali memacu roda empatnya melewati keramaian kota. Senja menyambut malam dia masih berlanjut dengan urusannya. Mobil berhenti di sebuah Villa. Gerald melihat layar di mobilnya. Aman pikirnya. Dia keluar, Gerbang tertutup dua orang berpakaian hitam sudah menyambutnya.


Gerald membuka pintu sebuah ruangan kemudian membuka jasnya. Tangannya mulai meraba perut bagian bawah dan terlihat dia mengeluarkan senjata dari tubuhnya.


Saat dia sudah berpakaian casual ada seseorang berparas menyeramkan masuk dan memberikan ramuan padanya. Mereka terlibat banyak percakapan.


Gerald menenggak habis ramuan itu, meletakkan gelas dan lanjut lagi berbicara dengan pria menyeramkan itu.


"Utamakan keselamatan" Gerald menepuk pundak pria itu sebelum akhirnya mereka bersama sama keluar menuju ruang latihan yang berada di lantai bawa tanah. Disana Gerald bertemu dengan orang orang yang dia kenali.


Gerald mengambil senjata dan memakai baju pengaman. Latihan berjalan seperti biasa. Rutinitas malam akhir pekan memang seperti itu. Setelah selesai dengan urusan Tuan Marco, asisten sekaligus tangan kanan Marco itu akan menghabiskan malam dengan beberapa orang untuk mengajak bermain para koleksi senjata senjata miliknya yang tersimpan rapi di sebuah brankas.


Latihan itu hingga tengah malam. Setelah selesai dengan olahraga dia menuju sebuah ruangan. Di dalam bak sudah terisi air yang di campur dengan es batu. Gerald mulai memasukkan tubuhnya dengan perlahan, berendam dengan air es adalah kebiasaannya sebagai terapi bulanan.


Dia akan keluar dari bak setelah merasa cukup.


Malam akhir pekan Gerald di tutup dengan pria itu sudah telentang di atas tempat tidur mempertontonkan otot kekarnya menyembul dari balik kaos miliknya.


Berbeda dengan tuannya. Malam akhir pekan Marco mulai terhiasi setiap malam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2