Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Kartu limit tanpa batas


__ADS_3

Pagi hari terlihat Gabriella sudah menunggu Marco di kamar. Hari ini dia menggunakan dres pink magenta. Gadis itu bahkan mengesampingkan tangannya yang masih sakit dan perih, demi sebuah tugas yang mulia yaitu melayani seorang dewa.


"Tuan hari ini anda kan ke kantor" Saat itu dewa itu sudah bangun dan masih duduk santai di tempat tidur. Dia beranjak saat Gabriela memberikan sendal di bawah kakinya. Namun sekilas dia menarik tangan Gabriela dan memeriksanya. "Kenapa kau kesini? apa tanganmu sudah jauh lebih baik?"


Gadis itu mengangguk. "Tidak apa apa tuan hanya sakit sedikit".


Marco tidak menggubrisnya. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Persetan dengan tangan mu pikirnya.


Saat Marco sudah berpakaian rapi dia kembali duduk di sofa. Jentik jarinya mengisyaratkan agar Gabriela mendekat. Gadis itu pun segera berjalan kearahnya.


Dia mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. "Ganti Ponselmu" Ucapnya sambil meletakkan kartu itu di telapak tangan Gabriela. "Nanti kau menangis lagi kalau hp mu tidak ada"


"Tapi ini kartu gunanya untuk apa tuan?" Biasanya kalo ATM kan ada logo bank nya. Ini hanya hitam pekat trus ada nomor nomor. Ini apa sih?


Gabriela membolak balikkan kartu itu didepan matanya. "Apa ini sejenis kartu kredit untuk belanja kayak di TV TV begitu?" Ucap Gabriela yang langsung menyentak pikiran Marco.


Bodoh, miskin , jelek dan kampungan. Kok bisa ada manusia seperti mu. Gelak tawa mengejek itu membuat Gabriela terdiam.


"Aku kan hanya bertanya tuan" Gabriela yang kesal menyembunyikan kartu itu di balik punggungnya. Bibirnya maju beberapa centi seperti anak anak yang merajuk. Tinggal kasi tau aja kenapa! gumam gumam Gabriela yang mungkin hanya dia yang dengar. Tapi tidak dengan pria di depannya.


Pria itu masih tertawa terbahak bahak sambil menjahili pipi Gabriela yang menggembung kesal. "Apa kau tidak pernah melihat kartu seperti itu?" Marco masih belum bisa menetralkan geli di bibirnya.


Gadis itu menggeleng. "Aku hanya punya kartu ATM bank". Ngapain sih ketawa gak jelas. Gabriela semakin kesal sendiri.


"Kartu itu lebih mahal darimu jadi kau boleh beli apa pun dengan kartu itu" Ucapan Marco membuat Gabriela semakin penasaran.


"Memangnya uang di dalamnya berapa tuan?"


Lebih mahal dari aku? Apa maksudmu laki laki gila. Percuma kau tampan tapi sikap mu seperti alien.


"Sudahlah aku malas membahasnya. Ganti ponsel jelek mu yang norak itu dengan ponsel yang canggih" Marco berdiri kemudian menuruni tangga. Gadis itu mengekor di belakangnya. Tangannya masih sibuk membalik balikkan kartu. Ini apa sih gunanya. Ah persetan! nanti aku beli HP baru yang cantik mampus kau disitu.


"Tapi tuan utang saya tidak tambahkan?" Gabriela memberanikan diri untuk mengatakan ini. Dia tidak mau lagi terlilit lebih lama dengan alien. Sudah cukup utang Mahalini yang dia tanggung. Itu saja sudah membuatnya berada di jurang penuh duri yang mengancam setiap detik nafasnya.

__ADS_1


Marco menghentikan langkahnya yang baru saja mendarat di lantai. Dia bahkan lupa kenapa gadis ini berada di sampingnya sekarang. Dia kan selalu ketakutan melihatku. Patuh dan tunduk. Juga dia sangat manis ketika kesal.


"Kau lupa pernah aku bilang di dunia ini tidak ada yang gratis?" Marco sudah tiba di meja makan. Duduk senyaman mungkin. Pelayan di belakangnya pergi setelah melihat isyarat tangannya.


"Kalau begitu tuan saya tidak akan membeli hp baru" huaa!!! Ponsel cantik dalam bayangan perlahan melambaikan tangan padanya. Batal sudah beli HP baru. Dia menyodorkan kartu itu kembali.


"Lagi pula saya kan hanya disini tidak terlalu penting untuk punya hp" ucapnya menahan sedih. Biar bagaimana pun dia remaja yang juga memiliki keingintahuan yang tinggi.


"Tidak kau ambil ini dalam hitungan 3 utang utangmu akan...


"Iya iya tuan saya ambil" Kurang ajar. Mentang mentang kau raja suka suka mu! Gabriela menggerutu. Dia tidak sengaja menghentakkan kakinya sambil duduk di hadapan Marco seperti biasa.


"Kau marah padaku?" Jari telunjuk Marco mengangkat dagu Gabriela hingga pandangan mereka bertemu.


"Tidak tuan" Gabriela menggelengkan kepalanya cepat sebelum alien ini menghukumnya. "Aku tidak marah sumpah" Senyum manis yang terpaksa dibibir berusaha mengelabui Marco.


"Anda baik sekali terimakasih atas kebaikan anda tuan" Gabriela bahkan mengutuk mulutnya yang manis menggoda laki laki gila itu. Baik dari jurang iblis!


"Kau tau aku tidak punya belas kasih. sekali kau melawanku kau akan tau akibatnya" Marco tergelak saat melihat wajah kesal Gabriela yang sembunyi di balik senyum palsunya.


Dia sudah bisa senyum manis menggodaku. Tapi dia imut juga sih. Sial! Apa yang kupikirkan. Tapi dia benar benar berbeda dari yang kemarin yang hanya diam, gemetar sambil memegang jantungnya kalau aku bentak sedikit saja.


Tunggu aku coba ya. "GABRIELA!"


Gadis itu tersedak makanan karena terkejut. "Bodoh kenapa kau makan tidak hati hati" Marco menuang air putih dan memberikan kepada gadis itu.


"Aku terkejut tuan" Gadis itu refleks memegang dadanya. Aku terkejut bukan karena dentuman suara mu yang seperti petir. Tapi mulut pedas mu yang memanggil namaku. biasanya kau kan memanggilku gadis bodoh.


Untung makanan di mulutku sudah ku telan. Kalau tadi masih di dalam mulut bisa bisa sudah tersembur ke wajahmu gila!


"Apa tuan membutuhkan sesuatu?" Gadis itu mendekat setelah mengumpat kesal didalam hatinya. Jujur aku ingin menjambak rambut mu iblis.


Dia kesal saat Marco mengisyaratkannya kembali duduk. "Habiskan makan mu"

__ADS_1


Habiskan! habiskan! habiskan apanya jantungku sudah mau medak tadi. Meskipun begitu Gabriela tetap melakukan instruksi dari sang dewa. "Baik tuan anda juga"


Lihat kan! lihat! hahaha dia manis sekali saat ketakutan begitu. Apa aku coba sekali lagi ya? tapi kalau dia benar benar tersedak hingga mati gimana?


Otaknya sudah ingin bermain main dengan gadis itu. Tapi suara hati yang baik seperti menolak ide di kepalanya.


Baiklah nanti aku kan bisa menjahili. Aku mau lihat sejauh mana kau bisa kesal denganku. Marco dengan cepat menghabiskan sarapannya saat melirik jam di pergelangan tangan.


Untunglah si gila itu sudah pergi. apa tadi katanya? aku tidak ikut dengannya. Syukurlah malas juga aku melihat wajah iblis mu. Dia berbalik. Aku mau membantu kak Lisa dulu.


Kak Lisa kemana ya? Biasa dia akan disini beres beres. Gabriela merapikan piring kering kedalam lemari. Kemudian dia melangkah mendekati kompor listrik.


Kemarin gimana ya? Aku sudah lupa. Cara menghidupkan kompornya para sultan ahh lupa lagi padahal kemarin aku sudah tau. Dia mulai menekan tombol tombol.


Saat itu juga muncul pak haris dengan wajah datarnya seperti biasa.


"Non Gabriela!"


Gadis itu terkejut melihat kehadiran pak Haris. "Bapak mengagetkanku tau".


"Maaf non, tapi nona sudah ditunggu oleh supir di depan. Silahkan".


Supir? Supir untuk apa? "Maaf pak untuk apa ya?"


"Informasi dari tuan Marco anda akan membeli ponsel baru jadi supir akan mengantarkan anda"


"Oh.. tidak apa apa pak saya pergi sendiri saja" Gabriela mengambil tissue dan mengeringkan tangannya. Gadis itu melangkah ingin pergi.


"Tuan Marco mau anda tetap diantar non agar anda tidak mencoba untuk melarikan diri. Jadi segeralah ke depan non, supir menunggu non Gabriela" Ucapan pak Haris menyambar telinga Gabriela.


Aku tidak seberani itu lari. Kemarin saja aku hanya pulang ke rumah ibu sudah di kejar sama ribuan anak buahnya. Sambil kesal dia meninggalkan pak Haris.


Lagi pula kalau mau lari pun memangnya aku mau lari kemana coba. Ke rumah ibu? tidak bisa kubayangkan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2